My Thoughts on K-Drama "Go Back Couple"

Friday, April 5, 2019


Hello, we're back again for another K-drama review!

Setelah punya anak, aku memang nggak punya banyak waktu untuk nonton drama. Kalo pengen nonton harus yakin dramanya layak ditonton. Sombong, yeee, hahaha. Maklum, waktu bagi seorang emak-emak itu memang mahal harganya. 

Go Back Couple ini udah rilis sejak 2017 kemarin. Buat yang belum nonton, you NEVER too late to watch! Serius. I'll tell you why.

WARNING: postingan ini akan panjangggg dan mengandung spoiler. Better grab some snacks now and here we go!

Sinopsis

Go Back Couple berkisah tentang sepasang suami istri berusia 38 tahun, Choi Ban Do dan Ma Jin Joo. Choi Ban Do berprofesi sebagai sales obat yang mana pekerjaannya sehari-harinya menawarkan obat-obatan ke rumah sakit. Sedangkan Jin Joo sehari-hari menghabiskan waktunya sebagai ibu rumah tangga dan mengurus anak balitanya, Seo Jin. 

Mereka berdua saling mencintai saat menikah. Namun, setelah memasuki usia pernikahan ke-10, mereka pun mulai saling membenci. 

Choi Ban Do punya low self-esteem karena ia diperlakukan sebagai kacung oleh seorang dokter senior yang memintanya untuk 'menjaga' para selingkuhannya supaya nggak ketahuan sang istri, dengan ancaman si dokter nggak akan membeli obat-obatnya lagi kalau Ban Do berani macam-macam. 

Ma Jin Joo yang punya gelar sarjana mulai kelelahan karena setiap hari berkutat dengan urusan domestik dan anaknya. Setiap kali ia keluar rumah dengan tampilan lusuh, dia pun mulai mempertanyakan harga dirinya sendiri. 

Di saat keduanya bergumul dengan masalah pribadi, mereka pun jadi sering menyalahkan pasangannya masing-masing. Jin Joo merasa suaminya berhenti romantis dan merasa nggak pernah ada  saat ia butuhkan, sementara Ban Do merasa istrinya kurang memahami dan cenderung nggak menghargai pekerjaannya. 

Suatu hari, keduanya menjalani hari terburuk, dan di tengah-tengah emosi memuncak, keduanya memutuskan untuk bercerai. Resmi bercerai, Ban Do dan Jin Joo membuang cincin kawin mereka dan tiba-tiba mereka dibawa mesin waktu kembali ke tahun 1999, di mana mereka 'terjebak' dalam diri mereka sendiri di usia 20 tahun dan berstatus sebagai mahasiswa.

Yang satu girang banget bisa balik muda, yang satu malah syok berat.

Sebelum masuk review, ada beberapa "efek samping" yang mungkin bisa dirasakan saat menonton drama ini: 

  • Ketawa ngakak, ketawa bego, ketawa nangis sampe beneran nangis sesunggukan! Genre drama ini, sih, boleh romcom (romantic comedy), tapi makin ke belakang ceritanya makin mengandung bawang. I can't count how many times I cry, khususnya scene di mana Jin Joo suka nangis sendirian karena teringat anaknya T_T 
  • Nostalgia ke masa muda yang sungguh senang... bagai api tak kunjung padam... (lah ini lagunya emak bapak gue)
  • Meskipun masa kuliah yang kujalani nggak di tahun 90an, tapi story line di masa itu kurang lebih sama dengan yang aku alami. Coba ngaku, seberapa banyak dari kita yang puas-puasin masa muda saat kuliah?
  • Mulai berpikir untuk rajin skin-care, karena Jang Na Ra awet mudanya kebangetan di sini! Can you really believe that she's nearly 40?! Dia sukses banget memerankan karakter yang masih berusia 20 tahun dengan lawan main yang jauh lebih muda. Tapi, ya, nggak kelihatan kalau dia itu noona/onnie. Kok bisa, sih? 

Jang Nara lebih tua tiga tahun dari lawan mainnya, Son Ho Jun (salah satu main host di Coffee Friends). Nggak begitu ketara, kan, bedanya? And look at her flawless skin! 

My personal thoughts 

Berbeda dengan drama yang aku tonton sebelumnya, Gangnam Beauty, Go Back Couple sukses meninggalkan kesan yang amat mendalam. Apalagi tema besasr drama ini adalah keluarga dan pernikahan. Dua hal yang nggak cuma dekat dengan kehidupanku, tapi juga merupakan nilai kehidupan yang aku pegang. 

"Marriage is not a happy ending." 

Baru mulai episode pertama, tapi udah disodorin judul dengan message yang nohok. 

Scene berikutnya adalah ketika Jin Joo lagi mules dan harus ke toilet, baru aja masuk anaknya malah gedor-gedor pintu sambil nangis manggil mamanya. Sekali lagi, ini baru awal lho. Kok udah relatable banget, sih, dengan kisah gue?!

Kemudian, di scene selanjutnya Jin Joo baru duduk dan pengen makan siang, eh anaknya bangun tidur terus nangis. Perut lapar, yaudah sambil gendong sambil makan super ekspres. Apakah ini aku sedang diajak bercermin dengan potrert kehidupanku sehari-hari? 

Perjalanan cinta Ban Do dan Jin Joo digambarkan dengan sangat tidak fairytale seperti drama romantis lainnya. Cerita mereka sangat real sampai kita pun yang nonton merasa sangat dekat, sangat memahami kesedihan dan kemarahan mereka. Nonton dari episode pertama sampai akhir, aku nggak berhenti membatin, "Duh, gue paham banget ini rasanya kayak apa." 

Waktu mereka 'diberi' kesempatan untuk kembali ke masa lalu, mereka sama-sama sepakat nggak mau saling kenal satu dengan lainnya. Keputusan untuk menikah dan saling mengenal itu dianggap sebuah kesalahan bagi mereka, sehingga saat kembali ke masa lalu, mereka pengennya benci-bencian aja.

Benci, tapi jatuh cinta (lagi)

Later did they know, perjalanan ke masa lalu ini malah memberi kesempatan bagi mereka untuk saling buka-bukaan 'luka' yang mereka rasakan saat sebelum bercerai. Sakit? Iya, lah. Jin Joo juga bilang sambil memegang dadanya, "It seems like I can't forget it..." waktu dia menyampaikan perasaan yang sebenarnya ke Ban Do saat ibunya meninggal. Jin Joo berharap suaminya bisa berduka bersama dirinya, tapi nyatanya Ban Do pura-pura tough, seolah-olah dia nggak sedih dengan kepergian ibu mertuanya. Padahal Ban Do punya alasannya sendiri kenapa dia harus kuat di depan istrinya.

Banjir banget nonton scene ini T_T

Episode 10 probably one of my favorite, dibuka dengan monolognya Jin Joo seperti berikut,

"At one point in life, we begin to take something for granted because we get comfortable and used to them. We live on considering the kindness of our love and happiness we have are something we deserve and take them for granted. But we only realize this after we lose everything. Even someone's existence itself was not supposed to be taken for granted."

Kata kuncinya di sini adalah we can't take anything for granted

Tiap kali mens, Jin Joo pasti sakit pinggang berlebih. Ban Do yang tau akan hal ini, langsung mijitin Jin Joo sampe ngantuk-ngantuk sekali pun. Bahkan Ban Do milihin obat-obat mana yang Jin Joo perlu minum supaya sakitnya mengurang. Maklum, ya, doi kan sales obat tuh, jadi paham banget. Awal menikah, Jin Joo merasa sangat "disayang" waktu dia lihat sendiri Ban Do lagi milihin obat-obatannya. Tau, kan, rasanya hati berdebar-debar karena seseorang melakukan sesuatu that matters to you. Beberapa tahun kemudian, hal "kecil" yang dilakukan Ban Do ini menjadi sebuah rutinitas yang biasa buat Jin Joo, dia nggak lagi ngerasa butterflies in her stomach. Buat Jin Joo mungkin emang udah seharusnya suaminya melakukan hal itu.

Waktu mereka masih di masa lalu, kebetulan Jin Joo datang bulan dan Ban Do yang tau akan hal ini otomatis melakukan rutinitas yang sama pada Jin Joo. Di situ lah Jin Joo baru sadar that her husband never changes. Suaminya tuh nggak berhenti melakukan apa yang biasa ia lakukan meskipun mereka sedang time travel (dan ngakunya nggak mau saling kenal lagi).

Ini bikin aku mikir, kapan terakhir aku ngerasa benar-benar thankful dengan small acts dari suami?

Am I really thankful every time he plays with our son every night before bed, while I'm doing a quick me-time?
Am I really thankful every time he helps me to feed our son when we're dining out?
Am I really thankful every time he drives us everywhere I need to go?

Selain tentang hubungan Ban Do dan Jin Joo, perjalanan ke masa lalu ini juga memberikan Jin Joo kesempatan untuk finding closure antara ia dengan ibunya.

As I mentioned before, Jin Joo nggak sempat bertemu untuk terakhir kalinya sebelum ibunya meninggal. Her heart broke into pieces dan hari-harinya selalu menyesali akan hal ini. She blamed herself, even her husband about her mother's death.

Kembali ke masa lalu, Jin Joo bikin bucket list berisi hal-hal yang ingin dia lakukan bersama ibunya, sampai akhirnya ibunya "nggak sengaja" nemu list ini berserta surat Jin Joo untuk ibunya.

Ibu itu satu-satunya orang yang paling memahami anaknya sendiri, meskipun terkadang ada hal yang terjadi di luar nalar kita.

Siapa juga yang mau percaya kalo kita lagi time travel? Tapi somehow ibunya Jin Joo believes that. Makanya setelah paham kenapa belakangan ini anaknya bertingkah 'aneh', Jin Joo disuruh pulang ke tempat asalnya dan kembali ke anaknya, Seo Jin.

Jin Joo bilang ke ibunya ia takut pulang karena dia nggak bakal ketemu ibunya lagi. Dia takut nggak bisa mengatasi rasa dukanya nanti dan keingat ibunya terus menerus.

Mendengar itu, ibunya cuma senyum terus ngomong gini,

"Deal whatever sadness that happens to you, you will be stronger. When you raise kids you can do it, you can do everything."

SIAPA YANG POTONG BAWANG NIH KOK MATA PEDES??

TT________TT


Langsung keinget kenapa mamaku kok kayaknya tough banget menjalani hidupnya, mungkin beliau udah 'kebal' membesarkan aku dan dua adikku sejak bayi sampai sedewasa ini. Terus hati ini terpotek keingat wajah mama yang menangis waktu kami mengenang almarhum Popo beberapa waktu lalu. Mau seberapa besar rasa kangenku sama Popo, mamaku jauh lebih kangen dengan ibunya sendiri.

Yaampunnnnn nulis ini aja mata berkaca-kaca lho ๐Ÿ˜ข

Memang ya... surga itu di telapak kaki ibu.

Terus, gimana soal ayah?

Jin Joo sempat kesal dan ngambek sama ayahnya karena beberapa bulan setelah ibunya meninggal, ayahnya mendadak bilang mau nikah lagi. Padahal ayahnya ngomong begitu cuma ingin Jin Joo nggak perlu khawatir dan ibunya juga berpesan supaya ayahnya nggak ngerasa lonely.

Rasa kesal itu kebawa waktu Jin Joo balik ke masa lalu. Malam sebelum Jin Joo 'pulang' ke masa depan, ibunya berpesan kembali tentang ayahnya. Sering-sering berkunjung ke ayah, jangan lupa ajak cucu, treat him well and never make him feels lonely. Jin Joo pun mengerti dan melakukan amanat terakhir ibunya.

Now that I'm thinking... selama Josh bertambah usia, my parents also getting older, that makes me want to cherish our time together even more. Apalagi sekarang aku tinggal jauh dari mereka, sometimes I'm crying alone thinking about this ): miss you, Pa and Ma!

***
Kita memang nggak mungkin bisa kembali ke masa lalu seperti Ban Do dan Jin Joo, yang bisa kita lakukan adalah berdamai dengan masa lalu, sepahit dan sesakit apapun itu, and try to live better in the present.

Wejangan dari ibunya Jin Joo, nggak selamanya kita bakal suka dengan kelakuan atau sifat pasangan kita. Hidup itu sulit, kita akan sering menghadapi trial dan error, termasuk dalam pernikahan.

Nggak pernah nyangka deh drama Korea mengajarkan hal-hal penting dalam hidup kayak gini. This is such a heartwarming drama ever. Ayooo nonton! Cuma 12 episode, nggak akan berasa deh. Kurang malah ):

Fun trivia about Go Back Couple

1) Jang Nara memenangkan Excellence Award (kategori mini-series) di ajang KBS Drama Award 2017. Speech-nya humble sekali, sampai Son Ho Jun pun ikut terharu. Oh ya, mereka berdua juga salah satu winners Best Couple berkat drama ini. 

2) Pertama kali nonton dramanya Son Ho Jun dan langsung dibikin nangis bawang gara-gara aktingnya yang paripurna. Parah, sih. Kok dia bisa sekeren itu T_T

Semua yang udah pernah nonton pasti sepakat deh scene ini yang bikin makin cinta dengan karakter Choi Ban Do. He's such a family man.

3) Drama yang oke pasti didukung soundtrack yang nggak kalah kece.


4) Lagi-lagi aku mendadak 'ketemu' Jung Yunho di drama ini. Ini apa coba deh, kemarin doi nongol di Coffee Friends sekarang di sini pula. Cameo doang, sih, tapi karakternya cukup menghibur. Doi jadi sales sebuah tempat les anak-anak gitu, trik sales-nya dia nyamperin emak-emak yang ada di jalan, dipuji-puji terus disuruh daftarin anaknya ke tempat les tersebut. Kzl!

Coba kamu kalo ketemu sales asuransi macem gini, mau kabur apa diladeni aja? ((: 

Trailer-nya sih romcom banget, kan? Jangan tertipu! Pokoknya siapin handuk kering buat peres aer mata untuk nonton drama ini. Happy watching!

Image credit: Soompi, Dramabeans, KBS

4 comments:

  1. Kemarin aku nonton juga. Cuma kadang kesal aja sama sikapnya choi ban do. Menurutku dia sih yg buat rumah tangganya hancur. Dia gak begitu sayang sama si istri. Sehingga, pas mereka balik lagi tu rasanya aku kuranh setuju. Hehe

    ReplyDelete
  2. Aku baca review ini aja udah berkaca2 gimana kalo nonton beneran๐Ÿ˜ญ udahlah aku nyerah sama topik tentang ortu dan perpisahan huhu, jang nara dari dulu nggak berubah tetep cantik imut awet muda jangan2 dia vampir๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘ itu yang jadi ibunya dulu juga jadi ibunya cha eunsang di drama the heirs ya๐Ÿ˜€

    ReplyDelete
  3. duh ini drama benar-benar keren menurut aku. benar-benar menggambarkan kehidupan pernikahan dengan realitasnya. heu

    ReplyDelete
  4. Mbaaa amu jadi penasaran banget apalagi poin2 review diatas iya ya kangen degdegan dicium suami hahhahah terus aku kayaknya harus nonton ya supaya lebih bersyukur lagi aamiin tfs yach

    ReplyDelete