Eat in Bali (halal): Bebek Goreng H Slamet (Spesial Sambal Korek)

Tuesday, February 27, 2018


Pulang gereja hari Minggu yang lalu, aku dan Mama keliling cari restoran yang belum pernah dicoba untuk makan siang. Pengennya memang di sekitar Jalan Dewi Sri aja, supaya Papa dan adeku yang masih di gereja bisa nyusul dengan jalan kaki. 

Setelah dua kali puteran, akhirnya kami parkir di depan restoran Bebek Goreng H Slamet. Selain emang suka makan bebek, ternyata si Mama kepincut dengan interior tampak luar restoran ini. Setahuku, restoran bebek goreng franchise ini, biasa tempatnya sederhana. Tapi kok ini lucu, ya. Macam rumah lama peranakan gitu. 

Diary of The Week #12: Literally A Loooooong Weekend!

Tuesday, February 20, 2018


Happy Chinese New Year untuk teman-teman yang merayakan! Gōngxǐ fācái, wànshì rúyì!

Sebelumnya, aku kurang paham tentang filosofi tentang tahun "anjing tanah" ini. Karena setahuku orang China nggak begitu suka dengan anjing (peribahasa Tionghoa yang mengandung kata anjing biasanya hal-hal negatif). Setelah cari tahu, ternyata tahun anjing tanah ini berhubungan dengan "membangun kembali" hal-hal yang sempat jatuh. Konteksnya bisa berbagai hal, termasuk soal pindah rumah, karir dan bisnis. Kalau dipikir-pikir ner ugha. Tahun lalu banyak berita tentang bisnis dan usaha yang bangkrut atau loyo. Kami pun yang menjalankan usaha sempat mengalami hal yang sama. 

Ya, percaya nggak percaya, tapi aku amini tahun ini akan menjadi tahun yang pas untuk memulai kembali hal-hal yang sempat jatuh. Semoga kalian juga mengalami tahun yang lebih baik lagi, ya!  

How It Feels to be a Traditional Mom

Tuesday, February 13, 2018


Per hari ini, udah 1,5 tahun lamanya aku menjabat status sebagai ibu rumah tangga, atau bahasa kerennya stay at home mom. Ini merupakan keputusan pribadi yang aku ambil sendiri dan disambut baik oleh suami. Puji Tuhan, pekerjaan suami masih bisa menanggung kebutuhan sehari-hari keluarga kecil kami dan nggak pernah kekurangan.

Alasanku kenapa pengen jadi IRT, pertama karena pengen menghabiskan dua tahun pertama bersama Josh. Katanya, dua tahun pertama itu krusial banget untuk si anak. Memori otak anak itu konon kayak spons, cepat menyerap informasi apapun yang dia terima. Jadi aku dan suami memastikan apa yang dia serap adalah hal-hal yang positif dan baik. Kami sepakat suami yang bertanggung jawab sebagai pencari nafkah, so I stay at home. 

Alasan yang kedua, ini sebenarnya unplanned, tapi terjadi begitu aja, yaitu menyusui Josh selama 2 tahun. Sejak Josh nolak botol dotnya mentah-mentah, di hari itu juga aku sadar harus siap breastfeed anak ini sampai waktu yang ditentukan. Bukan perjalanan yang mudah, but I'm glad we still doing it until today. 

Postingan ini aku buat juga terinspirasi dari beberapa artikel yang pernah aku baca tentang fakta menjadi IRT. Entah kenapa, nggak sedikit dari artikel tersebut, si penulis merasa offended dengan pertanyaan atau asumsi orang-orang tentang menjadi ibu rumah tangga. Akhirnya, jawaban yang diberikan rata-rata sarkastik. Contohnya pertanyaan seperti, "Jadi lo nggak kerja, ya?", kemudian si ibu (sang penulis artikel) pun merasa tersinggung dan menjawab ketus, "Ya, kalo misalnya cuci baju, nyapu ngepel, masak, setrika baju, bantu anak ngerjain PR, anter anak les nggak termasuk kerja, ya gue nggak kerja, sih." Tanpa menyinggung pihak-pihak tertentu, mungkin yang begitu butuh piknik segera kali, ya. 

Karena itulah, hari ini aku ingin coba menjawab sejujur-jujurnya dari hati tentang pertanyaan-pertanyaan yang biasa ditujukan pada seorang IRT, atau yang biasa sering aku dapatkan. 

Books Love #6: My 10 Ultimate Favorite Books

Wednesday, February 7, 2018


Aku suka banget baca. Sekitar umur 5-6 tahun, buku yang pertama kali aku baca adalah koleksi cerita klasik Disney punya Mama. Sejak saat itu nggak pernah berhenti baca buku sampai hari ini.

Sama seperti film, makanan dan hal lainnya, selera orang terhadap buku itu beragam banget. Ada yang suka baca buku genre spesifik tertentu atau cuma baca buku fiksi aja, dll.

Kalo aku sendiri, sih, suka banget baca novel. Kebanyakan yang aku 'lahap' adalah novel lokal. Baru sekitar lima tahun belakangan, mulai belajar baca novel luar. Sebenarnya pengen banget bisa baca lebih banyak karya fiksi luar negeri. Hanya topik yang diangkat terkadang kurang relevan dengan budaya di sini. Biasanya aku selalu milih genre yang cenderung aman, fun dan ringan dibaca, kayak novel-novelnya Sophie Kinsella atau Kevin Kwan.

Oke, pembukaannya cukup. Langsung aja disimak daftar 10 buku/novel terfavorit sepanjang masa... well, untuk saat ini.