Bali Homebound Pandemic Edition: Part 1 - Home Sweet Home

Thursday, July 22, 2021


Apa yang terlintas di kepala kalian saat bicara soal rumah? 

Wangi masakan mama? Kopi seduh buatan papa? Pohon cabe rawit di halaman? Suara seruan kakak atau adik "woyyy kunci motor gue di mana"

Rumah orang tuaku di Bali nggak besar. Sejak dulu memang mereka nggak begitu suka rumah yang terlalu luas. Kata mama biar enak nggak terlalu "jauh" sama anak-anak. Mobilitas di rumah juga nggak ribet. Yang penting dapur nyaman, jadi bisa masak enak untuk keluarga. Kayaknya dambaan setiap ibu rumah tangga, yaaa, punya dapur pewe (kalo bisa estetik juga ala-ala vlog buibu Korea lol).

Sebagai anak yang pulang ke rumah orang tua, aku merasakan yang namanya "rumah" itu saat ketemu kamar tidurku yang ranjangnya menggunakan sprei kartun Hello Kitty berwarna hijau. Nggak usah tanya kenapa Hello Kitty tapi temanya ijo banget. Jadi inget pertama kali sampai di Bali setelah lulus kuliah, aku juga disambut oleh pemandangan kamar tidur yang serupa. 

Nggak berusaha sombong (kenyataannya iya), kamarku ini paling diminati oleh satu rumah. Padahal waktu pindahan aku nggak milih kamar sama sekali, terima jadi aja. 

Kamarku adalah satu-satunya kamar yang punya akses ke teras. Jadi tiap bangun pagi, aku pasti buka pintu teras untuk menikmati udara pagi. Bali nggak punya bangunan tinggi, sehingga pemandangan langit tuh benar-benar luasss. Bahkan dari tempat tidur aja, mata kamu langsung bisa berpapasan dengan awan putih dan langit biru. Begitu juga saat sunset. Golden hour di kamarku paling cakep, deh. 

Setelah aku menikah dan pindah keluar, kamarku sempat ditinggali oleh beberapa orang, entah itu sodara atau kerabat. Bahkan ada anak sahabat papaku sempat tinggal di kamarku selama beberapa bulan. Lucunya, entah mau ditempati oleh siapa pun, perabotnya diganti, meja belajar dan lemari baju yang dulu udah nggak ada, begitu aku masuk ke kamarku ini, rasanya tetap aja "rumah". Papaku sampai bilang, "Kamunya udah nggak di sini, kami tetap nyebut kamar kamu itu kamarnya cici" πŸ˜†

Selain kamar tidur, ada beberapa hal lainnya yang bisa membuatku merasakan lagi di "rumah". Seperti bangun pagi nggak langsung mandi, sarapan sambil ngobrol bareng papa mama, lihat papa bikin kopi kayak lagi di pelajaran Kimia (soalnya papa suka bikin kopi pake alat seduh Syphon), dan tentunya lihat punggung mama yang lagi sibuk di dapur. 


***
Suatu pagi, ketika aku lagi asik ngopi sambil nyusuin si bayi, aku nyeletuk pelan, "Kenapa gini aja aku happy, ya?", yang kemudian dibalas mama, "Karena kamu di rumah. Welcome to home sweet home, dear.

34 comments:

  1. benar banget mbak, kebahagiaan hadir dari kesederhanaan seperti makan bersama meski lauknya ala kadarnya.terus, dapat rezeki meski dikit itu juga nilai + ditambah jika punya keluarga yang bisa mendukung entah dalam hal ekonomi anaknya kedepannya maupun dalam hal intens seperti halnya jodoh. semoga tari bisa nular untuk bisa segera menyandang status istri dan ibu seperti apa yang tante jane rasakan. amin, semoga tuhan menghijabahi doa saya ya tante jane ??? salam buat si kecil !!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali, Mba Tari. Pandemi ini emang merugikan banyak pihak, namun lucunya Tuhan seperti ingin mengingatkan tentang kesederhanaan yang bisa disyukuri setiap harinya dalam masa-masa sulit ini. Dan aku bersyukur banget masih bisa diberi kesempatan untuk menikmatinya bersama keluarga (:

      Aminn aminn! Semoga dilancarkan semua ya, Mba Tari. Sehat selalu! 😊❤

      Delete
  2. Aaah baca cerita ini kenapa hangat dan mengharukan?! πŸ₯ΊπŸ₯Ί
    Semua hal-hal kecil yang Cici sebutin di atas bikin aku jadi kebayang rasanya dan itu membuatku merasa "this is home" πŸ₯Ί simple things tapi penuh dengan kehangatan dan kenyamanan ♥️
    Cerita soal kamar itu somehow bikin aku kebayang kelak nanti kalau aku udah punya keluarga sendiri, apakah selimut dan bantal gulingku masih akan dianggap sebagai selimut kepunyaan cici meskipun akunya udah nggak tinggal di rumah πŸ˜‚πŸ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Liii, rumah itu memang tempat paling nyaman dan mengizinkan kita untuk jadi diri sendiri nggak, sih? 🀧

      Ahahahaha pasti lah kayaknya, kita kan kakak paling besar di rumah XD syukur-syukur kamar kita masih bisa terus berfungsi sebagai tempat tidur yaa, bukan tempat penyimpanan barang-barang 🀣

      Delete
  3. Cara menuliskannya bagus ci Jane. Welcome home.

    Nggak berminat untuk pindah ke Bali sekalian. Terdengar seru

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aah, terima kasih Mba Sea udah baca πŸ₯Ί

      Jika diizinkan sih tentu mau banget hihi hanya belum kelihatan nih kalo kami bakal pindah ke sini πŸ™ˆ

      Delete
  4. Ga tau karena lagi dapet atau gimana, tapi baca ini aku berkaca-kaca, dong... :((
    Rumah dan keluarga tempat untuk pulang itu bermakna banget, tapi kadang kita (aku, sih πŸ™ˆ) suka lupa buat menyukurinya. Huhuhuhu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduhh aku nggak bermaksud bikin berkaca-kaca hiksss *sodorin tissue kotak* Betul sekali, Mba Hicha. Meski aku sendiri udah punya keluarga, tiap pulang ke rumah orang tua rasanya tetap paling memberikan kebahagiaan yang maksimal. Semoga keluarga kita sehat-sehat selalu yaa, khususnya orang tua kita aminnnn ❤πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»❤

      Delete
  5. HEY JOSSSSSHHHHHHHHH!!! (melambai-lambai)

    sebelumnya aku gak pernah jauh dari orangtua. baru merasakan tinggal beda tempat setelah bekerja, tapi itu pun karena masih tinggal di rumah saudara belum begitu kerasa. kerasa tuh setelah udah menikah.

    aku mikirnya mungkin karena pas setelah menikah tuh baru berasa punya "tempat" sendiri yang berbeda dengan keluarga asal kita. jadi pas pulang ke rumah ortu rasanya aneh, karena udah biasa di tempat tinggal sendiri. tapi hari kedua ketiga kok jadi betah πŸ˜‚πŸ˜‚


    satu hal yang jelas: meskipun rumah ortu sekarang baru ditinggali ortu satu tahun terakhir, ke rumah ortu tetap berasa "rumah". emang ya bukan tentang bangunannya, tapi tentang orang-orang yang tinggal di dalamnya serta detail-detail yang ada seperti masakan mama dan kopi-nya papa.

    angetnya berasa sampe sini. ikut bahagia karena meskipun kondisi negara kita masih begini (hiks), mbak jane bisa berkumpul dengan orangtua di rumah :') udah lamaaa kan gak ketemu yaa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. HALOOOO TANTE MEGAAAA πŸ‘‹πŸ»πŸ‘‹πŸ»πŸ‘‹πŸ»

      Samaan, Mbaaa. Walau pas kuliah aku juga jauh dari orang tua, tapi baru kerasa "pisah"nya itu pas menikah. Tiap kali ada kesempatan pulang tuh rasanya nyaman banget. Mungkin karena di rumah orang tua kita bisa bebas jadi "anak" lagi kan ya πŸ˜†

      BETULLL. Home is all about the people 😭 mau senyaman dan selega gimanapun tinggal di rumah mewah, tetap nggak ada yang menandingi rumah orang tua kita yaa. Apalagi di tengah kondisi kayak sekarang ini, bisa ada bersama dan melihat papa mama sehat terus tuh kayaknya kok priceless 🀧

      Delete
  6. Brebes mili aku bacanya mba.. 😭😭😭
    Tulisannya singkat tapi super duper deep... 😁😁 and also menghangatkan juga.
    Rumah tuh emang ya.. kaya The Most Magical Place on Earth.. πŸ˜†πŸ˜… iya nggak si.. hihihi 🀭

    Sehat selalu Mba Jane.. πŸ˜€

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mas Bayyy, maaf lho bikin banjir, ayooo cepet peluk Caca biar mendapat kehangatan πŸ˜†

      Ihhh iya banget! Mau dikata Disneyland the happiest place on earth, rumah tetap menjadi tempat yang membawa kebahagiaan hihi

      Mas Bayu dan Caca juga sehat selalu ya! *ini yang nggak tau Caca salah paham nggak sih πŸ˜†*

      Delete
  7. Aku harus setuju sama komentar-komentar di atas, tulisannya heartwarming banget mbak Jane😭😭 Jadi teringat pernah ada seseorang yg bilang, "mungkin materi bisa membeli rumah impian, tapi nggak bisa membeli "rumah" yang sebenarnya". Simple yet terasa full😍

    Semoga keluarga di Bali semua sehat selalu yaa, mbak Jane!πŸ’•πŸ€—

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huhuhuhu terima kasih, Awllll. That's true! Although I still need build my own house someday in a future (XD), tapi "rumah" yang sebenarnya nggak akan pernah bisa tergantikan ❤

      Kamu juga sehat-sehat yaa, Awlll! Peluk jauh!

      Delete
  8. Mba Jane,

    Setelah aku baca postingan ini...

    rindu hatiku perdu
    Ingin pulang ke rumah kumpul
    Bersama ria gelak tawa
    Segera sudah terbayang
    Masa-masa dimana aku
    Papa, mama, kakak, adik ada

    Terima kasih, telah
    Membawaku pulang
    Meski tak melangkah kaki,
    Namun sudah singgah hatiπŸ˜₯

    Thanku, nice story❤

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Ikeee, kok ya mataku mendadak pedes dan berkaca-kaca baca komentarmu πŸ₯ΊπŸ€§
      Semoga Mba dan keluarga selalu diberkati dan sehat-sehat yaaa!

      Delete
  9. Tulisan luar biasa mba. Just like always.
    Saya baca ini langsung melihat ke arah bapak yang lagi ngopi di meja makan. Hawanya pengen saya peluk mba. Mengingat kita masih di beri kesempatan buat melihat beliau sehat lagi 😊

    Terimakasih Mba buat tulisannya.😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yhaaaa aku juga ikutan mau mewek deh baca komentarmu πŸ₯Ί huhuhu beneran yaa, hari-hari ini tuh bisa meihat orang tua kita sehat walafiat rasanya udah lebih dari cukup. Semoga mereka bisa terus diberi kesehatan, yaaa.

      Makasih juga Mas Andrew udah baca 😊

      Delete
  10. Membacanya sambil membayangkan rumah mbak Jane di Bali seperti apa πŸ˜€. Beserta penghuninnya.Satu hal yang ditangkap, mbak Jane punya masa kecil yang bahagia betul.Thanks for sharing the stories.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi seperti yang aku coba gambarkan melalui tulisan di atas aja, Mba Phebie. Duh, aku cuma bisa bersyukur karena tumbuh di keluarga yang nggak sempurna tapi bisa mendorong aku untuk bisa jadi diri yang seperti sekarang ini 😊 Terima kasih juga udah baca, Mbaa ❤

      Delete
  11. Kamarku juga langsung ngadep teras Ci, cuman karena rumahnya di belakang rumah orang jadinya ketutup kalau ada sunset. xD Btw itu karya mamanya Ci Jane kristik ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enak banget nggak sih kalo punya kamar menghadap ke teras XD

      Aku baru tau itu namanya kristik setelah google, Ndahh hahahaha Mama bilangnya itu kayak kerajinan merajut, doi lupa juga apa namanya. Dulu mama bikin pas masih SMP-SMA gitu. Nggak ada kerjaan terus bikin beginian. Disimpen sama nenekku terus pas mama nikah disuruh pajang di rumah hahaha :D

      Delete
  12. So sweet banget kak Jane, iya ya di Bali langitnya biru, cerah panasnya juga adem aja ga terlalu keringetan, betah deh ❤️ jadi pengen tinggal di Bali beberapa tahun aja juga gpp heheh stay safe kak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Sandraaaa, aku amininnnn kalian stay sementara di Bali. Ala-ala Julia Robert di Eat, Pray and Love yaa, hihi.

      Delete
  13. Enak ya. Empunya udah pindah. Kamar tetap dihuni. Itulah enaknya keluarga besar. Kamar anakku kosong. Ya kosong melompong. Disapu kapan sempatnya saja. Ntar menyambut dia pulang saat lebaran baru disapu benaran.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, Mba Nur. Betul sekali, enaknya pulang ke rumah orangtua seperti itu, yaa. Mamaku pun rutin membersihkan kamarku meski nggak ditempati. Baju-baju semua masih di lemari, buku-buku aku juga masih tertata rapi. Dibersihkan secara menyeluruh biasanya kalau kami pulang ke sana :D

      Delete
  14. Aku bacanya sambil berkaca-kaca dong Janee πŸ₯ΊπŸ₯Ί entah kenapa aku bayangin rumah kamu yang di Bali tuh kayak rumahku waktu di Jakarta Timur.. Kamarku dulu ga ada akses terasnya sih, tapi jendelanya besar dan kalau buka jendela pagi-pagi enak banget kena sinar matahari langsung hahaha jadi nostalgia πŸ˜‚

    Masakan mama kamu looks so yummy btw padahal cuma lihat foto 😍

    Selamat berada di rumah lagi Janeee, walaupun udah ada 2 buntut, pasti di rumah tetep jadi anak papa mama lagi yaa πŸ˜„

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaah kamu pernah tinggal di Jaktim juga tohh. Huhuhu jendela besar di rumah itu impianku banget. Sinar matahari langsung masuk dan kamar jadi anget. Terus kalau sore bisa menikmati golden hour πŸ˜†

      Hihihi masakan mama itu selalu paling enak nggak, sih. Yes! Home is a home. Senang bangettt dan nggak nyangka bisa di rumah lagi selama dua bulan ini hahahaha

      Delete
  15. beneran home sweet home, kamarku yang terlihat berantakan kalau ditinggal lama, terus pas pulang,enak aja dibuat tidur hahaha

    haduhhh itu pipi Crystal ihhhh emesssnya :D

    padahal kamarku termasuk ga banyak perabotan, tapi berasa sempit yak, mungkin karna ukuran kasurnya yang gede juga
    biar gimanapun, bentukan rumah kayak apa, tetep nyaman ya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbaaa, yaampun kamarku di sini juga berantakan banget dah. Soalnya beberapa perabotan diganti, tapi herannya nggak berasa asing juga. Nyaman-nyaman aja tidur dan menghabiskan waktu di kamar lamaku ini hahahaha.

      Hihihi pipinya Krystal hobi diunyel-unyel mama dan adiknya setiap hari XD

      Delete
  16. Bacanya adem banget, Jane!!!!! :)
    duh tambah bikin kangen rumah nih! Semoga soon aku juga bisa pulang ke rumah goler - goleran di kasur :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Helloooo mamii Gide how are youuu. AMINNN! Semoga juga kapan-kapan aku bisa main ke Singepo bertandang ke Casa de Favor, ihiiiy! Sehat-sehat ya kalian ❤

      Delete