How We Stay Happily Married after Kid(s)

Saturday, May 26, 2018


Tahun ini akan jadi tahun ketiga aku dan Andreas menikah, tahun kedelapan sama-sama.

Gila juga kalau dipikir-pikir, bisa 8 tahun bertahan sama manusia yang sama, sekarang serumah dan punya anak bareng pula!

Waktu awal menikah, banyak teman dekat yang nanya gimana perasaannya jadi istri orang, how marriage really works dan sebagainya. Namanya juga pengantin baru, yang bisa kami jawab, ya, everything was fine and on the track. Berantem pun hampir nggak pernah rasanya.

Tiga bulan menikah, puji syukur diberi kesempatan untuk hamil. My first pregnancy was great. Aku enjoy banget selama hamil Josh. Nggak pernah muntah-muntah, mual pun jarang. Nggak ngidam yang aneh-aneh, berat badan juga nggak naik drastis.

The real challenge came after Joshua was born. Bukan cuma konflik baru yang muncul, tapi prioritas dalam pernikahan kami perlahan bergeser; yang tadinya fokus dengan suami dan istri, sekarang ada yang harus diberi perhatian lebih.

Pertanyaan edisi kedua dalam pernikahan juga mulai berdatangan. Gimana rasanya punya anak, rempong nggak ngurus anak sampai ada yang tanya: "Gimana, sih, cara tetep hepi dan romantis setelah punya anak?"

Tau nggak, sih, jarak di hari kami resmi menikah dengan punya anak itu kurang lebih dari setahun. Kasarnya, jadi pasutri aja belom "kerasan" banget, tau-tau udah harus menjalani peran baru sebagai orangtua.

Hari-hari di mana kami belajar menjadi orangtua itu sulit banget. Belum lagi aku sempat baby blues dan merasa kewalahan mengurus Josh sendirian. Boro-boro makan soto mie di depan gang rumah berduaan, mandi 5 menit tanpa gangguan aja susahnya minta ampun. Too overwhelming.

But we want a better marriage. We want to stay happy and keep the sparks of romance alive.

Sebagai jawaban atas pertanyaan di atas, berikut hal-hal yang sedang kami lakukan untuk menuju ke arah yang lebih baik:

1. Make efforts.

Setelah menikah 2,5 tahun, jujur nge-date beneran cuma dua kali dan dua-duanya kami lakukan di Bali. Josh dititipin ke Popo dan Kungkungnya, kami berdua cusss pergi brunch date. Walaupun cuma bertahan 1 jam, buat kami itu LUMAYAN banget.

Selain itu, pergi berduaan lainnya cuma untuk makan soto mie di depan gang rumah sebelum suami berangkat kerja.

Sisanya, paling sering ngabisin waktu bareng sebelum bobo malem. Entah leyeh-leyeh doang sambil maen hape atau ngobrol sambil nemenin bocah main. If we're lucky enough, bisa masuk ke sesi yang lebih intimate. Nggak perlu dijelasin kali, ya, ngapain, hahahahaha.

Dari semua yang kami lakukan di atas, kalau nggak sengaja diniatin atau diusahakan, percayalah nggak bakal bisa kejadian. Harus pakai usaha lebih, nggak sebebas dulu. Harus dipikirin banget, bahkan mungkin harus ngejadwalin dulu jauh-jauh hari.

Butuh effort dan persiapan untuk nitipin Josh dengan anggota keluarga lainnya. Butuh perjuangan juga untuk boboin Josh lebih awal kalau papa mamanya pengen 'pacaran' sebelum bobo. Nggak gampang, lho, untuk nidurin anak yang jelas-jelas masih seger. Lucunya, Josh kayak tahu gitu kami mau ngapain. Bolak-balik ngintip ke kasur kami, di mana suami lagi pura-pura bobo, hahahaha.

Mimpi nggak instan, butuh kerja keras untuk mewujudkannya. Begitu juga sesimpel impian untuk bisa date night lagi, mungkin staycation berdua, semuanya butuh usaha. Puji syukur, dengan mewujudkan "impian-impian" kecil ini, kami bisa tetap romantis sebagai pasangan suami istri.

2. Be open, be honest about what do you want for each other. 

Kalau kata artikel di Parents.com, "Be naked emotionally".

Sering nggak, sih, kita para ciwik suka kebanyakan mikir kalo pengen ngomong sesuatu sama suami?

"Dia marah nggak, ya, kalo minta gantian jaga anak dulu?"
"Ah, kayaknya dia ngantuk dan nggak bakalan mau denger gue ngomong. Besok-besok aja, deh."
"Duh, kayaknya dia sibuk. Malmingnya kapan-kapan aja, deh."

Aku lumayan sering kayak gitu lho. Semua asumsi itu mentok di pikiranku sendiri. Sampai akhirnya berani untuk ngomong duluan, suami pun berkomentar, "Yaelah, kamu kalo nggak ngomong aku mana tahu. Lain kali langsung bilang aja." Angkat tangan yang familiar dengan percakapan ini, hahahaha.

Sejak nikah, kami berdua belajar untuk makin "terbuka" satu dengan lainnya. Kalau bisa, sih, jangan sampai ada rahasia, sekecil apapun itu.

Kita nggak akan dapat jawabannya kalau nggak nanya. Pepatah bilang, "malu bertanya, sesat di jalan." Malu nanya sama suami atau istri, ya mungkin kita bakal stuck di posisi itu-itu aja.

Dengan kesibukan kami berduaAndreas yang kerja Senin-Sabtu dan aku yang sibuk dengan urusan domestiknggak jarang juga kami merasa jenuh. Sekarang kami punya perjanjian. Kalau emang lagi capek, kami bakal ngomong duluan (kalau lagi jenuh, nih) dan nggak akan maksa untuk melakukan sesuatu di hari itu juga. 

Keterbukaan dalam pernikahan tuh sangat membantu dalam meminimalisir pertengkaran yang nggak perlu. Kami berdua nggak lagi menyimpan asumsi sendiri. Nggak ada lagi juga drama sok diem-dieman, karena hal remeh kayak gini. 

Mungkin satu hal yang perlu di-note kalau pengen "buka-bukaan": timing yang tepat. Kalau yang udah kenal banget dengan pasangannya, pasti udah paham banget, deh, kapan waktu yang tepat untuk minta atau ngomong sesuatu. Misalnya, waktu doi gajian dan kebetulan ada lebih. Boleh tuh kasih kode minta sepatu baru. Misalnya, yaaaa. Pinter-pinter kita deh kalau soal timing ini. 

3. Learn to listen and respect each other.

Setelah punya anak, banyak perbedaan pendapat antara aku dan Andreas, misalnya gaya parenting kami. Yang tadinya bukan masalah, mungkin lain ceritanya begitu anak lahir.

Aku tipe yang lumayan tegaan dengan anak. I'm okay to let baby cry for seconds, dengan catatan kalau nangisnya itu bersifat nggak mendesak, ya. Misalnya, nangis tantrum atau rewel nggak sabaran karena pengen sesuatu. Aku membiasakan untuk nggak langsung comfort Josh biar dia bisa belajar handle emosinya.

I'm totally fine with it, but surprisingly my husband doesn't feel the same way.

Andreas ternyata nggak bisa dengar anak nangis lama-lama. Setiap kali aku sengaja membiarkan Josh nangis, dia nggak sabaran dan minta aku untuk langsung gendong atau nurutin apa yang Josh mau. Padahal aku lagi di kamar mandi atau lagi rempong hal lainnya. Kzl udah pasti, enak aja suruh gue gendong, nggak lihat lagi ngapain, nih? Lo aja gendong sendiri kalo nggak tega.


Tentu aja kalimat di atas nggak aku utarakan secara langsung. Namun, kami berdua terlanjur emosi nan gondok, akhirnya sama-sama merasa kurang dihargai.

Lagi-lagi kami belajar untuk saling terbuka. Sama-sama nggak suka, ya harus bilang. Gimana caranya supaya tetep sepakat dalam mendidik anak kami.

Kami pun juga belajar untuk saling mendengar, tanpa ada maksud untuk menyalahkan. Apalagi yang berhubungan dengan anak, nggak ada yang salah atau benar. Tapi sebagai orangtua, kita harus satu tim dan punya rules yang sama.

Jadi sekarang begitu situasi yang sama terulang, suami belajar "kebal" dengan tangisannya Josh. Kalau anaknya masih rewel sendiri, aku juga harus pengertian waktu papanya memutuskan untuk comfort dengan caranya sendiri.

Ada satu cerita lagi soal ini.

Waktu masih hamil Josh dan kami pergi ke Bali, aku pengen banget makan seafood di Jimbaran. Tapi Andreas ngelarang karena kata dokter lagi hamil harus ngerem makanan laut. Kami debat soal ini sepanjang perjalanan bareng dua adikku ke tempat berenang. Epic banget, sih, berantem di depan saudara kandung sendiri. Singkat cerita, waktu adikku break, aku tanya-tanya soal seafood dengan kesehatan bumil dan janin. Fyi, my brother is a doc. Setelah ngejelasin dari sisi medis, tanpa aku prediksi dia ngomong kayak gini:

"Lo jangan kayak gitulah sama suami. Dia ngelarang gitu karena lo lagi hamil anaknya juga. Dia punya hak untuk itu."

Asal tau aja ya, adikku yang masih jomblohigh quality, anyone? Ini dan introvert banget, tapi kalo udah ngomong, suka bikin orang terkejut dan JLEB sampe ke ulu hati.

Setelah adikku ngomong gitu, aku langsung say sorry ke Andreas. Aku minta maaf karena udah egois menganggap yang paling tahu tentang anak yang ada di dalam perut. At the end, malam itu aku δΉ–δΉ– (guai guai=nurut) makan menu ikan dan sedikitttt udang dan kerang yang dijatahin suami di Jimbaran. Baik aku dan Andreas belajar saling mengerti aja; aku nggak boleh egois, dan Andreas tetep nurutin keinginanku makan seafood walaupun deal untuk dibatasi.

Sepele, kan, contoh kasus di atas? Tapi realitanya, ya, sesulit itu. Apalagi aku dan Andreas sama-sama keras kepala dan gengsian banget.

Bersyukur akhirnya kami sadar, sebagai pasangan kita harus saling respect. Walaupun yang hamil dan melahirkan adalah mama, papa pun punya hak dan andil yang sama untuk berpendapat tentang anaknya sendiri.

Aku selalu percaya anak adalah karunia. Selain sebagai perpanjangan sebuah keluarga, mereka hadir untuk jadi "bahan" belajar bagi suami dan istri. Coba kalo Josh nggak ada, mungkin masih sulit bagi kami untuk belajar tentang poin ini.

4. Learn about each other love languages.

Waktu pacaran dulu, mungkin rasanya kita yang paling kenal dengan pasangan kita. Tapi setelah menikah, tiba-tiba ada masanya di mana kita merasa "asing" satu dengan lainnya. Ada yang kayak gitu nggak, sih?

Nah, salah satu cara untuk mengenal pasangan kita, adalah dengan mencari tahu apa bahasa kasih mereka, atau biasa disebut "love language".

Love language test yang paling terkenal, bisa dicoba versi Gary Chapman.

Menurut penulis, ada 5 jenis love language: words of affirmation, acts of service, receiving gifts, quality time, physical touch. Dengan mengetahui bahasa kasih apa yang kita punya, akan membantu kita dalam berhubungan dengan pasangan.

Beberapa minggu yang lalu, aku iseng untuk tes ulang, sementara Andreas pun aku paksa untuk ikutan juga demi postingan ini, HAHAHA. Nggak ding, supaya kami saling tahu juga. Karena terakhir kali kami tes waktu masih pacaran. Ternyata, hasilnya berubah setelah menikah.

Hasil love language Andreas:

1. Quality time - penting banget untuk spending time dengan suamiku tersayang ini.

2. Words of affirmation - men and their pride, suami itu paling senang kalo dipuji atas achievement mereka atau sekedar bilang "thank you", di saat mereka melakukan sesuatu untuk kita.

3. Physical touch - did ya know, kalau nggak salah ingat waktu pacaran dulu poin ini ada di urutan pertama atau kedua. Karena masih berstatus pacaran, jujur aku bingung gimana caranya "berkomunikasi" lewat sentuhan fisik dengan Andreas. Sentuhan fisik nggak berarti selalu vulgar, ya! Because that was I thought before too! πŸ˜…

Sentuhan fisik itu banyak macamnya, seperti gandengan tangan, holding hands while you guys talking, pelukan, gentle back rubs, dll. Waktu itu aku beneran no idea poin yang satu ini sangat berarti buat Andreas. Walaupun sekarang turun peringkat, tetep PR buatku untuk lebih peka terhadap kebutuhan suami yang satu ini :P

4. Acts of service - sesimpel masakin doi makan malam atau siapin makan pagi.

5. Receiving gifts - sejak kenal Andreas sampai hari ini, bisa dihitung dengan jari seberapa sering aku beliin dia kado. Anaknya juga woles banget, sih, kalau dikasih sesuatu berupa materi. Andreas tipe yang lebih menghargai proses dibalik sebuah pemberian. Misalnya, aku pernah bikin chocolate truffle dalam rangka Valentine pas tahun kedua kamu pacaran. Belum juga dicoba, ekspresinya luar biasa senang. Dia nggak peduli cokelatnya enak atau nggak, dia jauh lebih terharu dengan niat dan proses di balik pemberian cokelat tersebut. Such a keeper, isn't he? πŸ’“

Sementara, hasil love language aku sebagai berikut:

1. Acts of service - aku cukup kaget ternyata primary love language aku berubah setelah menjadi housewife dan SAHM. Hati ini akan merasa senang tiada tara, saat suami bisa membantu perintilan domestik atau mandiin Josh tanpa diminta.

2. Words of affirmation - apresiasi melalui kata-kata masih sangat berarti banget buat aku. Mudah-mudahan suatu hari bisa dapet pujian dari suami, "Kamu kurusan, ya?" atau "Kamu sekarang lebih slim, deh." HAHAHA

3. Quality time - I always thought this was my primary language. Jujur, semenjak jadi mama, aku lebih suka menghabiskan waktu dengan diri sendiri alias me time. Mungkin ini kenapa aku jarang berinisiatif untuk ngajak suami date night. Tapi sekarang, aku mau kok.

4. Physical touch - pelukan di saat bete atau dapet pijitan gratis waktu capek udah cukup buat aku.

5. Receiving gifts - as much as I like to receive something from hubby, sebenarnya materi itu nggak terlalu penting juga buatku. Etapi, gapapa lho kalo tetep pengen ngadoin :P

Setelah tahu love language yang kita punya, berkomunikasi akan jauh dimudahkan. Oh, ternyata dia lebih senang kalau begini. Oh, ternyata dia kurang suka kalau pakai cara ini. You will be surprised that both of you have special way to communicate.

Btw, untuk yang belum menikah atau masih pacaran, I highly recommend to take the test too (:

5. Sabar adalah koentji.

Walaupun kadang gemes, ya, rasanya kok pasangan nggak ngerti-ngerti apa yang kita mau. Perasaan udah dikasih tau berulang-ulang garis biru di pospak itu adalah bagian depan, masih aja nanya. Aku rasa selama ini pun Andreas banyak sabar sama istrinya, yang notabene suka lemot dan berujung salah paham sama suaminya.

Pokoknya ingat, setiap kali mau marah atau siap meledak, tarik napas dalam-dalammm... buangggg. Sabarrr... sabaaarrr...


***
We're not perfect couple. Dengan sharing pengalaman ini nggak berarti kami udah sempurna. Nikah juga baru mau tiga tahun, masih "lucu-lucunya" kalau kata teman kami, hahahaha. Tapi selama nulis postingan ini, secara nggak langsung menjadi evaluasi kami berdua. It's true what they said: getting married is easy, staying married is hard. Karena untuk mempertahankannya butuh perjuangan, nggak cuma suami atau istri, tapi dua-duanya.

Aku tutup postingan inikarena ternyata udah kepanjangan banget πŸ˜…dengan penggalan kalimat dari artikel di Parents.com (link ada di bawah, ya, gengs) yang berbunyi demikian,

"If you work on the marriage and make it better, it can be wonderful for everyone."

Nggak cuma kita sebagai pasangan merasa lebih baik, anak pun bakal menerima pengaruh positif dari orangtuanya. Remember this, right: happy parents = happy children.


Ada yang punya kiat-kiat khusus juga nggak biar tetap happy menjalani pernikahan? Mari kita sharing di bawah, ya!


Waktu nulis postingan ini, aku sambil baca beberapa artikel sebagai referensi dan juga inspirasi untuk pribadi. Siapa tahu ada yang butuh juga (:

4 comments:

  1. Yes setuju, happy parents are happy kids. Aku juga dapet soal itu dari parenting class di gerej. Kalau mau didik anak dgn bener, hub sama pasangan hrs bener dulu. Makanya penting utk bisa tetep dating setelah menikah. Ga hrs keluar rumh, tp yg penting komunikasi ttp lancar ya. Emang bener kids change everything ya. Belajar jdi istri susah, ditambah lagi belajar jdi ibu hehe. Semangat jane!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, setuju. Karena anak bercermin dari kaca orangtuanya, ya. Kalau orangtuanya akur dan harmonis, anak juga pasti tumbuh dengan karakter yang baik. Semoga kita terus semangat belajar jadi ibu dan istri yang soleha ya, ci. Hahaha :D

      Delete
  2. Eh, kamu kurusan ya jane?!

    Ketemu aja bloman so muji2! HAHAAHAHA ... oh well, marriage life after kids is tough but it's worth kalo kamu jalanin dengna orang yang tepat ya ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah kamu, ngeledek ya?! *serba salah* hahahaha

      Ah betul sekali. Bersama orang yang tepat akan selalu lebih mudah, ya. Jiayouu for us!

      Delete

Thank you for reading and dropping your comments! All comments are moderated and I will reply each comment daily, so please check back. Nice to chat with you!