This is Adulting

Saturday, April 15, 2023


Gimana hidup? Puji Tuhan, masih bertahan (':

Beberapa bulan terakhir ini, baik kondisi fisik dan mental, sama-sama jatuh bangun. 

Kalau udah begini, journaling adalah jalan ninjaku untuk bebenah isi kepala. Pengennya bisa sepedaan ungu di Taman Sempur atau Kebun Raya, bersama dengan rakyat Bogor lainnya. Namun, karena waktunya baru bisa journaling, di kamar sendiri pulak (ya, emang mau di mana?) it's good enough for me.

Dari apa yang sudah ditulis, tergelitik ingin membagikan beberapa di sini. Sekalian "belajar" nulis lagi di blog setelah sekian lama, supaya nggak kagok-kagok amat. 

Belakangan lagi mikirin soal adulting. So, here are some of my thoughts on it:

1. Terbiasa menata ulang perubahan hidup.

Setelah gagal nyapih Krystal beberapa waktu lalu, aku jadi banyak contemplating. Dari sekian banyak hal yang dipikirin, kurangnya quality time bareng Krystal menjadi highlight-nya. 

Dua tahun pertama kokonya dulu, I fully dedicated my time for him. Beda sama Krystal, di usia belum genap 12 bulan, aku mulai sibuk berkegiatan, salah satunya ngajar les. 

I was pretty pumped when I got my first teaching job again after some years. Finally, si ibu rumah tangga ini ada kerjaan yang tangible. Mayan, kan. Selain bermanfaat, dapet uwit ugha.

Dua tahun berjalan, makin ke sini kok makin capek. Kalo kata sahabatku, mungkin udah nggak spark joy. Saking capeknya, anak-anak cuma kebagian "sisa-sisa" dari isi "tangki" aku, dan kalau udah beneran abis, cuma bisa marah-marah. I feel sorry for my kids, I feel bad for myself too.

Dua hari pasca gagal nyapih, suami udah berpesan: "Kurangi aja jadwal ngajar kamu. Kasih waktu terbaikmu buat anak-anak." Ya, kalau suami udah bersabda, istri kudu nurut. 

Rasanya ngeri-ngeri sedap harus mengubah sesuatu yang tadinya rutinitas buat kita. Aku nggak pernah bersahabat baik dengan perubahan. Padahal katanya, kan, change is the only constant on life. 

Mungkin ini juga salah satu skill adulting: harus terbiasa menata ulang perubahan hidup.

Kayak waktu belajar minum kopi hitam, meski plain, ngebosenin, tapi kalau lebih sehat, why not.

So, I did it. Aku berhasil mengurangi jadwal les, dan setelah beberapa minggu berjalan, I've never been better.

Aku punya waktu terbaik buat anak-anak, buat suami, buat diriku sendiri, dan yang pasti buat Tuhan.

Josh yang tadinya suka nanya, "Mama ngajar nanti?", sekarang kalau dijawab nggak ngajar, dese kayak nggak percaya, abis itu langsung ajak berkegiatan bareng.

Krystal juga sama. Belakangan tangan mamanya ditarik ke sana ke mari, maunya main sama mama, kecuali kalo lagi denger lagu sambil nyanyi. Entah kenapa dia nggak suka mamanya ikutan dia nyanyi, suara mama terlalu bagus apa gimana dah. 

And I don't feel annoyed at all.

Waktu di mana bisa main bareng mereka, it feels blissful. Apalagi setelah ultah Krystal yang kedua kemarin, aku sadar masa kecil mereka nggak akan terulang *lap aer mata*

2. I cherish my parents even more.

Beberapa tahun ini, aku terus berusaha mengubah mindset aku soal orang tua. 

Di samping fakta bahwa orang tua itu seringnya menguji kesabaran kita (like they know where to touch our buttons and like, boom!), aku juga belajar menikmati kehadiran mereka. Apalagi dengan jarak yang cukup jauh, di mana aku nggak bisa mengunjungi mereka kapan pun, aku bersyukur teknologi bisa mempertemukan kami kapan aja.

Dua hari yang lalu, aku lagi masa recovery abis sakit. Belum sepenuhnya balik jadi diri sendiri, but my routine keeps going. Pagi itu, my dad called, seperti biasa, ya, cari cucu dulu. Cucunya bosen, baru deh anaknya yang minta dicariin. 

I talked a bit with my mom and dad, catching up this and that. Selesai video call, I felt so much better. At this point, adulting for me when I can cherish my parents even more. 

Aku sangat beruntung masih punya papa mama, they're still together, healthy and alive. I truly thankful for them. Semoga Tuhan melindungi orang tua kita, di mana pun mereka, ya.

3. Being adult means, you can eat whatever you want!

Dari pembahasan yang cukup deep, tiba-tiba ngomongin soal makan. Percayalah, ada hubungannya kok sama beranjak dewasa.

Jadi gini. Siapa dulu kecilnya suka curious lihat menu restoran tiap kali makan sama orang tua? Nggak tahu kenapa, rasanya pengen cobain semuanya, khususnya menu minuman. 

Aku masih inget selalu penasaran sama menu "es soda gembira", hanya karena namanya lucu dan seru! Soda? Gembira??

Mamaku nggak pernah kasih izin untuk pesan itu. Entah karena tahu minumannya nggak sehat sama sekali (yang pernah minum, tahu, kan, komposisi si es soda gembira ini?), karena tahu anak gadisnya punya kebiasaan jelek, nggak pernah ngabisin minuman yang dipesan atau karena dua alasan tersebut. Sampai suatu hari, izin itu diberikan, dan itu menjadi es soda gembira pertama dan terakhir dalam hidup. Nggak abis juga, tentunya. Mamaku hanya bisa menghela nafas. 

Alhasil, tiap kali makan di restoran, mamaku suka kasih ultimatum yang sama kuberikan ke anak-anak sekarang: pesan yang mau dimakan, habiskan yang dipesan.

Now that I can earn some pocket money, jadi suka memuaskan hasrat nyobain macem-macem jajanan, yang kalau mereka eksis di jamanku kecil nggak dibolehin mama beli. Cireng? Ayam grepek? Bola ubi?? (ke mana, sih, kamu sekarang, Bi?). 

Waktu zamannya brown sugar boba di mana-mana, aku coba sekali dan rasanya persis cendol. Hampir nggak mau dihabisin, tapi suara mama menggema di kepala, hahaha. Ya, karena udah dewasa juga, kudu tanggung jawab dong. Sayang duit juga, sih, sebenernya (ini penting).

***
Begitulah lika-liku adulting, yang nggak pernah datang permisi, tahu-tahu kita harus siap disamperin. Di usia 30s sekarang ini (gue bakal 32 tahun ini, kok cepet amat, sik?!), jujur makin santai ngejalanin hidup. Boong, deng. Rempes juga kok seringnya. Cuma kalau kata orang bijak di luar sana, try to find the beauty from everything. Cakeps!

Selamat berakhir pekan, kawan-kawanku! ✨️☁️

20 comments:

  1. Oh well che..gitu deh..when adult life comes without even knocking ya. Adult life for me means less is more ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Omg yes, semoga aku bisa mencapai di level itu. Tapi bener sih, makin ke sini ogah yang ribet-ribet, ya. Thank you so much for droppin by, ciii! ❤️

      Delete
  2. Ci Jane, do you know how I miss your writing? I miss it so much!! Rindu sekali baca blog post Cici! Thank you for writing this beautiful post!! πŸ₯Ί. Adulting itu campur aduk sekali rasanya, ya? πŸ˜‚

    Point 1 & 2 blog post ini jadi semacam wejangan buatku dan kalau Cici yang bersabda, entah kenapa aku malah seneng banget bacanya(?) Berasa lagi dikasih wejangan sama kakak sendiri dengan "suara"nya yang halus lembut sekali. Masa sih Krystal nggak suka dengar suara mamanya nyanyi? Nyesel lho kamu, Dek! 🀣

    Aku juga termasuk kaum yang kurang bersahabat dengan perubahan. Kadang meski di satu sisi merasa excited, sisi lainnya bertolak belakang sekaliii. Sepertinya aku harus lebih mempersiapkan diri untuk masa depan. Kelak kalau udah punya anak, perubahan pasti lebih cepat datangnya, kan? πŸ˜‚. I'm glad karena Cici sekarang udah menemukan ritme yang baru untuk rutinitas harian Cici πŸ™ŒπŸ»❤️

    Point ke-2 on point sekali πŸ‘ŒπŸ». We are busy growing up, parents are busy growing old πŸ₯². Aku selalu ingat kalimat ini dan meski penginnya selalu nyenengin ortu, nggak jarang kesel juga dengan mereka πŸ₯². Sad but true. Terima kasih Cici udah mengingatkan kembali untuk lebih mensyukuri momen-momen hidup bersama ortu πŸ₯Ί. Huhuhu jadi mau nangis kalau bahas ortu 😭. Semoga ortu kita selalu sehat dan bahagia!

    Iiih!! Aku dulu juga penasaran banget sama minuman Es Soda Gembira! 🀣 Yang setelah diminum malah bikin bingung.. ini apanya yang bikin gembira.. 🀣. Dan meski minuman ini seger betul diminum saat cuaca panas, akupun ga kuat kalau harus habisin segelas. Selain di tenggorokan rasanya nggak nyaman, ngerasa berdosa juga minumnya 🀣. Baru ngeh juga yang jualan BolBi udah jarang banget πŸ₯². Tiba-tiba aku jadi pengin juga! Wkwk. Malah lebih banyak Kang Tahu Bulat sekarang deh πŸ˜‚. Udah coba belum, Ci? 😝. Pleaseee, itu boba kayak cendol gimana deh? Wkwk. Mungkin itu boba akulturasi, Ci, hasil pencampuran dua kebudayaan 🀣.

    Selamat berakhir pekan, Ci Jane! Sehat dan bahagia selalu ya ❤️

    ReplyDelete
    Replies
    1. Liii, I miss you too! Terima kasih yaa udah selalu nyempetin main ke blog dan ninggalin komen panjang, senenggg kayak ngobrol bareng 😘

      Hihi berhasil akuuu menciptakan citra lembut di blog, walau aslinya beuhhh.. kalo ngomong seru bisa sambil nabok-nabok orang, HAHAHA XD dan wajar sihh Krystal nggak mau denger aku nyanyi, mungkin dia kasian mamanya capek aja, jadi yasudalah 🀣

      Persiapkan masa depan sambil menikmati waktu sekarang ya, Lii. Supaya nanti nggak nyesel pengen balik ke masa lalu, tapi lebih pengen kenang momen manisnya aja.

      YAKAN KE MANA SIH BOLA UBI? Kalau tahu bulat pernah coba, Liii. Kalo doyan tahu, cobain tahu kemulnya Tong Tji snack bar deh, itu uenakkkk *kenapa jadi bahas makanan*

      Terima kasih banyak sekali lagi sudah datang berkunjung, Liaa! And don't worry, komentar kamu aman kok, tidak mengganggu sama sekali πŸ₯°

      Delete
  3. Hai mbk Jane..lama tak bersuaπŸ˜€

    Aku dulu pernah juga ngerasain kerja lantas menikah dan punya anak,dan berhenti kerja,aku fokus ngurusin bayiku,melelahkan karena ga ada pembantu tapi koq aku ngerasa hepii banget,memang terkadang ada rasa suntuk,tapi balik lgi kalau liat bayiku jadi penguat,banyk moments yg aku dapetin mulai dari dia merangkak,berhenti netek karena kusapih dan dia mewek selama seminggu tapi akhirnya berhasil,mulai belajar berjalan dsb..moment"itu rasanya ga bakalan ke ulang lagi..dan sekarang anakku udh bujang, alhamdullilah dia Deket banget sama emaknya..itu bikin aku seneng banget karena kadang ga semua anak bisa Deket dengan ortunya...ya kadang harus ngorbanin egoisnya aku wktu dulu bekerja dan akhirnya jadi ibu rt yg murni dibrumah aja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Heni, thank you so much sudah berbagi ceriya, yaa. Pilihan apa pun yang diambil seorang ibu emang nggak akan pernah mudah, kuncinya memang menikmati setiap momen dan bersyukur selalu, ya. Aku juga seneng lho liat anak yang deket sama ortunya, kalo duduk di restoran liat mereka asik ngobrol gitu sambil ketawa-ketawa.

      Salam sehat untuk Mba Heni dan bujang gantengnya yak :D

      Delete
  4. Ci Janeee I miss your writings! Baru sadar bulan Maret gak ada update. Semangat buat kita semua yang sedang (((berjibaku))) dengan dunia adulting! πŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺ

    Kalau ngomongin orangtua, hhhh emang topik yang emosional sekali. Entah sejak umur berapa ya aku kalo ngomongin ortu tuh jadi cengeng soalnya mereka makin tua dan aku kayaknya kok belum bales semua kebaikan mereka. :") Ini kadang bikin aku stres, tapi terus kalo ngobrol sama mereka jadinya tenang lagi soalnya yang aku pikirkan tuh cuma overthinking aja. Ortuku gak mikir kayak gitu. πŸ˜†

    Ngomongin soda gembira alias sogem, aku malah kayaknya belum pernah nyoba deh. 🀣 Boba aja nyobanya baru tahun ini, dan b aja ternyata, mana keras. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    Bener kata Ci Jane kalau usia 30-an ini kitanya jadi lebih santai daripada usia 20-an. Tetep sih masih ada overthinking kalau ngadepin perubahan, tapi ya we can handle it better now. ❤

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi, Endaaah! Kalo kamu nggak ngomong, aku pun baru sadar Maret bolong dongggg. Padahal dua tahun belakangan aktif banget, wkwkwk. Emang Maret kemarin tuh nggak banget deh buatku, puji Tuhan berlalu juga LOL

      Kalo aku kayaknya sejak nikah terus pindah kota, nah itu berasa banget deh jauh sama ortu. Jauhnya beda kayak waktu kuliah dulu, karena udah nikah kan nggak mungkin sering tinggal bareng ortu lagi. Bener ya, kayaknya sampai kapan pun kita nggak bisa balas sepenuhnya kebaikan mereka sih, Ndah. Cuma bisa doain mereka, kasih perhatian banyak-banyak, pokoknya kudu sayang mereka selalu dehh. Ini ngetiknya sambil nyedot ingus biar nggak mewek HAHAHA. Sehat-sehat buat ayah ibu ya, Ndah <3

      Nggak usah nyobain, Ndah, masih lebih enak es teh manis, wkwkwk.

      Yes, yesss. Semangat adulting yaaa!

      Delete
  5. Setuju sama mba Jane, adulting itu nggak gampang πŸ™„ Karena kita diminta untuk terus beradaptasi pada perubahan, dan terus diminta ambil keputusan pada banyak hal. Kadang kayak merasa nggak dikasih jeda, padahal nggak begitu sik, alias cuma perasaan saya doang πŸ˜‚Andaikata saya mau berusaha lihat adulting life ini dari sudut pandang lain, mungkin prosesnya akan lebih mudah πŸ˜†πŸ§‘ That's why, menulis jurnal atau blog kadang bisa bantu kita merapikan benang kusut yah, mba 😍

    Ikut senang membaca bagaimana mba Jane menjalani proses adulting, dan tetap menikmatinya serta membagikannya. Jadi saya yang baca bisa ikut belajar dari pengalaman mba Jane juga, sebab menurut saya proses adulting ini seperti neverending games yang nggak akan pernah ada habisnya 😁 Terima kasih sudah sharing, mba Janeee πŸ€

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hola, Mba Enoo! Jarang-jarang bisa bertegur sapa sama Mba di sini (akunya juga jarang ngeblog sih XD).

      One hundred percent true! Aku juga merasa harus ambil keputusan setiap hari dan tiap kali inget ada yang bergantung sama keputusanku, rasanya kayak dituntut harus jadi yang terbaik. Makanya nggak heran sering stres πŸ˜‚ But thank God for blog or journaling! Bisa me-mariekondo-kan isi pikiran kita, hauhahaha.

      Yes, adulting itu kayaknya seumur hidup juga, ya. Sampai kapan pun kita nggak pernah berhenti belajar (dewasa). Thank youu, Mba Eno sudah menyempatkan mampir di blog aku. Miss you and take care! πŸ₯°

      Delete
  6. Mba Jane tuh kalau nulis. Nyentuhnya sampe ke Hati yang paling dalem πŸ˜‡πŸ˜‡.. Bener sih Kata Lia. Kaya dapet Wedjangan dari kakak sendiri 😁. Terimakasih buat tulisan indahnya mba.

    Point 1 sih, πŸ˜‡ aku ngerasain banget akhir-akhir ini.. kaya udah nggak mau ngoyo lagi, ngejar apa yg bisa aku mampu kejar. Secukupnya aja, dan janji nggak porsir badan sendiri. Tahu kapan harus jalan, kapan harus lari...

    Btw, Kalau udah ngomongin Orang Tua tuh bawaannya kaya lagi jejelin bawang bombay ke mata ya mba 🀣. Apalagi kalau nginget masa kecil πŸ˜‡ argghhh So sweet 😊. Makanya aku selalu berpesan ke Brian buat selalu catch up ke orang tuanya. Karena jauh dari keluarga tuh gimana ya. Mumpung masih ada waktu kan, yaa vidcall'an atau telpon mereka meski 10 menit sehari nggak ada ruginya sih 😁.

    Adulting tuh menurut aku keras sih, dan banyak tarik nafas panjangnya... tapi nggak apa. Selama masih ada kopi.. 😁 ya ga ya?? 🀣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahhh, bisa saja kalian ini. Aku kan jadi shy shy cat, huahahaha. Makasih banyak udah baca ya, Mas Bay :D

      Betulll, harus tahu kapasitas diri juga, ya. Ikut seneng kalau Mas Bayu udah bisa nemu ritme yang pas, kapan harus slow, kapan harus mulai lari lagi. Soal orang tua, nasihatnya Mas Bayu ke Bri bener banget. Untung sekarang video call bisa di hape, yaa. Kapan pun bisa telepon, yang penting ada kuotanya XD

      HAHAHA aku balas komentar ini sambil ngopi juga dong. Iya bener dah. Setidaknya masih ada kopi yang membantu menenangkan pikiran dan hati πŸ˜‚

      Delete
  7. Halo mbk jane, udah lama nggak mampir kesini, ternyata mbk jane sekarang ngajar les ya. Saya pun sering kali berpikir pengen kerja padahal sekarang udah punya anak, tapi kalau dipikir lagi rasanya saya nggak mau kehilangan momen penting pertumbuhan anak. Semoga saja rezeki suami dilancarakan supaya saya bisa tetep di rumah nemenin anak😁
    Ngomong2 soal soda gembira saya inget dulu pas kerja di restoran sering kepengen juga nyobain minuman itu karena kelihatan seger banget. Tapi sampai sekarang belom pernah cobaπŸ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haiii, Mba Astria. Lama juga nggak ngobrol, apa kabar Mba dan bayi? Semoga sehat-sehat ya :D

      Aminnnn. Semoga keputusan apa pun yang Mba ambil, semua pasti ada kebaikannya. Akan ada musimnya nanti bisa balik mengerjakan apa pun yang kita mau. Semangat yaa, Mbaa! <3

      Lebih enak minum jus buah, Mbaa, beneran deh, wkwkwk. Tapi kayaknya udah jarang nemu soda gembira di buku menu, udah ilang pamor kali ya πŸ˜†

      Delete
  8. aku sendiri udah gede begini (umurnya) tapi kadang masih kek anak-anak juga hahaha. Pastinya mikir juga, kalau misalnya aku mengalami kayak "makan disuruh harus abis, jangan buang makanan", pastinya ortu pengen anaknya juga bisa menghargai nasi. Mungkin suatu saat, pas aku jadi ortu, aku juga bakalan bilang gitu ke anak-anakku.
    makin dewasa harusnya makin bisa mengontrol kesabaran ya, hiks, tapi aku kadang ga bisa, perlu dilatih nih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hello there! (:

      Yap, betul. Juga membentuk kebiasaan baik sih, kayak aku gemesh aja makanan sisa-sisa (padahal sendirinya masih begitu hiks), ya emang harus banyak sabar menasehati anak-anak πŸ˜‚

      Semangat berlatih dan belajar terus ya kita! Supaya bisa jadi lebih baik lagi <3

      Delete
  9. Hi ci Janee! Walaupun aku ga sepenuhnya tau apa yang dirasakan tentang perubahan dunia adulting atau dikarenakan "anak" (karena memang aku belum beranak haha, it means belum ke jenjang arah sana), tapi thank you sudah berceritaaa.

    Kalau adulting soal ini, memang complicated ya ci... Semoga nantinya aku bisa strong hadapi masalah adulting ini, mungkin kalau enggak strong, yaaa larinya curhat ke blog juga hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi, Nana! Apa kabar dirimu? :D

      Hihi, makasih sudah baca ceritaku, yaa. Pengen aja diceritain di sini supaya jadi pengingat di suatu masa, oh ternyata gue pernah begini, hahaha. Gapapa nggak selalu harus strong, ada masanya kita pasti butuh bantuan juga. Apa pun bentuknya semoga itu bisa bantu kita untuk jadi lebih baik lagi ya 😊

      Delete
  10. Akhirnyaaaa ada tulisan lagi Jane πŸ˜„. Bolak balik ke sini loh aku, masih ketutup aja pintu rumah 🀣.

    Kadang kalo bicara adulting, aku tuh kayak ga kepengen , tapi ya gimana, umur udah jelas2 nunjukin kesana πŸ˜‚. Cuma terkadang kok ya tetep childish masih ada πŸ˜…

    Tapi aku bersyukur yg ttg ortu, setidaknya masih punya, walopun papa udah sakit skr ini, tapi aku jadi berpikir, utk lebih perhatian dengan mereka. Apalagi kami jauh. Ga ada yg tau umur, takutnya kenapa2 dan aku ga bisa ketemu lagi. Mikirin itu aja udah mau nangis.

    Skr ini cuma pengen nyenengin mereka. Kemarin papa becanda, Krn aku ada kirim THR buat mama, beliau nanya kenapa papa ga dikasih. Apa mentang2 masih ada usaha bakery, makanya papa ga dikirim 🀣. Aku langsung ngerasa bersalah, dan saat itu juga TRF . Tau sih papa cuma becanda, tapi aku jadi bertekad kalo skr, tiap kali kirim uang jajan buat mama, papa juga harus kebagian.

    Tapi kalo adulting kamu sukanya nyobain makanan yg dulu ga dibolehin, aku lebih ke traveling LN Jane. Krn dulu papa itu ga suka jalan, maunya di rumah kalo bisa. Makanya aku suka iri tiap kali liburan, temen2 cerita baru dari jepang, aussie, amerika, Eropa, lah aku cuma di rumah, mentok2 Medan atau Jakarta πŸ˜‚πŸ˜‚. Tapi skr, balas dendam, pokoknya harus bisa traveling sebanyak mungkin ke Negara2 yg dulu temenku datangin. Jadi kayak terobsesi sih aku dengan traveling ini.. untungnya Diksh suami yg memang suka traveling. Jadi kayak jawaban tuhan banget πŸ˜„

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pintu rumah selalu terbuka sih, Mba. Tuan rumahnya aja kadang-kadang nggak ada 🀣

      Hihi, kok kita sama, Mbaa. Aku juga cenderung lebih sering ngasih ke mama daripada papa, nggak sekali dua kali juga kok papa seneng becandain aku, persis kayak papanya Mba Fanny. Terus kita juga sama, kan, orang tua tinggal jauhhh. Paling nggak setahun sekali baru ketemu. So, I just make sure, tiap ketemu mereka harus all out semuanya. Semoga orang tua kita sehat selalu ya (:

      Wah, ternyata itu yang bikin Mba Fanny terobsesi traveling yaaa. Tapi seru nggak, sih, bisa menjelajahi dunia dengan kerja keras kita sendiri. Aku sih nunggu cerita seru jalan-jalanmu lagi, Mba, di IGS XD

      Delete