Worry About Nothing: Josh's First Dental Visit

Wednesday, March 13, 2019


Someone said to me, moms are easily worry about every little thing. 

Maksudnya, ya wajar aja kalo gampang panikan karena lo seorang ibu. Padahal sebelum jadi ibu aja aku anaknya gampang khawatiran, apalagi udah punya anak begini, entah udah berapa kali khawatir akan hal-hal tertentu, dan seringnya pun NGGAK kejadian.

Apa yang aku rasakan ini sungguh kontradiktif dengan apa yang diajarkan guru sekolah minggu di gereja dulu, bahkan sermon hari Minggu kemarin pastor berkhotbah tentang ini; burung di udara dan bunga di ladang nggak bekerja, tapi dipelihara dan disayang oleh Tuhan, apalagi kita manusia. Masalahnya, kalo lagi panikan mana bisa mikir soal bunga apalagi burung?! 

Jadi hari ini mau cerita...

Josh had a dental appointment this morning and this was his very first visit. Alasannya, karena udah lama gigi depannya terlihat sedikit hitam dan patah. Nggak horor kok patahnya, anaknya pun nggak pernah mengeluh sakit atau ngilu atau semacamnya. Makan ya makan aja, nggak ada masalah. Kenapa akhirnya memutuskan untuk bawa ke dokter gigi, simply to ask a proper treatment for my son. Biar tiap kali sikat gigi, aku nggak ngebayangin yang aneh-aneh tentang giginya. 

Sebagai yang takut dan 'musuhan' dengan dokter gigi sejak kecil, aku takut banget untuk bawa Josh ke dokter gigi. Aku punya kejadian yang cukup traumatis dengan dokter gigi dan alat-alat besi di ruangan dokter yang kalau dinyalain langsung bikin hati ini mencelus dan ingin berteriak sekencang mungkin. 

Bayangkan, baru berencana untuk make appointment untuk Josh aja tuh aku udah deg-degan setengah mati. Ke dokternya baru hari ini, tapi cemasnya udah sejak dua hari yang lalu. Seharian itu aku sibuk browsing di internet tentang pengalaman bawa anak ke dokter gigi, ekspektasi apa yang harus aku miliki dan tentu saja rekomendasi dokter gigi anak yang oke di Bogor. 

Kemudian skenario di dalam ruangan dokter gigi mulai terbayang-bayang di kepala. Gimana kalo ternyata lubang giginya Josh lumayan dalam dan harus ditambal tapi wanti-wanti akan ngilu banget sehingga dokter menyarankan untuk dibius kemudian baru ditambal. Demi menghadapi skenario ini, aku sampai nonton video anak bule yang harus dibius total sampai tidur untuk menjalani prosedur penambalan gigi. Ini lebay banget, sih. Beneran, lebay. Yang mau ke dokter siapa yang parnoan siapa.

Sounding ke dokter gigi pun dimulai sejak appointment sudah dibuat. Anaknya mah woles aja, dikasih tau mau ke dokter gigi juga iya-iya aja, karena emang belum pernah, kan, nggak ada bayangan sama sekali. But I also told him during the procedure he might feeling a little bit painful, jaga-jaga aja kalo harus ketemu bor buat bersihin gigi, atau harus dicungkil-cungkil bagian hitamnya, mayan ngilu juga, kan. Kalo pun sakit, yaudah cengkram tangan mama kuat-kuat aja... padahal dalam hati membatin, MAMA JUGA TAKUT, JOSH. 

Tibalah hari ini di mana jadwal bertemu dengan sang dokter gigi. Janjinya di jam setengah sebelas tadi dan sejak pagi sampai mau berangkat adalah pagi terpanjang yang aku alami. 

Entah udah berapa kali aku ngerasa mules dan bolak-balik kamar mandi, nggak BAB, beneran stress. Ketika lagi 'bertapa' di atas bangku kloset, mendadak seperti mendapat bisikan halus (tapi bukan roh halus, ya! Mit amit!), "heh kamu ini dari tadi kayak cacing kepanasan aja, udah doa sana biar tenang, then just do your usual routine." Kalo udah ditegor sama Yang Di Atas mah kapok, kan. Ampun, Tuhan... T_T

Setelah nurut untuk doa, mulai agak tenang, kemudian lanjut beberes kamar supaya nggak terlalu mikirin soal ke dokter nanti. Sambil nggak henti-hentinya sounding ke Josh kalo bentar lagi kita bakal ke dokter gigi. Pengennya bisa santai, karena kalo mama tenang, anak pasti tenang. Yang ada sounding-nya jadi berlebihan. Mungkin Josh bingung kali, sebenernya ini mau ngapain, sih, di dokter gigi, emak gue kok bawel amat. 

Few hours later, we arrived at the clinic. Kesan pertama masuk, waw ini kliniknya cakep amat, kayak masuk tempat nyalon. Ruang tunggu anaknya ada mini playground pula. Kenapa dulu pas gue kecil nggak ada klinik kayak gini, sih? 

Josh main-main sebentar di playground. Mayan deh, biar mood anaknya bagus. Sedangkan aku masih deg-degan, apalagi bau-bau alkohol mulai tercium. 

Nggak berapa lama kemudian, dokter datang dan Josh diminta masuk. Seperti biasa, my introvert boy mulai malu-malu di belakang kaki mamanya sambil say hi ke dokter. Emaknya berusaha kalem padahal jantung udah mau lepas juga. Namun, rasa khawatir ini agak pudar karena dokter giginya Josh ini super ramah dan ceriwis. Sebelum diperiksa, Josh ditanyain mau nonton apa, katanya nonton Tayo aja. Keren banget, sih, dokter gigi anak zaman sekarang, mau perawatan gigi aja bisa sambil nonton kartun lho. Kalo nonton Netflix juga bisa, mungkin aku akan berpikir ulang untuk segera treatment juga di klinik ini... nggak janji juga, sih :P

Eniwei, Josh udah keburu insecure waktu disuruh buka mulut. Dia peluk aku dan terus bilang "nggak mau" waktu dokter minta lihat giginya. Karena aku ingin pertemuan ini cepat berakhir, aku bilang ke dokter, "Paksa aja dok, gapapa. Biar cepet." 

Mungkin aku melakukan kesalahan terbesar dengan cara pemaksaan ini, but I have no choice. Udah di sini masa nggak ngapa-ngapain, sia-sia dong kekhawatiran gue sejak kemarin. 

Kepala Josh dibaringkan di atas bantal empuk, dokter pun langsung memeriksa gigi Josh dengan cepat. Tangisan dan jeritan mulai menggema di penjuru ruangan. Mama pun mau ikutan nangis, tapi berusaha menenangkan diri dan juga Josh. It wasn't easy. I didn't feel sorry for him either, karena emang Josh harus diperiksa giginya supaya sehat. Meski demikian, aku tetep meringis karena kasihan, siapa yang tega sih lihat anak nangis-nangis dipaksa gitu. Hiks.

Setelah gigi Josh dicungkil-cungkil, dokter bilang langsung ditambal aja, tapi nggak usah pakai bor. Mendengar itu aku pun bengong. Nggak usah pakai bor? Hah? Tambalnya gimana?

Penambalan gigi Josh tadi adalah proses tercepat dan termulus yang pernah aku lihat. Tambalan ditempel ke gigi, kemudian disinar pake cahaya biru (kayaknya ini berfungsi supaya tambalan nempel), diolesi tooth mousse, voilaaa.. gigi Josh kembali seperti semula.

Setelah selesai, Josh langsung peluk aku eratttttt banget sambil nangis sesunggukkan. My poor baby, pasti syok ya tadi ):

Namun, anaknya kembali tersenyum lagi karena asisten dokter tiba-tiba memberikan mobil-mobilan sebagai small reward untuk Josh.

Setelah konsultasi dengan dokter tentang perawatan gigi anak, aku pamit keluar karena Josh pengen main slide di playground lagi. Sebelum keluar, aku minta Josh untuk say goodbye dan high-five dengan dokter. Eh, anaknya mau lho, pake senyum lagi, seolah-olah udah lupa tadi habis diapain. Mana dokternya sempat ngomong, "Abis ini Josh nggak ketemu dokter lagi dalam waktu yang lamaaaa kok." 😂😂😂  (thank you, drg. Ivana dari Audy Dental!)

So, that's it. Moral of the story: khawatir itu memang sia-sia, gengs. We worry because simply we don't know what will happen in future, kan. Kayak aku yang khawatir anak harus dibius segala, boro-boro bius, tambalnya aja pakai sinar, men. Nggak ada bor-boran sama sekali.

Waktu aku cemas soal ke dentist ini, rasa khawatir aku menjalar ke mana-mana, I even started to worry about everything in my life.

Akhirnya apa? Nggak ada satu pun dari kekhawatiranku yang terjadi tadi pagi.

I've been worried for nothing.












And just now, I got a notification from My Calendar app... my next period is one day left. 

PANTES GUE URING-URINGAN. 

No comments:

Post a Comment