Our Personal "Money Manager" (Android App Review)

Tuesday, September 26, 2017


Ngomongin keuangan atau finansial, well... basically everything related to money, kayaknya bukan gue banget. Maka dari itu, hari nggak ngomongin yang berat-berat soal uang, cuma pengen nge-review aplikasi yang selama 5 bulan terakhir ini membantu kami dalam mengurus keuangan keluarga. Just share this because this app is awesome and very helpful!

Diary of The Week #7: Buzy Sunday

Monday, September 25, 2017


Minggu lalu banyak kejadian seru yang sayang kalau nggak diceritakan di sini. So, here we go! 

Throwback: When in Bali March-April 2017

Monday, September 18, 2017


Waktu cek folder foto ke Bali akhir Maret kemarin, baru sadar ada beberapa foto yang belum sempet mejeng di blog ini. When you are not feeling to write a decent blog post, a throwback post (with more pictures) is a great idea! Ini campur aduk banget, sih, semoga bisa menemani hari Senin pagi ini, ya! 

Being a Millennial Mom on Social Media

Friday, September 15, 2017


 Double Six Beach, Bali, March 2017

Seorang sahabat baik, beberapa waktu lalu memposting foto dengan caption perpisahan dengan kekasihnya, yang tak lain tak bukan adalah Instagram. Sebenarnya aku nggak kaget-kaget amat, sih, dia memutuskan untuk take a break from social media, karena emang dia udah jarang posting, walaupun kadang masih suka nge-like foto-foto orang lain. Still surprised tho, orang yang ngajarin aku gimana caranya foto pencitraan ala-ala, akhirnya hengkang dari Instagram?! 

Gara-gara postingannya, sebagai mamah muda, aku terinspirasi untuk menulis uneg-uneg dalam bermain Instagram. 

Books Love #4: What I Read Recently

Wednesday, September 13, 2017


On Having Another Child

Monday, September 11, 2017


Beberapa waktu lalu, saat di acara pemakaman Popo, aku bertemu dengan banyak teman lama, termasuk beberapa kerabat dekat orangtua. Since I married and moved with Andreas, I rarely come to Jakarta except every Sunday for church, so these people that I met kinda surprised seeing me with a toddler already. Ya, nggak kaget-kaget amat, karena hari gini mereka bisa 'catching-up' dengan hidup orang lain melalui sosial media, kan. Kagetnya karena waktu berjalan begitu cepat, tahu-tahu anaknya Jane aja udah gede. 

When we were in conversation, they asked me how I raised my kid—do I have a nanny or helper at home, do I still go to work, how life after being a mom, and blah blah. Terus, datanglah pertanyaan klasik nan 'penting', "Kapan punya anak kedua?". 

Kalau pertanyaan ini ditanyakan waktu masa-masa baru lahiran atau waktu Josh susah makan, aku pasti akan langsung jawab, "Entar dulu, deh." 

I was still little bit traumatized about delivering a baby. After hours of hours enduring the contraction pain, I failed to deliver my baby in normal way (normal as in lahiran normal). I was still a bit upset whenever think about it, namun nggak berarti mengurangi rasa syukur dengan kondisi sehat walafiat seperti hari ini. Untuk anak kedua, nanti aja deh tunggu 4-5 tahun lagi. 

But, suddenly I've been thinking on having a second child. Like, really think about it.

Be Grateful (Always)

Saturday, September 2, 2017

Credit to Pinterest

"In Australia, it can take hours to drive between towns and fatigue can lead to accidents. So at busy holiday times rest stops are set up on major highways with volunteers offering free coffee. My wife, Merryn, and I grew to enjoy these stops during our long drives there. 

On one trip, we pulled in and walked over to order our coffee. An attendant handed the two cups over, and then asked me for two dollars. I asked why. She pointed to the small print on the sign. At this stop, only the driver got free coffee; you had to pay for passengers. Annoyed, I told her this was false advertising, paid the two dollars, and walked off. 

Back at the car, Merryn pointed out my error: I had turned a gift into an entitlement and become ungrateful for what I received. She was right. I went back to the woman and apologized. A free cup of coffee was a gift I didn't deserve—and something for which to be thankful." (story from Our Daily Bread, 12/08/17)

Kadang-kadang kita manusia begitu nggak, sih, tanpa sadar sering banget menganggap berhak untuk mendapatkan sesuatu. Padahal sesuatu itu sebenarnya juga adalah sebuah gift, atau karunia. 

Sebelum pindah ke rumah mertua, pemicu pertengkaran aku dan Andreas pasti nggak jauh-jauh dari rumah. Aku yang selalu ngotot sebagai keluarga yang sudah mandiri, kudu harus punya rumah sendiri. Kontrak atau sewa nggak apa-apa, deh, sing penting tinggal sendiri. Sementara Andreas yang selalu meyakinkan bahwa kami akan punya rumah sendiri, tapi nggak sekarang, as right now. Padahal, topik ini tanpa kusadari udah dibahas sebelum menikah, dan tanpa sadar juga aku setuju. Karena satu dan lain hal, tinggal sementara bersama mertua itu pilihan terbaik untuk keluarga kami. 

Namun sebagai istri, terkadang aku merasa rumah adalah sesuatu yang berhak aku dapatkan setelah menikah. Iya dong, bokap nyokap gue aja udah kasih gue rumah yang terbaik, masa setelah menikah gue 'numpang' di rumah orangtua suami... kasarnya begitu.

Setelah baca ilustrasi di atas, ini pipi kiri kanan rasanya ketampar banget. Aku langsung merasa manusia paling sombong dan egois. Sama sekali nggak sadar bahwa punya atap untuk berlindung supaya nggak kehujanan atau kepanasan aja udah bagus banget, masih aja nuntut sesuatu yang berhak aku dapatkan. Rumah yang sekarang kami tinggal pun adalah sebuah gift, but somehow I turned that gift into an entitlement. Mungkin Tuhan di atas sana ngomong kayak gini kali, ya: "Siapa eluuuu nuntut ini-itu. Bagus gue kasih tempat tidur, bagus gue kasih tempat di mana elu masih bisa makan kenyang." Ampunnnn, Gustiii... ):

Kalimat-kalimat seperti, "Jangan lupa bersyukur!" atau "Be grateful always!" rasanya udah kayak angin lalu. Iya, iya, tahu kok musti bersyukur, tapi setelah itu lupaaa, deh, kalau apa yang bisa dinikmati hari ini itu merupakan karunia.

Jadi, apakah sudah bersyukur hari ini? (: