Road Trip Bogor-Denpasar: Day 2 (Sidoarjo-Banyuwangi)

Saturday, January 20, 2024


Day 2 (14 Desember 2023): Sidoarjo-Banyuwangi

Mengingat kami cuma punya waktu satu malam di Villa So Long Banyuwangi, kami nggak mau buang-buang waktu terlalu banyak di jalan. Pokoknya sudah harus tiba di jam check-in! Ogah rugi ceritanya, hihi. 

Aku lupa bangun jam berapa, tapi lumayan pagi. Aku sempat workout 10 menit, siapin sarapan, dan mandi. Kami check out dari hotel itu sekitar pukul 8.00, melipir ke Shell untuk isi bensin dulu sekalian beli kopi. 

Jajan kopi dan croffle buat bocil.
Btw, kopinya Shell ini lumayan enak lho.

Sejujurnya, nggak terlalu banyak footage perjalanan menuju Banyuwangi. Selain hampir nggak ada yang bisa dilihat-lihat selama perjalanan, ketiduran juga, sih, huahaha. Begitu masuk Probolinggo, mulai melek karena jalanannya nggak mulus, belum lagi harus sat-set melewati truk-truk besar. Meski aman, tetap aja beberapa kali harus ngingetin suami: Pelan-pelan, Pak Sopir!

Di saat yang bersamaan, aku mulai nyesel nggak bungkus fast food untuk bekal perjalanan, karena susah sekali nemu tempat makan yang proper untuk berhenti. Kriteria tempat makan proper versiku: bersih (penting!) dan makanan kids friendly (karena nggak semua anak mau makan apa yang dimakan orang tuanya). Kebanyakan warung makan yang kami jumpai, ya, warung makan biasa ala kadarnya aja. Mungkin kalau nggak bawa anak-anak, nggak masalah buat kami berdua. 

Beberapa kilometer sebelum masuk Baluran, suamik pun berujar, "Kalau mau makan, mending sekarang aja sebelum masuk Baluran nih. Kalau nunggu makan siang di Banyuwangi mah udah kesorean." 

Karena udah lapaaaar bangetmakanan terakhir yang masuk ke perut cuma mi instan!akhirnya kami memutuskan untuk berhenti di salah satu warung makan yang terlihat menyajikan menu paling lumayan. Aku juga siap sedia nori dan Taro di tas bekal anak-anak, just in case kalau nggak cocok buat bocil, setidaknya ada topping micin, muahaha. 

Pemilik warung makan adalah sepasang suami istri, panggilnya bapak dan ibu aja, ya. Warung makan ini sepertinya merangkap tempat tinggal mereka di area belakang. Area warungnya benar-benar sederhana, hanya ada dua meja (seingatku, sih) dan dapur kecil dengan kulkas satu pintu. Plus, ada sebuah motor yang kuasumsikan milik si bapak warung, parkir di dalam, sebelah dengan meja tempat kami duduk. Pilihan menunya juga nggak banyak. Suami pesan sate ayam dan rawon. Sebetulnya aku ingin makan nasi pecel. Sayangnya, kata ibu udah nggak jualan nasi pecel karena nggak terlalu diminati, juga sayur itu, kan, gampang rusak, ya. Aku pun ngikut makan sate aja, deh. 

Kami pun menunggu makanan dipersiapkan. Bapaknya sibuk bakar sate, sementara ibu nyiapin rawon. Waktu kami mau pesan nasi, dijawab ibu, "Nasinya ambil sendiri aja di sana, ya." Aku pun beranjak menuju meja kecil dengan rice cooker di atasnya. Ini, sih, vibe-nya benar-benar kayak lagi numpang makan di rumah orang. Nggak ada pelanggan lain selain kami berempat.

Aku sibuk nyuapin Krystal yang udah kelaparan. Karena anaknya belum begitu makan daging, menu makan siangnya cuma nasi putih hangat, dicampur kecap manis dan Taro. Terus, anaknya lahap banget. Curiga emang karena laper atau karena micin, ya, dek?! Demi menenangkan jiwa idealisku tentang gizi makan anak, lagi-lagi kuucapkan mantra "sesekali gapapa, lagi liburan ini" berulang-ulang dalam hati. Lagi pula, kapan lagi lihat anak makan selahap secepat ini?? 

Sembari nyuapin Krystal, sang suami ekstrovert sibuk ngobrol sama bapak di belakang warung. Entah apa yang diobrolin. Itu memang kelebihannya, sih. Sulit buatku untuk membuka pembicaraan dengan orang asing. Lain cerita dengan suami. He can talk to almost everyone he meets. Serunya, setelah ngobrol dengan orang asing, biasanya akan jadi topik pembicaraan kami lebih lanjut. Kayak waktu bapak warung makan ini mengira kami banyak duit saat kami bilang sedang dalam liburan. Bagian banyak duitnya tentu saja diamini, tapi suami hanya menjawab, "Kalau banyak duit kami naik pesawat, Pak. Mau hemat nih makanya naik mobil." Bisaan aja nggak tuh? Hahaha. Ya, kami jadi berangan-angan kalau suatu hari nanti kondisi finansial kami udah stabil lagi dan punya tabungan lebih, ingin banget bawa anak-anak traveling ke luar negeri. Nggak perlu jauh-jauh, ke Eropa dulu aja boleh kali, ya? 🤣

Siang itu, terik dan panaaas banget. Nggak ada angin samsek. Mungkin karena banyak truk angkut dan kendaraan besar lainnya melintas jalanan tersebut, badan rasanya lengket dengan debu dan bau asap. Rasanya udah nggak sabar ingin mandi cantik begitu tiba di villa nanti. 

Beberapa menit kemudian, hidangan pun disajikan. Tanpa aba-aba, kami langsung menyerbu sate dan rawon yang wanginya sudah mengundang. Menurut suami, rawonnya biasa aja, dagingnya juga kurang empuk dikitt. Nah, primadonanya tuh memang si sate ayam, nih! 

Satenya mungil tapi bumbunya meresap banget! Satu porsi isi 10 tusuk cuma Rp10.000, hihi.
Bumbu kacangnya, sih, juarak. Apalagi dimakan sama nasi hangat! Saking laparnya, bawang merahnya pun aku cemilin bareng nasi, hihi. 

Setelah perut kenyang, udara panas yang tadinya bikin gengges, mendadak mengurang. Emang lapar tuh bikin serba salah, yeee. 

Sewaktu makan, kami juga ngobrol tipis-tipis dengan bapak dan ibu. Katanya, nggak banyak orang yang mampir makan, soalnya memang bukan restoran, kan. Paling buat nambah-nambah, ibu jualan minuman dingin semacam pop ice gitu deh di depan warung. Terus, nanya kami masakannya kurang apa. Suamik jujur bilang daging rawon kurang empuk, sisanya mah enak, apalagi satenya. Aku pun idem. Eh, ibu malah nyahut, "Ini cuma makanan desa, Non." Mungkin penampakanku anak ibu kota banget, ya, belum lagi ngipas-ngipas mulu karena kepanasan, hahaha. Tapi buatku, makanan yang disebut makanan desa oleh si ibu ini adalah yang terbaik. Jadi ingat kenangan saat field trip SMA ke Jogja dulu, di mana pertama kali makan gudeg masakan ibu rumah, terus aku nambah berkali-kali saking doyannya. Secinta-cintanya aku dengan sushi, kimbab atau pasta, masakan Indonesia memang terbaek, lah! 

Setelah pamitan dengan bapak ibudan sudah bayar tentunya, karena kami nggak numpang makan, ya, hahaha, kami masuk ke mobil dan melanjutkan perjalanan.

Cuaca yang tadinya terik banget, berubah mendung, dong. Dan bener aja, begitu masuk Hutan Baluran, hujan pun turun cukup deras. 

Sesaat sebelum turun hujan.
Motret jalanan saat di dalam kendaraan itu susah bener ya, bok, atau mungkin aku aja? Kalau nggak akrena guncangan, ya sibuk diganggu bocil. Btw, jalanan memang sepiiii sekali. Hanya ada beberapa bus parisiwata dan mobil besar lainnya yang lewat.

Total perjalanan kami dari Sidoarjo sampai Banyuwangi adalah tujuh jam, sesuai prediksi dan harapan 🙌🏻 Cerita selama di Banyuwangi disambung di blog post berikutnya, ya! 

Terima kasih sudah membaca sampai sini :D

Foto dari Villa So Long, Banyuwangi, tempat kami menginap <3

2 comments:

  1. Pertama aku mau bilang, foto kedua dari yang terakhir bagus banget, Ci!! Suasananya malah kayak lagi di jalanan U.S kayak di TV deh, arah ke rumah Bella Swan (Twilight) sana 🤣. MAKANAN INDONESIA EMANGGG JUARA! Seenak-enaknya makanan luar negeri, makanan lokal apalagi yang disebut makanan rumah, makanan kampung dan sejenisnya tetap lebih juara 🥺. Malah kalau dibilang makanan kampung, aku lebih tergiur!! Entah kenapa meski sederhana, tapi mampu bikin ngiler dan makan jadi lahapp bingits 🥺.

    ReplyDelete
  2. Aku kalo makan sate gitu emang enak makan pakai bawang merah mentahnya itu ci! Hehehe Terus tambah acar timun wortel deh. Makjos dah!
    Krystal ga bisa kalau makan sate ayam juga kah ci? Anakku sudah kukasih sate ayam wkwkwkwkw ya meski dia makannya ga bisa buanyaak huahahaha Kalo liat anak makan lahap tuh seneng banget yaaa. Dan aku pasti kaya cici deh, kasih afirmasi "ga papa" karena lagi liburan jadi banyak cheatingnya wkwkw. Waktu aku staycation di Bogor aja tuh Baby Z makan meluluuuu. Ya roti, keripik, kacang, otak-otak, buah, minta melulu dahhh wkwkw bahkan gemblong pun habis satu sendiriaannn. Padahal kalo di rumah tuhhh, ga akan aku bolehin dia makan gula karena aku lagi nerapin rules kalo belum 2 tahun ga boleh makan gula. Tapi yaitulaah, karena lagi liburan, jadi ambyaar hahaha

    Jalanannya sudah bagus ya ci. Dulu pas aku road trip semasa kecil tuh lewat jalan biasa gituu, jadi kadang sempit, kadang rame, kadang banyak kerikil, aku sampe mabok wkwkwk

    ReplyDelete