Tradisi Pernikahan Modern Tionghoa yang Kami Lakukan

Thursday, November 9, 2017


Setelah Raisa dan Hamish, seluruh mata umat sebangsa ini tertuju pada pernikahan—sudah SAH, btw, selamat ya!—anak perempuan semata wayang Presiden RI kita tercinta, Kahiyang Ayu dengan Bobby Nasution. Persamaan dari kedua pasangan ini, mereka menjalankan tradisi adat Jawa yang cukup kental, menjelang dan sampai hari pernikahan.

Pernikahan dengan tradisi adat emang seru dan ada keunikannya masing-masing. Sebagai keturunan Tionghoa, waktu nikah dulu aku dan Andreas pun juga melakukan serangkaian tradisi. Nggak muluk-muluk banget, sih—apalagi ngikutin adat Jawa yang rumit banget, soalnya kami anti ribet dan pusing. Surprisingly, orangtua kami ternyata juga cukup santai dengan tradisi yang kami lakukan maupun nggak. Yang penting beberapa tradisi yang emang harus dilakukan nggak terlewat saja. Kalau kata papa mertua, melakukan tradisi itu bukannya percaya dengan mitos-mitos tertentu, tapi memang harus selalu ingat asal-usul dan mengenang nenek moyang, hihi.

Marilah kita lakukan throwback Thursday! Sekalian pamer-pamer foto yang nggak sempat mejeng di blog *oh ternyata ini maksud utamanya, ya*




1) Sangjit Day

Apa itu Sangjit? 
Acara seserahan yang dilakukan oleh pihak calon pengantin pria (CPP) kepada pihak calon pengantin wanita (CPW). Idealnya, Sangjit dilakukan sekitar 2 minggu sebelum resepsi pernikahan. Mumpung kami berdua agak anti-mainstream, Sangjit kami lakukan h-1 sebelum hari pemberkatan. 

Agak rempong sih memang. Soalnya keluarga Andreas datang dari Bogor, sementara keluargaku ada di Bali. Pemberkatan dan resepsi kami juga dipisah di hari yang berbeda. Kalau Sangjitnya dilakukan jauh-jauh hari, nggak efektif juga buat mereka yang harus bolak-balik Bogor-Bali. 

Ngapain aja selama Sangjit? 

Untuk rangkaian komplit Sangjit, bisa di-google aja, ya. Ini aku jabarin sesuai yang kami lakukan waktu itu.  

1) Pihak keluarga CPW menerima seserahan dari pihak CPP di depan rumah. Mekanismenya, seluruh anggota keluarga si CPP berbaris tuh di depan rumah, lalu satu per satu masuk untuk menyerahkan baki seserahan kepada pihak keluarga CMW. Si calon CPW sendiri, A.K.A myself, nggak boleh ikutan terima, ya. Terus ngapain dong? Ya, ngumpet aja di kamar sampai barang seserahan semua diterima. 


2) Perkenalan masing-masing anggota kedua calon mempelai, dipimpin oleh Papa masing-masing calon mempelai. Mumpung anggota inti keluargaku dikit, jadi acara perkenalan cukup singkat. Sementara keluarga Andreas itu ramai banget, jadi rumah kami yang imut-imut ini padet banget. 

 Papa mengenalkan setiap anggota keluarga dan di situ masih ada Popo (':

Gantian Pakmer sekarang

3) Seluruh anggota keluarga masuk ke ruangan Sangjit yang sudah dihias serba merah, nggak lupa lambang double happiness (shuang xi ) ditempel di tengah-tengah. Rangkaian acara berikutnya dan pemotretan pun dimulai!


4) Barang-barang seserahan dibawa masuk ke kamar oleh pihak cewek untuk diambil sebagian, sisanya akan dikembalikan kembali pada keluarga cowok, termasuk juga uang pesta. Mengapa begitu? Jadi konon katanya, kalau semua uang pesta diambil berarti pihak keluarga wanita lah yang akan membayar semua biaya pernikahan. Ada yang bilang juga kalau semuanya diambil, berarti si anak perempuan "diserahkan" sepenuhnya pada pihak pria. Kalau hanya diambil sebagian, tandanya mereka masih boleh ikut serta dalam keluarga pengantin. CMIIW, ya. Soalnya waktu momen ini, yang ribet tuh si Mama dan almarhum Popo. Aku mah iya, iya aja, dah. Padahal udah nelan ludah lihat uang merah segepok gitu dibalikin lagi *matrebagianpertama* 


5) Selesai rangkaian acara di rumah, dilanjutkan dengan makan siang.

Kalau zaman dulu, biasanya pihak keluarga cewek akan masak-masak di rumah. Cuma karena mamaku nggak punya waktu untuk masak dan jumlah orang yang hadir nggak memungkinkan untuk makan di rumah, akhirnya kami sepakat untuk menjamu mereka di restoran, tepatnya di Crispy Duck Restaurant, Renon. Semuanya hepiii makan hidangan bebek dan ayam!


Kalau liat foto Sangjit di sosial media zaman sekarang, kemudian liat folder foto Sangjitan kami, rasanya underrated banget, deh. Jauh banget dari kesan mewah. Kami berdua emang pengen praktis tapi tetap spesial. Jadi lah acara Sangjit pun berjalan tanpa neko-neko. Yang penting semuanya hepi, nyaman, makna dan pesan dari tradisi Sangjit itu sendiri juga "tersampaikan".

Waktu pertama kali tau konsep seserahan ini, aku sempat girang karena artinya bisa rikues apapun dong ke calon suami waktu itu. Kesempatan banget buat minta dibelanjain ini itu *matrebagiankedua*. Namun, karena kami anaknya mandiri, akhirnya belanja sendiri.

Isi seserahan kami standar banget, yang pasti bisa dipakai. Sedikit menyesal kenapa nggak beli bedcover baru atau satu set panci baru gitu kayak di Sangjitannya Ci Leony sebagai pengganti makanan kaleng. Kayaknya lebih berfaedah aja gitu daripada nimbun kolestrol *lambai-lambai sama kaleng kaki babi*.

Ini notes penting lah buat kalian ciwik-ciwik yang mau Sangjitan nanti. Ikuti tips cici Leony, ya, huahaha.

2) The wedding day
  • Prosesi persiapan kedua mempelai 
Karena zaman semakin kekinian, prosesi ini nggak lagi harus dilakukan lagi di rumah masing-masing mempelai, tapi bisa di hotel, di restoran, di mana pun sesi pemberkatan akan dilaksanakan.

Kami sendiri melakukannya di preparation villa yang sudah disiapkan venue setempat. Basically, me and Andreas did our makeup, preparation, blah and blah at the same roof, but seperate rooms. Lucu aja kan jadinya, nggak boleh saling ngintip walaupun dalam villa yang sama, hahaha. 

Setelah selesai makeup dan memakai baju pengantin, papa mama memberikan boutonnerie milik Andreas dan menutup veil. Btw, veil yang aku kenakan hanya dibuka sekali saat pendeta announce "you may kiss the bride". Soalnya ada tradisi yang dilakukan pengantin lain seperti makan meesua/onde setelah CPW dijemput oleh CPP, biasanya supaya nggak ribet veil CPW akan dibuka, kemudian ditutup kembali. Karena ada beberapa alasan, kami skip tradisi makan meesua/onde ini dan memutuskan untuk membuka veil hanya sekali. 


Persiapan Andreas sendiri juga nggak jauh beda, sih. Dia dipakaikan jas oleh papa mama mertua, nggak lupa hand bouquet untuk calon pengantin. 


  • Prosesi jemput-jemputan dan pertemuan dengan masing-masing mempelai
Ini bahasanya agak gimana, ya, jemput-jemputan, hahaha. Intinya, si CPP akan menjemput CPW di rumahnya. Nah, karena kami literally persiapannya di satu tempat, untuk prosesi ini Andreas harus di-shoot terpisah, seolah-olah dia pergi untuk menjemput calon pengantinnya, ahaaay.

Bhaaay... nanti aku datang kembali ke tempat yang samaaa

Dalam prosesi ini, begitu CPP sampai di tempat, dia akan disambut oleh orangtua CPW. Si CPP harus memberikan salam hormat dengan membungkuk sebanyak 3 kali. Setelah itu, dia akan diantar orangtua CPW untuk bertemu dengan pengantinnya. 

Nahhh, serunya di sini, sebelum face to face dengan CPW, biasanya si CPP akan di-prank oleh the bridesmaids gang. Kalian tahu sendiri lah, ya, pranks yang diberikan tuh macem-macem sampai ada yang nyeleneh. Maksud dari semua ini adalah, nggak gampanggg bro untuk jemput calon pengantinmu. Before you met and take her away, the groom harus langkahin kita dulu para sahabatnya. Mungkin begitulah kira-kira filosofinya. Kami sendiri, sih, nggak melakukan ini. Alasannya, karena ngejer waktu! Ternyata, persiapan makeup-ku udah lewat dari jam rundown, harus buru-buru supaya on time masuk dalam chapel. Demikianlah para bridesmaids-ku kecewa dan Andreas beserta bestmen-nya lega banget nggak dikerjain. 


 Setelah kedua calon mempelai bertemu, kami saling menukar hand bouquet dan boutonnerie

Biasanya setelah prosesi ini, dilanjutkan dengan makan messua/onde, terakhir adalah tea pai. As I mentioned before, kami skip kedua prosesi ini saat acara pernikahan di Bali. Tea pai kami lakukan seminggu setelahnya, saat sebelum resepsi malam. Jadi bisa dibilang, rangkaian tradisi yang dilakukan selama di Bali simpel banget nget nget. 

3) Tea Pai 

Mohon maaf nih sebelumnya, untuk prosesi ini nggak ada foto-fotonya. Kira-kira udah pada tahu, ya, prosesi ini itu seperti apa. Kedua mempelai akan menyuguhkan teh kepada yang keluarga yang dituakan sebagai tanda hormat. Prosesinya dimulai dari pihak keluarga cowok dulu, diawali dengan orangtua, disusul oleh saudara kandung yang sudah menikah dan kerabat lainnya. Ketika melayani pihak keluarga cowok, berarti pengantin cewek yang harus menyuguhkan teh, begitu juga sebaliknya. Aku sendiri baru tahu lho rules tea pai ini, karena sebelumnya nggak pernah menyaksikan langsung. Satu hal yang krusial alias kudu dilakukan oleh orangtua masing-masing mempelai, adalah memasukkan dan menepuk angpao dalam jas pengantian pria. Tujuannya, biar makmur, finansial keluarga bisa lancar dan baik *aminnn*

4) Memakai gaun merah di malam resepsi pernikahan. 

Ada beberapa teman cewek yang nanya, kok aku nggak pake gaun pengantin putih waktu di malam resepsi pernikahan. Jawabannya, karena menurut orang tua zaman dulu, jika pesta resepsi diadakan di hari yang berbeda (tidak di hari yang sama dengan holy matrimony), nggak boleh memakai gaun putih kembali. Alasannya, gaun putih itu hanya boleh dipakai seumur hidup sekali.

Mama adalah orang pertama yang mencetuskan ide ini, kedua Popo, dan yang terakhir mama mertua. Demi menghormati mereka, jadilah aku pakai cheongsam merah ini di malam resepsi kami.

Gimana perasaannya saat "big" entrance tanpa memakai gaun putih?

Biasa aja, sih. Soalnya udah ngerasain yang lebih deg-degan waktu masuk ke dalam chapel bareng Papa di hari pemberkatan. Hanya ada satu hal yang menurutku agak lucu. Waktu prosesi memasuki ruangan resepsi, kami diiringi lagu mainstream sejuta pengantin, "Beautiful in White" padahal aku pakai gaun merah ini. Krik krik... awkward... hahahaha.

Btw, foto waktu kami masuk ke ruangan resepsi ternyata hilang di laptopku. So I'll show you this photo instead, beginilah cheongsam merah yang aku pakai malam itu.

Foto bareng keluarga inti dari pihak suami (:

Aku rental cheongsam merah ini di Sophia Bridal. Potongannya simpel banget dan jatuhnya pas di badanku. Sebenarnya mereka nggak pernah bikin cheongsam merah, tapi mereka mau coba bikin untuk pertama kalinya. So, basically I was the first bride who wore this red cheongsam. Terima kasih lho, Sophia Bridal!

5) Hui niang jia

Hui niang jia, artinya pulang ke rumah orangtua pihak perempuan. Prosesi ini biasa dilakukan beberapa hari atau seminggu setelah upacara pemberkatan nikah. Saat pulang ke rumah orangtua, kita nggak boleh pulang dengan tangan kosong, alias harus bawa sesuatu. Normalnya, yang harus dibawa itu sajian makanan berupa seekor babi panggang. Sebenarnya kalau di Bali gampang banget nyari hidangan ini, tuh babi guling di mana-mana. Tapi (lagi-lagi) kami ogah rempong dan siapa pulak yang mau habisin satu ekor 🐷?! So, we brought a basket of fruits instead... untuk hidup yang lebih sehat! :P

Nah, di sini kami baru makan onde. Almarhum Popo yang bikin dan sebelum kami makan, dijelasin dulu tuh sama beliau kenapa kudu makan onde dengan jumlah sekian. Onde simbol pernikahan supaya lengket dan erat, kuah onde sendiri melambangkan pernikahan yang manis. 

The traditions that we're skipping: 

1) Menghias kamar pengantin. Karena secara teknis kamar pengantin kami itu di Bogor, jadi nggak memungkinkan untuk menghias kamar di hari pernikahan. Ini agak kusayangkan, sih. Padahal dulu menghias kamar pengantin itu yang paling ditunggu-tunggu.

2) Prosesi persiapan calon pengantin di rumah masing-masing. Seperti yang udah dijelaskan di atas, kami skip ini karena seluruh rangkaian acara nikahan kami dilakukan di luar kota.

3) Mobil pengantin. Ini termasuk tradisi nggak, sih? Kami nggak pakai mobil pengantin, di Bali maupun di Jakarta. Jadi kami berangkat ke venue masing-masing dengan mobil pribadi, hahaha.

4) Lamaran. Kami memutuskan untuk menggabungkan lamaran dengan Sangjit, jadi saat Sangjit ada prosesi pemakaian kalung oleh mama mertua.

Menurut pengalaman pribadi, menjalani tradisi kayak gini tuh seru dan memorable. Walaupun ribet dan kesannya konfensional, aku setuju dengan alasan pakmer yang ingin melestarikan budaya nenek moyang.

Dibilang Cina totok banget, sih, nggak ya. Tapi cina-cina ngasal jelas bukan juga. Orangtua kami berdua sangat respect dengan budaya Tionghoa. Apalagi aku termasuk Chinese-Indonesian generasi kedua, karena kakek (dari pihak papa) itu berasal dari mainland China. Beliau merantau ke Indonesia dan beranakcucu, deh, di sini. Makanya, tradisi Tionghoa di keluarga aku lumayan kental, lah.

***
So, that's all I can share about our Chinese modern wedding! Do (or will) you do a tradition wedding? Cerita-cerita, ya, di bawah! And just in case if you want to see our wedding stories, click here and here

Stay awesome, folks! 

All wedding pictures beautifully taken by Amaranthine Photography

5 comments:

  1. dulu aku pisah lamaran sama sangjit... lamaran dulu baru sangjit, jadi ceritanya diiket dulu biar ga kabur hahahaha... sangjitnya baru dilaksanakan 2 hari sebelum hari H, soalnya mertua kan tinggalnya jauh, biar ga bolak balik...

    aku juga tadinya mau pake mobil pribadi loh, tapi kata tanteku ga boleh, kudu pake mobil yang biasa dipake buat pengantenan, ya wes akhirnya nyewa lagi...

    ReplyDelete
  2. kita terpisah lamaran sama sangjit nya. lamarannya bener2 lamaran sebelum persiapan married. kalo sangjitnya seminggu sebelum married.

    ReplyDelete
  3. Kalau di Jawa, Sangjit day itu semacam malam Midodareni sih. Jadi malam sebelum akad nikah pihak keluarga laki-laki datang membawa seserahan, perkenalan keluarga, makan malam, tapi CPW nggak boleh keluar kamar padahal udah dandan pake kebaya full make up banget lah. Yang boleh masuk kamar hanya ibu-ibu dari keluarga CPP. Pura-puranya melihat siapa sih calon wanitanya, secantik apa, hihi.
    Setiap tradisi pernikahan sebenernya mirip-miri yah sepertinya, hanya beda nama aja.

    ReplyDelete
  4. Cee nanya dong, cece pake mak comblang atau bue nang gitu ga sih buat ngurus dan ngatur khe ceng nya mesti apa aja yg beli, sangjit rules nya gimana sama yg lain lain gt

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Lana! Waktu itu kami nggak pake bue nang sih, kebetulan waktu almarhum Popoku masih ada beliau yang bantu atur semuanya. Kami cuma menjalani tradisi aja sih, nggak bener-bener plek sama 'peraturan' yang ada :D

      Delete

Thank you for reading and commenting here. All comments are moderated and I'll reply to your comments daily, so please check back. Nice to chat with you (: