Kacamata dan Kepercayaan Diri

Wednesday, June 17, 2020


Salah satu ciri khas yang gampang dikenali dari diriku adalah: kacamataan. 

"Itu lho si Jane." 
"Jane yang mana?"
"Yang sipit pake kacamata." 

Mayoritas orang yang aku kenal dulunya kacamataan, sekarang mereka udah berhasil lepas. Bukan karena operasi lasik, tapi karena beralih ke contact lens atau lebih sering disebut softlens

Alasan mereka beralih ke softlens, tentu aja biar lebih pede dan lebih terlihat cakep, khususnya untuk yang perempuan. Ada juga yang karena pekerjaan jadi mereka nggak bisa terus-terusan pakai kacamata. Salah satunya adalah sahabatku yang profesi sampingannya adalah seorang MC (master of ceremony). Pakai kacamata tentu lah akan mengganggu penampilannya saat harus tampil di atas panggung. 

Banyak yang nanya ke aku, kenapa sih nggak pakai softlens aja? Emangnya nggak bosen kacamataan mulu? Hidung nggak menghitam pakai kacamata terus? 

Jawaban untuk semua pertanyaan di atas: NGGAK. 

I've been wearing glasses since... 8? 9? Lupa deh, pokoknya sejak SD aku udah kacamataan. Kebetulan minus yang aku dapat ini karena keturunan dari kedua orangtuaku. And yes, semua anggota keluargaku kacamataan. Selain minus, aku juga memiliki silinder yang membuat penglihatanku jadi berbayang. 

Aku nggak pernah merasa terganggu yang gimana banget selama memakai kacamata. Nggak pernah dikata-katain juga sejak kecil (entah aku lupa atau emang nggak pernah... tapi rasanya nggak pernah deh). Intinya, pasrah aja kalau memang harus pakai kacamata hahahaha. 

Mamaku sendiri juga nggak pernah ribetin kami bertiga yang harus pakai kacamata. Paling hanya bawelin kami untuk nggak baca sambil tiduran atau di tempat remang, jangan nonton tv dekat-dekat (kebetulan aku dan adik-adikku hobi nonton) dan harus rajin minum jus wortel supaya minus kami nggak nambah banyak. Oh ya, sama ribetin untuk ngerawat kacamata sebaik mungkin karena beli kacamata baru itu MAHAL 😆

Sempat ngerasa risih kacamataan itu waktu SMA. Ada satu kejadian di mana temanku nggak sengaja melempar bola voli dan mengenai kacamataku saat pelajaran olahraga. Praaak! Rusak deh. Alhasil, aku harus jalan dituntun oleh temanku karena kalau nggak pasti kesandung. Temanku minta maaf berkali-kali dan aku masih ingat banget dia traktir aku nasi goreng abang-abang yang jadi favorit kami satu angkatan sebagai permintaan maaf. Bukannya bayarin servis kacamata eike malah dikasih nasgor 😂 Ya gapapa juga, sih. Gratisan mah hepi-hepi aja gue. 

Gara-gara kejadian itu, aku merasa ribet harus bergantung pada kacamata. Jalan aja susah, apalagi harus ngeliatin guru menjelaskan pelajaran di depan kelas. Untungnya, saat itu aku langsung izin ke optik terdekatyang kebetulan pemiliknya adalah orangtua teman sekelasku juga dan biaya servisnya gratis *maacihh om dan tante*supaya bisa mengikuti pelajaran dengan baik. 

Terus, balik lagi ke pertanyaan semula. Kenapa tetap nggak mau pakai softlens untuk pemakaian sehari-hari

Takut. Malas. Mahal. 

Takutnya karena sering mendengar pengalaman nggak enak dari orang-orang yang pakai softlens. Secara aku anaknya agak-agak ceroboh, kayaknya wearing contact lens is not a good idea. 

Di SMA juga aku pernah coba pakai softlens, kebetulan karena harus ikut orangtua ke acara nikahan kerabat. Mamaku yang bantu pakein karena aku nggak berhasil terus. Softlens-nya meluncur tiap kali aku berusaha untuk masukkin ke dalam bola mata. Sungguh pemborosan waktu. Kalau kacamata, kan, tinggal pakai aja, hahaha. Selama pakai softlens pun ya gitu deh. Rasanya nggak nyaman karena ada yang ganjal. Dan malah nggak pede, kok aneh yaa nggak pakai kacamata (tapi bisa melihat jelas hahaha). 

Kemudian, aku terpaksa pakai softlens lagi karena harus foto pre-wedding dan waktu di acara pernikahan sendiri. Waktu itu, sih, nggak terlalu merasa risih dengan softlens karena aku jauh lebih ribettt ngurusin acara nikahan. Plusss, aku kan di-makeup dan cukup senang karena menikmati rasanya menjadi ratu semalam LOL 

Setelah itu sampai hari ini aku nggak pernah lagi coba-coba pakai softlens. Kalau dipikir-pikir, pakai softlens itu harus menjadi pengeluaran rutin lagi. Belum beli air obatnya, belum beli tempatnya. Malas sekali bukan. Budget beli softlens bisa dialihkan ke yang lainnya. 

Sedangkan pakai kacamata itu lebih tahan lama. Sebelum ganti kacamata yang sekarang ini, kacamata dulu usianya udah enam tahun. Memang udah layak ganti karena lensanya udah baret dan aku bosan dengan modelnya. Kacamataku sekarang ini udah berusia tiga tahun dan belum ada rencana untuk ganti lagi, karena masih baguss dan aku suka sekali dengan modelnya.

Kacamata yang sekarang ini okeee banget untuk segala acara. Ke acara nikahan, date night termasuk sehari-hari tuh oke sekali ❤

Oh btw, minus aku sekarang ini sekitar 6,5 dan 7,0. Ini hasil cek terakhir di dokter mata sebelum lahiran empat tahun yang lalu. Kali ada yang nanya 😝

Sempat kepikiran lasik? 

Nggak juga. Mungkin belum untuk saat ini. Karena ya balik lagi, udah nyaman banget dengan penampilan kacamataan ini. Nggak pakai kacamata justru nggak "gue banget" gitu lho.

So yes, kacamataan adalah bagian dari jati diri aku. Selain sebagai kebutuhan, it's also a way to boost my self confidence. (setelah itu baru gambar alis ahahahaha)

Setiap orang pasti punya caranya masing-masing untuk meningkatkan kepercayaan diri lewat penampilannya. Ada yang dengan memakai makeup, mewarnai rambut, memakai gaya baju tertentu dan sebagainya. Nggak ada yang salah kok. Balik lagi kepada preferensi diri masing-masing.

Berarti nggak pakai kacamata nggak pede?

Iya lah, kagak bisa liat dong gue kalo nggak pakai kacamata 😂

Tapi sekali lagi, lepas dari usaha apapun yang kita lakukan, kepercayaan diri harus timbul dari dalam diri sendiri dulu, ya. 

Sedikit tips receh buat yang ingin lebih pede dengan kacamataan: 
  • Pilih model frame yang timeless. Jadi aman untuk dipakai sehari-hari. Sekarang ini banyak model kacamata yang cakep-cakep dengan harga yang affordable juga. Kacamata yang aku pakai sekarang ini adalah brand lokal, Bridges Eyewear. Not sponsored anyway. Akutu senang sekali kalau nemu produk lokal yang kualitasnya nggak abal-abal, termasuk yang satu ini. Aku udah pakai tiga tahun, so far aman-aman aja. Paling sesekali bautnya harus rutin dikencangkan karena gampang melorot. Oh ya, punyaku jenisnya Harbour, ya. Kali ada yang mau kembaran, kan. 
  • Jangan malas membersihkan lensa kacamata. Gengges banget, kan, kalau lagi ngaca terus ternyata lensa kacamata kita butek atau berminyak banget. Selain ganggu penglihatan, penampilan keseluruhan juga kurang oke. Biasanya, sih, aku selalu pakai semprotan khusus kacamata gitu yang ukuran botolnya mini, praktis di bawah ke mana-mana. Kebetulan sekarang lagi habis jadi nggak bisa kasih rekomendasi foto. Tapi dibeli di optik manapun pasti ada kok, harganya sekitar 30 ribuan. 
  • Nggak usah terlalu ribet untuk eye makeup. Apalagi pake maskara. Soalnya pernah lagi centil pengen maskaraan. Alhasil, bulu matanya nusuk-nusuk lensa kacamata dan akhirnya kotor dehhh. Hahaha. Ini mungkin tips untuk yang mager makeup-an kayak aku, ya. Buat mata, aku mentok di eyeshadow dan eyeliner. Eyeliner yang wajib, sih. Biar mata eike sedikit 'melek'. 
ðŸĪ“ðŸĪ“ðŸĪ“
Begitulah cerita singkat tentang kacamata dan kepercayaan diriku (sebenarnya kurang nyambung, ya? Gapapa lah, disambung-sambungin aja ahahaha 😂). 

Teman-teman sesama kacamataan ada yang punya cerita samaan nggak? Atau malah ada pengalaman sendiri yang unik? 

36 comments:

  1. Mba Jane cantik pakai kacamata 😍

    By the way, saya belum pernah dalam hidup saya pakai softlense mba 😂 karena saya nggak bisa pakainya dan takut untuk mencoba ðŸĪĢ jadi selama ini ketika manteman saya pakai softlense warna-warni, mata saya begini-begini saja 🙈 ohya, saya pakai kacamata kadang buat gaya-gayaan alias kalau lagi harus buru-buru ke luar rumah padahal belum mandi dan make up-an contohnya ðŸĪŠ kacamata akan saya gunakan sebagai penyelamat hahahaahahahaha.

    Bicara mengenai kacamata dan kepercayaan, saya juga punya sesuatu yang selalu saya pakai untuk kepercayaan diri saya, mba ðŸĪ­ tapi bukan kacamata melainkan jam tangan hihihi. Kalau nggak pakai jam tangan dijamin langsung merasa drop dan nggak nyaman serasa ada yang kurang lalu jadi gelisah berkepanjangan ðŸĪĢ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaah jadi maluuu dipuji Mba Eno huahaha maacih yaa 😘

      Kalau buat aku sendiri pasang softlens itu benar-benar nggak nyaman, Mba. Kalau nggak terpaksa seperti acara nikahanku sendiri kayaknya juga nggak bakal pakai softlens 😂 Ditambah kalau softlens yang dibeli pasaran itu kurang cocok sebenarnya untuk mata aku yang silinder. Jadi pake softlens biasa itu tetap agak berbayang, jalan jadi pusing huahaha

      Wah aku baru pertama kali dengar nih. Alasannya kenapa tuh Mba Eno? Aku kepoo nih, soalnya aku sendiri pakai jam tangan hanya untuk mendukung penampilan 🙈

      Delete
    2. Alasannya karena jam tangan untuk saya itu seperti kacamata mba Jane yang bisa membantu meningkatkan rasa PD hahahaha 😂

      Honestly, saya juga bingung kenapa mba, mungkin karena sudah terbiasa dari kecil selalu pakai jam tangan jadi ketika nggak pakai serasa ada yang kurang 🙈 dan mungkin karena saya butuh check waktu (lantas malas kalau harus merogoh kantong untuk buka handphone) that's why jam tangan to the resque ðŸĪ­

      Delete
    3. Berarti memang masing-masing orang punya caranya masing-masing untuk meningkatkan level kepercayaan diri yaa, termasuk pakai jam tangan hihi

      Oh iya, kalau alasan terakhir itu aku dapati di teman-temanku yang pekerja kantoran. Rata-rata mereka pasti memakai jam tangan dan hobi mereka tuh ngelirik jam tangan. Kayaknya udah kebiasaan kali ya, gara-gara dikejar meeting (atau deadline) sana sini, bahkan waktu janji hangout dengan aku di weekend aja kebiasaannya gak hilang 😂

      Delete
  2. Ternyata ada juga... Mirip keluarga Markum. Sama banget dengan keluarga saya dimana semua pemakai kacamata. Bapak, ibu, anak 4, dan sekarang cucunya juga pakai kacamata.

    Mungkin karena turunan, tapi bisa juga karena semua kutu buku. Hobi baca. Biar sudah dilarang baca sambil tiduran, sering tidak sengaja tetap saja sambil tiduran bacanya.

    Tapi memang kalau sudah pakai kacamata, rasanya sih biasa saja. Memang betul kalau tidak pake malah seperti ada yang hilang.

    Ada untungnya kalau pake kacamata, biar ga pinter tapi terlihat pinter.. :-D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah iya keluarga kita ternyata mirip-mirip deh kondisinya. Soal baca buku kebetulan iya saya juga suka baca dari kecil. Kadang nggak sadar bacanya di saat kondisi penerangan agak remang, kalau udah begitu mama ngoceh-ngoceh hahaha

      Statement terakhir benar juga tuh... tapi mudah-mudahan saya beneran pinter, bukan "terlihat" aja ðŸĪĢ

      Delete
  3. Wahhh aku punya cerita juga tentang kacamata, udah minus dari smp kelas 2 tapi baru pake kacamata kelas 2 sma. Aku tulis di blog aja nanti, di sini kepanjangan. Wkwk maaci ci Jane memberiku ide!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cusss tulis segera! Aku siap baca ceritamu huahaha

      Delete
  4. Jane, tosss dulu saya juga pake kacamata dari SD dan silindris saya tinggi tapi bukan gegara keturunan, melainkan pernah kecelakaan pas main sepedah. Ini juga yang bikin lasik saya tahun 2011 dulu gak berhasil wkwk ciyan...

    Btw ngomong-ngomong soal kacamata, saya gak pede kalau gak pake. Selain burem (takut salah ambil kan tempe sama oncom hahaha), saya ngerasa muka tuh sepi banget kalau gak pake kacamata, apalagi sehari-hari gak pernah pake eyeliner, jadi kayak ngantuk gitu dan gak semangat hidup wkwkwk.

    OH btw kacamata kita sama doong dari Bridges Eyewear. Tapi gak tau dia jenis apa hihi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduu, maksudnya udah sempat lasik tapi nggak berhasil atau nggak berhasil melakukan prosedurnya Mba Justin?

      HAHAHA kalau aku tuh takutnya salah ambil garam padahal maunya gula pas bikin teh manis ðŸĪĢ SETUJU sekali! Tanpa kacamata tuh muka terasa kosong ya, kayaknya hampa aja gitu. Aku pakai eyeliner juga kalau pergi-pergi aja, tapi ini udah tiga bulan lamanya aku nggak eyelineran lagi, kering deh tuh kayaknya huahaha

      Yeaaay toss! Kece yaa kacamata kita, Mba ðŸĪ­

      Delete
    2. Sudah operasi lasik tapi mata yang bekas kecelakaan gak sembuh, tapi mata satunya yang minus biasa bisa sembuh, gitu Jane. Jadi ya masih tetap pakai kacamata xixixi.

      Delete
  5. Mau seperti apapun penampilan, tetap yang paling awal sih nyaman dulu. Kadang suka aneh ngeliat fashion show yang pakaiannya aneh-aneh. Kalo saya sih lebih pede pake kaos, celana, sama sendal untuk kemana-mana. Jarang pake sepatu karena gerah. Jarang pake kemeja karena berasa sangat formal. Saya mah biasa-biasa aja yang penting nyaman.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah benar itu, yang penting nyaman dan pede aja. Tapi mungkin yang suka pakai "aneh-aneh" itu justru malah pede-pede aja sih hahaha kalau soal berpakaian saya yakin setiap orang punya gayanya masing-masing, jadi ya kembali lagi ke preferensi dan selera ya 😁

      Delete
    2. Iya juga sih, apa yang kita rasa aneh belum tentu aneh buat orang lain. Apa yang kita anggap normal, (mungkin) belum tentu dianggap normal untuk orang lain

      Delete
  6. Sore mbak Jane yg keceeh... Tos mbak.. Sy juga pengguna kacamata, kebetulan baru 10 th aja... Sy termasuk yg ga berani pake softlens, takut iritasi dan ngeri aja ngebayangin masang ama ngelepasinnya, pan kudu telaten yaak... Biarlah hidung ini tetep lelah dan ada capnya 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pagiii Mba Henny yang nggak kalah kecee ❤

      Betulll! Aku pun takut mataku iritasi karena pakai softlens, karena beberapa kali pengalaman pakai softlens itu mataku cepat kering, repot banget musti bolak balik netesin obat mata huhu Iya dehh gapapa, aku juga nggak pernah terganggu cap di hidung 😆

      Delete
  7. kuncinya mah kenyamanan ya mba, kenyamanan dan yang penting tetep bisa liat hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iya, yang penting tetap bisa melihat dengan jelas hahaha

      Delete
  8. Kalo gw, gk pake kacamata, mata gw segaris.. alhasil... aneh haha

    Dari kecil, kelas 2 SD ud kacamataan, turunan jg sama. Pas aktif main badminton n basket pas sekolah, sangat menganggu sih pake kacamata, tp bela2 in deh, krn dl softlens belom se gampang skrg kan di beli. Pas kuliah, kalo lg photographer mode on jg kacamata mentok di viewfinder kamera, kesel jg sih.. tetep gk mau pake softlens.. Waktu mau married d suru belajar pake softlens, org Optik aj yg biasa pake in softlens pas liat gw kyk “wah ini sih perlu extra sabar” oke.... dan yeah MUA gw awal2 jg butuh waktu lmyn buat pasangin.. gk merasa perlu softlens jg. The idea of ‘planting’ something inside my eyes is a no no. Tp krn mata gw emg kecil n sipit.. so yeah susah.

    Dan milih kacamata jg tricky. Beda bentuk, muka jd berubah gt.. Yg nyaman paling penting. Oh, ada beberapa orang gk ngeh jg kalo mata pny titik fokus gt dan beda2 tiap org. Posisi titik fokus gw di kanan agak bawah, kalo mau fokus jd gw hrs dongak dikit; macam org belagu gt.... haha. Jd kalo cek buat bikin lensa, hrs make sure pas gt titiknya, kalo gk pusing jdnya.. apalagi yg silinder. Kalo model, hrs sesuain bentuk muka jg ya, krn muka gw lmyn besar, kalo pake kacamata yg frame kecil agak kebanting, jd pake yg bulet gede deh kyk org2 Korea.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haiiii sesama sahabat mata bergaris ðŸĪĢðŸĪĢ

      Oh iya bener juga. Jaman kita sekolah dulu softlens itu mahal ya, nggak terlalu banyak pilihan. Wah kebayang sih kalau motret mendok di kacamata wkwkwk tapi fotografer berkacamata perasaan banyak banget deh Cai, tuh teman lo satu lagi contohnya 😂

      Frame kacamata paling cocok di bentuk muka gue kayaknya yang sekarang ini deh. Bikin muka chubby ini terlihat lebih lonjong dan tirus *penting* Kacamata lo dari dulu kayaknya emang suka yang bulet bulet gitu deh hahaha Dan gue baru tau soal titik fokus, gue nggak pernah ngeh lho titik fokus gue di mana.

      Delete
  9. Saya sebenarnya juga pakai kacamata, sejak kelas 5 SD tiba-tiba udah minus 2 aja, dan sekarang udah minus hampi 5 ada silindris juga. Sampai kuliah masih awet pakai kacamata, pas wisuda beli softlens dan ketagihan mpe sekarang. Memang kalau softlens mahal dan harus nyetok. Tapi karena saya silindris, merasa lebih nyaman pakai softlens. Selain itu ternyata softlens bisa menghambat kenaikan minus. Coba deh, hehe (mempengaruhi)

    Dan faktor tempat kerja juga sih, kebetulan saya kerja di pabrik, kadang-kadang ke lapangan. Kalau kelapangan harus pakai safety helmet, mask dan safety glasses. Lebih nyaman kalau pakai softlens.

    Btw hebat yah, kacamatanya awet hingga 6 tahun, saya kayaknya paling lama 3 tahun.

    www.chocodilla.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah iya, kalau pekerjaan lapangan gitu memang paling nyaman pakai softlens ya, Mba. Soalnya ribet juga kalau harus pakai safety glasses segala, dan demi keamanan (dan kenyamanan) saat bekerja ya.

      Nah, mamaku dulu juga ngomong begitu, coba pakai rutin pakai softlens untuk menghambat peningkatan minus. Plus, katanya lagi bisa perlahan-lahan membentuk lipatan mataku yang sipit ini ahahaha tapi emang dasar akunya aja mageran, jadi tetep setia dengan kacamata hihi

      Delete
  10. Toss mbak, aku juga pakai kacamata dari SD. Dulu seneng banget waktu tahu mataku minus. Jadi punya alasan dibeliin kacamata beneran.

    Tapi lama kelamaan aku sempet menyesal. Pingin pakai softlense, tapi takut. Pernah mau coba lasik, tapi korneanya ketipisan. Waktu kuliah sih yang beneran cobain softlense, ternyata alergi softlense.

    Halah, yasudah lah yaaa.. Pakai kacamata aja.

    Punya juga udah lama. Tapi aku mulai bosan. Hehehe..

    Pingin ganti sebetulnya, tapi takut dimainin anakku terus patah. Kan ya sayang kalau gitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yeaaay hidup kacamataan! 😂

      Jadi inget waktu anakku masih bayik, tangannya juga iseng banget suka mainin ke arah mukaku dan ngeri kacamataku ditarik-tarik. Tunggu anaknya gedean aja, Mba terus ganti kacamata baru deh biar sekalian upgrade penampilan :D

      Delete
  11. hahahah sama mbak
    aku juga pemakai setia kacamata
    dari SD sampe sakarang
    dan takut kalau pakai softlenst lebih tepatnya males ribet karena kudu dibersiinnya lama

    kalau kacamata lebih praktis
    kalau mau mandi dan wudu nyopotnya gampang

    iya aku juga punya pengalaman enggak enak pas olahraga apalagi main sepak bola
    pernah kegaprak juga dan kacamata jadi pecah

    sekarang aku sukaan model yg lebar lensanya
    soalnya bosen pakai yang tipis
    ganti tiap 2 tahun skali tapi kalau ada rezeki dan pingin bisa tiap tahun
    tergantung mood sih hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ternyata nggak sedikit juga euy yang kacamataan dari SD hahaha senang lho aku banyak temannya 🙈

      Wah boleh banget tuh bisa rutin ganti kacamata, biar nggak bosen ya. Aku juga pengen punya stok kacamata model lain, sayangnya karena aku selalu berat ongkos di lensa, jadi gapapa deh gantinya per 5 tahun aja, mudah-mudahan awet :D

      Delete
  12. Hola Mb Jane. Salken ya...
    Aku tuh pernah lagi seneng2nya beliin softlens. Sampe punya 6 pasang loh sanking keranjingan beli. Hahaha padahal gak butuh cuma lucu aja sama warna-warninya sih. Pernah dipake ke kondangan dua dari tujuh itu. Ya bener aja makenya aja lama bener. Sering jatoh gitu dari jari pas mau dimasukin. Aku pun yang anti ribet sifatnya melupakan lima pasang softlens lainnya. Hingga pas ada acara kantor mau kupake, eh rupanya udah kering kerontang. Segitu gak pedulinya sampe rusak deh. Sejak itu gak pengen lagi beli2 softlens.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halooo Occi, salam kenal juga ya. Aku tuh sebenarnya udah main ke blog kamu cuma kayaknya penulis di sana lebih dari satu ya? :D

      Hahahaha sama banget kayak beberapa teman aku di jaman kuliah, banyak yang nggak minus tapi hobi gonta-ganti softlens biar katanya kece. IYA KAN. Suka sebel kalo pake softlens tuh kayaknya licin banget softlensnya (entah licin apa jariku kegedean LOL). Wah, berarti nggak bisa nyetok terlalu banyak ya, sayang juga kalau banyak yang rusak.

      Delete
  13. Mbak Jane cocok dengan kacamatanya.
    Saya sendiri juga pakai kacamata sekarang ini, karena faktor umur saja sih.
    Saat kecil sampai lulus kuliah, mata saya masih cukup fit untuk bekerja telanjang.
    Tapi sekarang terpaksa pakai kacamata, terutama untuk membaca.

    Sehat selalu ya, Mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih mas :D

      Duh kalau udah membaca ribet ya nggak kacamataan 😅 Kayaknya salah satu alasan kenapa saya pakai kacamata sejak kecil karena suka baca terlalu dekat juga deh. Terus sukanya baca buku cerita yang tulisannya kecil-kecil. Bener-bener "buta" deh kalau baca tanpa kacamata hahaha

      Delete

  14. Mba jane, keliatan gorjes bin stunning banget loh pake kaca mata, uda kayak artis koreyaaa ihihihi

    Btw itu lucu banget temen waktu kecil yang sempat ngrusakin kacamatanya, nyogoknya cuma pake nasgor yak, mba jane mau-mau aja lagi hahahhaha, polos amat dikau jaman kecilnya mba, nasgor kan murah ya ketimbang suruh ganti frame, wkwk...

    Walaupun aku ga pake kaca mata dan ga pernah njajal pake softlens tapi sama iiihh, akupun suka ngeri-ngeri syedap liat orang masang softlens...takut keculek
    Soalnya klo something yang dipasang di area mata tuh aku suka parnoan anaknya.

    Etapi bener banget loh, ngurus lala lili perintilan nikah emang menyita segalanya (#pengalaman), jadi biar kata kudu pake softlens bentaran pas prewed pun sampe ga kerasa ya wkwkwk...

    Tapi teteup ya, alis musti 'on' juga buat menunjang tingkat ke-Percaya dirian' setelah pake kaca mata. Lain sama ku, alisku kan uda tebal dari sononya, macam ulat bulu gitu deh, bahkan ku suka diledekin punya alis kayak sinchan, jadi aku ga pernah ngalis, hahhaha...tapi yang bikin ku percaya diri yaitu kalau pas lagi jalan pakenya krudung yang segi empat, bukan krudung instan yang ga bisa menyamarkan pipiku yang tembem ini hiyahiyahiya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maacih Mba Nita pujiannyaaa hihi Duh, saya mah cukup jadi artis di rumah ajalah 😆

      Gambar alis adalah koentji! Sebenarnya alisku dulu juga tebal bak ulat bulu, Mba. Nggak pernah aku gubris sampai akhirnya mau nikah, mulai sibuk photoshoot tuh (halah), MUA nya nge-trim alisku dan jadinya keceh banget. Dari situ aku baru tau kalau alis bisa dirapihkan ahahaha tapi karena namanya pemula, waktu itu aku rapihinnya ketipisan, panik lah. Makanya jadi temanan baik dengan pensil alis sampai hari ini 😆

      HAHAHA soal nasgor pun aku nggak habis pikir. Kok aku ya mau-mau aja yaa. Tapi kapan lagi bisa ditraktir, mana jaman itu memang nasgor itu favorit satu angkatan gitu lho, Mba. Seenak itu memang. Jadi ya aku senang-senang aja meski kacamata pecah ðŸĪĢ

      Delete
  15. Mbak janeeeee, aku juga sama-sama pakai kacamata nih. Tos dulu, mbak. 🖐️ Hehehe.

    Aku juga sudah nyaman banget pakai kacamata. Dulu waktu mau nikahan mau pakai softlens. Tapi sudah berhari-hari belajar pakai softlens, tetep aja gak bisa masukin softlens ke mata. Akhirnya harus rela resepsi tanpa kacamata tanpa softlens. Jadi pas acara nikahan mataku burem, gak jelas siapa aja temen-temen yang datang sampai mereka ajak aku ngomong baru tau deh, mereka siapa.😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seriuss?? Mba pas resepsi tanpa memakai softlens? Aduhh maap, aku jadi mau ketawa ngebayangin Mba Roem harus menyipitkan mata pasti untuk melihat siapa yang lagi ngomong sama Mba ðŸĪĢ tapi minus Mba berapa saat itu?

      Delete
  16. Saya juga.. pake kacamata.. tapi, meskipun udah silinder 4 saya masih bandel suka lepas kacamata.. hehee..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waah apa nggak burem tuh Mba kalau lepas kacamata? Aku kalau tanpa kacamata malah jadinya pusing banget, karena hampir nggak bisa lihat apa-apa walau itu dekat di depan mata 😂

      Delete

Terima kasih sudah mampir dan membaca tulisanku di sini (:

Jangan ragu untuk berkomentar supaya kita bisa saling kenal dan ngobrol bareng, ya. Mohon maaf untuk komentar dengan link hidup dan iklan otomatis akan aku hapus demi kenyamanan bersama.

Jangan lupa checklist 'Notify Me' sebelum publish komentar supaya mendapat notifikasi balasan dari aku yang akan dikirim ke email kalian.

Have a great day!