Worthy Monday #14: Tahap Pembuatan Konten di Blog

Monday, October 12, 2020


Wuih, judulnya udah cukup pro belom? πŸ˜†

Beberapa waktu lalu, aku mengikuti sebuah webinar "Belajar Konten Ep. 2" yang diadakan oleh komunitas Ikatan Bunda BaBe (iBuBa), di mana salah satu narasumbernya adalah content creator yang aku ikuti di Instagram, Kak Puty Puar (@byputy). Sesuai temanya, kami mendapat banyak ilmu tentang gimana caranya membuat konten yang nggak hanya menarik, namun juga bermanfaat. 

Salah satu topik yang dibahas, adalah proses pembuatan konten itu sendiri. Menurut Kak Puty, proses pembuatan konten itu alurnya bukan hulu ke hilir, melainkan sirkular

Sirkular tuh kek gini ya, manteman. Jadi kayak roda, muter terusss. 

Proses pembuatan konten yang dibagikan Kak Puty ini memang lebih fokus kepada pembuatan konten di sosial media, salah satunya Instagram. Namun, sangat bisa dipraktikkan juga pada pembuatan konten di blog masing-masing. Daripada ilmunya kusimpan sendiri, kenapa nggak dibagikan di sini, supaya kita bisa belajar bareng-bareng, ya! 

✏ Inspirasi 


Biasanya sebuah konten dibuat karena ada yang namanya inspirasi. Dari mana datangnya inspirasi? Jawabannya: bisa dari manaaaaa aja! 

Dulu, aku salah kaprah kalau ide atau inspirasi itu adalah sesuatu yang "ghaib" alias hampir nggak mungkin didapatkan πŸ˜‚ Makanya suka takjub, kok bisa, sih, orang-orang mendapatkan inspirasi sedemikian mudahnya. Ternyata setelah melalui banyak pengalaman, inspirasi itu memang harus dicari dengan sengaja, nggak bisa ditunggu dengan nggak berbuat apa-apa. 

Cara paling mudah mendapatkan inspirasi itu adalah dari kehidupan sehari-hari. Coba deh, teman-teman yang punya personal blog, ada berapa banyak postingan yang berhasil dibuat karena terinspirasi dari kejadian receh maupun sesuatu yang sifatnya pribadi dalam kehidupan sehari-hari? Konten Diary of the Month di blog ini pun lahir karena terinspirasi oleh kejadian kecil yang kualami dalam kehidupan sehari-hari. 

Menurutku, inspirasi dari daily life itu adalah sumber termudah dan tercepat yang bisa kita dapatkan untuk menulis konten blog. Kuncinya, peka aja. Buka mata, telinga, semua panca indera kita (teruntuk yang punya indera keenam, jangan-jangan buat nulis cerpen horor kayak Mas Agus yak? *hiiiiy* πŸ˜‚) lebar-lebar. Aku percaya kok ide itu bisa datang dari mana aja asalkan kita mau untuk membuka diri. 

Selain dari kejadian hidup pribadi, hal-hal yang menyangkut selera atau hobi kita juga bisa membantu dalam proses pembuatan konten lho. Contohnya yang paling terlihat dari blog ini, adalah soal makanan, buku, film sampai musik Kpop. Entah udah berapa banyak tulisan yang dihasilkan dari ketiga hal yang menjadi favoritku itu *ciyeeeh ceritanya sombong*. Dari topik yang kita sukai aja udah bisa memberikan banyak inspirasi. Tentang kecintaanku pada Kpop, awalnya aku agak ragu untuk mengungkitnya di blog. Sampai suatu hari akhirnya aku memberanikan diri untuk nulis tentang menjadi seorang fans Kpopper, ternyata sambutannya lumayan hangat dan malah memperkenalkan aku pada teman-teman lain yang satu frekuensi di dunia Kpop. Jadiii, jangan pernah ragu tentang apa yang kamu suka, ya. Lumayan, kannn, kalau bisa jadi ide tulisan yang bermanfaat. 

Kalau suatu hari mendadak mentok ide, udah tau dong apa yang harus dilakukan? πŸ˜‰

✏ Merenung


Ada satu pesan penting dari Kak Puty saat menyampaikan poin ini. Menurutnya, kalau kita punya inspirasi (khususnya tentang pelajaran hidup pribadi) namun nggak direnungkan, jatuhnya cuma ngeluh! 

Jlebbbb. Kena, deh! 

Ini sering terjadi saat dulu aku masih suka main sosmed dan curhat melalui IG Story. Biasanya, sih, yang menyangkut soal anak. Iya, dulu tuh aku tipe emak-emak yang hobi curhat masalah anak, karena Josh itu sempat susaaaaaah banget makannya. Karena nggak tahu mau 'dibuang' ke mana, ya ujung-ujungnya curhat di sosmed deh. Postingan yang isinya ngeluh tuh emang bikin aura jadi kurang menyenangkan, setuju? 

Gara-gara ini aku sempat ditegur suami. Katanya, jangan kebanyakan ngeluh di sosmed. Selain nggak bermanfaat, emangnya masalah kamu kelar dengan ngeluh-ngeluh gitu? Lebih baik cari solusinya dulu, kalau udah ketemu jalan keluarnya, baru deh di-share di sosmed atau blog. Tulisan pun jadi lebih bernilai dan membawa manfaat untuk yang membaca. Selain itu, proses perenungan ini juga mengizinkan kita untuk melihat sudut pandang lain. Itu kenapa kebanyakan topik Life Lessons di blog ini pun sudah melalui proses perenungan maupun diskusi dengan orang terdekat (yang mana maksudnya suami doang, sih, biasanya HAHAHA). Harapannya apa yang dibagikan nggak menjadi 'kosong', namun bisa memberi nilai dan pengalaman hidup bagi teman-teman sekalian 😊

✏ Menulis 


Inspirasi udah dapet, proses merenung juga udah dilakukan, selanjutnya apa? 

Ya, ditulis dong hihihi 

Proses menulis ini balik lagi pada kebiasaan teman-teman sekalian, yaa. Karena aku percaya setiap blogger itu pasti punya kebiasaan menyusun tulisan dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang nulis dulu tanpa diedit dari awal sampai akhir, mungkin ada juga yang menyusun bullet points dulu di notes baru dituang ke draft blog. 

Btw, aku pernah menulis tips menulis blog post yang enak dibaca, siapa tau ada yang mau ceki-ceki, link-nya di bawah ini, ya! 


Kalau aku sendiri, ketika dapat ide biasa langsung dicatat di Evernote. Setelah itu, untuk topik-topik yang memang harus direnungkan secara khusyuk (halah), biasanya ditulis di jurnal. Yap, journaling itu salah satu proses merenung versi aku. Mungkin ada yang samaan? :D 

Setelah semuanya rangkum, baru deh ditulis secara random alias tanpa urutan di draft blog. Aku selalu nulis inti postingan dulu, paragraf pembuka dan akhir biasanya belakangan sesaat sebelum jadwal publish. Beberapa postingan yang udah tayang di blog ini, sebelum di-publish aku suka submit ke suami, ceritanya untuk proofreading gitu ahahahahaha. Bukan untuk cek grammar atau kesalahan tipografi, ya. Aku pengen dapet masukan dan saran aja dari doi, seringnya, sih, sangat berfaedah πŸ˜†

✏ Visualiasi 


Setelah tulisan beres, salah satu poin yang nggak kalah penting dari tulisan adalah tambahan visualisasi. 

Untuk beberapa postingan, aku sangat mengandalkan media visual pendukung, entah itu stok foto pribadi atau dari situs penyedia foto gratisan yang kemudian melalui tahap edit di Canva, maupun meme dari GIPHY. Cuma belakangan udah agak jarang pake meme, karena beraaaat dan bikin performa blog ini sedikit menurun. Padahal aku suka pake meme, soalnya bikin tulisan lebih hidup dan jadi lebih lucu aja, sih hahahahaha 

Selain foto dan meme, infografis maupun video itu juga salah satu pendukung konten yang oke lho. Bebaskan kreativitas kalian aja, yaa. 

Gimana kalau nggak pakai foto samsek? Ya, gapapa juga, sih. Mungkin kita lebih ingin pembaca fokus dengan isi tulisan, jadi media visual bukan lah sesuatu yang penting. Blog Mas Anton, Maniak Menulis, adalah salah satu blog di mana aku hampir nggak menemukan media visualnya. Tapi tulisannya tetap enak dibaca dan to the point. Pembaca pun nggak merasa bosan saat membaca isi konten tersebut. 

Kalau aku pribadi, karena tulisanku memang panjang-panjang, terpaksa menyelipkan media visual supaya nggak bosan. So, kembali lagi pada kebutuhan kalian masing-masing, ya. 

✏ Publikasi Konten


Setelah draft postingan sudah rampung, saatnya mempublikasikan tulisanmu! 

Nggak ada tips-tips khusus yang dibagikan Kak Puty tentang ini, sih. Paling hanya soal memperhatikan jadwal post konten. Ada yang biasanya punya hari-hari dan jam tertentu untuk publikasi konten mereka. Kebetulan aku sendiri nggak ada jadwal khusus. Kayaknya kalau blog itu nggak terpaku jam audiens seperti layaknya Instagram, jadi aku nggak terlalu ambil pusing mau publish di jam berapa pun. Kalau nggak salah, Mba Nita pernah bilang kalau posting di Senin pagi itu biasanya lebih ramai. Kalau di pengalamanku, posting tulisan di weekend lebih cepat dapat views maupun komentar. Sepertinya poin ini akan berbeda-beda pada setiap blogger, ya. 

✏ Feedback Audiens 


Konten sudah di-publish, habis itu ngapain dong? 

Kak Puty di sini mengingatkan, konten yang udah naik tayang, jangan dianggurin. Saatnya mengevaluasi dan meningkatkan engagement dengan para pembaca. Apa respon mereka? Gimana pendapat mereka tentang tulisan kita? Apa yang harus ditingkatkan kembali? Atau jangan-jangan bisa dapat inspirasi baru untuk postingan berikutnya? 

Dan jangan lupa, kalau bisa balas setiap komentar yang ada. Selain sebagai engagement, buatku sendiri membalas komentar teman-teman itu seperti sedang bertukar sapa, ngobrol bareng dan setidaknya menghargai pendapat dari kalian semua. Kalau platform menulisnya, entah itu blog maupun sosmed sudah level raksasa, biasanya, sih, memang nggak bisa semua komentar dibalas. Apalagi kalau jumlah komentarnya udah ratusan bahkan ribuan. Keder juga kalau harus dibalas satu per satu yaaaak 🀣

Pengakuan pribadi, dulu aku memang jarang sekali balas komentar. Berharap dikomen, tapi ogah balas LOL emang sombong si Jane mah πŸ™ˆ Setelah kenal beberapa teman blogger baru, salah satunya adalah Mba Eno yang memang rajin sekali balas komentar teman-teman, aku pun jadi terpacu untuk melakukan kebiasaan yang sama. Balas komentar memang butuh effort, sih. Apalagi kalau isi balasannya tuh yang bikin mikir. Pernah dapet komentar dari Mas Anton di sebuah tulisan lampau dan aku pun bingung "ini enaknya dibalas kek apa ya?" πŸ˜†

Jadiii, jangan abaikan feedback dari pembaca, yaa. Karena kita selalu butuh masukan dan saran untuk bisa berkembang lebih baik lagi. Sekalian ah, aku mau ngucapin terima kasih untuk teman-teman yang udah rela meluangkan waktu untuk membalas setiap tulisanku di sini. I really appreciate all of your comments and feedbacks, because they always make my day! Matur nuwun yaaa πŸ€—

***
Demikian yang bisa kubagikan hari ini, mudah-mudahan bermanfaat bagi teman-teman yang membaca, ya. 

Now I want to hear from you. Kalian punya trik-trik atau ritual khusus, nggak, sih dalam menulis konten di blog? Cusss, ramein kolom komentar di bawah, ya! πŸ™Œ

34 comments:

  1. Waktu liat mind mapping nya berasa kayak, hm.. apakah aku harus membuat seperti itu lagi ya? Mostly, kalau nulis sesuatu yang ringan, aku nggak pernah bikin konsep. Baru deh kalau berat dan serius, dikonsep bener-bener, soalnya takut kecolongan sama ego, jadi nggak objektif.
    Karena beberapa bulan ini aku nulisnya ringan-ringan, jadi nggak pernah pake konsep. Akhir-akhir ini, beberapa kali mau menulis, stuck di paragraf kedua, terus berasa kayak kehabisan kata. Ini mau cerita apa lagi nih?
    Ntar deh dicobain, biar nggak lost terus kependem, nggak jadi-jadi nulisnnya. Huft..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, kita samaan nih Mba Pipit. Kalau untuk tulisan kategori daily life atau random things, biasanya aku nggak pernah nyusun konsep yang gimana banget. Biar mengalir natural aja, jadi nggak terlalu dibuat-buat :D

      Tapi untuk postingan yang isinya agak 'serius', aku bikin mind mapping atau bullet points gitu. Untuk memudahkan menyampaikan isi tulisan sih. Betul yang Mba Pipit bilang, supaya nggak kecolongan ego hahahaha

      Tetap semangat yaa nulisnya ya, Mba Pipit!

      Delete
    2. Aku jadi ingin nimbrung disini juga mbak Jane haha, sama kayak mbak Pipit, untuk hal-hal yg ringan jarang banget bikin konsep. Setiap kali bikin konsep pun, gak pernah benar-benar pake trik khusus semacam mind mapping gitu. Paling cukup baca-baca teori atau pendapat yg relevan dengan tema tulisanku, terus dicatat bagian yg pentingnya dan disisipkan deh di tulisan aku sebagai faktor pendukung😁.

      Delete
  2. Waaaah terima kasih ilmunya, mba Jane πŸ˜†

    Saya selama ini nggak punya trik khusus dan menulis pure mengalir ikuti mood hahaha. Jadi kadang alur cerita dan penutupnya juga nggak terlalu dipikirkan πŸ™ˆ bahkan kadang nggak sadar sadar tulisan saya ada bagian inspirasi dan perenungannya juga apa nggak ~

    Mungkin karena mostly isinya lebih ke curcolan jadi saya nggak begitu memikirkan poin-poin di atas. However setelah tau bagaimana pola pembuatan konten, mungkin ke depannya bisa saya terapkan pelan-pelan pada post saya πŸ˜†πŸ’•

    By the way mba Jane produktif sekali, tetap ikutan kelas dan mau berbaik hati membagikan ilmunya. Thank you so much mbaaaa 😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kak Eno~ kenapa aku seringkali menemukan kesamaan di antara kita.. jangan-jangan, kita... 🀣

      Akupun sama dengan Kak Eno, Ci. Kalau dalam hal menulis di blog, lebih sering mengalir aja karena isinya kebanyakan curcolan, biasanya ada juga momen dimana ketika aku mendapatkan ide, maka akan aku tulis di notes dulu untuk nanti dikembangkan. Kadang ada waktunya juga, misalnya kalau belum sempat nulis, itu di otak udah ketuang kalimat pembuka dan kira-kira isinya gimana, baru kemudian ditumpahkan di blog πŸ™ˆ

      Anyway, terima kasih banyak atas ilmunya Ci Jane 😍 Ci Jane murah hati sekali mau berbagi ilmu yang didapat 😭 dan cara menjabarkannya itu, enak banget sih dibacanya. Hebattt 😍

      Delete
    2. @Mba Eno:

      Sebetulnya kalau untuk topik daily life dan yang receh-receh, aku juga mengalir aja, Mbaa nulisnya. Soalnya biar kayak cerita ke teman sendiri, apa adanya XD

      Tapi aku selalu nyaman lho membaca setiap postingan Mba Eno, rapih dan enak dibacanya. Kalau terlalu mengikuti teori namun nggak ada 'feel' saat menulisnya, pasti pesannya juga susah sampai ke pembaca πŸ˜‚ that's why hampir semua cerita Mba Eno relatable dengan aku pribadi, apalagi kalau udah ngomongin soal kerecehan atau kelakuan dengan pasangan huahahaha

      Hihi sama-sama, Mba Eno! ❤ kelasnya sih sudah lewat beberapa bulan yang lalu, tapi baru sempat di-share di sini XD sayang kalau disimpan sendiri, lebih baik ditaruh di sini biar bisa belajar sama-sama 😊

      Delete
    3. @Lia:

      Kelihatan banget memang dari cara kamu bercerita di blog itu mengalir banget, Li. Makanya aku selalu berasa udah kenal kamu lama, gaya bercerita kamu itu enak dan ramah banget. Jadi meski belum pernah ketemu langsung pun kayak udah ngobrol sama teman lama πŸ˜†

      Sama-sama Liaa! Semoga bermanfaat yaa ❤ maacih juga lhooo udah dipuji, ihiiiy πŸ€—πŸ˜˜

      Delete
  3. Makasiii tipsnya Mba Janee..
    Aku setuju kalau menulis hal yg disuka itu biasanya lbh mengalir idenya. Itulah kenapa juga aku selama ini banyak nulis tentang buku karena secinta itu aku sama dunia literasi. Selain juga kalau mau nulis yg lain jg suka ga nemu idenya πŸ˜… Mau nulis tentang 'curhat' juga takut nanti terasa 'kosong'. Hehehe. Ya walaupun isi blog aku jd gitu2 doank, setidaknya menulis yg disuka bisa bikin aku enjoy 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama, Mba Thessa! :D

      Iya betul sekali! Menulis hal yang kita suka itu akan memudahkan segalanya. Kalaupun butuh research untuk tulisan tertentu, pasti nggak akan menjadi beban yang gimana banget, karena emang sesuka itu dengan topiknya hihi aku juga suka baca setiap ulasan Mba Thessa tentang buku maupun perintilannya. Memang terasa Mba Thessa mencurahkan semuanya pada topik tersebut πŸ˜†πŸ₯°

      Delete
  4. Kak Jane, rasanya ingin aku bookmark post yang iniii☺️ supaya kalau aku lupa ini bisa mengingatkanku hahaha.

    Aku juga gitu mbaa, dulu sering nulis puisi gitu di evernote. Nah karena apps evernote berat, jadi pindah deh ke notes bawaan HPπŸ™ˆ yang penting esensinya sama.

    Makasih yaa kakkk sudah membagi inii😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama Ibel! Semoga membantu proses penulisan ke depannya yaa πŸ€—

      Aku masih betah pake Evernote soalnya bisa di-sync ke laptop hahaha cuma iya sih, agak berat appsnya, tapi yasudalah XD

      Eh kamu suka nulis puisi? Keren bangettt! Akutu suka kagum deh sama yang pintar nulis puisi. Kapan-kapan aku mau baca dong hasil karyamu :D pernah di-share nggak di blog kamu pribadi?

      Delete
    2. Yups pasti membantu banget kak❤

      Iya sih bener Kak. Aku jadi ingat dulu pas awal-awal tau aplikasi itu, aku bisa mencatat setiap saatπŸ˜‚ enak juga sih untuk digunakan.

      Hehe iyaa aku seneng randomly nulis puisi, atau curhatan sih lebih tepatnyaπŸ˜… boleeeh, ada di label blogku yang "words" Kak, banyak disituuu hihi

      Delete
    3. Evernote ada fitur bold, italic, underline dan highlights gitu, jadi enak nyatet-nyatetnya πŸ˜†

      Aku udah baca beberapa tulisan kamu di Words. Lebih kayak tulisan pendek gitu yaa. Tapi aku suka bacanya, soalnya aku pun sesekali suka nulis dengan style serupa hihi ayooo, nulis lebih banyak lagi yaa! :D

      Delete
  5. Waah Jane ikut webinar-nya Mbak Puty yaa? Aku sempat mau ikut tapi sayangnya ga cocok waktunya huhu..

    Aku juga biasanya proses merenung lewat journaling hehe.. Dicorat-coret aja lebih seringnya, buat arah mau duluan bahas yang mana atau apa aja yang mesti dibahas dan ga terlalu perlu dibahas.. Dan bener banget, nulis yang kita suka memang jauh lebih mudah karena kita paham apa yang kita tulis hehehe.

    Soal visualisasi juga aku termasuk orang yang ga bisa posting tulisan tanpa ada gambar pendukung ahaha kayak sepi aja gituu πŸ™ˆ Padahal bener sih, kalo baca blognya Mas Anton atau Mba Eno juga kadang minim gambar tetap enak dibaca lhoo kenapa ga bisa diterapkan ke blog sendiri yaa πŸ˜…

    Makasih banyak Janeee udah sharing ilmunyaa.. Ga jadi ikut webinar tapi tetep dapet ilmunya huhu πŸ’•

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa Eya! Begitu tau narasumbernya Kak Puty, aku langsung ikutan hahahaha apalagi webinar kemarin ini gratis πŸ™ˆ

      Nah iya betul. Biasanya kalau udah selesai ngejurnal, kita jadi tau poin mana yang bisa dibagikan, poin mana yang nggak terlalu penting untuk dipublikasikan. Soalnya dulu waktu masih labil, suka marah-marah nggak jelas di blog. Ada kejadian nyebelin dikit, curhatnya langsung di blog wkwkwk tiap baca ulang blog lama itu rasanya pengen ngejitak diri sendiri, kok alay banget sih 🀣

      Hahahaha karena memang setiap blogger punya cara dan keunikannya sendiri dalam menyampaikan cerita :D aku juga merasa kalau nggak ada foto untuk pendukung cerita malah merasa ada yang kurang huhu

      Sama-sama, Eyaa πŸ€— semoga next time bisa ikutan kelas konten lagi yaa :D

      Delete
  6. Wow namaku disebut bahkan ada Indra keenam, kalo Indra lagi mancing di sungai mbak.πŸ˜†

    Ikut webinar memang bikin wawasan jadi luas karena dapat ilmu baru, salah satunya ya cara membuat konten artikel.

    Ide memang bisa datang darimana saja, bisa juga dari pengalaman pribadi seperti isi diary of the Month. Tapi kalo aku ide menulis cerpen horor bukan karena punya Indra keenam tapi karena kadang baca artikel lain atau berita, lalu aku ubah jadi cerpen. Kalo ketemu hantu beneran mah aku juga takut.πŸ˜‚πŸ˜±πŸ˜±

    Setelah dapat inspirasi biasanya sih aku ngga merenung, langsung tulis saja, lalu cari gambar yang sesuai dengan isi artikel itu lalu di publish.πŸ˜€

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang makhluk halus sepertimu indranya ada 10 kayaknya..:-D

      Delete
    2. Nyahahaha si Indra lagi mancing malah dibawa-bawa ke sini 🀣

      Hah serius?? Ternyata yang suka nulis horor pun malah bisa takut kalau ketemu hantu betulan yak 🀣🀣 saya kalau udah takut ya takut aja, nggak berani dijadikan tulisan. Entah kenapa suka mikir yang aneh-aneh kalau 'ngomongin' makhluk yang nggak kelihatan 😨

      Memang setiap blogger punya cara tertentu untuk menciptakan tulisannya ya. Jadi memang kembali lagi pada kenyamanan masing-masing :D

      @Mas Anton: AHAHAHAHA maap saya ngakak baca komentarnya Mas Anton 🀣🀣🀣

      Delete
    3. Lha iya, saya kalo lewat jalan gelap juga suka merinding dan takut. Begitu juga kalo lewat kuburan, paling males itu, mendingan lewat rumah mantan saja deh, eh.πŸ˜†

      Terus kenapa malah menulis cerpen horor? Karena aku ngga mau takut sendirian jadinya aku bagikan pada yang lain, baik banget aku kan suka berbagi.😁

      *Pura pura ngga lihat ada pak Anton.

      Delete
  7. wah... terima kasih sekali sudah berbagi ilmu, mba... :)

    sebagai orang yang masih nulis buat suka-suka aja, sangat ga kepikiran tentang cycle content creating seperti yang mba Jane tulis, mestinya bisa bikin kita ga kehabisan ide tulisan, ya... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Your most welcome, Mba Hicha! Senang kalau apa yang aku pelajari bisa menjadi bahan belajar untuk teman-teman juga 😁

      Nah, harusnya memang demikian yaa. Cuma kalau otaknya lagi males mikir, ya males aja wkwkwk 🀣 makanya nggak heran content creator di luar sana produktif banget. Mereka pasti memacu diri sendiri terus menerus untuk menghasilkan karya :D

      Delete
  8. Teliti banget persiapan buat kontennya. Sampai ada flownya dulu. Pake proofreading juga..Tapi keren Jane.

    Kalau soal image, di MM itu memang karena image ngga banyak fungsinya, ya ditiadakan sekalian. Cuma kalau di blog lain, saya malah kadang masukin foto agak banyak.. hahahaha.. karena merasa perlu. Jadi benaaarrr sekali.. kalau merasa perlu ya pakai, kalau nggak ya jangan... hahaha

    Kayak tulisan Jane yang Jimbaran Sunset itu justru pemakaian foto Josh dll menjadi bagian yang bagus dengan tulisannya..Kalau nggak pakai pembaca kayaknya malah susah membayangkannya..

    Maaaff kalau sudah bikin repot dengan komentar saya.. hahahaha.. kebiasaan buruk neh .. Tapi bener sekali berbalas komentar itu sangat menyenangkan.. makanya kadang jahil keluar #kabur sebelum ditimpuk sama sendal

    Makasih pengetahuannya ya...keren, bagus, dan ditulis dengan baik sekali...

    O ya story-storynya juga bagus.. cuma saya nggak tau mau komentar apa kalau tulisan yang begitu..:-D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Persiapan konten seperti itu jujur untuk beberapa postingan tertentu aja, Mas Anton. Kalau untuk cerita sehari-hari mah sama kayak yang lainnya, dibiarkan mengalir begitu saja, walau kadang harus dipikirkan juga kaliamt pembuka dan penutupnya harus seperti apa hahahaha

      Iyaa, foto itu sebetulnya perlu gak perlu balik lagi ke yang punya blog. Buat saya, kalau ngomongin makanan dan traveling, setidaknya harus disertakan beberapa foto. Gimana caranya mendeskripsikan makanan yang SEENAK ITU tapi nggak ada penampakannya 🀣 makanya saya jarang ngepost cerita kuliner kalo nggak ada fotonya, entar saya dikira hoax wkwkwk

      Btw, akhirnya saya main juga ke blognya Mas Anton yang satunya lagi hahahaha *laporan dulu*

      Ah tak apa-apaa. Justru komentar seperti itu diperlukan sekali-kali, biar sayanya juga nggak terlalu nyaman dengan komentar yang "aman" 😁

      Sama-sama, Mas Anton! Biar kita semua di sini bisa sama-sama mendapatkan ilmu yang lebih banyak tentang blogging dan berkembang lebih baik lagi :D

      Duh gapapa, dibaca aja udah seneng sayanya mah πŸ˜‚ terima kasih banyak, suhu!

      Delete
    2. Suhuku berapa yah..dah sebulan nggak ke kantor jadi nggak ngecek suhu badan berapa.. hahahahaha.. ampyuun dah....

      Hihi iyah.. akhirnya Jane dateng ke vilaku yang ada foto dedemitnya.. wakakakaka.. serem ga Jane disana.. hahahaha

      Iyalah kalau dikau nulis traveling atau kuliner ga pake foto itu kaya makan bakso tapi ga pake mangkok.. iya kan?

      Semangat ya Jane.. ditunggu tulisan tulisan berikutnya

      Delete
  9. Kalau soal menulis, saya jarang punya tips khusus. Paling yang umum-umum saja. Tapi kalau merancang tulisan, saya biasanya catat poin dulu di notes hape. Kalau misalnya pos cerita perjalanan, saya catat mulai dari rencana sampai pulang. Detail kecil saya catat biar membantu saya dalam mengolah cerita. Tapi jarang juga, karena biasanya sepulang dari liburan besoknya langsung ditulis jadi jarang lupa. Cara ini bisa berlaku untuk semua jenis tulisan. Kalau opini, saya catat poinnya, arahnya akan ke mana, sudut padangnya membahas apa. Layer itu nanti yang akan saya tonjolin biar mudah-mudahan, pembahasannya ngga kemana-mana. Makanya, kalo bingung biasanya saya pake sub-head. Biar membantu pemetaan pembahasan.

    Diluar dari itu, saya mah ngga mikiran apa-apa. Cuma mesti nyari foto untuk kebutuhan thumbnail. Blogwalking jadi satu tujuan yang lain.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nulis cerita perjalanan sepertinya memang lebih dibutuhkan preparation ya. Saya sering diingatkan pasangan juga kalau lagi traveling, sering-sering catet kejadian-kejadian kecil biar nggak lupa. Soalnya sering banget begitu pulang liburan, mau ditulis di blog malah lupa momennya πŸ˜‚ jadi memang paling tepat itu dicatat seperti yang dilakukan Mas Rahul, ya. Keren euyy persiapan menulisnya Mas Rahul πŸ‘ ternyata memang setiap blogger itu punya sistemnya masing-masing, ya.

      Delete
  10. hai mbak jane :D
    Terima kasih untuk tipsnya. keren sekali mbak jane :)
    Aku belum pernah menyusun detail seperti ini. Biasanya hanya garis besar sebagai panduan. Selain itu juga mencatat sesuatu yang penting atau unik untuk diceritakan. Biasanya membawa buku catatan sebagai pengingat bahan tulisan.hehehe

    di tulisanku biasanya dilengkapi dengan foto. Awalnya dengan resolusi yang bagus. Tapi akhir-akhir ini kualitas foto dikurangi dengan alasan agar tidak mempengaruhi performa blog karena terlalu berat fotonya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haii juga Mas Rivai, makasih yaa sudah berkunjung :D

      Kebiasaan seorang blogger yang sering saya temui adalah membawa catatan/notes kecil ke mana-mana hahaha soalnya memang kebiasaan sih yaa. Apalagi ide dan inspirasi itu di mana-mana, kalo nggak dicatat langsung baik itu di notes maupun hape pasti akan cepat lupa. Saya sendiri tuh lupaan orangnya, jangankan dalam beberapa jam, kadang lewat lima menit saya udah lupa apa yang baru aja terlintas di kepala πŸ˜‚

      Saya juga belakangan menurunkan resolusi foto di blog. Agak sedih juga soalnya saya suka foto yang mulus πŸ˜… tapi sejak tau kecepatan performa blog agak menurun, mau nggak mau saya berkorban di foto deh.

      Delete
  11. Makasi banyak atas ilmu nya mbak Jane😍
    Jujur pas tadi baca bagian yg inspirasi itu aku sambil mikir-mikir hal random apa yg bisa aku bagiin untuk next post yaa, dan tiba-tiba langsung ada lampu menyala di atas kepalaπŸ’‘wkwkwk. Aku jadi kepikiran pengen share yutub channel favorit aku sebulan ini haha, sangat random dan termasuk hal yg disukai banget kan🀣. Terus aku lanjut baca lg dehπŸ˜‚

    Kalau untuk trik menulis sendiri aku nggak tau apakah ada atau nggak, karena nggak pernah bener-bener dipikirin mbak. Ngalir aja. Paling hanya saat butuh teori karena temanya sangat serius aja, seperti yg aku ceritakan di atas, baru aku beri gambaran besarπŸ˜ƒ.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama, Awl! Ihh seneng akutu habis baca tulisan ini malah langsung dapet ide cemerlang yaa wkwkwk 😜 ditunggu yaa tulisannya tentang channel utube favorit. Beberapa bulan ini aku juga lagi nonton utube terus, kebanyakan korean vlog gitu sih hahaha

      Berarti kita sama ya, kalau lagi mau nulis yang agak serius, biasanya bakal riset kecil-kecilan, entah itu cuman lewat browsing google atau nanya-nanya orang sekitar :D

      Delete
  12. Wowww Jane, saya pas liat gambarnya itu, langsung nganga, apaan tuh?
    Ketauan banget yak, saya tuh setiap hari nulis ya nulis aja, nggak pakai merenung, merenungnya ya sambil tangan pencetin keyboard ini hahaha.

    Sejujurnya memang saya tuh lebih ke bisa karena belajar langsung eh maksudnya praktik langsung, saya kalau disuruh bikin gituan, udah ngantuk duluan mah.

    Jadi prosesnya kayaknya kebalik, saya lebih bisa bikin gitu, kalau saya udah praktikan duluan, atau anaknya apa ya namanya, lebih ke praktik dulu, even menghitung saya lebih suka coret-coret, kayak visual juga kali ya, kalau cuman dihafal dan direnungkan sulit malah saya ngertinya hahahaha.

    So, saya sebenarnya salut banget bisa masuk berada di teman-teman yang sebenarnya punya sesuatu untuk ngeblog atau jadi blogger.
    Punya ilmunya, punya bayangannya, punya rules atau ilmu basicnya kali ya namanya.

    Saya jujur learning by doing semuaahh hahahaha.
    Dan akhirnya jadi ciri khas saya juga.

    Dan mau kubisikin sesuatu ya, even konten atau tulisan sponsored post loh, saya nggak pernah bikin map atau judul atau sub judul gitu.

    Biasanya, baca brief, ambil kata kunci, taru di judul. kembangkan sambil nulis.

    Even poin-poin yang saya tulis di blog itu loh terpikir sambil nulis aja gitu, kecuali yang memang lebih kudu berpatokan kepada hal yang lebih serius, seperti yang biasa ada di tulisan sumbernya, biasanya itu saya ambil poinnya dari sumbernya dan saya kembangkan.

    Memang saya kudu jadi personal blogger mulu, kagak bisa dah disuruh jadi blogger yang formalitasnya bagus hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebagai sesama personal blogger, hal-hal yang berbau teori begini juga sebagai bahan pembelajaran aja sih, Mba Reyy. Tapiii memang aku anaknya suka bikin planning gitu. Karena udah kebiasaan, jadinya ngeblog pun pake planning πŸ˜†

      Aku percaya setiap blogger itu pasti punya sistem dan caranya masing-masing dalam menciptakan sebuah tulisan. Seperti Mba Rey yang terbiasa dengan learning by doing, itu oke banget lho Mbaa. Aku kalo dapet brief sponsored job biasanya rempong duluan karena harus nyusun ini dan itu wkwkwk kayaknya boleh nih coba tipsnya Mba Rey kalau dapet job lagi. Maacih lho Mbaa udah dibisikin di sini hihi

      Apapun caranya, aku yakin sekali tulisan yang enak dibaca itu pasti karena penulisnya menuangkan pikiran dan perasaannya dengan sepenuh hati, makanya kayak curhatannya Mba Rey pun bisa ngena di teman-teman pembaca πŸ€—

      Delete
  13. Makasih tipsnya Jane,
    Kalau aku orangnya lebih ke visual, jadi dulu kalau nulis postingan itu aku pilih foto yang akan dipost baru ditambahkan tulisan. Apalagi kalau habis jalan-jalan.
    Banyak banget foto yang mau dimapemrin (*sombong).
    Tapi sekarang karena #dirumah aja, metode kayak itu enggak bisa dilakukan. Terpaksa cari ide dulu baru dipercantik dengan foto.

    ReplyDelete
  14. Blog ku itu sbnrnya sangat tergantung dengan trip2 yg aku lakuin :D. Dan pandemi bener2 merusak semuanya wkwkwkwk. Tapi bukan berarti aku lantas diem aja ngebiarin blog ga diisi. Bisa jamuran dan terlupakan dia ntr :p.

    Mau ga mau, Niche kuliner yg msh bisa aku fokusin, dinaikin deh. Aku suka browsing makanan apa nih yg lagi trending, ato yg memang rasanya enak, ato malah ada temen2 yg sedang jualan Frozen food ato jenis makanan lain, dan rasanya enak, ya aku tulis di blog. Sengaja aku beli makanannya, dan kalo memang beneran enak, aku pasti tulis :). Jd semua yg dipublish, itu bener2 udh aku coba dan approve kalo enak hahahaha. Walopun tetep yaa itu balik ke selera juga.

    Kemarin aku terinspirasi dr Drakor mba :D. Liat Drakor yg temanya makan2, aku lgs cari olshop yg jual makanan Korea, trus aku icip, dan nanti bakal aku tulis di blog juga ;).

    Memang hrs cari segala cara deh utk bisa dapetin ide menulis di blog. Ga bisa cuma diem2 aja, berharap nyantol sendiri :p. Eh btw, aku bulan depan mau ke staycation di Bogor, itu Krn pengen bgtttt cobain resto Korea yg kamu review wkt itu mba :). Yg depan Shabu hachi :D. Ga sabar deeeh. LG pgn bgtttt Ama kimbab ahhahahha

    ReplyDelete

Terima kasih sudah mampir dan membaca tulisanku di sini (:

Jangan ragu untuk berkomentar supaya kita bisa saling kenal dan ngobrol bareng, ya. Mohon maaf untuk komentar dengan link hidup dan iklan otomatis akan aku hapus demi kenyamanan bersama.

Jangan lupa checklist 'Notify Me' sebelum publish komentar supaya mendapat notifikasi balasan dari aku yang akan dikirim ke email kalian.

Have a great day!