Menerapkan Gaya Hidup Hygge di Negara Tropis

Monday, January 21, 2019


Beberapa hari ini aku baru aja selesai baca sebuah buku berjudul The Little Book of Hygge. Udah lama banget buku ini nangkring di daftar buku yang ingin aku baca. Tiap kali mau pinjam di Bookabuku, pasti lagi nggak tersedia. Baru di awal bulan ini akhirnya kesampaian juga untuk baca.

Sebelum lebih lanjut, blog post hari ini bukan review bukunya, ya. Soalnya akhir bulan nanti ada postingan khusus untuk review buku yang dibaca selama sebulan ini. Sesuai judul, aku mendedikasikan postingan ini untuk sharing apa yang aku pelajari dari gaya hidup masyarakat Denmark dan gimana caranya untuk diterapkan dalam budaya negara kita sendiri.

Apa itu Hygge? 



Buat yang belum baca bukunya atau nggak familiar sama sekali dengan istilah ini, first of all, cara bacanya adalah "hoo-gah". Hygge adalah sebuah istilah dari bahasa Denmark yang mendefinisikan sebuah perasaan (feeling) yang nyaman, aman dan menyenangkan, di mana sebuah perasaan yang biasa kita rasakan kalo lagi ngumpul sama keluarga atau teman, lagi me-time di coffee shop atau nonton serial drama sambil ngemil dan selimutan di atas ranjang. Ngomongin soal coffee shop, buat pecinta kopi atau yang hobi nongkrong di Starbucks, pasti familiar dengan suasana kafe mereka yang remang-remang, alunan musik jazz yang bikin zen, wangi biji kopi dan pastry yang baru dipanasin di oven. Kira-kira begitulah definisi dari hygge. 

Meski diartikan sebagai konsep yang abstrak, hygge tetap bisa dinikmati dengan kelima indera manusia. Hygge can be tasted, smelled, heard, touched and seen. Poin ini akan dibahas lebih lanjut di poin berikutnya, ya. 

Hygge adalah sebuah gaya hidup yang udah dijalani orang Denmark selama bertahun-tahun. Waktu baca bukunya, sekilas hygge ini terkesan gaya hidup mewah. Aku pun pernah nggak sengaja baca komentar dari orang Indonesia yang udah baca buku ini pun setuju kalo hygge seperti menjunjung gaya hidup maksimalis. Coba kalian search #hyggelifestyle di Instagram, muncul ratusan ribu foto-foto yang identik dengan musim gugur atau dingin, salju, rumah ala-ala scandinavian, wine, makanan enak, aromatherapy candles dll. Yes, hygge usually associate with those 'fancy' and winter-related things. Tapiii, hygge itu bisa lho dicapai dengan budget minimal dan nggak perlu terbang sampai ke Eropa jugaa, sih. 

Kalo gitu, gimana caranya menerapkan hygge di negara tropis? 

Di Denmark sendiri, hygge bisa diterapkan saat musim panas lho, bahkan sepanjang tahun. 

Karena hygge selalu berhubungan dengan hal-hal yang bikin kita nyaman, hal pertama yang harus dilakukan adalah find your most comfortable place, alias harus cari tempat pewe (posisi wenak... just in case kalo yang lupa kepanjangannya). 

Tempat pewe di mana? Di mana aja. Boleh di rumah, di kamar tidur, coffee shop favorit atau bahkan di outdoor sekalipun. Kuncinya, kita harus nyaman dulu. 

Dua hal penting tentang hygge: togetherness and being present

Meski kita tinggal di negara yang hanya punya dua musim sepanjang tahun, musim kemarau dan musim hujan, asalkan kita (masih) bisa menghabiskan waktu bareng orang-orang terdekat dan benar-benar menikmati momen tersebut, we can achieve a hygge lifestyle

Kalo lagi liburan ke Bali, kita bisa berjemur sambil baca buku atau melihat pemandangan sunset di pantai. Kalo lagi main ke Bandung, kita bisa ke daerah Lembang untuk ngerasain cuaca yang lebih adem dan dingin sambil minum sekoteng (ini ngebayanginnya aja udah hygge lho hahaha). Balik lagi ke definisi awal hygge, it's all about comfortable feeling.

Baca bukunya sambil ngopi = hyggeligt!

Sekarang ini aku memang udah tinggal di Bogor, di mana kota ini lebih kecil dan kondisi jalanannya nggak semerawut di Jakarta (kecuali pas weekend). Cuacanya pun masih lebih sejuk, apalagi sekarang udah masuk musim hujan lagi, cuaca yang bikin mager tiap bangun pagi. Menerapkan gaya hidup hygge di Bogor pun nggak susah-susah banget.

Terus, gimana untuk yang tinggalnya di ibu kota atau di kota-kota besar lainnya, yang notabene kehidupannya lebih hectic? Memungkinkan untuk mempraktikkan hygge lifestyle nggak, sih?

Jawabannya adalah... mungkin banget! Bahkan harus bisa untuk mencoba gaya hidup hygge.

Masih inget ya soal hygge bisa dinikmati dengan kelima pancera indera kita. Dalam bukunya, penulis menyebutkan ini sebagai five dimensions of hygge. Berdasarkan dengan definisi ini, aku coba bikin daftar hygge versiku sendiri, supaya kalian lebih mudeng dengan konsep gaya hidup ini.

1. The taste of hygge. 
Soal makanan, rumusnya hygge itu gampil banget. Makanan seperti sayuran, it's not hygge. Makanan seperti cakes, donat, cokelat, bahkan mie instan itu termasuk hygge banget. Pokoknya semua jenis makanan yang masuk golongan comfort food versi kalian.

Seru, kan? Kapan lagi coba kita didukung banget untuk makan beginian. Kok nggak sehat? Iya, nggak sehat kalo dilakukan terus-terusan. Di dalam bukunya pun kita dianjurkan untuk membatasi mengkonsumsi makanan seperti yang disebutkan di atas. Terlalu sering pun akhirnya bikin badan kita nggak enak. Badan sakit = tidak hygge. So, be mindful. 

Buatku sendiri, indomie goreng selalu menjadi comfort food. Jangan lupa tambahin telor ceplok dan sambel terasi. Hygge level langsung naik drastis deh. Apalagi makannya sambil nonton serial favorit dan ditemenin hujan. Parah. Nyaman banget.

Kamu nggak pernah mengecewakan (':

2. The sound of hygge. 
Aslinya, sih, konsep suara yang hygge itu digambarkan seperti mendengar suara percikan api dan kayu dari dalam perapian. Karena di sana, kan, di setiap rumah pasti ada fireplace supaya tetep hangat di musim dingin. Kayak apa, sih, suaranya? Nih, coba dengerin ini.

People actually enjoy this kind of sound lho

Kalo kita di sini nggak mungkin dong ya bakar-bakaran di rumah. Cara paling gampang yang bisa dilakukan adalah denger lagu, make your own playlist. Situs music streaming seperti Spotify punya banyaaaak banget playlist yang bisa dipilih untuk nemenin aktifitas kalian, bahkan ada playlist dibuat berdasarkan mood. Favoritku adalah Late Night Jazz, Jazz Vibes dan Relax & Unwind. Ketika playlist selalu sukses untuk nemenin me-time atau sekedar lagi beraktifitas santai. 

3. The smell of hygge
Pernah nggak suatu kali kalian mencium bau sesuatu, terus tiba-tiba bau tersebut membawa kalian ke suatu momen? Misalnya, nyium wangi masakan di restoran jadi keinget masakan khas oma dulu. Nyium bau tumpukan buku yang udah lama disimpen di dalam kardus, jadi keinget rumah orangtua. Atau yang paling random nih, aku suka banget kalo masuk ke mall semacam PI, ada bau khas kayak parfum gitu dan bau tersebut membuatku seolah-olah lagi di luar negeri. Ada yang samaan gak, sih? Tapi enak gitu lho baunya. Danes people agree that kind of smells are hygge-like. 

Hygge smells itu nggak melulu harus wangi dari aroma theraphy atau essentials oils. Ya, gapapa juga sih kalo emang suka, karena wanginya memang enak. Wangi minyak telon aja enak lho. Sebelum punya bayi, aku tuh hampir lupa sama wangi minyak telon dan bedak bayi. Makanya sampai sekarang aku paling suka nyiumin Josh kalau dia habis mandi. Wanginya segerrrr dan nggak berlebihan.  

4. What does hygge feel like (touched)
Selain bisa dirasakan (dari dalam hati), hygge juga bisa disentuh dari benda-benda yang ada di sekitar kita. Menurut isi buku, barang-barang hasil kerajinan tangan, material seperti rotan, kayu, keramik itu semua masuk kategori hyggeligt. Ini bikin aku ngeh kenapa kebanyakan orang di Instagram suka banget pake benda (khususnya peralatan makan dan perabotan rumah) yang berbahan kayu atau rotan. Kebanyakan coffee shop sekarang juga lebih suka memakai gelas keramik berbahan dasar tanah liat daripada porselen. Mungkin selain terlihat lebih instagrammable, aslinya emang cantik juga, sih.

Kimbab ditaruh di atas piring kayu gini beda banget kan feel-nya
Photo by Adelya (sst, rumahnya Mba Adel tuh hygge banget!)

Selain material benda yang kusebutkan di atas, bahan pakaian yang lembut atau boneka sekali pun itu juga bikin nyaman banget nggak, sih? Makanya kalo tidur, aku lebih suka pake kaos belel karena itu bikin nyaman dan di kulit juga nggak terlalu kasar. 

5. Seeing hygge
Dimensi terakhir dari hygge adalah seeing atau melihat. Apa yang musti dilihat supaya hygge? Biasanya hal-hal yang bergerak lambat (slow movement) seperti hujan atau turun salju adalah salah satu dari bentuk hygge yang bisa dilihat oleh mata. Pemandangan macet tentu saja bukan termasuk kategori. Pemandangan gedung-gedung tinggi di ibu kota saat malam hari, itu termasuk hygge nggak, sih? Tergantung. Buatku sendiri, aku suka banget. Jakarta terlihat lebih cakep gitu lho. 

***
Masih belum terlalu ngeh dengan konsep hygge ini? Tenanggg. Stay tune untuk review bukunya, ya. Dan masih ada beberapa ide untuk nulis tentang hygge ini, karena aku suka banget dengan bukunya dan konsep gaya hidup ini. Menarik untuk dibahas. 

Ada yang udah pernah baca bukunya? Atau belum pernah baca tapi udah familiar dengan gaya hidup hygge ini? Share your thoughts below on the comment section! (:

13 comments:

  1. Baca artikel ini berarti secara nggak sadar ada rutinitas yang saya lakukan dan bisa dibilang itu gaya hidup hygge. Kayak makan coklat, cake dengan aneka hiasan, ngelihat rintik hujan di balik jendela, mencium aroma lavender disaat udah spanneng, hahaha. Menarik banget konsepnya. Membawa kedamaian dan juga kebahagiaan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul. Jadi yang emang sering kita lakukan atau rasakan ternyata ada istilah kerennya ya hahaha :D

      Delete
  2. indomie goreng itu sukses bikin perut keroncongan hahahaha...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apalagi makannya pas lagi hujan, terus cuacanya dingin-dingin ya cii *ikut keroncongan*

      Delete
  3. Hygge ini ya beneran yang lu bilang dari awal itu, pewe! Udah comfortable sama segala indra yang kita punya, dan perasaan secure jg kali ya. Kayaknya hygge itu gak akan tercapai kalau ada insecurity.

    ReplyDelete
  4. Nah bener ci. Di bukunya sekilas ada bahas soal itu. Pokoknya hygge itu perasaan yang positif sih, jadi memang hal-hal yang bikin kita nyaman dan aman (:

    ReplyDelete
  5. Hygee bagiku sama kayak Cici makan Indomie pake telur hehehe sangat simpel tapi bikin bahagia luar dalam :)

    ReplyDelete
  6. Kalo gak baca tulisan ini sampai habis, Hygge saya kira adalah nama tanaman. Hahahaha.. owh.. ternyata salah satu gaya hidup 😬 . Tapi seru banget sih. Saya nyaman kalo pas gak dapet ide gambar (sok-sokan) ke Coffeeshop gitu. Pesen latte sama cakes sambil merhatiin lalu lalang orang. Pas pulang suka muncul ide, mungkin karena tenang dan nyaman. Meski gak nyaman dikantong 🤣🤣🤣

    ReplyDelete
  7. Kebetulan lagi baca parenting Denmark juga sih kak jadi tau ada yg gini juga. Tfs lho

    ReplyDelete
  8. Jadi selama ini... semua selera saya adalah termasuk gaya hidup hygge :D dan baru ngeh juga kalau gaya hidup ini semacam maksimalis. Sebelum tau istilah hygge ini, saya lebih suka menyebut 'ala skandinavian' atau 'comfort feel' gitu. Dan ternyata bisa dilakukan di daerah tropis macam Indonesia ya :) thanks Mba, ditunggu review bukunya. Ini menarik banget untuk diulas

    ReplyDelete
  9. Baru tau tentang gaya hidup hygge ini. Ternyata bisa jg diterapkan di Indonesia dgn budget minimalis ya mbak. Makasih sharing nya mbak. Salam, muthihauradotcom

    ReplyDelete
  10. wooooghhh....
    mi goreng pake telor itu menggoda imron.
    baru tau ada gaya hidup hygge. hihhihi

    ReplyDelete
  11. Cara idup hygge ini bikin aku merasa kuat dan damai aja mba ngejalani mommylife yg serba-serbaaaaa rempong ini. Wkwkw.

    ReplyDelete

Thank you for reading and dropping your comments, it means a lot to me. All comments are moderated and I will try to reply to each comment daily, so please check back. Nice to chat with you!