What I Learned in My 20s

Tuesday, November 2, 2021


Tiap kali ulang tahun, biasanya suka ada yang ngucapin, "a year older, a year wiser", yang mana artinya nggak cuma usia yang bertambah, tapi juga lebih bijak. 

Karena udah resmi masuk 30s club dan udah lebih banyak menyicip asam garam kehidupan, boleh kali, ya, aku kasih wejangan ala-ala untuk adek-adek yang masih menikmati usia 20an. Bukan sok tua (karena gue nggak berasa tua juga, sih, HAHAHA), bukan juga sok bijak. Tapi melalui pengalaman yang udah dirasakan, sayang kalau nggak dibagikan di sini. Apalagi di usia 20an aku juga mengalami milestones hidup yang cukup menantang: marriage and parenthood. My life has changed drastically since then. 

Andai aku bisa ngomong ke diriku yang berusia 20an, I would tell her all of these things. Semoga kalian yang baca pun bisa memetik hikmahnya πŸ˜‰

Anyway, this is gonna be a lengthy post! 

1. Jangan terima diri sendiri apa adanya


Wow, wejangan pertama udah cukup bombastis belum, tuh? Hahahahaha. 

Tentu saja ini sebuah paradoks, yak. Maksudnya adalah, plissss jangan pakai tameng "gue memang gini kok orangnya" sebagai alasan untuk nggak mau belajar. Aku terlalu menggampangkan segala keadaan dengan mengucapkan kalimat tersebut. Yang nggak disadari, aku sebetulnya malas untuk memperbaiki diri. Yang jelek dianggap jelek terus, yang baik yaudah gitu aja. Padahal, kita bisa banget untuk mengembangkan diri sendiri untuk lebih baik lagi setiap hari. Caranya ada banyak. Dari yang paling mudah, misalnya bangun lebih pagi, makan lebih sehat atau baca buku. 

Ngomongin buku, tau nggak, sih, as much as I love self-improvement books, ada masanya aku menganggap penulis buku self-help itu sombong. Ah, apa, sih, buku self-help. Gue bisa nolong diri gue sendiri! Memang, yeee... jadi anak emo sama sombong beda tipis. 

2. Just be yourself. How? 


Being 20s is kinda weird because legally you're an adult, but in reality, you're not "adult" enough. 

Banyak hal yang digalaukan karena kita bingung gimana, sih, caranya jadi diri sendiri. Kok quote "just be yourself" ini bertebaran di mana-mana, tapi gue tetep nggak bisa jadi diri sendiri! *sambil mendobrak meja karena ceritanya labil*. Lihat si A begini, pengen jadi A. Lihat jadi B, pengen jadi begitu juga. Oh, mungkin kalau gue berpakaian/berperilaku kayak si C, gue bakal diterima dan disukai orang-orang. 

Kalau bisa ketemu diriku di usia yang lagi gampang ikut-ikutan, rasanya pengen puk puk terus ngomong, "Berusaha mengubah diri supaya disukai orang lain itu melelahkan, sis."

Jadi, harus gimana dong?

Jadi diri sendiri itu paling mudah dengan menemukan sesuatu yang kita suka. Misalnya, suka nulis. Ok, terus nulisnya di mana? Di-publish apa nggak? Punya blog? Terus, biasanya nulis apa? Apa yang dirasakan kalau selesai nulis? 

Pokoknya ulik terus sampai kita merasa "oh, gue tuh paling bisa jadi diri sendiri ketika nulis ini lho.". Dan semisal kalian ditanya tentang hal yang disukai, kalian bisa tuh jabarin lengkap. Syukur-syukur detail A-Z bisa dijelasin semuanya. 

Menurutku, saat kita menemukan apa yang kita suka and be passionate about it, jati diri perlahan terbentuk dan kita mengenal siapa diri kita lebih jauh. Plusnya, kita bakal jadi lebih pede. Apalagi di saat orang-orang mulai mengenali kita karena apa yang kita lakukan and we're actually good doing it. 

3. You need to affirm yourself. 


Kalau ada yang inget ceritaku di sini, ada satu masa aku sangat sangat emo. Mengalami segala jenis krisis yang parah banget. Krisis jati diri, krisis pede, krisis duit jajan, dsb. Setelah aku pikir kembali, penyebabnya satu: aku sibuk mencari validasi eksternal. Sama pacar, pengennya diperhatikan terus. Sama sahabat, pengennya aku menjadi orang pertama yang dicari untuk tempat curhat. Sama dosen, pengennya dikasih nilai bagus dan dikasih pujian. Apa yang terjadi ketika semua validasi tersebut nggak didapatkan? Ya, ambyar! 

Kalau aja aku tahu kita bisa memberikan afirmasi untuk diri sendiri, maybe I would not be so desperate seeking validations here and there. Termasuk mungkin jumlah likes, komentar yang diterima di sosial media. Seberapa sering, sih, kita bergantung dengan hal-hal itu untuk membahagiakan diri sendiri? 

Memberi afirmasi bagi diri sendiri itu bisa sesimpel monolog di depan kaca atau nulis di jurnal. Say what you want to hear. Dekat sama Tuhan (ibadah) juga membantu banget untuk memberikan afirmasi buat diri sendiri. Kalau Tuhan udah ngomong kalau kita ini mampu melakukan segala sesuatu, masa iya kita masih mau peduli apa kata orang yang meragukan kemampuan kita? (: 

4. Belajar minimal satu bahasa asing


Kalau bisa, sih, selain bahasa Inggris, hahahaha. 

Jika kita skillful dalam bahasa asing tertentu, bisa aja kita bakal dipertemukan dengan kesempatan yang nggak pernah kita sangka. Bonusnya, kita lebih diperhitungkan dalam pekerjaan, misalnya. 

Aku pernah dapat tawaran mengajar bahasa Mandarin untuk staff hotel ketika masih tinggal di Bali. Selama ini aku cuma ngajar private, di sekolah pun hanya pas magang. Pengalaman tersebut menjadi hal yang nggak terlupakan. Aku pun jadi ikut belajar hal-hal baru, gimana caranya menyebut istilah-istilah hospitality dalam Mandarin. 

Waktu kerja di Starbucks, aku juga sempat dimintakan tolong untuk memberikan latihan kecil-kecil bagi teman-teman barista untuk menghafal menu dan mengucapkan beberapa kalimat sapaan dalam bahasa Mandarin. Mereka senang, aku lebih senang lagi. Karena ada sesuatu yang bisa dibagikan (jadi agak nyambung ke poin nomor dua, ya, hihi). 

Belajar bahasa nggak sulit juga kok sekarang ini. Ada aplikasi semacam Duolingo, di situ bisa belajar bahasa apa pun. Kecuali, yang ingin ambil sertifikasi, bisa mendaftar di lembaga bahasa tertentu. 

5. Belajar mengelola keuangan (meski hanya tipis-tipis)


Anak muda zaman sekarang enak banget, lho. Karena pengetahuan tentang finansial sangat mudah untuk didapatkan. Sayang sekali, kalau kesempatan istimewa yang cuma-cuma itu nggak dipelajari. 

Dulu, pengetahuan paling dasar soal uang yang aku tau cuma menabung. Catat pengeluaran juga, sih. Tapi nggak pernah konsisten dilakukan. Tahunya, ya, nabung aja. Kalau nggak nabung, nggak ada duit cadangan. Mana paham dulu kalau harus punya dana darurat. 

Sekarang, informasi finansial udah di mana-mana. Nggak usah hire financial planner pun bisa banget untuk belajar mengatur keuangan pribadi. Mau coba investasi juga gampang. Ada banyak aplikasi online yang bisa dipakai. 

Menurutku, mengelola keuangan bukan hanya soal menabung atau berhemat. Tapi kita juga harus paham, uang yang kita punya itu dipakai buat apa aja, larinya ke mana, dan jangan syok kalau tiba-tiba saldo di rekening 0, karena harusnya kita bisa menghindari hal tersebut kalau tahu cara mengelola uang di awal. 

Gimana soal keuangan setelah menikah? Sebetulnya nggak beda jauh, sih, dengan saat masih lajang. Kalau udah terbiasa mengelola keuangan sejak sebelum menikah, pasti akan lebih mudah. Ini salah satu hal yang I wish I knew before, karena jujur waktu muda aku sangat boros dan nggak paham soal mengatur uang ): 

Jangan lupa diskusikan dengan pasangan, siapa yang pegang dan mengatur uang rumah tangga, atur budget bareng-bareng. Pokoknya do what you should do aja. 

Beberapa bulan lalu, aku sempat ikuta Kulwap finansial yang diadakan oleh @annisast dan @winditeguh. Wah, beres kulwap mataku melek lebar banget soal uang, hahahaha. Apalagi setelah kami mengisi dokumen cash flow yang diberikan pada peserta. Kemudian, kami berdua cukup terkejoed karena selama ini pengeluaran lumayan banyak. Padahal, aku selalu mencatat pengeluaran sehari-hari di aplikasi Money Manager (kayaknya pengen review ulang aplikasi ini, deh, karena banyak updates. Gimana menurut kalian, gengs? Ada yang butuh nggak?). Di aplikasi ini, cukup terlihat jelas gimana flow pengeluaran kami. Ternyata, dokumen yang diberikan dari kulwap itu lebih membuka mata kami, hahahaha. Alhasil, kami coba menata ulang lebih mindful saat mengatur budget untuk setiap pengeluaran. 

Semangat mengelola keuangan, ya, haii anak muda! πŸ˜†

6. Jangan peduli dengan apa yang orang lain punya


Nah, ini. Berhubungan dengan poin sebelumnya. Karena seringnya, nih, rekening boncos karena pola gaya hidup yang satu ini: FOMO. 

Apalagi sejak orang-orang bisa mengekspos gaya hidup melalui sosial media, yang seringkali membuat kita tergoda. Gadget, makeup, skincare, perintilan anak (halo ibuk ibuk!) sampai destinasi kuliner/traveling, membuat kita seolah-olah merasa perlu memilikinya. Padahal sebelumnya kita baik-baik aja tuh hidup tanpa melihat itu semua. 

Untungnya, aku memang nggak gampang latah untuk mencoba/membeli sesuatu yang sedang hype. Kita ambil contoh makanan, deh, ya. Karena aku paling suka makan, hahahaha. Kalau ada jenis kuliner yang tiba-tiba "meledak", biasanya aku nggak langsung cobain. Pertama, males ngantri. Kedua, aku ragu kuliner tersebut ramai hanya karena orang-orang yang cuma ikut-ikutan aja. Begitu tanya rasanya enak apa nggak, jawabannya kebanyakan cuma dua: enak atau biasa aja. Jadiii, kenapa harus rela antri berjam-jam demi makanan yang biasa aja? Tujuannya apa sebenernya? Apalagi kalau bukan untuk konten. Yekannn? 🀣

Soal perintilan anak juga begitu. Terkadang aku kepingin beli barang anak hanya berdasarkan review si mama influencer A bagusss dan wajib punya. Terus, minggu depannya si mama influencer ini bilang barang sejenis dengan brand berbeda juga layak dibeli. Jadiiii, yang benar-benar menentukan layak dibeli itu siapa? Tentu saja pihak yang meng-endorse, huahaha. Nggak, yaaa. Plis, aku bercanda, hihi. Tentu saja kita sendiri yang harus bisa menentukan apakah sesuatu worth to buy or not. Kalau semuanya layak, berarti nggak ada yang layak. Bener nggak? 😁 *ngomong aposeee*

Serius, deh. Kalau nggak punya self-control yang baik, nggak bisa menentukan mana needs or wants, yang rugi itu kita sendiri. Kalau suatu hari nanti kita menyesal uang habis untuk hal kekinian, mau salahin siapa? πŸ₯Ί

7. Every (little) accomplishment counts


Awal menjadi ibu, aku gampang kesepian dan merasa worthless. Gampang sekali baper ketika buka sosmed (sosmed lagiiii) isinya pencapaian dan prestasi teman-teman yang sangat membanggakan. Dibandingkan pencapaianku sehari-hari waktu itu yang kebanyakan seputar anak, kok rasanya nggak terlalu "mewah". 

Suatu ketika, ada yang ingetin kalau pencapaian itu nggak melulu yang terlihat di feed Instagram. Aku harus mulai bisa menghitung pencapaian kecil (small wins), karena berkat hal-hal kecil tersebut yang bisa membawaku pada hari ini. 

Jangan terlalu terlena sama pencapaian orang lain, apalagi yang di-post di sosial media. Proses jarang ditampilkan, karena biasa proses itu isinya banyak kerikil, jatuh bangun, air mata, dan hal-hal yang "menyakitkan" lainnya. 

So, apa "small wins" kamu hari ini? 

8. Talk to your parents more often 


Percaya, deh. Semakin kita bertambah usia, nggak ada yang lebih menghangatkan hati ketika mendapat sebuah chat singkat dari orangtua yang isinya hanya: "Kak, lagi ngapain? Udah makan?". 

Aku lupa pernah baca ini di mana, tapi kira-kira isi kalimatnya kayak gini. Orangtua yang nge-chat kita seperti itu bukan basa-basi, mereka tulis ingin tau hari-hari kita kayak apa. Di saat kita semakin tua semakin sibuk, orangtua kita semakin tua semakin minim kegiatan. Hal pertama yang mereka ingat di kepala adalah kita, anak-anaknya. So, next time kalau orangtua kalian nge-chat, cepat-cepat dibalas, ya. Jangan buat mereka khawatir πŸ˜‰

9. Foto momen sebanyak mungkin


Baru aja kemarin ini, aku dapet pertanyaan dari Josh, saat kami berada di sebuah restoran yang belum pernah kami coba. Dia nanya gini, "Kenapa kita harus foto, Ma?". Spesifik banget lho nanyanya "harus". Mungkin dia notice, tiap kali kami ke mana, mamanya pasti sibuk foto-foto. Apalagi belakangan ini, Josh mulai mengeluarkan tanda-tanda males foto. Tiap kali diajak foto, mukanya malesin atau sengaja pose dengan ekspresi "ajaib". 

Jawabanku atas pertanyaan dia cukup simpel, sih. To keep memories. Supaya suatu hari nanti, ketika lihat album foto, ada cerita yang dikenang. 

These days, I'm trying to take pictures as many as I can. Mostly candid. Paling 1-2 foto yang "pose" supaya ada yang bagus (untuk di-post, bahahaha). Rencananya, untuk mewujudkan salah satu impian yang ada di daftar 30 before 30, yaitu cetak foto dan pasang di album, kayak yang dilakukan papa mama kita dulu gitu, deh. I don't know why we don't do that anymore. Ada yang masih suka cetak foto dan masukkin ke album foto nggak? 

Awalnya, aku agak risih foto-foto terus karena nggak bisa enjoy the moment. Tapi mikir suatu hari nanti nggak punya foto untuk dikenang, penyesalannya bakal banget, deh. Maka, triknya adalah foto candid aja, apalagi objek fotoku kebanyakan anak-anak. Biar saat dewasa nanti bisa mengenang kembali masa kecil mereka yang (mudah-mudahan) bahagia, hahahaha. 

10. Life does get better, eventually


Yang terakhir, nggak usah pusing usia 20an itu harus punya pencapaian tertentu. Usia segini harus punya tabungan segini. Usia segini harus bisa travel ke 10 negara. Jangan apa-apa harus. Punya bucket list nggak salah. Tapi jangan sampai terbebani dan lupa menikmati hidup.

Life does get better, eventually. Seperti yang kubilang, usia 20an itu gapapa banget banyak salahnya. Yang penting semakin usia bertambah, kita juga semakin memahami dan mencintai diri sendiri ❤️

17 comments:

  1. Mba Jane tau nggk.. tulisan ini membawa aku ke tulisan Mba Jane ttg kehidupan Mba 10 tahun terakhir, satu kata KEREN mba. Perasaan haru, senang, sama sedih campur aduk 😁... Termasuk juga cerita bagaimana Mba dan Suami mba dulu bertemu 😁.. so sweet beud.. 😁

    Btw tulisan ini deep banget asli buatku. Terimakasih ya Kakak Jane.πŸ˜„ buat sharingnya, pesannya, dan pelajarannya.

    Jujur, Aku pun kurang lebih masih cenderung mikirin semua itu bahkan sampai sekarang.. Pikirannya ramai sampe bingung mana dlu yang harus dipikirin. kadang kalau diri lagi mellow banget dan nggak ada orang yg bisa diajak bicara. Itu hati bisa tiba2 masuk mode gelap, dan berefek mau ngapa2in pun udah nggak mood aja.

    Tapi Tuhan Maha Adil. Nggak pernah menguji hambanya di luar batas kemampuannya.. udah banyak keajaiban yang aku rasakan akhir-akhir ini. *duhh sember kan, sorry πŸ₯²*

    Benar kata Mba Jane.. "Life does get better, eventually" selama kita mau berusaha untuk bertahan, to keep going 😊.

    Btw, jadi teringat kata-kata bijak Papanya Andre.

    "No matter what Happen in Life.. 1 thing that you always remember is To keep going"

    Kalau sedih, atau tetiba kosong.. ingat semua amazing things yg terjadi dalam hidup kita.. semua orang2 yang kita temui.. coba untuk tarik benang merahnya, pasti kita bakal menemukan kemana ujungnya akan terhubung..

    We're all connected, each of us is a gift to those around us πŸ˜„

    Sekali lagi terimakasih untuk tulisannya ya Mba πŸ€— You are amazing, we are amazing.. !!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you so much Mas Bayu, udah menyempatkan waktu baca ceritaku dulu 😊 Ini tuh nulisnya ditemenin hujan deras, Mas. Makanya agak deep, ya, hahahaha.

      Saat masih menjalaninya, sih, amit-amit banget, ngeluhnya banyak, minim bersyukur 😒 Untungnya sadar kalau itu nggak akan mengubah apa pun. Dan melalui setiap kejadian itu, aku menjadi sosok yang cukup "tahan banting". Jadii, Mas Bayu juga harus tetap semangat, ya! Wejangannya Om Chan itu bener banget, Mas Bayu. Life goes on kan, ya. Hidup memang makin susah, tapi kita harus makin kuat πŸ’ͺ🏼 *sodorin tissue untuk yang ambyar* 😁

      You're amazing! I'm really glad to know you as a friend! πŸ˜‰

      Delete
  2. Berbeda dengan Ci Jane yang dulunya enggak suka dengan buku self improvment gitu, karena merasa bisa menolong diri sendiri, saya justru awal-awal kuliah suka banget dengan buku-buku motivasi, tapi 3 tahunan kemudian jadi benci. Enggak tau kenapa kayak udah enggak mempan lagi dimotivasi oleh para motivator. Ya, rasanya sempat terjebak juga dengan petuah-petuah yang saya coba ikuti. Saya paham enggak ada jalan pintas dalam hidup. Saya mesti menemukan jalan itu sendiri dan menikmati setiap prosesnya. Barangkali enggak salah, sih, baca-baca buat nambah referensi, tapi lagi-lagi kudu mencari yang paling sesuai bagi diri sendiri.

    Memang, gaya hidup FOMO itu bahaya. Kayak macam Subway yang baru dibuka itu, kan? Haha. Masih pandemi dan sebagian orang mulai berkerumun lagi. Terus terang, sejak lama saya udah menerapkan buat enggak latah akan sesuatu hal yang lagi ramai, karena antre berlama-lama demi bisa mencobanya pada hari pertama pastinya sangat buang-buang waktu. Bahkan mengenai berita-berita yang menjurus drama pun kini mulai saya hindari. Mau ada kehebohan artis, selebgram, atau siapalah itu, saya bodo amat. Enggak ada ruginya juga ketinggalan berita.

    Perkara belajar bahasa lain selain Inggris memang penting, dan saya sempat coba latihan pakai Duolinggo itu. Yang saya sasar tentunya bahasa Jepang karena ada ketertarikan dengan sastra, anime, film, dan musik Negeri Sakura. Sialnya, baru sebatas huruf-huruf Hiragana aja yang tampaknya mudah diingat. Kanji itu rumit banget, ya Tuhan. Terus sekarang mandek karena lebih fokus ke Inggris lagi. Haha.

    Hm, dua tahun terakhir ini juga sering berpikir ulang tentang validasi. Nilai jual diri sendiri enggak melulu dari seberapa banyaknya pengikut ataupun engagement di media sosial. Kalau di blog ya tentunya jumlah komentar dan trafik bagi saya bukanlah apa-apa lagi. Meski enggak bisa bohong akan senang jika ada pembaca-pembaca yang sudi meninggalkan komentar secara antusias. :D

    Pencapaian kecil saya akhir-akhir ini: akhirnya mampu menyelesaikan seminimalnya 5 karya penulis favorit, Roberto BolaΓ±o, sebelum tahun berganti. Masih berharap bisa menuntaskan novel super panjangnya yang 900-an halaman, tapi lihat nanti sajalah. Enggak mau terburu-buru takut sensasi asyik mmebacanya malah memudar. XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha padahal saya dulu suka buku tipe Chicken Soups gitu, entah kenapa ada masanya saya menolak baca self-help, karena alasan di atas. Mungkin saya mengalami apa yang Mas Yoga bilang, merasa jenuh karena buku tersebut nggak membantu saya secara signifikan. Padahal, solusi dan jalan keluar sebuah masalah harus bisa ditemukan sendiri. Buku-buku itu hanya panduan aja. Tapi makin ke sini, saya justru butuh baca buku self-help, untuk pengembangan diri dan juga mempertajam skill 😁

      Memang pada dasarnya orang Indonesia ini mudah penasaran dan terbawa arus. Padahal dulu tahun 90an Subway oernah ada di Jakarta namun tutup karena waktu itu orang Indonesia nggak paham konsep makan sandwich. Mungkin karena pengaruh entertainment juga, sih. Setahu saya Subway ini sering muncul di Kdrama, jadi mungkin ini salah satu faktor penasarannya mereka πŸ˜…

      Harus saya akui saya pernah jadi korban ikut-ikutan waktu BTS meal McD hadir di Indonesia. Secara nggak langsung saya ambil andil karena membiarkan driver ikut berkurumun. Nyesel iya, dapet makanannya juga nggak, wkwkwk. Nggak lagi deh ikut-ikut begituan 🀣

      Wah, semangat belajar Japanese, Mas Yoga! Kanji memang sulit, sih. Murid-murid yang pernah belajar Mandarin sama saya suka ngeluh kenapa kanji ribet banget, hahahaha.

      Soal komentar blog, setuju sekali. Ibarat performer yang manggung tanpa tepuk tangan penonton, mungkin begitulah komentar di blog kita ya, Mas? πŸ˜‚ Jadi saya harus terima kasih sekali sama Mas Yoga yang sudah memberi komentar di tulisan ini :D

      Woww 900-an halaman! Dinikmati perlahan aja, Mas. Dan selamat atas pencapaian kecilnya Mas Yoga! Rasanya bangga yaa bisa mengantongi kemenangan kecil tersebut πŸ˜‰

      Delete
  3. Ci Jane ya ampun aku mau ngomongin Seohyun SNSD. Tbh aku nonton di WGM dulu tuh sebel awalnya, tapi ini anak bener-bener ter-organized gitu hidupnya wkwk. Mulai dari suka baca buku self improvement sampai nyiapin dana pensiun tuh udah ada di pikiran dia. Alhasil aku yang awalnya sebel, jadi kagum banget sama Seohyun. Dan kepikiran buat nyiapin dana pensiun sedini mungkin juga wkwk. Nyambung ke Kak Icha, kayaknya pernah deh bagiin file excel finansial juga. Cuman nggak tau bedanya dengan file yang diberikan untuk peserta kulwap apa hehehe. Aku jadi lebih melek finansial, terutama masalah investasi, setelah baca postingan Kak Icha tentang reksadana lalala di tahun 2014. Waktu itu masih trial and error. Zaman sekarang ketika instrumen dan ilmu invetasi lebih mudah dibagikan, kayaknya yang masih 20an lebih baik memanfaatkan momen ini juga biar nggak boncos FOMO seperti kata Ci Jane wakakakak. Apalagi aplikasi ngutang zaman sekarang kan makin mudah dan makin dibikin fancy ya namanya, padahal ya tetep aja ceritanya berutang. :(

    Makin mendekati 30 emang kayaknya seseorang makin pede dan makin bomat sama apa kata orang nggak sih hahahaha. Walaupun nggak 100% pede gitu, tapi kerasa banget lebih stabil "pijakannya" dibanding awal dan pertengahan 20an.

    Aku setuju dengan tulisan Ci Jane, apalagi makin scroll ke bawah tuh makin relate pembahasannya. Semoga yang masih early dan mid 20s bisa mengambil pelajaran yang bermanfaat dari postingan ini. Remember, you are still so young and strong, not all of things must be opened and achieved in your 20s. Mangats!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duh, Seohyun SNSD itu memang cepat dewasa sebelum usianya nggak, sih? Jadi inget member yang lain termasuk si Yonghwa sendiri di BGM tuh suka ciut sama dia. Abisnya dia tuh apa, yaa.. delicate bangettt. Orangnya rapiii, terstruktur, terus jaga kesehatan banget. Ini calon menantu idaman, tapi wanti-wanti akan menjadi ibu yang sangat ideal (mungkin perfeksionis juga?) HAHAHA.

      Ah iya, aku inget Kak Icha ada share files cash flow di blognya, yaa. Ini beda dengan yang dikasih di Kulwap, Ndah. Lebih detil gitu. Aku juga suka ngumpulin ilmu soal finansial di platform sosial media beliau, soalnya menurutku paling mudah dicerna dan contoh kasusnya sangat relatable.

      Duh, jangan sampai kena jerat paylater apa later, deh. Apalagi yang pinjol pinjol gitu. Sedihhhh kalau baca cerita orang-orang yang sampai dikejar debt collector, padahal masih muda lho 😫 Mari kita rajin mengelola uang supaya nggak habis untuk kopi kekinian *ngomong sama diri sendiri*

      Betulll. Mendekati usia 30 nggak terlalu ngawang ya, Ndah. Udah tau mau ke mana, apa yang mau dilakukan, dsb. Thank you untuk wejanganmu juga! Semoga teman-teman di sini bisa sama-sama belajar juga. Semangaaaat! ✨πŸ€—

      Delete
  4. Janee what a wholesome post! Kayaknya ini bukan cuma adek-adek 20s yang dapet ilmu, aku juga yang secara umur malah lebih tua dari kamu juga dapet ilmu ini bacanya πŸ˜†

    Aku pun lagi perjalanan membenahi semua untuk hidup yang lebih baik lagi πŸ’ͺ Dan bener, jaman sekarang belajar apa-apa bisa tersedia online, informasi apapun bisa tersedia, kalau memang mau belajar lebih serius, yang buka kelas juga banyak yang bermacam-macam. Malah bisa diikuti secara online, ini memudahkan banget sih.

    Point no.6 juga udah beberapa tahun belakangan aku jalanin, dan hidup memang jadi jauh lebih mudah saat kita ga peduli sama apa yang orang lain punya hehe. Apa yang kita punya juga ga perlu divalidasi sama orang lain. Yang penting kan kita ngejalaninnya senang, hasilnya juga kita sendiri yang bakal puas bukan orang lain. Capek mah kalau ngikutin apa maunya orang lain terus πŸ˜†

    Tulisan ini wajib banget sih dibaca sama yang masih di mid 20s supaya bisa lebih mempersiapkan diri lagi untuk menyambut umur yang lebih besar. Thank you for writing this Janeee πŸ’–πŸ’–

    ReplyDelete
    Replies
    1. Awwww, seneng banget baca komentar kamu, Eya! ❤ Tapi aku setuju, sih. Mau usia berapa pun, kayaknya yang namanya pembelajaran hidup itu selalu bisa jadi wejangan ya buat kita (:

      Berkah di balik pandemi yaa, sekarang ini semua orang beralih ke platform online. Karena selama ini akutu pengen belajar atau join seminar namun aksesnya terbatas (jauh, nggak bisa bawa kendaraan, dll). Dengan adanya online learning gini benar-benar menjawab kebutuhan banget, hihi.

      Betull! Rasanya hidup lebih tenang juga ya tanpa mendengar suara-suara bising. Pantes aja dulu gampang drained karena semua omongan orang nggak hanya didengerin, tapi dimasukkin ke hati, wkwkwk. Menjalani sesuatu dengan mengikuti apa keinginan hati sendiri tentu jauh lebih menyenangkan 😊

      Thank you so much toooo udah baca tulisanku juga, Eyaa. Semangat ya buat kita semua!! πŸ€—

      Delete
  5. hiks hiks, ini mah aku banget hahaha
    usia 20 tet, usia segitu aku masih kuliah awal-awal, pelajaran hidup masih dikit, yang diurus cuman masalah kuliah, jalan, minta uang ortu. yup usia segitu masih belum kerja juga

    terusss pas usia mau lulus, cobain cari kerja sendiri jadi guru privat dan ngerasain dapet gaji sendiri. lumayan buat tambahan uang jajan, meskipun ditabung, tetep aja nanti bakalan diambil.
    dan waktu kuliah aja, dulu kalau duit udah mau habis, telpon ke orang rumah mau minta kiriman yang ada kayak takut gimana gitu, kalau ga minta, ga bisa makan :D

    usia 20an awal memang nggak dipungkiri kadang suka muncul FOMO, tapi kalau aku sadar diri, karena aku tau kapasitas aku seberapa dan nggak mau apa apa minta ke ortu. KAlau inget, malah duit spp pernah aku pake buat beli beli, astagahh

    foto momen sebanyak mungkin, itu perlu.
    sekarang aja kalau tiba tiba aku buka album kuliah misalnya, jadimikir kok dulu nggak banyak jepretnya ya, jadi kurang aja gitu.
    liat foto lawas aja suka senyum senyum sendiri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Ainunnn, hiks ternyata kita pernah ada di situasi yang kurang lebih sama, yaa. Aku pun demikian lho. Aku itu boros dari kecil, Mbaa. Pengalaman masa kecil yang kuingat itu nggak jauh-jauh dari boros pake uang jajan. Di saat beberapa temen aku udah bisa cari uang tambahan sambil kuliah, aku malah sok-sokan ngajuin proposal beli kamera ke orangtuaku dengan alasan yang super duper childish πŸ˜‚ Beneran deh, kalau diinget-inget malu banget. Mudah-mudahan nanti aku bisa mengajarkan nilai dan pola pikir yang baik ke anak-anakku nanti, biar nggak kayak emaknya dulu πŸ™ˆ But thank God, kita berhasil belajar dari kesalahan masa lalu, yaa. Setidaknya sekarang udah di jalur yang benar πŸ˜‚

      Thank you for sharing your stories too, Mba Ainun! Tetap semangat, yaa! 😘

      Delete
    2. iya mbak jane jadi dulu waktu aku masih kuliah, di papan pengumuman di pinggir jalan di area kampus, ada iklan lowongan guru privat bimbel di malang, coba ngelamar
      waktu itu mikirnya, nyoba nyari tambahan duit bisa apa engga.
      waktu aku jadi anak kuliah, waduhhh kalau aku inget inget lumayan rutin ke factory outlet, belanja di supermarket, kadang pas selang beberapa minggu minta duit lagi ke ortu, telpon ortu aja agak takut gimana gitu, kok kayaknya hobi minta terus hahaha. ada rasa "sungkan", ga enak gitu.

      Delete
  6. COOOOL~! Post-nya bagus banget, mbaaaaaa 😍

    By the way, setuju sama mba Eya, ini sih bukan yang usia 20 saja bisa belajar, namun saya pun belajar banyak dari post mba Jane di atas. Dan saya pribadi masih ingin berusaha jadi lebih baik lagi ke depannya. Karena ternyata meski sudah puluhan tahun hidup, tetap belum terlalu maksimal. Yang penting sekarang untuk saya ingin menikmati proses, dan enjoy dalam melakukannya πŸ˜†πŸŽ‰

    Oh dan setuju soal foto atau video mba, itu yang saya sering lakukan dari dulu dan saya nggak menyesal akan itu karena jadi punya banyak kenangan. Especially ketika dikasih pelajaran akibat Corona seperti sekarang. Lihat foto-foto lama bisa ajak saya dan si kesayangan flashback and itu sungguh menyenangkan rupanya 😁🧑

    Thanks for sharing your experiences, mba Jane πŸ₯³πŸŽ‰

    ReplyDelete
    Replies
    1. Uwuuuuu jadi maluwwww πŸ™ˆ

      Perjalanan kita ke depannya masih panjang yaa, Mba. Mau usia berapa pun selalu ada pelajaran hidup yang bisa dipetik. Dan setuju sekali dengan Mba Eno. Di usia yang sekarang ini, akhirnya aku mulai bisa menikmati proses (meskipun nggak mudah dan seringkali bikin mewek πŸ˜†), tapi tetap bersyukur karena itu tandanya aku masih bisa hidup dengan baik, hihi.

      Hahahahaha seru yaaa, Mbaa, bisa mengenang momen melalui jepretan kamera kita. Apalagi kayak Mba Eno yang sering membagikan momen tersebut kembali melalui tulisan di blog, rasanya jadi ikut "nyemplung" ke dalam foto-foto yang Mba Eno share 😊

      Thank you so much too for reading it! Hwaitingggg πŸ₯°

      Delete
  7. Huhu mbak Janeeee makasih banget udah nulis iniii
    Aku berasa diingetin lagiii πŸ₯²πŸ’•

    Tiap poin ini bener banget dan bikin aku berulang kali mikir, "hmm aku begini juga ga sih?"
    Dan ternyata banyak yg iya hehe πŸ˜…

    Baiklaahhh markicoba perlahan supaya nggak nyesel nantinyaaa πŸ’•πŸ’•

    ReplyDelete
    Replies
    1. Macamaaa, Mba Deaa 😘 Iyaa, perlahan-lahan aja, Mba. Pokoknya dinikmati aja setiap proses dan momen yang kita jalani. Tetap semangat, ya, Mba Dea! πŸ€—

      Delete
  8. Baru banget abis pulang malam mingguan. *tsahh 😁. Btw, Mba Jane malam minggu ngapain aja nih mba?

    Baru banget pulang, mampir ke rumah Onlinenya Mba Jane langsung dapat wedjangan yang mantap..

    Keren Mba tulisannya. Hebat berasa kaya baca tulisan dari sang Mativator professional. Hehe. Serius loh nggak gombal ini mah.

    Terimakasih buat reminder dan masukannya. Terutama komunikasi dengan orang Tua yg saya rasa saya belum maksimal.. apalagi ditambah skrang yg kerja di Ibu Kota dan kesempatan buat pulang ke rumah paling setahun sekali.

    And yes, Life does get better eventually. Yg pnting mau belajar untuk jadi pribadi yang lebih baik.

    Sekali lagi terimakasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hello, Mas Toni! Yaampun maap banget aku balesnya di hari Rabu siang bolong gini, wkwkwk. Malam minggu kemarin aku pergi bareng keluarga, seperti biasaaa. Malamnya takeaway ayam KFC whole bucket buat makan malam di rumah, sambil ditemenin hujan deras Bogor, huahahaha. Nikmat sekali 🀣 Mas Toni sendiri gimana kabarnya? :D

      Widiiii, aku mah nggak sanggup jadi motivator, wkwkwk. Tapi maacih ya, udah baca tulisanku aja aku senang sekali. Soal komunikasi dengan orangtua, memang harus disanggupi, sih. Aku sendiri sekarang "pasang target" diri sendiri harus bisa video call mereka seminggu minimal 3x. Dulu mah kalau ada waktu atau inget aja baru video call, chat dibalas males-malesan. Sungguh anak macam apa aku ini πŸ™ˆπŸ˜«

      Tetap semangat ya, Mas Toni! Semoga Mas Toni dan keluarga sehat dan diberkati selalu πŸ˜‰✨

      Delete