Being a Millennial Mom on Social Media

Friday, September 15, 2017


 Double Six Beach, Bali, March 2017

Seorang sahabat baik beberapa waktu lalu memposting foto dengan caption perpisahan dengan akun Instagram pribadinya. Sebenarnya aku nggak kaget-kaget amat, sih, dia memutuskan untuk take a break from social media, karena emang dia udah jarang posting, walaupun kadang masih suka nge-like foto-foto orang lain. Still surprised tho, orang yang ngajarin aku gimana caranya foto pencitraan ala-ala, akhirnya pamit dari Instagram nih?! *mulai lebay*

Terinspirasi dari apa yang ia tulis, I want to share my bit thoughts about being a millennial mom on social media. 

Yuk, mari kita mulai.

Instagram berperan cukup penting dalam kehidupan aku sehari-hari. Selain (tentu saja) buat kepoin kehidupan orang, Instagram buatku udah kayak pengganti Google. Well, nothing beats Google, sih, sebenarnya... cuma kalau butuh cepat, Instagram it is

These days, you can solve your daily problems, just by scrolling on your Instagram app. Misalnya, nih, anak tiba-tiba nggak nafsu makan karena tumbuh gigi. Pusing, dong, mau kasih makan apa? Tinggal tengok akun IG-nya ibu-ibu deh, bisa juga kalau mau gampang tinggal ketik #mpasitumbuhgigi atau #mpasiGTM. Viola, problem solved. Tinggal berdoa supaya tips dan resep yang dibagikan really works for my son. 

Selain kasih daily tips, Instagram buatku juga kayak bank inspirasi. Maka dari itu, belakangan ini aku melakukan declutter daftar following, supaya yang nongol di timeline itu yang benar-benar bisa menyenangkan hati dan menyebarkan positive vibe.

Instagram juga menolong aku untuk keep in touch dengan teman-teman lama. Kadang seneng aja bisa 'ngintip' keseharian mereka dari Instastory dan postingan mereka.

Setahun belakangan ini, aku memperhatikan munculnya sebuah fenomena, yaitu #momstagram. Momstagram atau Instagram Mommies ini siapa dan ngapain, sih?  Basically, ibu manapun bisa disebut #momstagram kalau postingannya seputar anak dan parenting, sharing milestones-nya si anak, review produk, foto OOTD anak, nggak lupa sesekali postingan berbayar alias endorsement

Aku bersyukur dengan kehadiran para ibu-ibu eksis tersebut, menghadapi motherhood pertama kali nggak kagok-kagok amat. Semuanya dijembrengin sama mereka di akun pribadi masing-masing. Mulai dari gimana caranya mancing LDR saat pumping, cara penyimpanan ASIP yang tepat, produk skincare apa yang bagus untuk kulit anak sensitif, nursing wears apa yang nyaman dipakai, daftar restoran atau kafe yang kids friendly, you name it!

Intinya, kehadiran para momstagram ini cukup memberikan pengaruh yang positif dan pastinya memperluas koneksi. Cukup sering ninggalin komentar atau saling bales-balesan DM aja, status udah berubah menjadi teman di kehidupan nyata. Pokoknya seru, lah, hidupnya ibu-ibu muda jaman sekarang. 

Namun, tentu saja bukan dunia sosmed kalau nggak ada dramanya, ya. 

Tiba-tiba ada yang ninggalin komen nggak enak, mulai membandingkan anak si A dengan anak sendiri, judging parenting style si ibu yang satu dengan yang lainnya, dll. Munculnya fenomena ini, juga berhasil memicu jiwa-jiwa mompetition di kalangan mamah muda. Padahal kompetisinya nggak dapet hadiah apa-apa, cuma dapet pride yang bersifat abstrak, kalau kata Mami Ubii, which is very very true. Us, human, always put our pride on top 😩

Bukan cuma itu aja, aku merasa vibe di kalangan momstagram juga seperti mengejar sesuatu yang lain, yang tak lain tak bukan adalah sebuah popularitas.

Percaya atau nggak, aku pernah ingin famous, ingin dikenal banyak orang. Tapi setelah dipikir ulang, menjadi terkenal itu biasanya harus ada yang dikorbankan, apalagi kalo bukan hal-hal yang berkaitan tentang privacy. Bye and thank you deh. Aku nggak kuat kalau harus buka-bukaan di publik, huhu.

Still, aku percaya tujuan setiap orang itu berbeda-beda. Ada yang niatannya benar-benar ingin sharing, ada juga yang niatannya pengen 'jualan' dan dapet uang (atau barang gratisan).

Aku pernah dapet curhatan teman yang punya bisnis clothing line anak-anak di Instagram, dia cerita banyak akun momstagram yang menawarkan anak mereka untuk di-endorse produknya secara gratis, DEMI dapet produk gratisan plus nambah followers. Seriously, moms? Usaha banget tapi nggak gitu juga, sih |:

Bukan cuma soal kompetisi, lagi-lagi sosial media suka bikin kita terbuai dengan kehidupan orang lain. Meskipun kadang kita tahu, ya, apa yang diposting di sosial media itu nggak selalu mewakilkan kehidupan seseorang in general. Sayang, kitanya aja gampang halu dan baper (apa gue doang?). Foto rumah yang selalu rapi (bisa aja pas foto sudut itu aja yang lagi rapih), anak yang dan duduk manis di highchair sambil makan sendiri (pada dasarnya anaknya emang kalem atau setelah difoto anaknya mulai bosan dan minta dipangku), dan hal-hal "sempurna" lainnya yang biasa kalian liat di dunia Instagram.

Kadang kita lupa, orang-orang yang posting di media sosial hanya ingin menunjukkan segelintir apa yang terjadi di kehidupan mereka. Most of us only show others what we want them to see

Don't compare somebody highlights with our behind the scenes.

Jadi inget beberapa waktu lalu saat national breastfeeding week, jutaan ibu 'merayakan' dengan memposting tabungan ASIP mereka, pose romantis dengan anak saat menyusui, pokoknya yang cantik-cantik, deh. Kemudian, muncul sebuah postingan viral oleh seorang ibu yang mengalami struggle dalam breastfeeding. Foto tersebut memperlihatkan si ibu yang sedang menyusui sambil menangis. Fotonya sangat real dan so raw. Dia mengakui bahwa menyusuisesuatu yang sangat naturalkenyataannya sangat menyakitkan dan kenyataan ini sulit untuk disembunyikan, so that she posted that photo and hundreds of moms came to share the same difficulties and support each other

Kejujuran yang sejujur-jujurnya, seperti yang dimiliki si ibu tersebut, jarang ditemukan di dunia maya. Aku pun milih-milih banget apa yang mau aku perlihatkan di media sosial. Seperti yang pernah aku bilang di postingan blog anniversary, aku selalu berusaha untuk jujur even saat bermain di sosial media, but not too revealing. Dan kalian perhatiin juga nggak, sih, jaman sekarang kayaknya orang-orang lebih suka mengkonsumsi yang real-real aja, karena capek bokkk, terus-terusan lihat dan beruaha untuk terlihat hidup yang well-polished, because there's no such a thing like "perfect life". 

"Social media is not evil, probably it's the way we let it play part in our lives", begitulah kata sahabatku di goodbye post-nya.

I remember this verse from Galatians, "Look at your own work to see if you have done anything to be proud of. Don't compare yourself with others." 

Jleb jleb! 

So, moral of the story-nya, sebelum sibuk ngurusin hidup orang lain, coba cek kehidupan diri sendiri dulu, ada nggak, sih, yang bisa dibanggain? :D

1 comment:

  1. Wih kece Mommy postnya hahahaha. Btw what really gets in my nerves it everytime ada mommies yang ngepost foto bayinya terus pake hashtag #freeendorsebaby ughhhhhh pengen ta kuliahin deh 😒

    ReplyDelete