Birth Story: Arrival Of Joshua Emmanuel Yu

Wednesday, September 14, 2016


18 Agustus 2016

Ini hari keempat aku 'cuti' nggak ngikut ke toko bareng suami. Due date sih masih jauhhh, sekitar tanggal 5 September, tapi aku dan Andreas pede banget Josh bakal lahir di minggu ini atau bulan Agustus akhir. Jadi Andreas minta aku rest aja di rumah biar nggak terlalu capek untuk persiapan lahiran.

Sebelum jam makan siang, tiba-tiba ngidam Cheetos puff yang rasa keju! Kurang random nggak tuh ngidamnya? Seinget aku Cheetos puff emang udah diproduksi secara lokal, karena pernah lihat di salah satu supermarket. Kebetulan ada Indomaret di seberang tempat tinggal, diniatin aja deh jalan kaki biar ngidam tersampaikan dan debay nggak ngeces pas keluar nanti. 

EH TERNYATA BENERAN ADA DONG.

Caps lock jebol, soalnya girang banget ngidam tersampaikan, hahahaha. Cusss beli dua bungkus! Tapi yang dimakan cuma satu kok.

Malamnya, tiba-tiba ada rasa nyeri yang menjalar di bagian pinggang ke bawah. Wah, apakah ini kontraksi? Atau sakit perut kebanyakan makan Cheetos? Nyerinya datang dan pergi, temponya pun nggak teratur. Karena belum merasakan sakit seperti ini sebelumnya, aku asumsikan ini adalah nyeri kontraksi. Kami sama sekali nggak panik, malah girang banget karena artinya Josh nggak lama lagi akan lahir.

19 Agustus 2016

Keesokan paginya...

Lho, ini sakitnya makin menjadi nih?

Nyeri yang dirasakan semalam berubah menjadi agak ngeselin. Perutku seperti kram dan terasa panas. Kebetulan obgyn aku ada jadwal praktek pagi itu. Aku minta tolong Andreas temani ke rumah sakit, setelah itu baru berangkat kerja. Entah kenapa feeling aku kuat banget kalau Josh sebentar lagi lahir. Kalau nggak hari itu juga, mungkin besok.

Saking pedenya, aku pun bikin 'pengumuman' di grup keluarga inti kalau sekarang ini lagi di RS karena udah ngerasain kontraksi. Semua anggota keluarga pun excited, khususnya Mamaku. Beliau juga sama pedenya kayak aku, kalau cucu pertamanya bakal lahir hari itu juga, hahahaha.

Masuk ke ruangan dokter, dengan bangga aku 'laporan' kalau aku siap lahiran karena udah mulai ngerasain kontraksi dari semalam. Dokter pun ikutan senang, beliau akan melakukan USG dan akan dilakukan pemeriksaan 'dalam' terlebih dulu.

Periksa dalam... periksa dalam...

WHAT? IS IT THE FAMOUS PROCEDURE "PERIKSA DALAM"?!

Hal yang sangat ironis tentang aku selama kehamilan ini adalah, aku sangat sangat sangat pede dan siap untuk lahiran normal. Namun, saat mendengar kata "periksa dalam", nyali mendadak ciut. Padahal ini nggak ada apa-apanya dengan rasa sakit kontraksi yang akan semakin intens saat menuju pembukaan penuh.

Mau nggak mau aku harus 'bersahabat' dengan prosedur satu ini, karena ini cara satu-satunya untuk mengetahui pembukaan.

Saat dokter memakai sarung tangan dan siap memeriksa, posisi kedua kakiku superrrr awkward. It's almost like when you did 'it' for the first time, HAHAHA. Dokternya sampai ngomong berulang-ulang, "Buuu, rileks ajaaa kakinya. Kalau nggak saya susah nih masukinnya." ((masukinnya)). Untung beliau dokter wanita, kalau nggak makin awkward situasinya LOL

Setelah pemeriksaan, aku berharap dokter akan bilang sudah pembukaan 1. Namun apa daya, beliau memberitahu bahwa belum ada pembukaan dan tidak ada lendir atau darah yang keluar.

Ini yang namanya nggak boleh terlalu berharap. Jadinya hanya ada rasa kecewa T_T

BUT, nggak boleh kecewa terlalu cepat, karena ini berarti aku harus mulai melakukan induksi alami supaya mempercepat pembukaan. Dokter titip pesan kalau UGD RS 24 jam, jika rasa sakitnya semakin intens, cus aja biar bisa ditangani.

Kami pulang ke rumah dan suami berangkat ke toko. Aku pun beraktifitas seperti biasa, nggak lupa rajin naik turun tangga berkali-kali.

Di hari yang sama, jam setengah enam sore

Induksi alami yang dilakukan pun membuahkan hasil.

Sakit yang aku rasakan semakin menjadi. Pain level-nya semakin bertambah. Rasa sakitnya tuh extraordinary banget deh. Seumur-umur nggak pernah merasakan sakit seperti ini. Andreas nawarin mau ke RS atau nggak dan kutolak. Nanti aja kalau sakitnya bener-bener udah nggak bisa ditahan, baru berangkat ke RS. Padahal ini aja udah bolak-balik di kamar nggak bisa tidur menahan sakit.

Andreas minta aku untuk coba tidur, supaya ada tenaga  kalau harus lahiran malam ini juga. Rasa sakitnya malah semakin menganggu dan aku nggak bisa berbaring dengan tenang. Aku berlutut di tepi ranjang menahan sakit. Andreas berkali-kali nawarin untuk ke RS, tapi tetap kutolak. Galau kalau ternyata belum ada pembukaan sama sekali. Tapi ini sakitnya jauhhhh lebih kuat daripada pagi tadi.

Waktu sudah menunjukkan hampir pukul sebelas malam. Kalau telepon Mamaku sekarang kemungkinan masih diangkat. Walaupun di Bali sudah tengah malam, orangtuaku lumayan hobi ngalong. Aku ingin tanya pendapat dari Mama lebih dulu.

Setelah nada sambung berbunyi lebih dari lima kali, akhirnya teleponku dijawab. Aku mencoba mendeskripsikan rasa sakit yang aku alami ke Mama sambil meringis di dekat jendela. Jawaban Mamaku waktu itu: "Cepet sana ke RS! Tunggu apa lagi?? Kamu itu mau lahiran!"

Daripada nahan sakit tanpa tahu tindakan selanjutnya, akhirnya aku memutuskan untuk berangkat ke RS, diantar suami dengannnn... sepeda motor!

Jarak RS dengan tempat tinggal kami waktu itu memang dekat banget. Naik motor nggak sampai 5 menit. Kebayang nggak tuh sensasi kontraksi sambil duduk di atas motor berjalan. Mantap sekali, bunnn!

Di UGD RS

Sampai di RS, kami langsung ke bagian UGD. Aku lupa gara-gara apa, tapi kami nggak bisa langsung masuk ke ruangan, jadi harus menunggu beberapa menit.

Tetiba aku ngerasa kebelet pengen BAB. Secepat kilat aku ngibrit ke toilet untuk segera menuntaskan panggilan alam ini. Setelah duduk beberapa menit, nggak keluar apa-apa. Seketika aku inget cerita-cerita para ibu yang mau melahirkan, salah satu tandanya adalah sakit kontraksi seperti kebelet pup. Oh, jadi begini rasanya. Gilaaa, nggak enak banget! Rasanya kayak bener-bener pengen BAB, tapi nggak bisa (dan nggak boleh) ngeden. Lalu, aku juga teringat tanda-tanda melahirkan lainnya adalah keluarnya flek atau darah. Setelah aku cek, belum ada juga. Aku pun buru-buru kembali ke ruang UGD, takut namaku sudah dipanggil untuk masuk.

Ternyata benar namaku udah dipanggil. Dengan perasaan super nggak karuan, aku masuk ke ruangan dan siap dicek oleh bidan. Denger-denger, bidan senior di RS ini cukup galak, apalagi ke bumil muda. Secara umur aku emang udah 25, tapi secara fisik aku tau masih keliatan anak-anak. Jadi sebisa mungkin aku nggak mau kelihatan manja yang nggak bisa nahan sakit. Sok kuat ceritanya, padahal udah keringat dingin.

Begitu ibu bidannya datang, aku menjelaskan kondisiku. Terus aku juga bilang pinggang sakit banget, namun yang kudapatkan hanya respon dingin dari belio,

"Oh, masa?"

T____________________T

Pengen nangis rasanya, tapi lagi-lagi ngingetin diri sendiri kalau harus kuat! Nggak boleh manja!

Sang bidan pun melakukan periksa dalam kembali dan memberitahukan kalau sudah pembukaan 1 di bawah sana dan beliau memprediksi aku akan melahirkan pagi ini. Sang bidan juga mempersilakan kami berdua untuk diskusi mau pulang atau menginap di RS aja. Kami memutuskan untuk stay, karena kalau memang pagi ini lahiran, pulang ke rumah kayaknya nanggung. Lagipula, kalau ada apa-apa, bisa langsung ditangani.

Andreas segera mengurus administrasi supaya bisa buka kamar. Sementara aku dibawa ke ruang persalinan untuk melakukan CTG. Buat yang nggak familiar, CTG ini merupakan alat untuk memantau denyut jantung janin dan kontraksi rahim dalam kandungan. Tujuannya untuk memeriksa ada atau tidaknya gangguan pada bayi sebelum atau selama persalinan.

Cara kerja alat CTG ini agak unik. Setiap kali kita merasakan adanya tendangan janin, kita diharuskan menekan tombol khusus pada sebuah alat berupa remote. Aktifitas kecil ini lumayan mengalihkan rasa sakit yang aku rasakan.


Di Ruang Persalinan

Ketika sedang CTG, aku dikejutkan oleh kedatangan pasangan ketua komsel kami. Ternyata Andreas udah laporan dan minta dukungan doa untuk proses persalinan. Nggak disangka mereka malah datang tengah malam (bareng anak mereka pula!) untuk menjenguk kami.

Kak Ellen masuk ke ruang persalinan dan menemani aku selama CTG. Aku masih bisa ngobrol cukup tenang sambil nahan kontraksi. Sesekali aku diam karena menahan sakit. Kak Ellen membantu mengurangi rasa sakit dengan mengusap-usap pinggang aku. Thank you banget, Kak!

Selesai CTG, kamar pun sudah tersedia dan aku dipersilakan untuk beristirahat di kamar. Sebelum pindah ke kamar, kami sempat doa bareng bersama. Perasaanku jauh lebih tenang selesai berdoa. Rasanya pengen istirahat aja untuk mengumpulkan energi. Nggak terasa juga waktu sudah menunjukkan sekitar pukul setengah satu dini hari.


Setelah mereka pulang, aku dan Andreas berusaha untuk tidur. Aku sangat sangat berusaha untuk memejamkan mata, namun rasa sakit kontraksi ini mengalahkan segala-galanya. Posisiku serba salah di atas ranjang. Aku juga bolak-balik ke kamar mandi karena mules. Karena aku gelisah, Andreas pun nggak bisa tidur. Dia berusaha menenangkan aku yang mulai nggak jelas.

Di sini drama dimulai.

Kontraksi yang aku rasakan semakin intens, semakin sulit dikendalikan. Latihan nafas ala senam hamil pun dipraktekan, tapi nggak nolong. Nggak tahu ada berapa macam pose yang aku lakukan untuk mengurangi rasa sakit. Mulai dari nungging, jongkok, sampai  akhirnya berlutut di lantai nggak berdaya. Terbesit untuk epidural aja. Nggak tahan banget sama sakit kayak gini. Lagi-lagi keingat bidan galak dan Mamaku sudah wanti-wanti untuk nggak epidural.

Aku mulai menangis, ingin rasanya teriak.

Andreas mulai nggak tega liat keadaan istrinya dan menawarkan untuk manggil bidan. Aku tolak, karena sebelum pindah ke kamar inap, sang bidan galak itu udah titip pesan jangan panggil-panggil dia terus kalau sakit. Maksudnya, sih, biar nggak bolak-balik. Cuma ngomongnya nggak bisa diperhalus, huhu. Andreas nggak peduli dengan penolakan aku, dan tetap manggil bantuan.

Beberapa menit kemudian, seorang suster masuk kamar dan menemukan si bumil lusuh dengan rambut cepol berantakan, berbaring lemah di pinggir sofa bed. Aku bilang ke suster kalau nggak bisa tahan sakit lagi dan minta dipindahkan ke ruang persalinan aja.

Kembali ke ruang persalinan, ternyata ibu bidan galak itu sedang tindakan seorang ibu yang mau melahirkan. Aku diminta menunggu di kamar bersalin terpisah. Andreas nggak diijinkan masuk karena sedang ada tindakan tersebut.

Sendirian, di kamar bersalin. Rasa sakit semakin nggak tertahankan. Aku ingin teriak, tapi takut menganggu proses ibu yang sedang bersalin.

Aku kembali ke toilet sensasi ingin BAB itu bermunculan terus. Aku cuma pipis, begitu nyeka, jeng jeng jeng... aku melihat darah segar yang keluar cukup banyak.

Buru-buru aku memberitahu bidan atau suster yang aku temui di luar kamar. Lagi-lagi aku hanya disuruh menunggu. Aku sedikit kesal karena ngerasa dicuekin. Tapi kalau dipikir-pikir, ya mereka mau ngapain juga, kan. Pembukaan juga belum penuh.

Aku berusaha untuk mengatur nafas seperti yang diajarkan di kelas senam. Ternyata memang in real labor, latihan yang selama ini diajarkan nampak sia-sia.

Bener-bener, ya, rasa sakit mau melahirkan itu nggak ada yang bisa menandingi. Nggak pernah aku merasakan sakit yang seperti ini. Mulutku nggak berhenti mengucap doa, meminta pertolongan dan perlindungan Tuhan.

INI ANDREAS UDAH BOLEH MASUK BELOM YA??

Sendirian di kamar bersalin seperti ini sambil menahan sakit itu bikin gila. Aku cuma ingin suamiku diperbolehkan masuk untuk menemani.


Sekitar jam 3 subuh 

Akhirnya, ibu bidan masuk untuk mengecek pembukaan. And guess what, udah pembukaan 4!

Mulai pembukaan 4 dan seterusnya, aku seperti setengah sadar. Penglihatanku mulai samar-samar dan akhirnya bisa berteriak untuk mengurangi rasa sakit. Bodo amat deh mau dikatain apa. Suster juga memberikan infus supaya tidak kekurangan cairan. Aku sempat dipaksa makan, tapi aku nggak mau. Padahal terakhir makan ya sore kemarin, setengah enam sore itu. Aku udah nggak fokus untuk melakukan hal lain. Andreas bolak-balik menyodorkan air putih, susu dan teh manis dengan sedotan. Dia maksa supaya aku punya tenaga tambahan, or else, I don't have enough energy for pushing. 

Aku juga sempat melihat suster memasukkan ranjang bayi ke dalam ruangan. Melihat itu, hatiku mendadak tenang. Rasanya udah nggak sabar bertemu dengan Joshua!


20 Agustus, pagi hari, sekitar jam 7 pagi 

Sosok yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba!

Bukan, bukan si debay. Aku belum lahiran.

Ketika melihat obgynku, dokter Rini datang, rasanya lega banget. Karena sebentar lagi aku akan diijinkan untuk mengejan!

Mendekati pembukaan terakhir, sensasi mengejan itu semakin ingin dilakukan. Begitu aku ngeden, dokter Rini langsung menegur supaya aku bisa menahan. Sembarangan mengejan tanpa instruksi, akan menyebabkan dua hal: Pertama, jahitan bakal banyak! Kedua, kepala dede bayi sulit untuk turun, yang ada malah nyangkut di atas. Mendengar kata "nyangkut" itu horor sekali T_T

Di saat yang bersamaan, aku mikir keras. Para ibu jaman dulu yang anaknya selusin, harus ngelewatin kayak gini sebanyak dua belas kali banget nih??

Kehadiran dokter menjadi alarm untuk satu ruangan kalau aku siap untuk melahirkan.

THIS IS IT. 

Aku diminta ambil posisi, kaki dibuka selebar-lebarnya, dan tanganku refleks mencari tangan Andreas lagi untuk pegangan (dan penenang). Antara haru, kesakitan, senang, deg-degan semua campur jadi satu. Kami berdua sama-sama berdoa dalam hati supaya semua berjalan dengan lancar.






Namun, Tuhan seperti berkehendak lain.

Setelah mengejan 20 menit, kepala Josh nggak turun juga, sementara kondisiku semakin lemas dan dokter memberitahu bahwa aku salah mengejan. Suster memasang selang oksigen untuk supaya aku tidak kekurangan nafas. Kalau sampai aku pingsan, Josh akan dalam keadaan bahaya. Nggak berapa lama, aku mendengar ucapan dokter seperti petir di siang bolong.

"Ibu, tolong dengar instruksi kami, ya. Ibu harus bisa ngejan dengan benar, kasihan bayi ibu. Saya cuma bisa kasih dua kali ngejan lagi, ini udah hampir 30 menit. Kalau sampai dua kali nggak bisa juga, terpaksa saya lakukan tindakan emergency c-section." 

Oh, Tuhan Yesus.

Aku sama sekali nggak menyiapkan apapun untuk tindakan operasi. Aku nggak menyiapkan dana, nggak menyiapkan mental, bahkan nggak membekali diri sama sekali mengenai prosedur operasi sesar. Selama hamil, aku sangat positif bisa melakukan vaginal birth. Bahkan waktu sempat 'divonis' kemungkinan nggak bisa lahir normal karena mata minus, aku masih sangat optimis bisa melahirkan normal.

Ultimatum dokter tadi benar-benar membuatku sedih.

Dan di saat aku mencoba kembali untuk mengejan sekuat tenaga, still... nothing happen down there.

Dokter nggak mau nunggu lagi, beliau langsung memberitahu Andreas untuk diskusi cepat untuk melakukan tindakan operasi. Setelah itu siap tandatangan formulir setuju c-section.

I remembered that I was crying so loud, so hard.

Rasa bersalah menjalar karena nggak bisa mengejan dengan baik dan membuat Josh harus 'nunggu' lama di bawah sana. Dia pasti udah kesakitan juga karena aku nggak bisa bantu untuk keluar tepat waktu.

The bottom line is, aku sangat sangat menyesal nggak bisa melahirkan secara normal.

Ketika dokter keluar ruangan, berkali-kali aku meminta maaf ke Andreas karena nggak bisa mengejan dan tenagaku habis. Aku juga sempat menanyakan apakah biaya untuk operasi cukup atau nggak. Dan semakin sedih ketika aku melihat Andreas menangis sambil megangin tanganku. Dia cuma bilang, "Nggak usah minta maaf dan nggak usah mikir yang lain. Sekarang yang penting Josh dan kamu bisa selamat. Operasi aja, ya?".

If the c-section is the best way for both of us, so it is. 

Sembari memasang kateter urin, suster terus mengingatkan untuk TIDAK mengejan dan mengatur pernafasan. Catat, yaaaa. Ini sudah pembukaan penuh dan udah nggak bisa menahan rasa sakit kontraksi yang merajarela.

Nggak berapa lama kemudian, aku dibopong ke ranjang beroda dan langsung dibawa ke ruang operasi. Sebelum masuk ruang operasi, baju piyamaku yang udah super duper lusuh dan pastinya bau keringat, diganti dengan baju operasi.

Di saat itu aku baru sadar, aku masuk ke ruang operasi, sendirian.

Aku bahkan nggak sempat ngomong sepatah dua kata ke Andreas. Ini benar-benar menakutkan buat aku. Semuanya di luar dugaan.

Masuk ruang operasi, sekujur badan langsung menggigil.

Tapi ruang operasi ini nggak semenakutkan yang aku bayangkan. Ruangannya serba putih, sangat terang. Ada beberapa dokter lalu lalang di sekitarku, dan seorang dokter meminta ijin untuk memberikan bius.

Saat obat bius berhasil dimasukkan, rasa sakit luar biasa sebelumnya hilang begitu saja dalam hitungan detik. It feels like heaven!

Aku dipersilakan untuk berbaring dan operasi akan segera dimulai. Aku sempat bertanya pada dokter Rini yang sedang duduk di sebelahku sambil memakai sarung tangan.

"Dok, sakit nggak?"

Beliau menjawab dengan tenang. "Ibu doa aja, ya."

Selama operasi berlangsung, aku pun berusaha untuk terus sadar karena ingin bertemu dengan Josh. Di tengah kondisi hampir nge-fly, aku masih sempat mendengar perbincangan para dokter tentang salah satu kuliner kaki lama. Ini sambil (mon maap yaak) ngebelek perut pasien sambil ngomongin makanan banget nih, dok?

Kira-kira belasan menit kemudian, salah satu dokter bilang, "Ibu, ini mau ngeluarin dede bayinya ya." Tiba-tiba perut aku ditekan kuat dan diguncang-guncang oleh semua dokter.

And before I know it... I heard the loudest cry in the room. 

Joshua was born at 08:48 am. Praise the Lord! 

Nggak seperti lahiran normal, Josh nggak langsung ditaruh di atas badanku. Dokter dan suster segera membersihkannya dulu, kemudian dilakukan pemeriksaan singkat. Sebelum Josh dibawa keluar untuk diobservasi, suster meletakkan badan mungilnya di atas dada aku. He's so cute, oh my God.  Kulitnya terlihat biru, wajahnya juga agak pucat. Mungkin karena terlalu lama menunggu di bawah sana. Maaf, ya, nak. Bikin kamu nunggu kelamaan, mama salah ngejan, nggak bisa bantu kamu keluar dengan cepat ):

Suster pun membawa Josh keluar ruangan operasi, sementara dokter melanjutkan proses penjahitan. Dalam sekejap pun aku terlelap.

Oh my dear God. Melahirkan itu capek sekali!

Ketika semuanya hampir selesai, aku terbangun. Dokter memberitahu bahwa sudah selesai dan aku akan dipindahkan ke ruang pemulihan.

Setelah dipindahkan, orang pertama yang aku ingin temui adalah Andreas.

Ketika dia masuk ke dalam ruangan, aku bisa melihat raut wajahnya yang nampak sangat lelah. Dia menemani aku sepanjang malam, tanpa beristirahat. Belum lagi tangannya yang remuk akibat aku remas sepanjang malam menahan sakit.

Di saat yang sama, Andreas terlihat berbeda. He is officially a father to our son. 

He walked towards me and I hugged him, cried. 

Pengalaman melahirkan ini luar biasa untuk kami berdua. Saat seorang ibu berjuang untuk melahirkan, ada seorang ayah yang juga turut berjuang melalui doa untuk calon buah hati.

Andreas nggak pernah mengeluh sekalipun ketika aku minta tolong selama hamil. Bahkan di saat aku harus dioperasi, dia pun tetap support aku. Masalah dana sama sekali dia nggak ungkapkan. Dia malah mengingatkan aku untuk jangan pernah melabeli diri sendiri sebagai ibu yang baik atau tidak melalui "cara melahirkan". Semua ibu hebat, semua ibu berjuang, baik lahiran normal maupun operasi.


I was literally crying again while typing this post. Apalagi sambil melihat si dedek bayi yang sedang bobo nyenyak di sebelah saat ini.

No one can ever tell you what it will feel like to love someone, so deeply, until you become a mother. 

Dear Josh, I have the greatest 38 weeks ever in my life. And I know my life will never be the same starting today since you came into this world. There will be lots of sleepless nights, itchy breasts, and other exciting new things. Those things don't matter because mommy loves you so much! Please grow up well and stay healthy. Papa mama love you to the moon and back!

9 comments:

  1. gosh kak, aku deg deg an bacanya >< walaupun rasanya kk gk nakut2in, kok aku tetep takut yah? hahaha. But this is calming. and one thing I wanna say, To God Be The Glory yah :') Semoga kalian selalu bahagia & diberkati dalam Tuhan kak!

    ReplyDelete
    Replies
    1. setelah baca ulang komenku, kok it seems like I'm ready to be a mom yah. ahahah. still need to find the man koks kak :')

      Delete
    2. Hahaha takut mah wajar kok, but we have to embrace it!

      Makasih ya buat doanya. God bless you too and good luck for meeting the one *winks*

      Delete
  2. Ah Jane, aku ikutan terharu baca birth story-mu. Baby Joshua is so cute, semoga jadi anak baik, pintar dan selalu disayang sama semua yaa :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you for reading, Eya! Aminnn, makasih ya (:

      Delete
  3. Hallo Jane, been a silent reader for so long. Hehehe.

    Congrats ya! Your baby is so cute.
    Trus iya, jangan nyalahin diri sendiri karena gak berhasil lahiran normal. Still, you are his mom. His best mom.
    Lagipula ya, kalo uda kesakitan gitu, hilang blas kog semua teori cara ngejan, cara napas, dll. ahahahaha.

    semangat yaaa!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Petris!

      Thank you so much ya! And yes, teori selalu lebih mudah dibanding saat harus benar" melakukannya hahaha

      Thanks for reading my blog too! (:

      Delete
  4. Hi Jane, baru baca postingan ini. ikut deg2an bacanya. setelah selesai cuma mikir, 'untung dulu gw milih operasi dari awal' haha. gw cemen banget sih ga berani lahiran normal, mau dihina2 orang lain juga bodo amat deh. tapi bersyukur ya akhirnya Josh lahir normal dan sehat2.. ga masalah mau gimana lahirannya, yg penting mama dan baby selamat ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha gapapa ci, memang kontraksi itu sakitnya luar binasa! Kalau nanti hamil lagi, aku juga mau langsung operasi aja, nggak mau ambil risiko untuk normal lagi. Salut sama maama-mama jaman dulu ya yang belum kenal operasi yah. Bisa lahirin sampai selusin anak hahaha.

      Iya, no matter how we deliver our baby, yang penting sehat dan selamat yah (:

      Delete

Thank you for reading and commenting here. All comments are moderated and I'll reply to your comments daily, so please check back. Nice to chat with you (: