Buying Books: New or Preloved?

Tuesday, November 16, 2021


Teman-teman nanya dong. Kalian yang suka baca buku (fisik), biasanya suka beli buku di mana? 

Sekarang ini beli buku hampir bisa di mana aja nggak, sih. You can purchase it online or offline. Apalagi sejak pandemi gini, hampir semua toko buku mengalihkan transaksi mereka secara daring. Plus, benefit belanja online juga banyak banget. Hayooo, ngaku. Siapa yang kalap 11.11 kemarin? 😜

Toko buku import seperti Per*plus setahuku banyak banget yang akhirnya jualan di sosial media, dengan cara foto koleksi buku mereka satu per satu, kemudian di-upload ke Instagram. Waktu di Bali kemarin, aku sempat membeli beberapa buku dari Per*plus cabang Bali Collection Nusa Dua. Karena dampak PPKM, hampir nggak ada pengunjung yang datang ke sana. Akhirnya, para staff beralih menjadi mimin online shop jualan buku, deh. 

Beberapa bulan yang lalu, saat iseng scrolling Instagram, @bbbbookclub repost sebuah review buku yang berasal dari sebuah akun yang nggak aku follow, namanya @books.bybee, yang ternyata adalah sebuah akun yang khusus menjual preloved & new books. Kepo dong, yaaaa. Soalnya kok koleksi bukunya cakep-cakep, nih. Ehhh, malah ketemu sebuah judul buku yang memang lagi aku incar banget tapi nggak pernah nemu. Langsung nge-DM owner-nyayang amat sangat ramahuntuk pembayaran. 

Kirain udah, kan, sampai di situ aja. Ternyata akun ini menarik perhatian banget. Sampai akhirnya beberapa waktu lalu, aku mendedikasikan waktuku untuk nge-stalk akun ini, dengan cara melihat satu per satu HL dari yang paling kanan sampai yang kiri. 

Eits, bacanya biasa aja dong. Kayak nggak pernah stalking aja, wkwkwk. 

Selain menemukan fakta betapa baik, informatif, humble sosok di balik akun @books.bybee ini (kita panggil saja dengan Bee), ada satu topik di HL yang berhasil menarik perhatianku. Jadi, kan, Bee rutin bikin QnA gitu ke followers-nya. Boleh nanya apa pun seputar buku, jualan, bebasss. Terus ada yang nanya kurang lebih seperti ini: 

"Sebetulnya beli buku preloved/second itu benefitnya apa, sih? Kalau dari sisi author bukannya jadi "rugi" secara materi?"

Hmmmm... menarik bukannnnnnn. Apalagi setelah membaca pendapat Bee sendiri tentang hal tersebut. Aku mengangguk-anggukkan kepala karena sebagian besar buah pikiran kami tuh persis. 

Karena aku anaknya suka latah, jadinya pengen ikut bahas juga di sini supaya sekalian ajak teman-teman diskusi di sini. 

πŸ“š Kenapa beli/jual buku preloved? 


Aku bahas dari sisi pembeli dulu, yaaa. 

So, yes. I do buy my books sometimes from preloved collection. Alasannya ada beberapa. 

Pertama, sulit untuk menemukan judul buku tertentu. Biasanya nih karena judul tersebut udah terbitan lama sehingga nggak naik cetak lagi. Bisa juga karena buku yang aku cari nggak dijual di Indonesia, sehingga begitu ada yang jual preloved-nya, akan jadi pertimbangan buatku yang memang lagi butuh. 

Kedua, dari segi harga tentu akan lebih murah. Namanya aja secondhand, kan. Alasan harga lebih murah ini juga lah yang menurutku sangat menjawab kebutuhan orang-orang di luar sana yang memiliki keterbatasan finansial untuk membeli buku. Apalagi kalau memang pengen banget baca, tapi uangnya nggak ada. Buku preloved itu kayak harta karun banget, deh. 

Ketiga, jujur aja kadang akutu kepingin baca sebuah buku populer (diomongin terus bahkan sampai kesannya overrated) tapi nggak yakin bakal suka. Contohnya, salah satu bukunya Haruki Murakami "Norwegian Wood" yang aku beli secara secondhand, kemudian aku jual lagi karena nggak bisa menyelesaikannya πŸ˜‚

Terakhir, ini alasan sentimental aja, sih. Buku secondhand tuh kadang memberikan kesan seperti apa pemiliknya dulu. Apalagi kalau dapat buku bekas yang ada coretan atau tulisan tangannya. 

Terus, kenapa jual buku bekas koleksi pribadi? 

Alasannya cuma satu, biar nggak numpuk di rumah. Apalagi kalau bukunya nggak pernah aku re-read dalam setahun. Ada beberapa buku yang memang suka aku baca ulang dan sisanya tuh benar-benar nggak disentuh lagi sejak terakhir dibaca. Daripada numpuk dan akhirnya rusak, kenapa nggak lebih baik dijual aja. Siapa tahu ada yang lebih butuh dan suka dengan bukunya, kan? 

Plus lainnya, ya dapet uang jajan tipis-tipis, lah 😜

Nah, sekarang pertanyaan penting selanjutnya... 

πŸ“š Jual beli buku bekas itu merugikan author nggak, sih? 


Soal rugi apa nggak, jujur nggak bisa jawab karena aku memang nggak berhak untuk menjawabnya. Tapiiii. Satu hal yang pasti, penulis itu mendapat royalti dari penjualan buku baru yang dibeli full price dari toko. Ini no debat. Maka demikian, pembelian buku bekas nggak akan memberikan keuntungan materi apa pun bagi para penulis. 

Menurut artikel yang aku baca, beberapa penulis di luar sana justu santuy banget dengan orang-orang yang membeli buku mereka meski itu secondhand. Malah penulisnya hepi, karena ada yang bisa menemukan buku mereka, apalagi jika buku tersebut seperti yang kubilang di atas, udah nggak terbit lagi. And somehow, pembelian buku secondhand itu bisa menjadi awal mula bagi pembaca kepada karya penulis yang lainnya. Misalnya nih, aku nggak pernah baca bukunya Sophie Kinsella. Saat aku beli buku bekasnya, eh ternyata suka. Terus, jadi kepingin kenalan dengan buku-buku lainnya bahkan bisa aja aku membeli buku barunya di toko buku. 

Author ternama Neil Gaiman pun bilang begini: "Don’t apologize to this author for buying books second hand, or getting them from bookcrossing or borrowing a friend’s copy. What’s important to me is that people read the books and enjoy them, and that, at some point in there, the book was bought by someone. And that people who like things, tell other people. The most important thing is that people read."

Tanpa mendiskreditkan teman-teman penulis, menurutku selama kita nggak membeli buku bajakan/fotokopian/KW (PLEASE NEVER BUY PIRATED BOOKS 😭), harusnya gapapa. Kembali lagi pada referensi dan pilihan masing-masing. 

Dan ini sedikit saran aja, sih, dari aku pribadi. Kalau memang suka dan niat untuk baca buku tertentu, cobalah untuk mulai menyisihkan uang untuk membeli buku baru sang penulis. Anggap aja sebagai dukungan dan tanda kita menghargai karya mereka. Of course, ini berlaku jika baca buku itu adalah prioritas kalian, ya. Kalau nggak, ya nggak usah repot-repot nabung, hahahaha.

***
Menurut teman-teman sendiri gimana? Boleh banget lho berbagi opini di bawah. Nggak usah takut salah atau benar, ya πŸ˜‰


Photo by Thought Catalog from Pexels

31 comments:

  1. Kalo beli buku emang udah sering online banget sih Mba sekarang, kayak Gramedia, Penerbit Haru sampe Togamas aja kan udah bisa dibeli via online jadi enak juga buat nyarinya. Dan biasanya kalo buku-buku terbitan luar banyak tuh yang jual tapi emang kudu hati2 sih kalo ini ntar terjebak repro hahaha

    Kalo aku sih biasanya beli buku preloved itu karena udah susah banget cari di pasaran atau biasanya buku yang aku suka banget (terbit udah agak lama) tapi pengen di koleksi biasanya malah nyari yang preloved aja biar ngejer cover lama hahaha. Aku juga bukan tipe orang yang ribet sih gak boleh ada kuningnya, harus bersih dari coretan dll bukunya, asalkan halaman lengkap dan gak ada yang robek aja aku udah bisa terima bukunya.

    Masalah royalti ke penulis emang sulit sih karena kita sebagai pembeli juga sulit ya karena kan pasti ada banyak keperluan lain selain buku dan bener kata Mba Jane kalo pengen banget sih emang lebih baik nabung dulu. Dan aku suka banget sama prinsip Neil Gaiman, yang penting orang tau dulu karyanya supaya bisa tertarik untuk baca karyanya yang selanjutnya. Itu kayaknya mindset yang penting juga buat penulis ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama aku pun, Mba Tikaaa. Apalagi pembelian online itu banyak benefitnya kan (baca: promo XD). Yah free ongkir, yah diskon tambahan menggunakan pembayaran tertentu. Nah, khusus buku luar aku bener-bener cari seller yang benar-benar trusted. Entah itu website khusus atau seller di IG yang kayak aku share di atas. Soalnya nggak sedikit aku nemu buku import dijual di EC dengan harga yang nggak masuk akal, taunya copy-an 😭

      Buku preloved itu somehow ada nilai sentimentalnya ya, Mba. Apalagi kalau bukunya ada coretan bekas si empunya dulu, hahaha. Aku juga nggak masalah banget halamannya kuning, yang penting nggak terlalu jelek aja sampai yang halamannya lepas-lepas. After all, kita pengen baca isi bukunya aja, kan? :D

      Pemikirannya Neil Gaiman memang agak idealis, yaa. Apalagi untuk beberapa penulis yang memang "nafkah"nya dari royalti bukunya sendiri. Tapi sebagai pembaca kita memang harus bisa mendukung karya penulis, salah satu yang paling "mudah" beli buku mereka 😊

      Delete
  2. Kalau aku Yess. Buku fisik masih belum bisa tergantikan.. biasa beli Online. Ya tahu lah disini Toko Buku hitungannya jari🀣, sekalinya ada yg gede paling isinya yg banyak cuma Perintilan kaya pulpen, pencil, tas, dan lain2..

    Bersyukur skrang udah ada Gramedia.. tapi tetep beli Online masih lebih suka 🀭 karena jangkauannya bisa lebih puas tanpa repot2 harus jalan muter2 keliling2.. wkkwk *digeplakk 🀣🀣🀣

    Soal Buku Secondhand.. selama ini aku belum pernah beli Buku Secondhand sih. Kalau dikasih buku secondhand pernah and I lovee it πŸ₯° kalau beli kayanya nggk masalah juga.. aku malah nggk mikir smpe sejauh itu πŸ˜… tapi nggak masalah ahh.. hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sejak pandemi, kayaknya aku cuma sekali beli buku di toko buku, Mas Bayu. Setelah itu semuanya via digital atau beli online, hauhahaha. Meski mulai sering baca digital, tapi memang nggak dipungkiri cover buku fisik itu kadang-kadang minta dikoleksi πŸ˜†

      Ehemmm... contohnya novel Priceless Moment, ya? 🀣 Aku juga nggak masalah banget dikasih/membeli buku bekas. Selama masih bisa aku baca, that most matters 😊

      Delete
  3. Kalau sekarang aku lebih pilih baca buku online, shout out to Gramedia Online hahaha. Alasannya karena rumah sekarang kecil, dan aku tu tipikal yang susah buat say goodbye sama buku karena tiap buku punya cerita masing - masing. Contohnya kayak buku Lupus the series yang gamau kusingkirkan sampai sekarang :")


    Pengalaman paaaling berkesan ku dalam beli buku secondhand adalah, aku suka banget sama Indiana Chronicle karya Clara Ng. Baca buku pertamanya, itu pun awalnya pinjem temen (yang berujung maksa buat kubeli lol). Amazed banget karena bagus! Novel pertama yang temanya wanita dewasa, dengan sedikit sisi kehidupan 'percintaan' urban tapi nggak erotis. Kepikiran untuk baca buku kedua dan ketiga, tapiii ternyata sudah ga dijual di toko buku manapun di tahun itu. Kubela - belain bolak - balik ke tempat macam Kwitang, Senen, dan akhirnya malah menemukan di Blok M Square lantai bawah. Senengnya lagi, dapet macem - macem buku Sitta Karina yang sudah nggak terbit macam pesan dari bintang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iya, perkara nggak cukup tempat untuk simpan koleksi buku yang akhirnya membuat orang beralih ke digital ya :D

      Indiana Chronicle ini ternyata genre Metropop, ya. Awalnya kukira novel anak-anak/remaja lantaran Clara Ng juga nulis buku anak-anak, hahaha. Karyanya Clara Ng yang aku baca cuma dua nih, Dimsum Terakhir (moi favorite!) sama Tiga Venus dan dua-duanya cucok di aku. Dan seruuu banget baca pengalaman Mba Ayu hunting buku bekas sampai ke sana ke mari, hahahaha. Aduh, Pesan Dari Bintang juga favoritku setelah Lukisan Hujan! Niki-Inez foreveeer πŸ˜† Btw, Pesan dari Bintang sudah diterbitkan ulang dengan cover baru lho, Mbaa. Siapa tau mau koleksi 😝

      Delete
  4. Wah iya juga, baru kepikiran setelah baca tulisan ini tentang apakah beli buku preloved merugikan penulis. Untung saja ada beberapa penulis yang tetep senang walaupun pembacanya beli buku preloved. Sejauh ini aku belinya buku-buku baru dari toko, pernah hunting buku secondhand dan selalu nggak dapet karena kalah cepet sama yang lain. xD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hauahahaha beli preloved tuh kadang-kadang harus rela ikutan nge-war juga, ya, Ndah. Abisnya stoknya cuma satu, siapa cepat dia dapat, deh XD

      Delete
  5. Suka dongggg, meski sekarang lebih sering baca versi e-book, tapi tetap suka buku fisik karena ada beberapa buku yang memang asik dibaca versi fisiknya, mba Jane πŸ˜‚

    By the way, saya ada pernah beli buku preloved penulis luar, karena susah cari buku barunya, apalagi bahasa Inggris, hehehe. Sebetulnya, untuk penulis luar, mereka pasti sangat senang jika kita apresiasi karyanya meski beli versi preloved, tapi untuk penulis Indonesia, kadang masih maju mundur mau beli preloved itu karena di Indonesia hitungan royalti penulis sangat kecil katanya. Hiks 🀧

    So, til now, saya masih berusaha beli versi baru untuk penulis Indonesia, selain karena harganya masih jauh lebih murah, juga sebagai dukungan agar mereka terus berkarya. Especially jika karyanya memang saya suka 😍 Atau jika nggak bisa beli baru, minimal baca versi digitalnya karena dengan baca, mereka akan dapat royalti dari Gramedia πŸ˜†

    Eniho, thanks for sharing mba Jane, jadi dapat insight baru about buku preloved πŸ₯³πŸŽ‰

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali, Mba Eno. Apalagi kalau cover-nya cantik tuh bisa sekalian memperindah ruangan kita nggak, sih? XD

      Nah, aku setuju nih dengan Mba. Aku pun lebih sering hunting preloved buku luar, alasannya kurang lebih seperti yang Mba Eno bilang. Susah dapetnya dan yang paling sering itu karena terbitan lama yang udah nggak cetak ulang ):

      Aku sendiri pun nggak pernah preloved buku Indonesia, deh. Dikasih preloved dari teman pernah. Selebihnya aku selalu beli sendiri karena betul yang Mba Eno bilang, royalti penulis Indonesia itu masih minim sekali, huhuhu. Bahkan kata temanku yang pernah menerbitkan buku di penerbit mayor dan kebetulan ada versi digitalnya, sampai hari ini royalti dari digital belum cair πŸ™ˆ

      Setidaknya dengan membeli buku baru mereka, kita bisa mendukung mereka untuk terus berkarya, ya. Pengen juga bisa terus baca buku penulis favorit kita ✨

      Sama-sama, Mba Eno. Thanks for sharing your thoughts too! πŸ₯°

      Delete
  6. Sebagai tim yang suka buku fisik, aku memang lebih rutin beli buku baru. Akhir-akhir ini lebih suka beli secara online, karena sudah jarang ke toko buku apalagi yang ada di mall. Aku sama sekali belum pernah beli buku preloved. Pinjem buku aja yang pernah, biasanya dari teman atau saudara. Sebagai penyuka buku fisik, aku kurang nyaman untuk memiliki buku preloved dari orang lain. Karena seperti yang Ci Jane bilang, bisa menemukan "jejak" pemilik lama. Nah itu buat aku malah ga nyaman. Aku suka buka plastik buku dan buka halaman pernah, sambil tercium wangi kertas. Jadi kalau preloved orang lain yang bisa ada lekukan di kertas, coretan, atau bahkan bercak seperti air, duuhh kurang sukaa 😒

    Kebetulan sampai sekarang belum pernah mengalamai ingin baca buku tapi ga ketemu bukunyaa. Setuju sama kata Cici, lebih baik berkontribusi ke penulis dengan beli buku aslinya. Namun pendapat cici yang menjual buku pribadi pun aku setuju. Karena aku mulai ga punya tempat untuk naruh buku-buku, sedangkan ada beberapa buku yang uda hampir setahun ga selesai-selesai di baca. Bahkan ada yang masih di plastikin dan merasa kaya kurang mood untuk membacanya. Mungkin aku akan mempertimbangkan untuk menjualnya. Sampai sekarang masih ngerasa sayang untuk di jual πŸ™ˆ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berarti bener yaa tergantung preferensi orang soal buku peloved. Ada yang gapapa banget kayak Mba Tika dan Mas Bayu, ada juga yang kayak Devina, dan semua balik pada kenyamanan masing-masing 😊

      Nah, salah satu alasanku jual buku preloved itu juga karena keterbatasan tempat, Dev. Terus ngikutin petuahnya Marie Kondo, kalau nggak sparks joy, relakan saja πŸ˜‚

      Delete
  7. Aku selamat dari 11.11 kemarin, Ci 🀣 Untung nggak borong apa-apa karena diskonnya belum terlalu gila-gilaan 🀣 Aku menanti 12.12 aja, kayaknya lebih gila nih diskonnyaa #ngarep

    Btw, aku setuju sama poin-poin yang Cici tuliskan dalam hal preloved dari sisi pembeli dan penjual. Kadang bisa dapat buku incaran kita dengan harga murah banget gitu, bikin hepi banget nggak sih, Ci? 🀣. Aku sendiri juga nggak masalah untuk membaca buku yang sudah menguning atau tercorat-coret, jadi nggak masalah juga untuk beli preloved.

    Dan iyes, buku yang aku nggak akan re-read lagi juga biasanya akan aku jual, sebab sayang banget kalau dia hanya ngendog di rumahku aja dan menunggu dimakan zaman πŸ˜‚ better dicarikan tuan baru sehingga dia bisa bermanfaat juga bagi tuan barunya hahahaha.

    Perihal buku preloved apakah merugikan author, ini aku juga masih abu-abuu, tapi menurutku kalau buku barunya masih baru banget terbit di pasaran, lebih baik beli yang baru. Ada banyak kejadian terhadap buku-buku yang baru banget terbit sekitar hitungan minggu gitu umurnya, tapi udah ada aja yang nyari prelovednya 😭. Kan kasihan penulis dan penerbitnya kalau banyak kejadian seperti iniiii. Hiks.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tossss! Nah, gawat itu. Karena biasanya aku juga "nyetok" bacaan baru untuk tahun depan di akhir tahun. Bulan Desember itu kan banyak momen diskonnya, yak. Ya holiday season, ya 12.12, ya cuci gudang, yasalam deh kita Liii siap-siap aja 🀣🀣🀣

      Lia sama yaa kayak Mba Tika, Bayu, nggak mempermasalahkan kondisi buku preloved, aku pun demikian. Asal halaman nggak robek-robek, aku cusss 😁

      Tapi aku pernah dengar juga buku yang baru rilis itu harganya mahal, jadi tipsnya menunggu euforianya reda, baru deh belanja. Apalagi sekarang banyak yang jual buku baru pakai merchandise gitu, kan, yaa. Kalau kebetulan aku ingin bukunya, nunggu dia rilis bukunya aja baru beli, wkwkwk

      Tapi yaaa nggak langsung cari preloved-nya juga dong yak 😭

      Delete
    2. Ciii, siap-siap banget deh buat 12.12 nanti 🀣 duh, semoga dompetku masih bisa agak selamat nanti wkwkwk. Selain nyetok buku bacaan, nyetok skincare/makeup pas 12.12 tuh bisa banget 🀣

      Oh yaaa? Aku baru dengar kalau buku baru rilis malah lebih mahal wkwkwk. Tapi masuk akal juga sih Ciii~ better memang nunggu udah agak reda, jadi bisa dapat diskon-diskon juga gitu. Terus terus kalau buku ada bonusnya gitu, malah bikin aku ngiler buat beli lho Ci 🀣

      Delete
    3. Nyahahahaha yang harus distok ulang banyak yeee πŸ˜† aku kayaknya mau fokus buku aja, kecuali kalau diapernya Krystal ada promo, yawis sekalian HAHAHA *sebuah prioritas emak-emak milenial*

      Hooh, Liii. Soalnya waktu mau beli buku Shine-nya Jessica, pas awal 100rb lebih kalau nggak salah, aku nggak langsung beli tuh. Nunggu sebulan, eh diskon jadi di bawah 100k, lumayan banget 🀣 Apalagi kalau bonus bukunya stiker atau bookmark atau tote bag gemesh ya, Lii 😜

      Delete
  8. Semenjak pandemi ini beli buku lebih banyak online, karena lebih aman dan praktis.

    Kalau pilihan buku baru atau buku bekas, saya pribadi kalau bisa nemuin buku bekas original lebih suka beli buku bekas (hemat biaya).

    Tapi kalaupun beli buku baru juga ga masalah selama ori.

    Tapi beli buku baru ataupun bekas, itu semua terpulang lagi pada preferensi masing-masing orang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul banget, mau buku baru atau bekas (asal original) kembali pada preferensi dan kenyamanan masing-masing, ya. Kalau kata Bung Neil Gaiman di atas, yang penting baca buku :D

      Btw, saya juga lebih sering beli online sekarang, karena ya itu, promo diskonnya lebih banyak, hahahaha XD

      Delete
  9. Baru aja beli buku pas salah satu penerbit ngadain diskon bundel buku menarik. Itu juga buku-buku yang rame diomongin dan kepengen tau isinya. Ga tau nih gimana nanti kalo ga kelar bacanya :D

    Beli buku secondhand ga masalah sih, apalagi kalau masih terawat. Ada coretan dikit-dikit ga papalah. Spill dong mba tempat beli buku secondhand lainnya selain si Bee ini.

    Tengkyu sebelumnya ya mba dan salam kenal :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haiii Mba Indah (bener nggak panggilannya? :D). Salam kenal juga dan makasih ya udah mampir ke sini (:

      Wah, iyaa. Sekarang banyak penerbit yang diskon bundel buku gitu jatuhnya lebih murah juga (meski buat bookworm kayak kita jadinya boros yak, padahal pengennya cuma satu judul doang kadang-kadang 🀣). Nah itu dia, untuk buku yang nggak yakin bakal disuka, aku nunggu digitalnya aja atau pinjam. Kalau nggak tersedia dua-duanya, baca spoiler deh 🀣

      Sejauh ini aku baru pernah belanja di si Bee sama @fatchickenbooks, itu juga sama sistem preloved dan kita pun bisa titip jual di akun mereka :D

      Delete
  10. Aku selamat doong dari 11.11 kemariin wkwkwk sama kayak Lia, kayaknya mau nunggun 12.12 aja semoga diskonnya lebih dahsyat πŸ˜‚πŸ˜‚

    Btw soal buku preloved ini aku inget pernah dibahas di komik Miiko. Agak lupa-lupa inget detailnya tapi dibahas sama mamanya Miiko yang kerja di penerbitan kalau penulis itu enggak dapet apa-apa dari buku preloved, jadi kalau kita memang mau mendukung penulisnya sebaiknya beli buku baru.

    Dan nyambung ke tulisan kamu, yaa bener kalau memang kita mau dukung penulisnya mending nabung beli yang baru, kalau enggak pengin-pengin amat baca karyanya ya ga usah nabung πŸ˜‚ Nabungnya buat yang memang kita pengin aja kan yaa πŸ˜†

    Btw aku juga suka kalau misalnya beli/dikasih buku preloved terus ada catatan-catatan dari pemilik sebelumnya, berasa kayak bisa ikut paham gimana kenangan si pemilik lama sama bukunya ga siih πŸ˜†

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwk Kak Eyaaa, kayaknya kita nggak selamat nih 12.12 nanti 🀣

      Delete
    2. @Eya: Mari kita menabung dan berdoa supaya tidak kalap, ya 🀣

      Eyaaa, aku inget banget cerita Miiko yang itu! Waktu si Miiko nemu bundel komik incerannya di toko buku bekas kan, yaa. Terus ketemu pengarangnya sendiri dan mereka jajan bareng di taman gitu, hahaha. Nah, mamanya Miiko ini kan editor ya jadi valid banget nasihatnya. Selama bisa menabung untuk beli buku baru yang memang diinginkan, aku pun usahain banget untuk beli sebagai dukungan bagi penulisnya 😊

      Hahahaha kayaknya kita memang suka yang sentimentil begini yaaa. Aku malah nggak keberatan dengan buku preloved yang ada coretan dari pemilik lamanya :D

      @Lia: Kencangkan ikat pinggang... eh salah, dompet dan rekening! wkwkwkwk

      Delete
  11. Aku so far 50-50 sih Jane. Beli buku baru di Gramedia masih, tapi aku juga buanyaaaaak beli buku bekas dari langgananku @ivanabooks. Sampe skr blm bisa berpaling dari dia, Krn koleksi buku bekasnya banyaak bangettttt.

    Naaah kalo masalah royalti, sebenernya untuk bbrp penulis favorit, aku usahaiiiiiiin banget utk beli di toko buku langsung, demi si penulis bisa dapet royaltinya. kayak kemarin tuh, pas tau s mara gd menerbitkan 3 buku sekaligus sebagai buku trakhir dia, aku bela2in datang ke Gramedia . Tapi sayangnya abis di seluruh Jabodetabek. Nah mau ga mau aku hrs beli dari orang ketiga, tapi bukunya dijamin asli. Ga mungkin nunggu bukunya restock lagi, kapan bacanya πŸ˜….

    Yg pasti, aku Haramin bangetttt beli buku bajakan. Amit2 dah. Mending beli bekas yg udah kondisi jelek, drpd buku bajakan ..

    Eh kalo buku2ku sendiri Yaa, banyaak loh yg kondisinya penuh lipatan, coretan dan malah ada yg kecemolung air 🀣. Tapi bukan berarti ga sayang Jane. Justru kalo buatku, buku yg udah jelek banget, berarti si pemilik suka banget sampe dibaca berulang2 πŸ˜„. Kalo di perpustakaan pribadiku, kamu nemuin buku yg masih bagus dan halus kayak baru, berarti itu buku cuma sekali aku baca hahahaha. Artinya, bukunya ga terlalu bagus 😁.

    Pernah si penjual buku bekas langgananku, sampe nanya pas aku sedang nyari serial STOP yg susah bangt ditemuin. Dia ada Nemu tuh, tapi kondisi jelek. Sampe mastiin dulu ke aku, masih mau ATO ga. Aku langsung jawab, selama halamannya lengkap, mau sejelek apapun kondisi bukunya, aku bakal beli . Tapi kalo halaman ga lengkap, aku emoh 😁.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah iya, waktu pertama kali Mba Fanny mention @ivanabooks aku belum nemu judul incaran. Barusan cek lagi terus kaget mereka punya Komik Monika! Astagaaa langsung flashback ke masa SD-SMP aku suka banget baca komik itu wkwkwk terus ada beberapa judul novel lamanya Nicholas Spark sama Jodi Picult. Hmm... mulai tergoda 🀣

      Nahh, kayak @ivanabooks gini sih preloved-nya oke banget, karena memang judul-judul yang dia jual udah nggak ada di toko buku ya, Mba. Buat seorang kolektor buku sih kayak nemu harta karun di seller preloved kayak gini.

      Dan soal kondisi buku itu BENER BANGET! 🀣 Novel-novelnya Ika Natassa punyaku tuh rata-rata udah kuning dan keriting, salah satunya pernah kecebur ke ember berisi air pulak, wkwkwk. Karena memang sering banget aku baca ulang di waktu luang. Dan pas aku jual preloved, semuanya laku dan nggak mempermasalahkan kondisi buku tersebut, hauhahaha.

      Nah, iya, kannn. Gimana bacanya kalau halaman buku nggak lengkap, hahahaha. Aku juga gapapa, sih, keadaan buku sekucel apa pun selama tulisannya masih kebaca, hajar blehhh 😁

      Delete
  12. aku beli buku second seneng-seneng aja, malah kondisinya masih bagus
    temen blogger yang koleksi buku banyak ada yang ngejualin, nahh karena aku belum sempet ceki ceki buku apa aja yang dijual jadi belum aku beli
    terus buka e-commerce juga udah banyak yang jualan, malah nih sempet kepikiran mau beli majalah Donal bebek lawas atau Bobo, dulu aku seneng banget baca kumpulan donal bebek, miki mouse, sekarang susah nyari buku itu, koleksi bukuku dari SD entah ada dimana, dijual mungkin sama ibuku hahahaha

    jadi ada kesenengan tersendiri kalau bisa dapetin buku lama yang lagi dipengeni
    kalau soal merugikan authornya, ehhmm nggak juga ya, duh bingung jawabnya, di satu sisi kita mau bantu temen yang jual buku second dengan harga yang murah, beli buku second bukan berarti nggak "menghargai" penulis aslinya.
    kalau ada duit lebih nggak ada salahnya juga borong buku, aku kadang gitu hahaha
    perkara dibacanya kapan, yang jelas beli dulu aja wkwkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Koleksi majalah Bobo aku dulu udah diloakin kayaknya sama mama, wkwkwk. Sekarang majalah Bobo itu masih ada nggak, sih, fisiknya? Soalnya setahuku bisa dibaca di Gramedia Digital, tapi kan sensasinya beda banget, hihi. Kalau dijual di e-commerce katanya malah mahal banget ya, Mba? Alasannya karena udah nggak ada yang jual lagi, macam barang antik jadinya, makin tua makin mahal πŸ˜‚

      Intinya, kalau masih bisa beli buku baru lebih baik demikian. Jangan pelit juga kali, ya, kalau bisa. Mampu beli buku baru tapi maunya cari secondan terus 😝

      Delete
  13. Salam kenal Kak Jane, aku Qonita, nyasar ke sini sebagai hasil random blog walking dan ingin ikut beropini juga soal buku preloved/second πŸ˜„

    Aku pribadi tidak mempermasalahkan buku fisik/nonfisik, baru atau bekas. Asal jangan bajakan aja, ya kan. Di Indonesia pun kelihatannya jual-beli buku second ngga dipermasalahkan oleh para penulis, sepengetahuanku ya.
    Ada yang menarik soal buku second di Jepang. Aku pernah baca di komik 'Hai! Miiko', ada satu cerita di mana Miiko dan temannya membeli komik dari toko buku second. Ketika ketahuan sama Mamanya Miiko (yang notabene editor komik), mereka langsung dinasihati.

    Jadi ternyata jual-beli buku second adalah sesuatu yang cukup tabu di sana. Salah satu alasannya ya itu, penulis/pengarang tidak akan mendapat profit secara langsung, dan kita sebagai konsumen terkesan tidak menghargai jerih-payah mereka. Aku ngga tahu apakah ini budaya yang masih berlaku di sana, tapi ini jadi insight yang cukup menarik. Apalagi ini cukup bertentangan dengan kutipan Neil Gaiman yang ditulis di atas.

    Jadi yaa bisa jadiii ada golongan penulis yang berpandangan seperti Mama Miiko, dan ada juga yang cuek seperti Neil Gaiman. Yang jelas kita semuanya sepakat kalau buku bajakan is a no-no 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Qonita! Salam kenal juga, ya! Nama kamu cantik banget, btw :D

      Cerita Miiko itu sama seperti yang di-mention oleh Eya di atas, ya. Kebetulan aku juga baca cerita itu tapi lupaaa, di mana Miiko kepengen beli komik bundle second dengan harga murah, eh malah ketahuan penulisnya sendiri πŸ˜‚ Mungkin yang kamu bilang soal perbedaan budaya itu ada benarnya. Apalagi masalah literasi di Indonesia tuh buanyaak banget PRnya. Ya bajakan lah, ya soal minat baca, royalti penulis, dll. Jadi mungkin yang paling ideal adalah membeli buku baru sebagai dukungan dan menghormati karya penulis, ya. Dengan catatan, harus punya budget-nya, jangan dipaksakan kalau memang nggak mampu :D

      Thank youu for sharing your thoughts! Maacih juga udah mampir ke sini ya πŸ˜‰

      Delete
  14. Hi.Topik menarik. Biasanya kalau nggak ada yang baru ya beli second. Soalnya perbedaan harga suka tipiis banget apalagi ada diskon-diskon.πŸ™‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betull. Harga buku diskonan memang suka menggiurkan, apalagi menjelang akhir tahun seperti sekarang diskon mulai menjamur, godaan belanja pun dimulai πŸ˜‚

      Delete