Books Love #5: Big Magic by Elizabeth Gilbert

Tuesday, November 28, 2017


Big Magic: Creative Living Beyond Fear by Elizabeth Gilbert  

Aku selalu melabel diri sendiri itu nggak kreatif. Kenapa? Soalnya nggak bisa gambar LOL. Ini alasan paling klise yang bisa aku—dan mungkin kebanyakan orang yang senasib sama—berikan kalo suatu kali disuruh untuk melakukan sesuatu yang "kreatif".

Ini miskonsepsi banget. Padahal kreatif itu nggak harus soal bisa gambar atau main musik, suka ke art gallery atau rajin bebikinan busy books DIY untuk sang buah hati. Bukan juga yang kalau lihat pohon atau bunga di tepi jalan, langsung bisa menciptakan lirik sebuah lagu. 

Menurut Elizabeth Gilbert, semua orang yang kreatif, adalah mereka yang menjalani sebuah gaya hidup yang dinamakan creative living.  

"Creative living is about living a life that is driven more strongly by curiosity than by fear."

Apapun pekerjaan atau bidang yang kita tekuni, semua butuh proses kreatif. Bahkan seorang ibu rumah tangga pun butuh ide-ide kreatif dalam mengurus rumah dan anak (I tell ya, mikirin hari ini mau makan atau masak apa itu butuh kekreatifan yang hqq!). Selama kita masih hidup dan masih pengen banyak tahu tentang berbagai hal, kita akan terus menjalani creative living.

 Berikut hal-hal yang aku pelajari tentang creative livings dari buku Big Magic:

1. Usia 

"If you're young, you see things differently. If you're older, you already know so much more than you think you know. Whether you are young or old, we need your work in order to enrich and inform our lives." 

Creative living itu nggak melihat berapa usia kita. Bersyukur kalau kita masih muda, berarti kita punya privilege dan kesempatan lebih banyak untuk melakukan sesuatu. Kalaupun udah tua, nggak berarti udah selesai and stop doing something. Selama kita masih hidup, kita akan terus berkarya.


2. Motivasi

"Do whatever brings you to life. Follow your own fascinations, obsessions and compulsions. Trust them."

Dalam topik motivasi ini, Elizabeth cerita saat dia menulis buku memoar Eat, Pray, Love, dia sama sekali nggak bercita-cita supaya buku itu menjadi terkenal di seluruh dunia. Dia menulis untuk 'menolong' dirinya sendiri. Buku tersebut adalah jurnal pribadinya dalam masa-masa sulit yang sedang dia hadapi. Dia sendiri nggak menyangka buku tersebut—cerita pribadinya sendiri—bisa menolong dan menginspirasi jutaan orang di dunia. Motivasinya bukan untuk terkenal, tapi Elizabeth melakukannya untuk diri dia sendiri dulu.

It's great if we want to create or do something for helping people. Tapi kalau kita nggak sepenuh hati melakukan apa yang kita lakukan, percayalah message tersebut nggak akan sampai di orang lain.

"Create whatever causes a revolution in your heart."

3. Stop complaining!

Elizabeth membagikan empat alasan yang sederhana dan menarik kenapa kita harus berhenti mengeluh.

It's annoying: Jujur, deh. Rasanya super gemassss kalau punya teman atau denger orang lain yang kerjaannya ngeluh terus. Pokoknya hidupnya kayak untuk mengeluh aja gitu. Aku pun sendiri kalau udah ngeluh dengan keadaan, harus buru-buru 'bangkit' biar ngeluhnya nggak terus-terusan.

It's difficult to create things: Banyak orang "beralasan" berkarya itu sulit. Brainstorming ide untuk konten blog itu sulit, capek dan males ngerjainnya. Segala sesuatu emang sulit. Kalau gampang udah banyak orang yang melakukannya dan nggak ada lagi yang spesial.

When you tell your complaints to other people, you are just talking to a brick wall: Mengeluh itu nggak ada bedanya dengan ngomong sama tembok!

You're scaring away inspirations: Surprise, surprise. Ternyata inspirasi itu ogah 'dekat-dekat' kalau kita terus-terusan mengeluh.
 
4. Support System 

"There is something magnificent about encouraging someone to step forward into his own self respect at last, especially when it comes to creating something brave and new."

Butuh dorongan dan semangat dari orang-orang terdekat di sekitar kita untuk bisa terus melakukan apa yang kita lakukan sekarang. Support system aku selalu berasal dari suami dan keluarga, orangtua dan sahabat. Mereka yang akan selalu ada di aku di "atas" maupun di "bawah".


Buku ini ditulis dengan sederhana, setiap makna disampaikan dengan jelas dan diselingi sedikit humor si penulis. Supaya bacanya nggak serius dan tegang-tegang amat gitu, deh.

Salah banget kalau buku ini hanya diperuntukkan untuk kalangan pekerja kreatif. Setiap pribadi kita butuh bacaan seperti ini supaya menjalani hari lebih semangat, lebih mindful dalam mengerjakan segala sesuatu dan pastinya lebih passionate saat beraktifitas.

Bukunya juga nggak tebal kok, kebetulan yang aku punya ukurannya mini (ada yang ukuran biasa, ada yang mini seperti ini), jadi pas banget untuk dibawa jalan-jalan supaya tetap terinspirasi. This book is essential to your every day bag!

Semoga review ini bermanfaat buat teman-teman, ya. Stay awesome!

No comments:

Post a Comment

Thank you for reading and commenting here. All comments are moderated and I'll reply to your comments daily, so please check back. Nice to chat with you (: