Review Vendor Wedding di Bali

Saturday, June 2, 2018


After you said "YES", the next step probably is to start the vendor hunting.

Sebenarnya, mencari vendor pernikahan di jaman sekarang jauh lebih mudah. Banyak situs directory online lokal yang memberikan kemudahan dalam mencari vendor. Sudah tersedia informasi jelas beserta portfolio untuk membantu kita menentukan vendor mana yang cocok dengan selera dan budget.

Namun, aku sendiri lebih senang membaca review orang di blog atau sosmed. Menurutku, pengalaman pribadi orang lain itu lebih seru dan jujur. Walaupun pasti subjektif, sih. Bisa aja dua orang yang berbeda memakai vendor yang sama ternyata punya pengalaman yang berbeda.

Tadinya aku memang nggak berencana untuk membuat postingan khusus tentang ini. Berhubung lumayan banyak email yang masuk gara-gara tulisan tentang serba-serbi menikah di Bali dan mayoritas pertanyaan yang diajukan sama: Pakai vendor apa aja?, hari ini aku bakal menulis review tentang vendor apa aja yang kami pakai waktu nikah di Bali.

Review ini memang udah telat hampir tiga tahun, HAHAHA. Gapapa, deh. Semoga berguna bagi yang sedang butuh inspirasi atau info tentang vendor pernikahan di Bali, ya.

Venue: Ayana Resort & Spa Bali (Tresna Chapel)

Ada beberapa alasan kenapa kami memilih chapel di Ayana sebagai lokasi pemberkatan nikah:

1. TEMPATNYA CANTIK BANGETTT!
We're sold with the gorgeous view. Period.




Sayangnya, Ayana sudah melakukan renovasi dengan Tresna Chapel-nya ini. It's still beautiful tho, cuma aku lebih suka yang bangunan lama, terkesan lebih humble dan dreamy.

2. Sesuai dengan budget.
Walaupun kelihatannya mewah dan prestisjius, ternyata paket wedding yang kami ambil waktu itu nggak terlalu mahal lho. Makanya kami cukup kaget untuk semua fasilitas yang kami dapat bisa dibayar dengan harga sekian.  Itu pun udah termasuk menginap di private villa mereka selama 3H2M., PLUS couple spa dan aquatonic spa di hari esoknya. Mayan banget, kan? Kalau ada yang tanya, capek nggak setelah nikah, buat kami, sih, nggak. Selain memang resepsinya di hari terpisah, kami dimanjakan dengan treatment dari Ayana *sombong* HAHAHA

3. The hospitality is amazing.
Apalah artinya kalau lo punya resort yang mevvah tapi pelayanannya tidak sebanding.

Di hari yang sama sebelum kami ke Ayana, kami sempat survei ke venue lain. Walaupun lokasinya jauh lebih high class dari Ayana (kayaknya, sih, ya... soalnya tempatnya lebih private), sayangnya pelayanan mereka waktu itu sedikit mengecewakan. Entah kebetulan staff yang melayani kami lagi bad mood atau gimana lah. Kasih infonya juga pelit.

Makanya, waktu kami tiba di Ayana dan bertemu dengan staff yang menemai survei, kok kontras banget perbedannya, hahaha. Padahal hari itu kami belum deal apapun. Tapi pelayanan yang mereka berikan, seperti keliling resort untuk melihat setiap chapel yang ada dan lokasi kamar villa, dilakukan dengan excellent. Bahkan, waktu Andreas iseng tanya apa boleh sekalian lihat kamar di RIMBA, pihak Ayana pun tanpa ragu memanggil shuttle untuk mengantar kami ke sana. Serasa VVIP, deh.

Long story shot, di hari survei itu jugalah kami berakhir di wedding office dan tanpa disadari langsung tanda tangan surat DP, HAHAHA

Setelah bayar DP pertama, akan ada wedding assistant yang memastikan semua perintilan wedding lengkap dan membantu kelancaran acara di hari H. Wedding assistant kami waktu itu adalah Miss Kristal. Namanya bagus, ya? Orangnya ramah, tapi juga tegas waktu menjalankan tugasnya.

 Waktu kami siap untuk rehearsal dan ini Miss Kristal tampak belakang :P

Abaikan papa dan putrinya yang lagi latihan prosesi masuk, ya! (which I hope I could smile brightly like this at the actual wedding. Grogi, bok!) Sebenarnya mau kasih liat penampakannya Miss Kristal dari depan, namun apa daya blur ): 

Overall, pengalaman dengan hospitality Ayana Resort ini sangat menyenangkan. I love how all the staff treat us like a family. Emang, sih, mereka melakukan itu semua karena bagian dari job desc dan kewajiban, but they do it genuinely. Keluarga dan sahabat pun memberikan pendapat yang sama.

Semoga kalau nanti ada yang berkesempatan menikah di Ayana, bisa merasakan juga apa yang kami alami, ya!

Lunch banquet: Bali Nelayan, Nusa Dua 
Demi menekan budget, kami memilih untuk makan siang di luar Ayana setelah pemberkatan. Tamu yang datang di pemberkatan hanya keluarga inti dan sahabat. Namun, untuk acara makan-makan ini, pihak keluargaku mengundang beberapa teman gereja di Bali.

Sejak awal kami memang ingin makan Chinese food, karena paling bisa diterima oleh semua kaum. Masalahnya, Chinese Restaurant di Bali itu ternyata cukup buanyaaak, sehinggak kami bingung memilih.

Beberapa hal yang menjadi pertimbangan dalam memilih restoran: lokasi (nggak boleh terlalu jauh dari Ayana dan mudah diakses dari Denpasar). harga dan rasa makanan.

Secara lokasi, Bali Nelayan ini sangat strategis. Posisinya berada di jalan besar By Pass Ngurah Rai, keluar tol langsung belok kiri ke arah Nusa Dua.


Secara harga dan rasa, dua-duanya hampir sempurna. Banyak feedback positif khususnya dari keluarga yang bilang makanannya enak. Nggak kalah dengan Restoran Angke atau Central di Jakarta. Manager yang assist kami waktu itumohon maaf banget aku lupa siapa namanya, padahal beliau sangat kooperatif dan ramah dengan kamijuga mengijinkan kami untuk tasting menu, tanpa DP. Kasarnya, kami jadi makan "gratis" waktu itu, hahahaha.

Seperti biasa, walaupun makanannya enak-enak, pengantin cuma kebagian nyicip-nyicip, setelah itu kudu ngider alias mingle T_T



Oh ya, aku booking sekitar 8-10 meja dan nggak di dalam VIP room. Tapi ada pembatas antara regular customer dengan acara wedding kami yang sedang berlangsung, jadi sama sekali nggak terganggu. Panggung dan sound system juga bebas dipakai.


Bali Nelayan 
Address: Jl. By Pass Ngurah Rai No. 88X, Nusa Dua
Contact: 0851 0143 9222

Gown rent: Kings Tailor Bali
Alasan kenapa aku memutuskan untuk sewa (dan bukan beli) gaun pernikahan di Bali, adalah: 

1. Kalau beli atau custom terus mau diapain selesai acara? Aku nggak sependapat dengan alasan sentimental value atau buat dipakai sama anak cewek nanti. Iya, kalau dikasih Tuhan anak cewek. Lagipula, hari gini aku nggak pernah denger ada pengantin yang pakai gaun bekas ibunya dulu. Mungkin ada, ya, kebaya gitu misalnya. Tapi kalau untuk style western (bener nggak, sih, istilahnya?) rasanya jarang. Di film aja kayaknya, hahaha. Dan walaupun aku termasuk yang suka simpan kenang-kenangan, gaun pengantin bukan salah satunya, sih. 

2. Ribet kalau harus bawa dari Jakarta. 

Aku sempat ditawarin untuk sewa gaun pengantin dari bridal di Jakarta untuk dibawa ke Bali. Namun, tawaran tersebut langsung kutolak. Karena alasan malas dan juga takut berisiko. Kalau gaunnya kenapa-kenapa gimana. Mana aku anaknya lumayan careless. Sewa di Bali juga lebih hemat budget

Nah, kebetulan di gereja tempat aku ibadah di Bali dulu, beberapa jemaatnya berkecimplung di dunia wedding, salah satunya ada yang bisnis gown rental

Kings Tailor Bali ini sebenarnya khusus bikin jas atau tuxedo untuk pria aja. Owner-nya, Ci Evie emang jago desain dan bikin jas. Hasil karyanya banyak dipakai untuk model majalah wedding maupun untuk acara nikahan. 

Mungkin karena bisnis wedding semakin luas dan permintaan banyak, Ci Evie pun coba untuk memasukkan beberapa gaun dari China yang terkurasi untuk disewakan, baik untuk pre-wedding maupun di hari pernikahan. Mamaku yang lebih dulu kenal Ci Evie di gereja langsung ajak aku untuk lihat sekalian coba-coba. Kebetulan alamat rumah plus butiknya nggak jauh dari rumah.   

Sebelum ke tempat Ci Evie, aku udah sempat hunting ke vendor lainnya. Masalahnya, harga sewanya nggak masuk ke budget. Calon suami waktu itu udah wanti-wanti biar calon istrinya ini lebih bijak memilih vendor, hahaha. 

Ternyata setelah coba beberapa pieces gaun di tempat Ci Evie, puji Tuhan dapet yang cocok dan harganya masuk kantong kami. Ini dia pilihan gaun pernikahanku: 


Sayangnya, gaun ini akan terlihat makin cantik kalau aku... lebih niat untuk diet, HAHAHA. Aku memang nggak melakukan ritual diet ketat, sih, menjelang nikah. Untung masih muat, walaupun semalam sebelumnya dikasih minum bubble tea dan makan nuggets McD bareng ciwik-ciwik, LOL 

Rental fee: Rp3.000.000,00 (harga bisa berubah sewaktu-waktu)
Includes: veil, hair pieces, jewelry 
Contact: Ci Evie
WA: 0819 3302 0735
LINE: Kings Tailor Bali 

Sangjit and Bridesmaid dress: La Bella Bridesmaids
Cari dress untuk sangjitan itu lumayan tricky. Nggak banyak yang jual gaun merah kalau lagi bukan imlekan. Mau jahit, rasanya malas dan nggak tahu tempat jahit yang bagus. 

Sebenarnya, nggak wajib, sih, pake dress cantik di acara Sangjitan. Mau pake blouse merah atau batikan kembar sama pasangan dengan suasana merah juga boleh banget. Cuma aku kecentilan aja pengen cantik pas acara seserahan ini. 

Putus asa keliling butik di mall, akhirnya pencarian berakhir setelah ketemu salah satu akun online shop di Instagram yang menjual gaun-gaun bridesmaid, namanya La Bella Bridesmaids. Setelah beberapa kali WA dengan cici owner-nya, ternyata dia punya butik di ITC Mangga Dua. Jadi bisa lihat dan coba langsung koleksi gaunnya, deh. 

Walaupun memang dikhususkan untuk bridesmaid, tapi ada beberapa pilihan model gaun yang cocok untuk Sangjitan, salah satunya gaun yang aku pakai ini. 

Model atasnya cheongsam, bahannya semacam satin, terus modelan bawahnya layered-tulle. Cantik, mewah, tapi nggak berlebihan.

Baca: Tradisi Pernikahan Modern Tionghoa yang Kami Lakukan


Di butik yang sama juga aku beli gaun untuk kedua bridesmaids aku. Nggak ada tips khusus dalam memilih bridesmaids dress, sih. Yang penting warnanya sesuai tema, untuk model dan ukuran bisa didiskusikan bareng. Waktu nemu beberapa model gaun yang aku suka, aku foto dan kirim ke grup supaya dua sahabatku bisa pilih sendiri, dan akhirnya mereka pilih mode one-shoulder long dress berwarna coral pink ini. Cantik banget waktu mereka pakai di hari H.


Address: ITC Mangga Dua Lt. 5 Blok A/107-110
WA: 0811 9333 713
IG: @labellabridesmaids


MUA: Achun Zhuang
Cerita tentang pemilihan MUA waktu nikah, bisa dibaca di postingan serba-serbi menikah di Bali. Kalau yang masih inget ceritanya, mungkin kesannya nyesel dengan MUA yang aku pilih ini 😅

To be honest, I'm pretty satisfied dengan hasil riasan Ko Achun ini kok. Prosesnya juga cepet banget. Apalagi di hari pemberkatan aku datang ke lokasi lumayan ngaret gara-gara penutupan jalan.

Satu hal yang agak disayangkan, riasannya terlalu smokey untuk acara di pagi hari. Walaupun jatuhnya soft, tapi mataku agak terlihat gelap. Mau minta ganti warna, ya, ndak mungkin, yaaa. Yang ada siap diocehin Miss Kristal karena bakal telat banget!

Sementara itu, untuk hairdo aku puas banget karena sesuai dengan rikues.

Cakep, kan? (pengantin atau makeup-nya? :P)

Ko Achun ini udah biasa merias pengantin dari China, Hongkong dan Taiwan. Jadi kayaknya dia udah luwes dalam mengatasi makeup untuk monolids, alias mata sipit macam aku, hoahahaha.

Kalau kalian cocok dengan gaya makeup-nya Ko Achun, bisa rikues mau riasan dan hairdo seperti apa untuk wedding nanti. Jangan lupa kasih foto referensi supaya ada bayangan jelas.

Price: ± 5 juta (ini harga paket tahun 2015, ya. Sudah termasuk makeup duo mama dan bridesmaids)
Contact: Achun Zhuang
WA: 0816 1607 459
Website: www.achunzhuang.com
IG: @achun_zhuang

Penginapan untuk keluarga dan sahabat: Sunset Residence Condotel
Salah satu pertanyaan yang cukup banyak aku terima tentang nikah di Bali, adalah akomodasi untuk keluarga atau kerabat.

Waktu itu seluruh anggota keluarga dan sahabat dari Jakarta, kami inepin di Sunset Residence Condotel, yang lokasinya di Jalan Dewi Sri. Karena namanya condotel, jadi ini lebih mirip apartemen daripada hotel. Satu kamar bisa muat 1-2 keluarga.

Monmaap nggak bisa kasih review tentang kondisi kamarnya. Tapi aku pernah masuk dan oke-oke aja, sih. Cukup bersih dan ruangannya luas.

Buat yang ke Bali untuk keperluan bisnis atau ada event, boleh lah nginep di sini. Aku nggak rekomen condotel ini bagi yang datang untuk vacation. Soalnya daerah sekitar sana nggak ada hiburan, selain restoran dan beberapa tempat untuk belanja oleh-oleh.

Sunset Residence Condotel 
Address: Jl. Dewi Sri No. 11, Kuta, Bali
Telp: 0361-758574

Last and not least, vendor lainnya yang harus diberi kredit adalah,

Photo & Video: Amaranthine Photography 
We got so many compliments about our wedding photos, and all big thanks to Amaranthine team!

Having them as our wedding photographer semacam dapet jodoh.

Adiowner sekaligus fotografer dan juga Caisalah satu videografernya, adalah kedua teman kami. Well, Cai and I have been best friends since high school. Lewat Cai kami kenal Adi. Keduanya ini sama-sama talented di bidang fotografi. Kami memang baru kenal Adi waktu meeting sekalian bayar DP. Sejak saat itu, kami malah menjadi teman baik sampai sekarang. We also attended their wedding last year.  

Bertemu dengan Adi dan timnya di Bali, seperti ketemu teman lama, langsung kompak banget! Sesi foto-foto pun jadi lebih fun dan nggak awkward sama sekali. Walaupun begitu, mereka tetap profesional kok. 

Nggak hanya di Bali, mereka juga mengabadikan momen resepsi pernikahan kami di Jakarta. 

Pokoknya setiap kali ngubek foto-foto nikahan, rasanya hepi banget dan serasa balik ke hari itu. Luar biasa, ya, memang fotografi itu. Selain bisa disimpan sebagai kenang-kenangan, juga bisa menceritakan pengalaman yang unforgettable. 

Thank you once again, Amaranthine! You guys are amazing! 

Amaranthine Photography & Videography
Contact: Adiboy 
WA: 0878 8176 5660 
Email: adisabardiboy@yahoo.com
Portfolio: @adisabardiboy | @amaranthine_photography 

Saran dan tips lainnya:
  • Beberapa vendor yang disebutkan di atas tidak dicantumkan harga, karena pasti ada perubahan harga tiap tahunnya. Jadi, kalau ada yang berminat, silakan menghubungi langsung, ya.
  • Untuk venue, disarankan untuk survei langsung. Pengalamanku, aku hanya survei ke 3 lokasi termasuk Ayana. Coba aja browsing dulu venue mana yang disukai. Misalnya ada 10 pilihan, disortir lagi jadi 8, kemudian 5, lalu 3. Alasannya, biar nggak overwhelmed dan gampang memutuskan.
  • Waktu terbaik untuk melangsungkan acara pernikahan di Bali adalah bulan Juni-Oktober. Hari-hari di bulan tersebut cuacanya cenderung cerah, khususnya bulan Juni-Agustus (kata orang mah Bali ketepa angin winter dari Aussie, jadi ademm, hahaha). Kami menikah di bulan Oktober, tapi kudu siap dengan terik matahari yang amboyyyy panasnya. Jangan lupa sunscreen!


All photos credit to Amaranthine! ❤

No comments:

Post a Comment

Thank you for reading and dropping your comments! All comments are moderated and I will reply each comment daily, so please check back. Nice to chat with you!