Books Love #4: What I Read Recently

Wednesday, September 13, 2017



Better late than never, begitulah tentang aku dan buku ini. 

Beberapa tahun yang lalu aku udah notice buku dengan warna tosca ngejreng ini plus ilustrasi wajah khas Auggie (tokoh utama dalam novel), tapi karena aku kurang begitu suka dengan tema ceritanya—tentang seorang anak yang memiliki kebutuhan khusus, dalam hal ini Auggie cacat fisik. Bulan lalu, tiba-tiba seorang teman merekomendasikan buku ini. She said the book was good and she could relate to the story, especially when her son is a "Auggie" too who needs a special need. Inget postingan ini nggak? Singkat cerita, anaknya temanku ini punya satu penyakit yang dinamakan Nephrotic Syndrome. Buat yang pengen tahu lebih lanjut, sempetin untuk baca blog yang ditulis khusus temanku ini tentang perjalanan mereka dengan sindrom ini, ya. 

Tahu selera bacaan temanku ini selalu bagus, akhirnya beli juga, deh, buku ini. Namun, sebelumnya juga aku nonton trailer-nya dulu di Youtube. Yes, Wonder sebentar lagi akan naik layar lebar, dan begitu tahu pemeran Auggie si ganteng Jacob Tremblay, wis tambah nggak sabar baca bukunya dulu sebelum nonton di bioskop #teambacabukudulusebelumnontonfilmnya. Btw, si Jacob ini yang meranin karakter Jack di film yang diadaptasi dari novel juga, Room. Udah ada yang nonton? Parah, ya, bikin mewek dan hati bergetar-getar T_T *apa gue doang hahaha* 

So, how was the book? 

Karena ini memang novel anak-anak, alur ceritanya pun sederhana dan nggak terlalu ribet untuk dibaca. Bisa dibilang kayak baca jurnal pribadi gitu. Yang bikin seru, novel ini diceritakan nggak hanya dari sudut pandang pertama dari Auggie, ada beberapa karakter yang ikut berkontribusi dengan cerita pribadi mereka, termasuk Olivia, kakak perempuan Auggie. 

Lagi-lagi, ya, setelah jadi emak-emak beranak satu, entah kenapa hati ini rasanya semakin lembek dan mudah sekali termenye-menye kalau ngomongin soal anak, termasuk waktu baca novel ini. Tapi salah satu sisi, melihat sesuatu sekarang selalu dari sudut pandang sebagai seorang ibu. Apalagi ada satu halaman di mana Auggie bilang ke Mamanya kalau fisiknya, tuh, kenapa jelek banget. And of course, di mata ibu anak sendiri selalu yang paling cantik. Makkk, cedihhhh. Cintanya ibu ke anak seluas samudra kali, yah *sungkem sama Mama*

  
I'll definitely keep this book until Josh is big enough to read. Buat yang pengen kasih anaknya baca sekarang, bisa beli picture book-nya. Aku kurang tahu isinya sama atau nggak dengan novel, cuma inti cerita harusnya sama dan bikin terharu juga, apalagi kalau anaknya udah agak gede dan paham sama jalan ceritanya.

2. Small Great Things by Jodi Picoult


Akhirnyaaaa pecah telor juga baca salah satu novelnya Jodi Picoult.

Sinopsis yang ada di belakang novel ini, cukup meyakinkan kalau aku bakal suka dengan ceritanya. 

Karakter utama dalam novel ini adalah Ruth Jefferson, seorang perawat kebidanan yang sudah berpengalaman selama 20 tahun lebih, tiba-tiba dia di-suspend dari tempat kerjanya karena dituduh membunuh seorang bayi milik pasangan kaum Supremasi kulit putih. Orangtua bayi tersebut sebelumnya sudah melarang Ruth untuk menyentuh bayi mereka. Seorang pengacara berkulit putih, Kennedy McQuarrie berusaha untuk membebaskan Ruth dengan tuntutannya. Selama proses tersebut, Kennedy dan Ruth menjalin sebuah pertemanan yang unik, dan pastinya Ruth menyadarkan dirinya bahwa terkadang dia rasis tanpa ia sadari.

Sama seperti Wonder, novel ini juga diceritakan dari beberapa sudut pandang karakter yang berperan penting dalam cerita, sehingga readers  pun bisa merasakan emosi yang beragam. Kayak aku merasa karakter Turk—penganut supremasi kulit putih garis keras—yang sebegitu antinya dengan kaum kulit hitam, sampai dia harus membalaskan dendam anaknya pada Ruth. Namun, saat baca dari sudut pandangnya, mau sekeras, sekeji, sepreman apapun Turk, dia tetaplah seorang ayah dan juga suami yang berusaha memberikan yang terbaik untuk keluarga.

Selama baca buku ini, aku masih nggak nyangka, sih, isu rasisme di Amerika itu ternyata sebegitu common-nya. Tahun 2017, gaes, apalagi sejak masuk pemerintahan Presiden Trump, rasanya isu rasisme makin menjadi-jadi. 

Kalo ngomongin rasis, sih, sebagai kaum minoritas yang hidup di negara mayoritas, I probably have much things to tell LOL. Tapi entar jadi nggak nyambung, kan, sama apa yang mau ditulis. Aku merasa kadang ada di posisi seperti Ruth, dan nggak jarang juga berada di posisi Turk atau Kennedy.


Eniwei, aku sedikit bersyukur baca buku ini dalam versi terjemahan, soalnya tebelllll banget bok (470 halaman kalo versi asli), apalagi banyak istilah-istilah yang kayaknya agak sulit dimengerti kalau dalam bahasa Inggris. Tapi tetap enak, kok, dibacanya. Aku selesai dalam waktu kurang dari seminggu, lah.

Selain mengangkat isu rasisme, Jodi juga menyelipkan beberapa pelajaran penting dari sisi keluarga, hubungan menantu dengan mertua, pernikahan dan lainnya. Aku senang dengan buku yang nggak cuma bikin otak mikir, yang terpenting bikin hati juga ikut merasakan emosi-emosi setiap karakter. 

***
Sekarang ini lagi baca novel Us punyanya David Nicholls, penulis One Day. Ini belinya udah dari jaman kapan coba, 2015 kayaknya, tapi nggak selesai-selesai—tepatnya malas baca, sih. Padahal plotnya cukup menarik buat yang suka genre romance

Seneng banget, deh, rasanya bisa baca buku rutin tiap bulan. Mudah-mudahan rajin terosss sampai akhir tahun. Kalau kalian, lagi baca buku apa? :D

2 comments:

  1. Aku langsung nonton trailer Wonder dan harus sering di-pause karena takut mewek di kantor. Jadi ibu-ibu bikin cerita beginian makin menyayat hati ya. :'(

    ReplyDelete
  2. Belom baca dua-duanya. Kayaknya bakal masih wishlist deh. Thanks for review-nya ya ^^

    ReplyDelete

Thank you for reading and dropping your comments! All comments are moderated and I will reply each comment daily, so please check back. Nice to chat with you!