What September Has Taught Me

Friday, September 29, 2023


Bulan September selalu menjadi bulan yang "wow" buatku. Pertama, banyak sekali girl crush yang diam-diam kukagumi, juga beberapa teman perempuan (yang nggak kalah kece, you know who you are!) berulang tahun di bulan September.

Kedua, September ini seperti bulan "pengingat" kalau akhir tahun sudah dekat. Biasanya, ditandai dengan banyaknya tugas dan ulangan di sekolah anak, yang kemudian disusul dengan report card day. Selain itu, mendadak muncul tulisan refleksi diri para netijen di media sosial tentang penghujung tahun; update resolusi atau ngasih daftar destinasi liburan akhir tahun.

Ketiga, khusus untuk September 2023 ini: KOK BANYAK AMAT "KEJUTAN"? 

Yuklah, kita jabarkan satu per satu. 

1. Les Nulis untuk pertama kalinya. 

Mengawali September ini dengan mengambil impromptu decision untuk ikutan Les Nulis milik @srizzati! 

Ini FOMO, sih. Gara-garanya lihat Kak Laila posting di story saat ikutan kelas Les Nulis, terus belio membagikan hasil latihan nulisnya di broadcast channel Instagram. Wah, apani? Kok seru ada les nulis yang begini-begini? 

Bertepatan pula Izzi (hihi sok kenal gapapa, ya) memposting jadwal Les Nulis yang baru untuk September. Pas pula temanya tentang nulis fiksi dan non fiksi! Okela, cus daftar! 

Sebetulnya, bukan spontan juga ikutan Les Nulis. Aku udah lama ingin belajar storytelling dengan bergabung dalam kursus seperti ini. Ternyata, format les nulis ala Izzi ini sangat menarik dan cocok denganku. Intinya, kita bakal nulis bareng dengan peserta lainnya, kemudian ada sesi membacakan tulisan masing-masing. Awalnya "kaget" karena harus menulis dengan durasi waktu tertentu. Saat nulis, nggak boleh banyak mikir soal pilihan diksi, susunan kalimat, coret-coret, dan mengangkat pena. Metode stream of consciousness gitu lho.

Bagian paling menarik tentu saja saat sesi mendengarkan teman-teman peserta membacakan tulisannya. Saat itu cuma mikir, nih orang-orang nulis kok indah amat? Biasalah, manusia memang suka membanding-bandingkan, hahaha. Tapi bener, deh. Kalau nggak ikut beginian, aku nggak akan pernah tahu kemampuan nulisku sudah sejauh dan sebagus apa. Ternyata... memang masih jauh banget, cuy! 

Oh ya, lupa bilang. Salah satu kelas Les Nulis yang kuikuti mengundang guru tamu, dan guru tamu tersebut adalah... the one and only, Kak Laila Achmad! Fakta ini baru kuketahui saat mengisi form les. Jodoh memang nggak ke mana *kedip centil ke ysb*

Kyaaaa~ 

2. Bikin konten reels (sekalian ngasah kemampuan masak!)

Yang follow Instagramku pasti tahu ini, deh. Beberapa waktu lalu, aku sempat posting nggak satu, tapi dua konten reels masak dalam minggu yang sama. Ada apa gerangan kok tiba-tiba ngonten reels? Terus, kenapa masak?

Sebetulnya, udah lama penasaran ingin coba bikin reels apa pun. Pengen coba bermain-main dengan form konten yang berbeza aza. I personally enjoy short-form content (kek Shorts atau Reels), meski sebel karena konten begini "nagih" dan nyedot banyak jatah screentime.

Iseng tes ombak pertama dengan konten morning routine. Eh kok seru juga, walau makan waktu di editing. Nggak disangka, malah dapat feedback dari Mama, katanya boleh juga sering-sering nge-reels. Belio pun rikues, "bikin konten masak aja, pakai resep Mama yang udah diajarin ke kamu". Boleeeeh.

Bukan karena permintaan Mama aja, sih. Kalau ditanya kenapa masak, karena memang aktivitas yang kulakukan hampir setiap hari. Aku selalu doyan makan, tapi nggak tertarik belajar masak. Seperti kebanyakan orang lainnya, aku mulai belajar dan suka masak sejak nikah dan punya anak. Awalnya, aku pun masak karena kewajiban. Nggak masak, keluarga makan apa dong? 

Mikirin masak apa adalah daily task-ku. Bosan sama masakan sendiri, mulai ngulik resep, kebanyakan udah pasti dari Youtube maupun Instagram. Mungkin dari situ juga kali, ya, kepengen coba ikutan sharing resep.

Beberapa waktu lalu, Josh bikin tugas sekolah dan harus mengisi biodata anggota keluarga. Tanpa bertanya lebih dahulu, Josh mengisi hobi mamanya dengan "memasak". Saat ditanya kenapa, anaknya cuma jawab, "Ya, because you cook every day, Ma." Buat doi, aktivitas yang sering dilakukan itu namanya hobi, padahal biar kita sekeluarga bisa survive aja, sih, Josh."

Tapi jadi mikir, oh berarti dia "ngeh" ya, mamanya masak tiap hari. There's a day masakan mamanya dapet dua jempol bahkan sampai nambah nasi. There's also another day mamanya dapat komentar, "Mie gorengnya kayak kurang enak gitu, Ma. Beda sama yang mama masak sebelumnya." Katanya, kritikan paling pedas, selalu datang dari orang dalam, memang benar adanya. 

Soreels pertama yang dibuat adalah menu kesukaan keluarga, Ayam Goreng 8 Bumbu. Sengaja pilih resep yang paling gampang dulu, biar jumlah take-nya nggak banyak. 

I took from the worst angle ever, zzz. Tapi ini lho ayam goreng 8 bumbu, ada yang udah recook?

Yang baru kusadari, meski banyak menu dengan judul "sat set", proses syutingnya tuh nggak se-"sat set" itu. Banyak yang harus disiapkan, termasuk recipe tasting. Terbiasa masak menu chinese food rumahan, yang mana jarang pakai takaran resep—we usually eyeball everything LOL—mau nggak mau harus ada hari khusus untuk nyobain resep dulu, baru bisa syuting, deh. 

Ngomongnya kayak udah bikin banyak, padahal baru ada dua reels, HAHA. Rencananya, bakal ada yang baru lagi kok. Ditunggu, ya :D

3. Lancar nyetir membuat diri ini lebih berguna. 

Hampir genap setahun sejak aku mulai nyetir sendiri dan baru-baru ini mulai merasakan manfaatnya.

Rutinitas nyetir selama ini sebatas jemput anak pulang sekolah dan pergi belanja ke supermarket. Rute jalannya juga itu-itu aja. Pernah paling jauh ke Pasar Sentul, itu juga pertama kali bawa di tol, jantung kayak mau jatuh ke perut, saking takut juga bersemangat. 

Nah, pada suatu hari di bulan September ini, tiba-tiba dapat tugas negara langsung dari bapak mertua, minta tolong diantarkan ke sebuah tempat. Wah, tentu saja aku tegang, hahahaha. Sudah 2023 dan usia hampir 32, aku masih nggak terbiasa dengan hal-hal spontan, termasuk permintaan tolong papa mertua yang terbilang mendadak ini. Mana tempat tujuan adalah rute yang tidak pernah tersentuh olehku sebelumnya. Ditambah hari itu aku hanya mempersiapkan diri menjalani rutinitas kek biasa, bukannya nganter bapak ibu jenderal, ohmygad

Setelah mendapat restu dan dukungan suami tanpa henti, serta melakukan pengaturan nafas puluhan kali, yaudah KITA BERANGKAT. 

Jujur aja nih, rada takut nyetirin papa dan mama mertua, karena mama mertua itu nyetirnya jauh lebih jago. Entar gue dikomentarin begimane. Terus, kalau salah jalan begimaneee. Namun, pikiran berlebih ini ujung-ujungnya cuma di kepala aja, karena pada kenyataannya, kami semua bisa kembali di rumah dengan selamat. Puji Tuhan!

Rasanya gimana? Nggak usah ditanya, SENANG sekali. Bukan senang hepi gimana, tapi senang karena akhirnya bisa merasa berguna. Salah satu motivasiku belajar nyetir, sebetulnya supaya bisa memenuhi tugas negara seperti ini. Jika amit-amit terjadi sesuatu, bisa gercep nganterin. Iya, sih, bisa pesan mobil online, tapi kalau butuh cepat gimana? 

Pesan untuk para emak-emak rumah tangga di luar sana, yang masih ragu atau takut nyetir mobil: just do it. Males dikomentarin suami, ikut kursus aja lebih cepat bisa! Kujamin, setelahnya kalian akan merasa jauh lebih berdaya. 

4. Menata hati ketika menghadapi sesuatu di luar ekspektasi. 

Salah satu keahlian yang sampai hari ini masih nggak tahu gimana cara melakukannya dengan baik. 

Aku sudah terbiasa dengan pola hidup yang berulang (rutinitas) dan tertata. Aku juga mencoba menaruh ekspektasi dalam segala hal, termasuk yang di luar kendali (my bad, hiks). Maka, saat bertemu dengan sesuatu yang nggak kuharapkan, tentu saja itu memporakporandakan emosi. 

Beberapa bulan yang lalu, aku sempat melakukan sesi konseling dan konselorku bilang, bahwa aku mudah sekali overwhelmed, karena berusaha untuk mengendalikan semuanya. Padahal, gue siapa, sih? Sok-sokan banget ingin ngatur semua-muanya ): 

Tentunya, ini akan menjadi proses belajar yang panjang, seumur hidup mungkin? Tiap kali ketemu momen di mana merasa harus bisa pegang kendali, buru-buru ngingetin diri sendiri: "lo nggak usah sok ngatur, cuma Tuhan yang mampu, jadi, serahkan semua kepada Dia."

5. Berteman (terpaksa) dengan dokter gigi 

Waktu kecil, aku takut ke dokter gigi karena... ya, benaran takut. Takut alat-alatnya, takut dokternya yang galak, takut sakit, takut nggak nyaman, pokoknya semua bikin takut! 

Beranjak dewasa, daftar takut ke dokter giginya nambah: takut bayarnya! 

Jadi, bermula sekitar beberapa bulan yang lalu, gigi sebelah kananku mendadak nyut-nyutan. Denial, dong. Ah, ini mungkin sendi rahangku yang nyeri. Punya asumsi karena di awal tahun ini, aku sempat ke dokter gigi bukan karena gigi sakit, tapi TMJ. Jadi, kupikir ini TMJ juga kali. Soalnya makan masih nyaman, tambalan gigi juga masih ada. Terus, minum obat dan suplemen, nyerinya hilang. 

Sampai suatu hari, pas lagi enak ngunyah daging.... NYESSSS.

Wadawww, kenapa, nih?? Kok sakit banget?!

Nggak bisa dibiarkan lebih lama lagi, aku pun membuat janji temu dengan dokter gigi sekaligus seorang teman. Belio adalah orang tua teman sekolah Josh, drg. Vero. Jujur aja nih, pergi menemui seorang dokter yang udah dikenal, membuatku lebih rileks (walau tensi sempat tinggi juga karena grogi), karena aku bisa buka-bukaan tentang betapa takutnya ke dokter gigi.

Singkat cerita, drg. Vero menemukan kebocoran atas tambalan gigi gerahamku setelah melakukan rontgen. Karena rasa nyeri yang nggak tertahankan saat mau coba membongkar tambalan, akhirnya belio memberi rujukan untuk ke dokter spesialis konservasi gigi (SpKG) untuk melakukan perawatan saluran akar (PSA). 

Meski sedih karena urusan pergigian ini ternyata nggak bisa selesai dalam satu hari, salah satu sisi lega juga karena I did the right thing. Entah apa jadinya kalau aku terus-terusan nenggak Ibuprofen tiap kali nyeri, tanpa dicari tahu akar masalahnya. Dalam hal ini, secara literal, akar gigiku memang butuh perawatan lebh lanjut. Demi bisa makan enak sampai tuwa, ayolah gigi, cepat sembuh, ya. Abis ini janji, kita bakal makan Korbeq! *ngunyah daging*

Hikmah dari kejadian ini: mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Anjuran ke dokter gigi 2x setahun itu bener banget, sih. Jangan tunggu sakit gigi, karena udah pasti mengeluarkan kocek lebih. Yang asuransi kesehatannya dibayarin kantor, pakailah privilege itu. Yang harus bayar sendiri kayak eike, atur budget khusus buat perawatan gigi. Anggap aja self-care kali, ya.... walau nggak senyaman pergi nyalon πŸ˜› *this is adulting*

***
Goodbye, September! I'm so much ready for Scorpio season *masih lamaaa* 

14 comments:

  1. menarik mbak ikutan les nulis, kangen juga aku daftar les kayak gini. Terakhir kali kayaknya sebelum pandemi mungkin.
    Dannn aku jadi mikir ayam goreng 8 bumbu, 8 ini apaan aku lagi mikir hahahha

    Nahh kalau soal dokter gigi, waktu aku kecil kayaknya seneng seneng aja kalau pergi ke dokter gigi, kalau mau cabut gigi mending ke dokter gigi daripada dicabut sendiri hahaha
    tapiiii pas udah gede sekarang jadi takut ke dokter gigi wkwkwk, bingung juga aku nih, padahal pengen konsul soal gigi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama dong, Mbaa. Aku terakhir kali ikutan kursus nulis online juga pas pandemi. Pengen lebih sering ikutan sih soalnya seru, nambah ilmu :D

      8 bumbu karena bumbunya 8 macam, Mba Ainun, hahahaha.

      Yaampunnn kok ada yang senang ke dokter gigi, aku kenot relate 😭 tapi untunglah kemarin ini memberanikan diri ke dokter gigi, supaya cepat beres dan bisa makan enak lagi, hahaha.

      Delete
    2. cuman herannya pas udah gede gini mbak, pengen ke dokter gigi dari bulan lalu kayak maju mundur, nyalinya ciutt :D

      Delete
  2. Waaa, Ci Jane akhirnya ketemu idolanya lewat kelas online 🀣. Gimana rasanya waktu sesi beliau di kelas, Ci? πŸ˜†. Ini agak OOT, tapi aku dulu pertama kali ketemu blog Cici dari blognya Kak Laila ini lhoo!! dan melihat Cici masih menyukai beliau sampai saat ini dan bisa ikutan kelas yang ada sesi beliau, aku ikutan senang πŸ₯Ί. Jadiii, aku bolehkah bertanya kapan tulisan fiksi terbaru Cici akan tayang? πŸ˜†

    Ngomong-ngomong kelas online, di tahun ini aku juga beberapa kali ikutan kelas online journaling, Ci πŸ˜†. Pengin dapat pengetahuan baru tentang journaling dari yang udah lebih senior, jadi waktu imgriss buka kelas online, aku ikutan kelasnya yang ternyata pilihan yang tepat!!

    AKU MENUNGGU REELS BARU CICI!! Sebagai pecinta konten daily life, aku senang sekali melihat Cici (akhirnya) merilis reels πŸ˜†. Ayo semangat bikin reelsnya, Ci Jane!!

    Btw, aku tuh sampai sekarang juga selalu nervous kalau ke dokter gigi 😭. Entah kenapa hawa klinik dokter gigi tuh bikin jantung meleyot jatuh ke perut, dan makin dekat dengan dokternya makin nervous wkwk. Kayak bakalan disiksa abis-abisan padahal mah dokternya kan mau nolongin kita ya 🀣. Cuma entah kenapa emang menyeramkan sih wkwk. Semoga cepat selesai proses perawatan akarnya ya, Ci! Butuh bolak-balik berapa kali? Orangtuaku beberapa saat lalu juga butuh perawatan akar dan kayaknya bolak-balik lebih dari 6x πŸ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. LIII, ENAM KALI BANGET??? *nangesss*

      Akutu nargetin diri sendiri maksimal 4x balik, lebih sedikit lebih baik. Semoga cepat beres aja dan gigi ini bisa dipakai untuk makan enak lagi, huhu.

      Ah, aku ingat lhoo cerita kamu nemu blog ini dari blognya belio, hihi. Ternyata jodoh pertemanan kita nggak jauh-jauh, yak XD. Sebetulnya pertama kali "ketemu" Kak Laila tuh malah kelas Zumbanya era pandemi, baru kali ini ikutan kelas nulisnya, hihi. Tentu saja aku starstruck, tapi mencoba keep calm, wkwkwk.

      Delete
    2. IYA ENAM KALI BANGET CII πŸ₯². Semoga Ci Jane bisa less than 4x bolak-balik ya dan semoga cepat sehat kembali giginya!

      AAA terharu banget Cici masih ingat ceritaku itu πŸ˜­πŸ™πŸ». Wkwk kebayang betapa starstrucknya waktu lihat Kak Laila meski dari layar aja 🀣.

      Delete
  3. Ciii urusan pergigian ini sumpah...capek. T_____T Aku dari kecil udah sering ke dokter gigi, terus bertahun-tahun baik-baik saja, eh...akhir-akhir ini kok kayaknya mulai muncul lagi permasalahn. Apakah gara-gara makin tuwir maka gigi juga pelan-pelan bertambah masalahnya? Hzzz. -_____- Yaudahlahya dihadapi saja, kalo ada yang berlubang ya ditambal. *pasrah*

    Syuting buat reels yang hanya sekian menit tuh bisa berjam-jam gak sih Ci, wkwkwkwk. Pernah mau ngontenin mamak masak tapi berakhir nggak jadi soalnya aku capek nyutingnya. xD Selain reels Ci Jane, konten masak yang pendek-pendek gitu yang pernah aku tonton kayaknya cuma punya Suhay Salim.

    Iiih iyaaa nyetir di rute yang nggak pernah kita lewatin tuh rasanya deg-degan BANGET! Kalo udah terlewati rasanya legaaa. Aku takutnya itu kalo salah jalan terus suruh puter balik tapi jalannya sempit. xD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Denger-denger emang cewek tuh paling banyak bermasalah di kesehatan gigi dan tulang, apalagi yang udah pernah melahirkan yaa, makin keropos gitu lho. Salahnya aku nggak minum suplemen kalsium, padahal wajibbb. Karena masalah gigi ini bener-bener muncul saat aku udah jadi ibu, belom lagi belakangan sendi suka rewel, hikss.

      Loh, Suhay Salim ada konten masak juga? Belio tuh content creator beauty kan, ya?

      Ya, kannnn. Hadoh ya salam ketemu jalan sempit, (untung) belom ketemu, sih, kalau bisa jangan yaa wkwkwk

      Delete
    2. Eh, lupa jawab. Nggak berjam-jam kok, Ndah. Kayaknya paling lama sejam aja, deh. Akutu sengaja cari resep yang nggak susah-susah, jadi take videonya nggak banyak, hahaha. Karena selain syuting, editnya pun juga PR banget. Tapi sekarang banyak aplikasi editor yang gampang dipake, sih, yaa. Jadi mayan ketolong, hihi.

      Delete
  4. Asiiiiiik ada tulisan baru dari Jane πŸ˜„πŸ‘.

    Aku tuh lagi vacum IG Jane, nth kenapa lagi ngerasa ilang kenyamanan di situ. Makanya uninstall dulu. Tapi jadi pengen liat reels masakmu πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„.

    Untung di reels, jadi ntr aku bisa cek kalo urh mutusin untuk main IG lagi . Skr ini aku fokus di blog, dan FB. Kayaknya memang FB itu LBH cocok buatku, Krn bloggers masih rame di sana. Sementara IG memang cendrung utk konten kreator video , yg mana aku ga main di situ 🀣.

    Untuuung kamu cepet ke drg utk cek. Aku pun takuuuut Ama dokter gigi, apalagi dr kecil udh rutin ke sana utk perawatan. Dr kls 3 SD Ampe 1 SMU. Tiap Minggu pasti ketemu drg. Krn gigiku ancuuur parah dulu.

    Dah ngerasain macam2 sakitnya, sampe dicabut pake tang khusus yg gedenya bikin ngilu hahahaha.

    Dan baru2 ini mba trinity traveler cerita di stories FB dan IG jug mungkin, kalo temennya ada yg meninggal hanya Krn sakit gigi yg terlambat diobati. Jadi bakterinya udh menyebar dan masuk ke tubuh. Akibatnya komplikasi kemana2. Sereeem Jane 😭. Jadi aku ga mau sepelein sakit gigi.

    Untungnya memang dicover Ama perusahaan Raka buat perawatan gigi sekeluarga. Tapi ga guede2 banget juga. Jadi diusahain jangan sering sakit hahahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Syukurlah Mba Fanny sehat-sehat aja. Nah, emang kayaknya tuh medsosnya para blogger lebih banyak main FB, ya. Di Twitter (atau X? apalah itu, wkwkwk) juga banyak, sih, tapi akupun udah lama nggak main, hahaha. Justru karena IG ramenya video, jadi penasaran pengen coba bikin reels, Mba. Eh, iseng-iseng malah ketagihan, wkwkwk.

      Dulu kondisi giginya kenapa, Mba, kalau boleh tahu? Nah itu dia deh horornya. Sakit gigi malah jadi merembet ke mana-mana 😭 Jadi inget, papaku tuh punya sakit jantung kan, jadi ke dokter gigi pun nggak boleh sembarangan, kudu ke spesialis gitu. Aku jadi agak rewel ke kesehatan gigi anak-anak, biar nggak usah repot kayak emaknya, hahaha.

      Delete
    2. Gigiku dulu susunannya berantakan, ada yg maju, ada yg jarang, ada yg numpuk. Jadi solusinya pake behel. Di zaman behel blm banyak yg pakai, aku udh pake pas kls 3 SD 🀣🀣. Tapi ga bisa LGS pake behel. Krn gigi yg saling numpuk hrs dicabutin 1-1. Dan ga sekaligus.

      Begitu gigi yg hrs dicabut udah selesai diambilin semua, baru deh pake behel yg lepas pasang , blm yg permanent. Itu risih, Krn nempel di lamgit2. Aku jadi cadel kalo ngomong 🀣🀣.

      Pas kls 5 SD, baru pake behel permanent. Hrs pasang di JKT Krn dokternya di sana. Aku msh di Aceh waktu itu.

      SMU, lepas permanent, pake lagi yg lepas pasang, jadi memang ga dilepas langsung gitu aja. Ada adaptasinya. Tapi setelah lepas, ya ampuuun berasa dari bebek buruk rupa jadi angsa sih πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. Gigi jauuh LBH rapi.

      Tapi ninggalin trauma ke aku, saking inget sakitnya dan segala macam 😡‍πŸ’«. Makanya aku selalu serem kalo ke dokter gigi πŸ˜”

      Delete
  5. ci Janeeee, keceee bangeet bulan lalu produktifnyaa di berbagai hal. Btw cii kalo cici uda setahun bisa nyetir, berarti satu tahun yg lalu aku bilang ke cici kalau mau lancarin nyetir. Sampai hari ini pun satu kali belum aku lakukaaan. Astagaa entah kenapa dorongan untuk ngelancarin nyetir itu super duper gaa ada. Padahal benar kata cici jadi lebih berdaya dan bisa cepat kalo butuh apa-apa. Ga perlu juga untuk ketergantungan sama orang lain. Mama mertua cici kereen bgt bisa nyetir, duuhh berasa malu sama diri sendiri masih lebih muda tapi malah ga bisa. Padahal nyetir menjadi salah satu skill yg setidaknya perempuan jg bisa lakuin.

    Semoga semoga dan semoga aku bisa kaya cici semakin lancar nyetir dan semakin semangat untuk belajarnyaa.

    Ciii di tunggu yaa video-video lainnya. Sukaa dehh vibes video cici dan ikutan ngiler pengen cobain ayam gorengnyaa ituuu.

    Tahun lalu aku pun beberapa kali ke dokter gigi setelah sekian tahun ga pernah kesana. Gara-gara gigi bungsu aku semakin nyeri dan alhasil langsung di cabut dua. Untungnya posisinya di kiri atas dan bawah. Jadi aku masih bisa makan di bagian yg kanan, walaupun masih aga susah. Alhasil aku sempat diare beberapa hari karena ga bisa makan dan cuma masuk kaya bubur, susu, atau jus. Untungnya setelah cabut benang, mulai bisa makan perlahan walaupun masih ada ngilu. Belum lagi ada gigi lainnya yg perlu di tambal karena sudah bolong. Sekarang aku jadi peduli sama kesehatan gigi karena pas sekali ke dokter astaga biayanyaa sungguh waaahhh. Ini ada gigi lainnya yg perlu di tambal sepertinya akan aku segerakan ke dokter gigi sebelum makin parah. Semangaat cii semogaa cepat pulih giginyaa.

    ReplyDelete
  6. Waah keren les menulis. Pasti seru yach mba JaneπŸ˜€ Testimoni nya dong setelah ikut les nulis kira-kira banyak perubahan nggak saat mau menulis artikel/pos (kyknya butuh juga nih) πŸ˜‚

    ReplyDelete