Diary of The Week #13: Melewati Nyepi 2018 tanpa internet, emang bisa?

Tuesday, March 20, 2018


Sejak pindah ke Bali tahun 2013, aku selalu penasaran dengan hari raya umat Hindu, yaitu Nyepi. 

Katanya, Nyepi itu dilewati dengan suasana yang benar-benar sepi dan nggak boleh keluar rumah. Satu pulau Bali akan gelap gulita dan umat Hindu diwajibkan untuk berdoa secara khusyuk di kediaman masing-masing. 

Tibalah kesempatan di mana aku bisa melewati Nyepi untuk pertama kalinya. Norak banget rasanya gelap-gelapan di dalam rumah. Setiap jendela atau pintu rumah yang memancarkan cahaya, kami tutup dengan koran atau kardus, supaya kalau kami menyalakan lampu nggak terlihat dari luar rumah. Soalnya, kalau sampai ketahuan menyalakan lampu, pecalang (polisi adat Bali) yang kebetulan sedang bertugas di depan rumah akan meminta kita untuk mematikan lampu. 

Edisi Mudik 2018 #1: A Thankful List

Sunday, March 11, 2018

 Pemandangan sebelum sunset di ujung gang rumah

Halo! Apa kabar kalian?

Nggak update blog maupun blogwalking selama seminggu, kayaknya ada yang hilang, deh. Merasa berhutang cerita ke kalian juga para pembaca blog ini. Padahal yang baca nggak banyak tapi sok dicariin, hahahaha. Bukan bermaksud geer, but I know some of you actually read this blog. So, terima kasih, ya (:

Sebenarnya banyak unfinished drafts yang nunggu di-post, tapi dua minggu belakangan ini rasanya mau duduk buka laptop untuk nulis aja kok nggak ada waktunya. Puji Tuhan, hari ini bisa 'nafas' sejenak, dan mumpung si bocah lagi asyik sama Kungkungnya, so I'm writing this blog post.

Aku belum sempat cerita banyak tentang edisi mudik (yang diperpanjang) kali ini. Banyak yang pengen diceritain, tapi saking banyaknya malah bingung gimana menyampaikannya.

Maka dari itu, aku rangkum aja semuanya dalam format Thankful List.

Eat in Bali (halal): Bebek Goreng H Slamet (Spesial Sambal Korek)

Tuesday, February 27, 2018


Pulang gereja hari Minggu yang lalu, aku dan Mama keliling cari restoran yang belum pernah dicoba untuk makan siang. Pengennya memang di sekitar Jalan Dewi Sri aja, supaya Papa dan adeku yang masih di gereja bisa nyusul dengan jalan kaki. 

Setelah dua kali puteran, akhirnya kami parkir di depan restoran Bebek Goreng H Slamet. Selain emang suka makan bebek, ternyata si Mama kepincut dengan interior tampak luar restoran ini. Setahuku, restoran bebek goreng franchise ini, biasa tempatnya sederhana. Tapi kok ini lucu, ya. Macam rumah lama peranakan gitu.