What I Learned This Year (2017)

Thursday, December 28, 2017


Terinspirasi dari blog post di Cup of Jo, aku mau share tentang hal-hal apa aja yang sudah dipelajari selama setahun ini.

Rules-nya simpel aja: tulis semua yang kamu pelajari setahun ini, baik itu hal yang besar atau kecil, yang bikin hepi atau sedih, lucu atau aneh.

Siap-siap bakal panjaaaang, ya. Grab your snacks and drinks, let's get started!

 1. Josh's MPASI journey and dealing with his eating behavior

Satu kata... dua kata, deh, untuk mewakili perjalanan ini: lelah dan pasrah.

Lelah, khususnya waktu Josh di usia 7-9 bulan. Ampun makkk, rasanya aku pengen naik wahana kora-kora ajalah daripada masak dan nyuapin anak makan. Seperti yang sering aku cerita sebelumnya, yang namanya GTM, ngemut, musuhan sama sendok, nyuapin sampai 1 jam sambil keliling rumah, semua (puji syukurrrr) sudah dilewati.

Pasrah, adalah pilihan yang aku ambil sampai hari ini. Bukan pasrah yang, yaudah anak nggak mau makan bodo amat. Bukan, ya. Aku bukan emak tiri. Tapi lebih ke yang woles aja lah. Masuk beberapa suap, wis, nggak akan kupaksa makan lagi. Kalau udah 30 menit, aku akan menyudahi sesi makan. Apalagi sekarang Josh udah lebih longgar pilihan makanannya, selain makan berat aku juga selingi cemilan atau susu.

Per hari ini, aku mengambil kesimpulan kalau Josh memang picky eater. Like what I said before, Josh agak milih beberapa macam makanan dari setiap kelompok karbo, protein, sayur/buah dan susu. Dia nggak makan nasi, tapi doyan mie. Dia nggak begitu suka telur, tapi doyan tahu (anehnya chawanmushi dia lahap banget, hihi). Nggak begitu doyan sayur ijo, tapi mau makan wortel atau jamur. Di samping itu, kemajuan Josh dalam hal makan udah oke banget kok. Dia udah bisa makan sendiri walaupun masih pake tangan. Pake sendok bisa, tapi harus di-guide.

Sampai sekarang, aku nggak tahu lho dia tuh kalau lagi lapar gimana. Minta makan pun nggak. Aku pernah tanya ke Andreas, ini anak stok makanannya disimpen di mana, sih? Kok nggak pernah lapar?!

 Semangat terus makannya, ya, Nak'ku

Pada akhirnya, Josh begini bisa dibilang gara-gara aku juga, sih. Mungkin waktu awal MPASI, aku nggak begitu lancar dan telaten dalam persiapannya. Maklum, deh, ibu baru. Tiap kali flashback, ada sedikit penyesalan kenapa dulu nggak begini nggak begitu. Oh well, semoga tahun depan lebih semangat lagi terjun ke dapur masakin untuk keluarga. Kayaknya pengen meal planning aja, deh. Biar nggak mabok mikirin "mau masak apa" tiap hari.

2. Communicate better with dear hubby

Siapa bilang habis nikah komunikasi semakin gampang? Realitanya, kami sering mengalami kesulitan komunikasi.

Aku dan Andreas sering banget salah paham gara-gara masing-masing dari kami merasa "apa yang gue ucapin benar kok, lo-nya aja nggak paham". Skenarionya selalu diantara kami bermaksud A, yang satunya mudengnya B, begitu juga sebaliknya. Atau bisa juga gara-gara konsep pemikiran kami pada suatu hal misalnya berbeda. Kalau sama-sama nggak 'konek', ya akhirnya berantem. Komunikasi kami sebelumnya, kalau diibaratkan kayak gini: aku masih pake internet ala jaman dulu yang harus dial 0809-8-9999, sedangkan suami udah pake Speedy. Ya, lemot banget lah. Susah banget, kan, koneknya.

Untung kami berdua sadar, sih, dengan kelemahan ini. Buru-buru kami koreksi dan saling sepakat untuk belajar biar komunikasinya terus nyambung. Soalnya suka sedih, kalau dengan suami/istri sendiri nggak bisa saling komunikasi, harus cerita uneg-uneg ke siapa lagi, kan.

Jadi memang betul, ya. Komunikasi adalah koentji dari hubungan pasutri yang sehat. Doakan kami tahun depan harus semakin oke, ya. 

3. Losing someone you loved (and dealing with grief).

Early this year, we decided to visit Popo more often every single week. And on the same year, we lost her.


Sudah 4 bulan semenjak Popo pergi meninggalkan kami, dan selama itu juga aku masih kangen beliau setiap hari. Apalagi kalau setiap hari Minggu kebetulan mampir ke rumah sodara yang sekomplek dengan rumah Popo dulu, rasanya hati masih agak "sesak" karena nggak bisa lagi main ke sana.

Aku selalu mengira Popo bakal hidup at least sampai usia 80 tahun. Secara Popo sehat banget kok. Masih janggal buatku, tiba-tiba Popo bisa stroke dan pergi gitu aja setelah tiga hari di rumah sakit. Ini yang dinamakan umur manusia nggak ada yang tahu, ya. Tuhan bisa pakai cara apa aja untuk menjemput umat kesayangan-Nya. And I'm glad He chose this way, di mana Popo nggak perlu menderita. Popo meninggal dengan kondisi tidur nyenyak.

Mengalami rasa duka kembali rasanya campur aduk banget. Pertama kalinya aku 'belajar' berduka, waktu Akong meninggal di tahun 2009. Saat itu, aku baru aja sampai di Guang Zhou dan lagi homesick-homesick nya. Aku nggak paham gimana caranya mengatasi rasa duka. Just like normal people do, aku hanya bisa nangis sepuas-puasnya. Dan cara yang sama aku lakukan waktu Popo meninggal.

Menurutku, mengalami rasa duka bikin hidup jadi lebih balance. Ya, nggak berarti aku menyarankan kalian untuk sengaja berduka atau gimana. Momen ini mengingatkan kalau hidup nggak hanya senang-senang aja. Problems, broken heart, bahkan rasa duka itu harus kita lewati juga.

Bersyukur banget, waktu melewati masa duka kami dikelilingi orang-orang yang sangat supportive dan menguatkan. Khususnya waktu kami sekeluarga menunggu detik-detik Popo menghembuskan nafas terakhirnya (saat itu alat bantu medis sudah dilepaskan), beberapa sahabat dari orangtua dan kerabat lainnya, datang ke rumah sakit untuk menemani. My dear best friend was there too for us. Mereka nggak ngomong apapun, hanya memberikan waktu dan pelukan untuk kami saat akhirnya kami berpisah dengan Popo di hari itu.

So, thank you, God for this lesson. I was so sad and upset when You took Popo from us, but I'm also feeling thankful because I know Popo would be happier up there and I was able to learn to be more stronger than before. Please tell Popo that I miss her so much!

4. Akhirnya bikin kimbap/sushi rolls! 
 
Nah, kali ini nggak serius-serius amat, ya. Tiga topik sebelumnya bikin tegang, yeee.

Jadi ceritanya, aku udah lamaaaa banget beli sushi mat (makisu) waktu hanimun ke Jepang dua tahun lalu. Bukannya langsung eksperimen, malah dianggurin di lemari dapur selama 2 tahun LOL.

Waktu lagi nonton cara bikin kimbap di Youtube, spontanitas aja gitu pengen coba bikin. Harusnya bikin sushi ya, yang ada malah bikin kimbap, hahahaha. Ya, mirip-mirip, lah.

Ternyata bikin kimbap itu susah-susah gampang, ya. Entah karena pake nasi putih biasa atau gimana, pas mau dipotong malah agak messy, nasinya nempel-nempel di pisau. Harus pakai nasi jepang atau gimana, yak? Saran dongg yang udah sering bikin.

5. Belajar bikin kopi enak di rumah (kemudian iseng-iseng dijadiin usaha)

Beberapa waktu yang lalu, akhirnya aku punya coffeemaker selain vietnam drip, yaitu french press. Iya, french press doang nih, belum kebeli mesin espresso beneran. Tapi seneng banget lho. Modal alat bikin kopi satu ini aja bisa menghasilkan kopi yang enak-enak. Salah satunya, aku coba untuk bikin yang hits setahun belakangan ini, #KopiSusuKekinian.

Setelah ngulik internet dan survey ke kedai-kedai kopi lainnya, aku coba ngeracik pake resep sendiri di rumah. Eh, hasilnya lumayan banget. Rasanya hepi banget ternyata aku bisa juga bikin kopi ala-ala *sombong ceritanya*. Awalnya, aku nikmati sendiri tuh tiap hari di rumah. Tapi kalau yang enak hanya dinikmati sendiri kok sayang, yah. Iseng nanya suami, gimana kalau coba dijual botolan secara online. Di Bogor yang jual fresh brewed iced coffee gini masih dihitung jari, kalau di Jakarta, kan, udah menjamur banget. Suami kasih lampu ijo, tapi dengan syarat kalau mau diseriusin jangan setengah-setengah ngerjainnya. Aku bilang, ini masih project iseng, sih. Belum yang pengen diseriusin gimana banget.

Akhirnya, aku coba jualin dulu ke teman-teman dekat dan keluarga. Puji Tuhan, respon mereka positif. Aku dapet banyak saran dan kritik. Sayangnya, karena modal bikin kopi ini minim banget dan aku sendiri handle jualan online lainnya, bisnis kopi ini nggak kepegang. Ini aja lagi vakum nggak terima order.

 Kenalin ini @kopiroemahan

Mudah-mudahan, sih, tahun depan bisa dimulai lagi. Plus, aku pengen sambilan belajar kopi lagi biar makin mantappp.

***
Gimana cerita 2017 kalian? I dare you to share some stories too in your blog! Kalau yang nggak punya blog, boleh kok cerita-cerita di sini. Aku seneng kalau bisa baca cerita dari orang lain. Bisa saling belajar juga, kan (:

Ini postingan terakhir di tahun 2017. So, sampai ketemu di postingan baru tahun 2018, ya!

Stay awesome!

No comments:

Post a Comment

Thank you for reading and commenting here. All comments are moderated and I'll reply to your comments daily, so please check back. Nice to chat with you (: