Ternyata Passion Aja Nggak Cukup Untuk Sukses

Friday, November 15, 2019

Photo by Randalyn Hill on Unsplash

Di gereja tempat di mana aku beribadah saat ini, selalu punya tema bulanan yang berbeda-beda yang masih nyambung dengan tema besar tahun ini. Nah, entah kenapa topik yang dibahas sejak bulan lalu itu ngena banget ke aku secara pribadi. Khususnya bulan ini, sih, topiknya sangat sangat familiar buatku, yaitu tentang passion

Udah lama banget rasanya nggak ngomongin passion, jadi ini kesempatan untuk cerita lagi di sini. Sebelum lebih lanjut, aku ingin flashback sebentar ke beberapa tahun yang lalu di mana aku mulai sering gelisah karena soal passion ini.

This is gonna be a long one. Grab your boba or coffee drinks and snacks, bear with me. 

***
Sejak sebelum kuliah aku mulai sering galau, pertama karena aku sempat khawatir nggak bisa kuliah (dengan jurusan impian) karena masalah ekonomi orangtua. Bisa dibaca cerita lengkapnya di sini ya: Untold Story: What Brought Me to China. Kedua, setelah aku berhasil mendapatkan beasiswa penuh untuk kuliah di luar negeri, aku galau nggak bisa menyelesaikan kuliah sampai akhir karena jurusannya bukan pilihanku sendiri. Kuliah jurusan Sastra Mandarin itu buatku 'terpaksa' karena nggak punya pilihan. Buat beberapa orang yang memang kenal aku, jurusan tersebut terdengar sangat "cocok" buatku. Karena buat mereka, "si Jane, kan, emang bisa Mandarin dari kecil, mamanya aja guru Mandarin, emang udah jalannya lah dia juga begitu." Ya, kira-kira begitulah anggapan orang lain. It seems promising for others, tapi buatku sendiri yang menjalaninya malah penuh tanda tanya. 

Singkat cerita, meskipun ada hari-hari di mana aku harus belajar lebih ekstra karena nggak kepengen ngulang matkul di semester berikutnya, puji Tuhan semuanya bisa dilalui dengan lancar. Sampai akhirnya kegalauan berlanjut menjelang nulis skripsi, itu berarti udah harus mulai berpikir karir atau pekerjaan apa yang harus dijalani setelah lulus. Idealnya, kita akan bekerja sesuai dengan jurusan yang kita ambil, berarti pilihan karir yang paling tepat buatku adalah guru. Masalahnya adalah, menjadi guru bukanlah passion aku saat itu. Nggak pernah aku bayangkan rasanya jadi guru.

Lucunya, meskipun bilangnya nggak pengen jadi guru, aku malah sepertinya sengaja 'didekatkan' dengan profesi ini.

Sejak aku SMA, mamaku sering banget minta tolong aku untuk jadi asistennya saat ngajar bahasa Mandarin. Aku mau-mau aja, soalnya dijanjiin uang jajan lebih hahahaha. Tapi ya nggak pernah ngeluh, asik-asik aja gitu bantuin mama ngajarin murid-muridnya, bikin soal latihan dan lainnya. Selain ngajar bahasa Mandarin, waktu SMP pun sebenarnya aku pernah ngajar sepupu untuk les piano. Dibayar lho, dan aku masih inget hasil uang les tersebut aku pakai untuk ganti HP baru merek Sony Ericsson Walkman yang modelnya bisa diputer-puter gitu, terus kualitas suaranya kece banget di jaman itu. Saat kuliah pun aku sempat ngajar piano untuk adik kelas aku, ngajar kelas Alkitab di gereja juga pernah, pokoknya aktifitas "mengajar" ini sebenarnya bukan hal asing buatku. Sampai lulus pun, penghasilan utamaku itu sebenarnya banyak dari hasil mengajar atau jadi guru.

Sayangnya, karena mengajar bukan sebuah passion dan aku sendiri 'terjebak' dalam persepsi yang salah tentang passion, akhirnya aku nggak pernah belajar sungguh-sungguh menyukai pekerjaan tersebut yang mana bisa menghasilkan secara materi. Aku menolak mentah-mentah untuk bekerja menjadi guru full time di sekolah (padahal gajinya LUMAYAN banget!), hanya karena aku merasa itu bukan panggilan aku. Persepsi aku tentang passion saat itu adalah harus bisa melakukan sesuatu yang benar-benar aku suka, which is menulis.

Kalau ditanya hal apa yang aku suka dan nggak pernah bosan untuk melakukannya, ya menulis. Mau nulis essay, nulis cerpen, nulis blog apapun deh. Makanya, aku pernah bercita-cita untuk bisa bekerja sebagai jurnalis atau content writer di sebuah majalah. Nggak kesampaian, aku mencoba untuk serius blogging. Realitanya, untuk bisa mendapatkan uang dan endorsement melalui blog tidak semudah itu ferguso. Butuh jam terbang dan komitmen untuk mengisi konten blog sampai bisa dilirik calon klien.

Aku pernah cerita, ya, setelah lulus kuliah aku nggak bekerja full time di luar. Aku lebih memilih untuk membantu mamaku yang saat itu memulai bisnis kembali dari 0. Meskipun statusnya "bantuin orangtua", tetap aja aku nggak ngerasa kerja 'beneran'. Di saat teman-teman lainnya udah mulai diterima kerja di perusahaan besar, ada yang langsung menjadi guru full time di sekolah bahkan ada juga yang memulai bisnisnya sendiri. Di momen itulah aku merasa galau setengah mati; what am I doing with my life? I once had a big dream tapi kok kenapa sekarang kayak nggak tahu musti ngapain?

Kegalauan tentang tujuan hidup, mimpi dan passion akhirnya aku tuangkan ke dalam sebuah buku berjudul Passion Talk. Lumayan lah ya, galau-galau tapi berbuah manis karena bisa nerbitin buku pertama meskipun self-publishing. Proses menulisnya selama aku nganggur, kemudian terbit di saat aku mulai bekerja sebagai barista dan aku masih ingat euforia yang dirasakan saat itu. Menjadi barista celemek hijau dan bisa menerbitkan buku sendiri tentu bukan mimpi untuk semua orang, tapi rasanya buatku waktu itu keren banget.


Setahun kemudian, aku menikah, tahun berikutnya punya anak, dan tahun-tahun selanjutnya sampai hari ini aku habiskan waktu 24/7 untuk Josh dan keluarga. Aku sempat lupa dengan apa yang biasa aku lakukan, ya nulis, ya blogging, ya mengajar dan lainnya selama hampir dua tahun. Nggak bisa mikir apapun kecuali ngurusin Josh. Seiring berjalannya waktu, aku mulai bisa menemukan ritme untuk kembali aktif mengisi konten di blog dan juga melakukan hal lainnya di luar perintilan anak. Jujur, aku senang banget bisa rutin blogging, meskipun nggak menghasilkan tapi hati enak aja gitu bisa berbagi melalui tulisan.

Tapi diam-diam hati ini membatin, harusnya gue bisa nih mengerjakan sesuatu sesuai skill yang gue punya dan benar-benar bisa menghasilkan. Apa gue ngajar les privat aja, ya?

Sebenarnya. ide tentang mengajar ini tuh udah lamaaaaa banget dicetuskan suami. Nggak tau kenapa kok kayaknya cenderung maksa aku untuk ngajar di rumah. Memang, sih, akhirnya aku terima tawaran ngajarin ponakan suami (dan dibayar), tapi ya itu, lagi-lagi aku nolak untuk ngomong ke orang lain kalau aku terima murid les dengan alasan segudang. Biasanya nih, kalau ada yang 'cerewet' soal potensi kita, jangan-jangan memang itulah yang harus kita kerjakan. 

Maka akhirnya, beberapa waktu yang lalu aku memberanikan diri untuk "mempromosikan" jasa mengajar ini di sosial media dan ke beberapa circle yang aku punya. Puji Tuhan udah ada satu murid baru dan udah mulai ngeles sejak minggu lalu. Selama mengajar, aku merasa ini this is the right thing to do. Sempat ada pikiran kenapa nggak dari tahun lalu aja melakukan ini, tapi ya ternyata sekarang ini lah timing yang tepat.

Terus, inti dari cerita panjang lebar ini apa, sih, Jane? What message do you want to try deliver? 

Jadi begini. Makin ke sini aku makin paham, kalau passion itu bukan sekedar suatu bidang yang kita suka. You name it, musik, art, science, culinary, anything. Tapi passion itu juga bisa berupa sebuah aksi maupun tujuan (Gita pernah ngomong gini juga di videonya tentang ikigai), dan passion aku saat ini bukan lagi hanya menulis, namun berbagi cerita dan mengajar. Yang mana sebenarnya aku bisa menarik benang merah dari kegiatan yang memang sudah aku lakukan beberapa tahun ini, menulis dan mengajar. Aku menulis untuk berbagi, aku mengajar pun untuk berbagi.

Dan aku pun juga merasa passion itu nggak melulu tentang sesuatu yang kita suka lakukan. Pernah dengar quote "do what you love, love what you do" kan? Pastor di gerejaku, Jeffrey Rachmat, beliau pernah ngomong seperti ini: "Semua orang mudah untuk melakukan apa yang mereka suka, tetapi untuk mencintai apa yang sedang dilakukan itu jauh lebih sulit dan mereka biasanya adalah orang-orang hebat."

Setuju banget nggak, sih??

Selama ini aku menganggap menulis sebagai passion, sesuatu yang aku sukai banget. Tapi ternyata aku punya keahlian di bidang lain yang bukan passion tapi sebenarnya bisa lebih bermanfaat dan aku bisa mengeluarkan seluruh potensi di bidang itu, contohnya ya mengajar ini.

Aku pernah baca sebuah artikel dari situs Provoke Magazine yang membahas tentang nasihat "follow your passion", mereka mengutip penelitian seorang penulis psikologi bernama Erik Barker, yang membuktikan bahwa manusia itu lebih suka melakukan sesuatu yang gampang ketimbang melakukan sesuatu yang membuat kita menjadi ahli (di bidang tertentu). Jadi kalau di kasusku, apakah aku menulis atau blogging karena sekedar gampang dan menolak untuk mengajar padahal hal tersebut bisa aja membuatku bisa menjadi ahli?

Hayooo... coba tanya dulu ke diri masing-masing, apakah yang kalian kerjakan saat ini benar-benar sebuah passion atau sekedar sesuatu yang gampang dilakukan aja?


Masih dalam artikel yang sama, ada penelitian lainnya dari seorang penulis bernama Cal Newport yang mengatakan passion justru dihasilkan ketika kita menggeluti keterampilan (yang langka) di bidang kita dan keterampilan yang kita punya itulah membuat kita dihargai tinggi. Dengan kata lain, kita nggak bisa cuma mau melakukan yang kita mau atau senang aja, tapi kita harus cari cara untuk mencintai apa yang kita lakukan. Karena menurut Cal Newport, orang-orang yang mengikuti nasihat "follow your passion" di saat mereka menghadapi kesulitan, mereka mudah sekali untuk menyerah. Padahal harusnya passion itu bukan sekedar emosi sesaat, bukan sebuah emosi yang menggebu-gebu di awal namun meredup di tengah jalan. 

Jadi, harusnya gimana dong kak?

Kalau mengikuti saran Newport di atas, kalau mau sukses berarti mengejar passion aja nggak cukup, harus punya kegigihan untuk bertahan. Dan kunci untuk bertahan adalah tahu apa yang ingin dicapai dan apakah yang kita lakukan bisa berguna dan membantu orang lain. Yes, passion helps you to find your purpose, but sometimes by not only doing one thing, but to experience many things out there. Karena terkadang kita bisa menemukan sesuatu yang baruatau bahkan memang sudah ada dalam diri kita tapi nggak sadar aja, contohnya seperti aku soal mengajar tadidi saat kita keluar dari zona nyaman, bukankah begituuuu? 

Sebagai penutup, ada quote menarik yang pernah dibagikan Kak Alodita saat mengikuti kelas workshop-nya beberapa waktu lalu: 

Kerja, kerja, kerja!

14 comments:

  1. Lha ini jadi out of box deh. Katanya kalo kita bekerja sesuai passion bisa terus bertahan karena itu kesenangan kita.

    Btw semoga terus sukses dengan langkah2nya mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya nggak salah sih bekerja sesuai passion, tali sifatnya nggak wajib dan bukan sesuatu yg ideal untuk beberapa orang, kalau menurut aku yaa. Makasih banyak Bang (:

      Delete
  2. Baca ini pagi-pagi dan kayak diajak merenung hehe.. Kayaknya aku sampai saat ini juga belum memahami passion itu apa sih, sebenernya? Dan walaupun kerjaan sekarang sesuai jurusan pas kuliah, yang memang dipilih sendiri, kok kayaknya masih belum sesuai juga hahaah :)) Btw semangat Jane, ikut seneng baca tentang akhirnya bisa menganggap keahlian mengajar itu bagian dari passion juga. Thank you udah diajakin merenung hehe.. Dan quote di akhir dari Kak Alodita juga suka banget :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin harus coba hal baru Eyaa biar nggak jenuh atau bingung hihi soalnya aku juga kalo lagi galau cobain hal baru biasanya ada ajaaa pencerahannya :D

      Sama-sama Eyaa! Semoga kita terus semangat!

      Delete
  3. Aku termasuk beruntung bisa kerja & buat usaha di bidang yang sesuai passion ku. Thank God ngga pernah putus ditengah jalan. Meskipun aku orang nya jenuhan tapi untuk yang satu ini masih terus bertahan sampai sekarang. Kadang suka kehilangan inspirasi tapi selalu kembali lagi ke jalannya, ternyata hanya perlu refreshing sejenak :p Ngangenin soalnyaa :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enakkkk banget ci memang kalau bisa kerja sesuai passion ya. Apalagi kalau kerjaannya bisa nolong banyak orang, kayak aku yang buta soal kode2 html/css huahaha

      Iya ya refreshing itu memang penting biar tetap waras (:

      Delete
  4. "...kita nggak bisa cuma mau melakukan yang kita mau atau senang aja, tapi kita harus cari cara untuk mencintai apa yang kita lakukan" whoaa thank you for that words

    ReplyDelete
  5. aku juga kerjanya ngajar, tapi dulu awalnya nyemplung biar dapet duit tambahan, tapi ternyata gajinya lebih gede daripada kerja kantoran plus aku masih punya banyak waktu luang, dan tanpa sadar jadi enjoy ngajar... jadi kalo ditanya uda kerja sesuai passion apa belom, ya mungkin udah, tapi yang jelas kerjanya ga sesuai jurusan kuliah hahahaha...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iya, kalau ditanya apa aku kerja sesuai passion aku juga bingung sih, karena belakangan ini baru sadar ternyata aku enjoy mengajar. Tapi kalo soal gaji emang bener sih ya ci :P

      Delete
  6. Passion ya? Yang jelas menulis itu passion aku. Tapi aku yakin ada yang lain juga. Hanya saja belum tahu.. Atau belum nyadar (?) hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin juga ada yang lainnya, bisa dicoba dengan melakukan banyak hal supaya ketemu deh potensi atau hal yang disukai lainnya (:

      Delete
  7. Makna passion yang sesungguhnya ya mbk😁

    Keren lho👍
    emang sih mencintai apa yang kita kerjakan itu lebih sulit dari mengerjakan apa yang kita cintai. Dan apa yang kita suka emang apa yang mudah buat kita.

    ReplyDelete

Thank you for reading and dropping your comments, it means a lot to me. All comments are moderated and I will try to reply to each comment as soon as I could, so please check back.

All spams and comments that contain ads are gonna be deleted. I'm trying to make this blog a pleasant place where we can communicate with each other.

Once again thank you and see you around!