Diary of The Week #13: Melewati Nyepi 2018 tanpa internet, emang bisa?

Tuesday, March 20, 2018


Sejak pindah ke Bali tahun 2013, aku selalu penasaran dengan hari raya umat Hindu, yaitu Nyepi. 

Katanya, Nyepi itu dilewati dengan suasana yang benar-benar sepi dan nggak boleh keluar rumah. Satu pulau Bali akan gelap gulita dan umat Hindu diwajibkan untuk berdoa secara khusyuk di kediaman masing-masing. 

Tibalah kesempatan di mana aku bisa melewati Nyepi untuk pertama kalinya. Norak banget rasanya gelap-gelapan di dalam rumah. Setiap jendela atau pintu rumah yang memancarkan cahaya, kami tutup dengan koran atau kardus, supaya kalau kami menyalakan lampu nggak terlihat dari luar rumah. Soalnya, kalau sampai ketahuan menyalakan lampu, pecalang (polisi adat Bali) yang kebetulan sedang bertugas di depan rumah akan meminta kita untuk mematikan lampu. 

Waktu itu, kami pernah coba nekad keluar gang rumah untuk melihat kondisi jalan. Bok, beneran sepi! Mau guling-gulingan di jalan raya bisa banget, deh... asal nggak ketahuan pecalang. Karena, lagi-lagi kalau sampai ketahuan, kemungkinan kamu bakal dikenakan denda dan diinapkan di banjar  (semacam kantor kelurahan) setempat sebagai sanksi adat. So please, jangan sampai keluar rumah apalagi guling-gulingan di jalan, ya. 

Suasana di depan gang rumah Nyepi 2014. 
Abis itu ngibrit ke dalam rumah sebelum ketahuan. Jangan ditiru, ya, dek-adek!

***
Bagaimana dengan Nyepi tahun ini? 

Nyepi tahun ini agak 'spesial', dikarenakan adanya himbauan dari beberapa pemuka agama Hindu dan gubernur di Bali untuk untuk memutuskan jaringan internet selama 24 jam. 

Begitu surat permohonan tentang hal ini beredar di grup Whatsapp, aku sempat skeptis. Nggak mungkin lah internet mati selama 24 jam. Udah nanti gelap-gelapan, nggak bisa nonton kabel tv, moso internet juga mau dimatikan. Bali, kan, banyak turis juga. Pasti banyak yang menentang, lah. 

Beberapa hari sebelum Nyepi, kami dapet info perusahaan operator internet mendukung himbauan ini dan dinyatakan sah oleh menkominfo bahwa layanan internet saat Nyepi akan dinonaktifkan. 

Sebagai hamba internet dan yang mengakui tak bisa lepas dari sosmed, rasanya ingin gebrak meja sambil berteriak, "APAA?!" *lebaaay ep 1*

Ditambah dengan adanya wawancara dengan salah satu bule di Bali, yang ikut mendukung usulan ini. Katanya, "Well, it's a great idea, we can have some quality time with our family." 

Kemudian, aku ingin berteriak kembali, "KAMU SOK TAHU, BULE!" *lebaaay ep 2*

Jangankan aku, beberapa masyarakat Bali sendiri aja berada di posisi pro dan kontra tanpa internet selama sehari ini. Khususnya, sih, yang bekerja di bidang pariwisata. Menurut mereka, nggak perlu sampai mematikan internet, lah. Makna Nyepi itu harus dari diri sendiri, bukan berarti yang lain harus ikut-ikutan "menyepi". 

Tapi, ya, balik lagi memang ke makna dan konsep "Nyepi" itu sendiri. Semuanya pasti bertujuan baik, kan? Sama kayak ibadah puasa, di dalam agama Kristen pun makna puasa adalah untuk mengendalikan hawa nafsu kedagingan manusia. Ada juga yang melakukannya untuk alasan kesehatan. 

Setelah lewat Nyepi kemarin, aku baru sadar sebenarnya aku nggak berhak komplain atau mengeluh soal peratauran ini. Nyepi adalah satu-satunya hari raya di dunia yang tidak "dirayakan" dengan cara berpesta atau beramai-ramai. Umat Hindu di Bali memilih untuk merayakan hari tahun baru mereka dengan cara seperti ini. 

Sebagai non Hindu dan memang kebetulan lagi di Bali, ya bohuat harus mengikuti peraturan yang sudah ada. Lagipula, konsep Nyepi ini sebenarnya positif dan bertujuan baik banget. 

Pada hari Nyepi, masyarakat Hindu melakukan empat hal ini: 

1. Amati Geni : memadamkan api/listrik 

2. Amati Karya : tidak bekerja atau beraktifitas (mengistirahatkan diri)

3. Amati Lelungan : tidak berpergian (diam di dalam rumah)

4. Amati Lelanguan : tidak mendengarkan hiburan (siaran radio/tv/internet dimatikan)

Di samping sebagai ibadah sebuah agama, konsep Nyepi ini bisa kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari nggak, sih? Dalam satu hari penuh, nggak perlu mikirin harus kerja, harus ketemu klien, harus ini-itu, dan hal lainnya yang biasa menyita waktu 24 jam kita. Selain bisa istirahat secara fisik, kita bisa mengambil waktu untuk intropeksi diri, cuti dengan dunia maya, gadget detox, sampai menghabiskan waktu dengan keluarga. Ya, ner ugha, sih, yang dibilang si turis bule. Maafkan aku yang ternyata sotoy, ya... 

Btw, buat yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang Nyepi, bisa dibaca di postingan blog ini, ya. Pembahasannya cukup detil dan menarik. 

***
So, Nyepi kemarin ngapain aja? 

Kami sekeluarga udah siap bangun di pagi hari tanpa langsung cek Instagram atau Whatsapp. Eh, ternyata kami masih bisa mengakses internet melalui mobile data maupun Wifi di rumah. OLEEEE! 

Namun, kesenangan itu hanya sesaat, karena begitu hari menjelang siang, akses internet benar-benar tidak bisa diakses kembali. Mungkin karena percobaan pertama, ya. Masih ada yang 'kecolongan' online kayak kami walaupun hanya beberapa jam. Untungnya, aku masih sempat download beberapa film untuk nemenin hari itu. YUHUUUU. 

Karena emang batin ini sudah siap offline selama 24 jam, nggak ngecek sosial media seharian ternyata nggak sesulit yang dibayangkan. Ya, walaupun tangan masih automatically ngambil hape dan nge-scroll sosmed. Yang ada muncul lambang loading lamaaaa banget sampai halaman feed kita nggak ke-refresh, hahaha. 

Langit pagi yang cerah dan biru banget. Padahal sebelumnya hujan terus lho tiap hari. 

Menu makan siang hari itu. Ada yang bisa tebak menu apakah ini? 

Ini kedua kalinya kami sekeluarga melewati Nyepi di rumah dan ketiga kalinya aku Nyepi di Bali. Sebelumnya, baik keluargaku dan aku sendiri pernah melewati Nyepi di hotel. Biasanya, menjelang Nyepi, hotel dan resort di Bali berlomba-lomba bikin paket menginap dengan harga menarik. Paket yang ditawarkan sudah berikut entertainment dan fasilitas di dalam hotel tersebut. Memang lebih enak Nyepi-an di hotel, lebih bebas beraktifitas dan nggak terlalu bosan. Sementara, kalau di rumah harus lebih diam dan nggak bisa menyalakan semua lampu. 

Tahun pertama melewati Nyepi, kami terlalu nurut sama peraturan. Tahun ini, kami tetap menutup semua akses cahaya di dalam rumah dengan koran dan kardus. Kami tetap menyalakan lampu sampai selesai makan malam, setelah itu baru menyalakan lampu kuning, deh. Untungnya, walaupun nggak ada internet, kami sudah stok film banyak. So, we went through a movie marathon that night! Salah satu film yang kami tonton, adalah The Foreigner. Ada yang udah nonton? 

Sunset sore itu juga nggak kalah cantik

Oh ya, sebenarnya salah satu tradisi Nyepi yang paling ditunggu adalah melihat parade Ogoh-ogoh, atau yang disebut dengan "malam pengerupukan". Parade ini bukan asal parade dengan mengarak Ogoh-ogoh sepanjang jalan. Ada unsur budaya, spiritual dan mistiknya. 

Aku kurang paham penjelasan pastinya. Yang aku tahu, Ogoh-ogoh ini melambangkan kekuatan alam dan waktu (Bhuta Kala), dalam perwujudannya digambarkan sebagai sosok yang menakutkan dan besar seperti raksasa. Ada yang bilang, Ogoh-ogoh itu melambangkan kejahatan, makanya mereka dibuat manusia seseram mungkin. 

Setelah diarak, Ogoh-ogoh tersebut akan dibakar supaya alam dan manusia kembali "bersih" dan bebas dari "gangguan". 

Sebenarnya aku penasaran dengan acara adat ini, namun sayangnya hati nurani ini yang nggak kuat nontonnya. I don't know why, hati rasanya nggak nyaman aja. Bukan sok suci nggak pengen nonton, tapi suerrr nyali ini sekecil butiran debu T_T

Kalau kata orang awam, pawai Ogoh-ogoh ini semacam "nangkep setan" juga sepanjang jalan. Aku mikirnya, Ogoh-ogoh itu "penuh" dengan setan, makanya setelah itu dibakar. Nggak jarang juga aku dengar sepanjang acara ini, ada aja warga yang kesurupan. Buat yang pengen nonton, disarankan berdoa dulu supaya iman kuat, ya! *ini serius* 

***
Buat yang pengen merasakan liburan di Bali dengan suasana yang berbeda, coba deh datang pas Nyepi. Sesekali liburan dalam sunyi dan tentram. 

Semoga postingan hari ini menginspirasi dan menghibur, ya. Stay awesome!

15 comments:

  1. Indahnya toleransi ya mba, walau saya tahu beratnya tanpa listrik dan internet. Wong mati listrik dua jam aja udah misah-misuh :D #peoplejamannow

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyah betul, Mba. Salut banget dengan toleransi besar di Bali ini.

      Listrik sih ada, Mbaa. Hanya kita nggak boleh sengaja menyalakan lampu sampai terlihat dari luar rumah. Kalau sampai listrik sengaja dimatikan juga, terus no internet, yasalaaaam! Balik ke jaman flinstone HAHAHA :P

      Delete
  2. Aku baru satu kali ke Bali dan itu ruamenyaa kayak apaan. Jadi pengin nyobain ke Bali pas Nyepi, eh tapi ga boleh keluar rumah juga ya? Hehehe.. Aku kemarin sempat lihat video sama foto parade Ogoh-ogoh ini Jane, dan memang terasa yah mistisnya. Penasaran sih, pengin lihat juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nginep di hotel aja, Eyaaa. Jadi nggak gelap-gelapan dan lebih bebas beraktifitas. Duh, aku denger musiknya aja dari rumah waktu mereka lewat depan gang langsung merinding T_T

      Delete
  3. jane, aku yakin yang bakal mendukung pemutusan internet 24 jam itu suami aku! HAHAHA ... dia pasti bilang, "biarin si gee ga bisa maen instagraam" hahahaha ... but i think it's a good idea ya untuk lepas dari dunia internet sesaat! ngomong emang gampang, Gillian! HAHAHA ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hishh, sama aja tuh kayak suamiku. Dia bilang bagus banget tuh no internet 24 jam, biar nggak usah pegang2 henpon teros, hahahahaha. Tapi memang nggak sesulit itu sih, semuanya berjalan dengan baik... selama ada stok film dan makanan HAHAHA :P

      Delete
  4. Positif tar suruh anak baca blog ini buat presentasi dia di sekolah hari Jumat huahahahahaa kmrn udah nyari gbr 1 suku di Indonesia yg ada adat istiadatnya, dan milih Bali hihihi...pas banget bisa ada postingan ini...

    Itu 4 hal yg tidak dilakukan yg nomer 1 nggak matiin api/listrik (jadi maksudnya dibiarkan menyala?) agak bingung hihihi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wihiii tugasnya si Clarissa ya, ci? Monggo silakan, semoga membantu tulisannya, hahahaha

      Eh iya salah tulis ci, udah langsung diedit. Thank youuu ya! :D

      Delete
  5. Menarik juga Jane cerita Nyepi di Bali, baru kali ini baca pengalamannya. Ngga kebayang sih no internet 24 jam kayak apa =)) Eh iya, liat jajaran bintang2nya ngga pas malem. ku liat di instagram banyak yg foto bagus banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ternyata nggak seburuk yang dibayangkan sih, ci. Hahahaha! Untung di rumah rame-rame jadi nggak bosen :D

      Iyaa liat. Langit malam pas Nyepi itu emang amazing banget!

      Delete
  6. Sebenernya no internet 24 jam, gak apa2.. asalkan, kagak sendirian! Kalau pas hr libur, dihabiskan waktunya sama keluarga, gak brasa deh!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, bener! Untungnya di rumah lumayan rame plus ada anak kecil. Jadi nggak bosen-bosen amat, hahahaha

      Delete
  7. wahh aku ga kebayang pas nyepi di Bali bakal begimana... :"

    btw mau tebak menu makan siangnya...babi kecap sama tim telor bukan? haha *sotoy

    oh ya, aku pernah baca soal ritual ogoh-ogoh itu..katanya emang bakal ada yang kesurupan gituuu..jadi emang kalo mo nonton harus bener2 siapin iman...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuk, tahun depan pas Nyepi cobain ke Bali ngerasain pengalamannya (:

      Iya, soalnya mereka ritual agama dan mistik banget. Tahun lalu aku sempat pengen nonton tapi bawa bayi, nggak jadi lah akhirnya. Iman nggak kuat juga T_T

      Btw soal makanan, yess betul sekali tebakannya, hahaha.

      Delete
    2. waduuuh aku ga siap kayanya ngalamin Nyepi di Bali...hahah ke Balinya pas emang bisa liburan ajaah..biar ga boros huhuhu.

      Waduuuh kalau bawa bayi riskan juga kan tuh ya hahaha

      waaaah bener ternyata tebakan aku hahaha soalnya mamaku juga kadang suka bikin menu cem itu hehe

      Delete

Thank you for reading and dropping your comments! All comments are moderated and I will reply each comment daily, so please check back. Nice to chat with you!