Ep. 8: My Reading Journey

Wednesday, June 30, 2021


Setiap individu pasti punya alasan kenapa suka atau memutuskan untuk membaca buku.

Kalau Namjoon BTS suka baca karena sejak kecil ibunya suka mengajaknya ke perpustakaan, aku sendiri nggak pernah dikenalkan secara sengaja oleh orangtuaku pada kegiatan membaca. Mereka nggak yang "Ini lho buku, baca yuks". Bahkan rutinitas baca buku bareng sebelum tidur gitu pun nggak ada. Lebih sering movie night kayaknya πŸ˜‚

Kebetulan papaku memang suka baca. Di rumah ada banyak buku-buku yang tersimpan di kamar papa. Selain buku, papa juga baca koran setiap hari. Siapa di sini yang dulu orangtuanya langganan koran di rumah? Yang korannya digulung terus dilempar ke dalam rumah. 

Melihat kebiasaan papa tersebut, mungkin rasa penasaranku untuk membaca mulai timbul dan terus tumbuh dengan sendirinya as I'm growing up. Bisa dibilang aku cukup beruntung karena ada "contoh" yang bisa memperkenalkanku untuk mulai baca. 

Namun, bacaan pertamaku justru bukan dari buku lho. Melainkan dari majalah dan tabloid anak-anak seperti Bobo, Ina dan Fantasi. Dilanjutkan dengan komik-komik ringan seperti Doraemon dan Kobo Chan. 

Terus, kapan dong mulai baca buku "beneran"-nya?

Mungkin ini terdengar klise, tapi aku termasuk golongan anak-anak yang mulai mencoba baca buku karena demam Harry Potter. Untung banget orangtuaku nggak ngelarang anak-anaknya mengonsumsi tayangan atau bacaan HP. Meski awalnya misuh-misuh juga, sih... apaan nih sihir-sihiran, wkwkwk. Tapi karena saat itu aku udah cukup umur untuk memahami bahwa sihir itu nggak ada dan ini murni fiksi, pas nonton juga nggak gimana-gimana banget. Mentok hanya melafalkan "wingardium leviosa" with fake ugly Hermione's accent sambil mengayunkan sumpit kayu berulang kali. Aku tertantang untuk baca novelnya karena mengetahui seorang sepupu dekat yang mulai baca novel HP. Wah, aku juga nggak mau kalah dong! Setelah meyakinkan orangtuaku, akhirnya kebeli juga deh tuh novel HP and The Chamber of Secrets versi terjemahan bahasa Indonesia di toko buku Gunung Agung cabang Puri Indah. Saat mulai membaca novel HP tersebut, mendadak aku ngerasa prestisius sekali. Wawww, aku nggak merasa beda dengan anak-anak bule di sana yang menggandrungi Harry Potter πŸ˜†

Singkat cerita, perjalanan membacaku berjalan begitu aja tanpa disadari. Aku mulai rajin meminjam buku dari perpustakaan sekolah maupun gereja. Pokoknya tiap ada kesempatan membaca aku pasti akan lakukan. Buku-buku favoritku saat masih usia pra-remaja nggak jauh-jauh dari buku serial tokoh dunia, cerita rakyat Indonesia (Malin Kundang adalah favoritku, membuatku nggak berani durhaka sama orangtua bahahaha) sampai akhirnya berkenalan dengan genre teenlit. Aku cukup beruntung karena punya akses yang memudahkan aku dalam membaca. Walau tiap kali ke toko buku pasti ngebujukin papa atau mama untuk beliin 1-2 buku untuk dibawa pulang, hihi. 

Kalo boleh jujur, bacaanku saat remaja tuh nggak terlalu variatif. Aku cenderung mencari "aman" dalam memilih bacaan. Makanya, kebiasaan ini terbawa sampai aku dewasa. Justru sejak masuk usia seperempat abad dan mengenal beberapa teman yang memang suka membaca, bacaanku mulai beragam. Termasuk sejak berkenalan dengan manteman blogger sekalian di sini. Referensi kalian keren-keren banget ih! *haiii Peri Kecil dan Reka!*

Seperti hal-hal lainnya yang kita lakukan dalam hidup, pastilah muncul pertanyaan: apa, sih, manfaat dari membaca? Apa yang aku dapatkan dari kegiatan membaca? 

Yang paling terasa itu saat aku masih sekolah, kesukaan membaca sangat membantuku dalam tugas mengarang, baik itu mengarang bebas maupun menulis esai. Perbendaharaan kata lebih kaya, gaya menulis lebih bervariasi dan tentunya menulis lebih luwes. Manfaat ini lah yang memberikan kesempatan buatku untuk mengikuti lomba menulis dan guru bahasa Indonesiaku sendiri yang menunjukku untuk berpartisipasi dalam lomba tersebut.  

Selain itu, kegiatan membaca juga mengenalkanku pada dunia luar tuh kayak apa, juga belajar tentang sisi kemanusiaan termasuk konflik dan pergolakan hidup yang ternyata banyak jenisnya. 

Baca novel Me vs High Heels (pernah diangkat ke layar lebar, yang main Ayushita. Ada yang pernah baca atau nonton judul ini?), aku jadi paham kalau kita nggak bisa mengubah jati diri hanya melalui penampilan fisik. Baca novel Ika Natassa aku memahami kalau cewek mau semapan apapun tetep aja bisa galau dalam urusan cinta. Dealing dengan bos-bos besar bisa, menentukan diri mau mendaratkan cinta pada cowok yang mana kok bingung. Baca novel Ruwi Meita, aku diyakinkan bahwa masalah kesehatan mental itu nggak bisa diabaikan begitu aja. 

Alasan-alasan seperti inilah yang membuatku lebih menikmati buku fiksi, karena aku bisa belajar sisi kehidupan yang jauh berbeda dengan apa yang aku alami saat ini. Di saat yang bersamaan, buku fiksi juga 'memaksa' aku untuk keluar dari gelembung pribadi. Baca fiksi nggak melulu harus relatable kok. 'Kan banyak yaa yang suka protes nggak suka buku tertentu hanya karena ceritanya nggak relatable. Lah, kalo dikit-dikit harus relatable, kita nggak akan belajar hal baru dong? Mau sampai kapan pengetahuan kita gini-gini aja? "Relatable" such an overrated statement. Okay, now I'm saying relatable too much, wkwkwk. 

Buku favorit semasa kanak-kanak sampai remaja? 

Udah disebutin, ya, di atas. Bacaanku sejak kecil nggak jauh-jauh dari dongeng dan majalah Bobo. Beranjak remaja baru deh aku berkenalan dengan karya fiksi teenlit maupun chicklit. Judul favorit... hmm, too many nih! Kalau dari Indonesia, aku hampir suka dengan novelnya Ken Terate, Sitta Karina dan Alanda Kariza (fun fact: Alanda's first novel, "Mint Chocolate Chips" was the reason why I admire her. Ya, bayangin aja. Novel itu dia tulis saat masih berusia 14 tahun!). Dari mancanegara, aku menyukai Meg Cabot dan Sophie Kinsella. Semua penulis ini punya iri khas masing-masing dalam bercerita yang selalu membuatku terpukau saat membaca novel mereka. 

Toko buku favorit?

Yaudah pasti the one and only, Gramedia! πŸ˜‚ Mungkin karena kebetulan akses yang paling mudah ditemukan, ya si toko buku ini. Cabang yang paling sering aku kunjungi adalah Gramedia Puri Indah. Selain suka numpang baca dan beli buku, aku juga suka beli perintilan alat tulis dalam rangka back to school, hihi. 

Selain Gramedia, masih ada saingannya lainnya seperti toko buku Gunung Agung dan Kharisma (omg jadul banget nggak, sih?). Namun sayangnya terkadang koleksi buku mereka nggak selengkap Gramedia. Tapi seingatku, Gunung Agung cabang MTA dulu koleksi stationery-nya lucuk-lucuk lho. 

***
Untuk episode JanexLia kali ini, aku dan Lia melakukan sesuatu yang sedikit berbeda. Lia memberikan ide untuk menceritakan perjalanan membaca kami berdua instead of sharing of our monthly favorite (well, tentu saja kami bakal tetap menebarkan racun buku). Jangan lupa untuk baca cerita perjalanan milik Lia si Peri Kecil juga, ya. Yakin banget cerita doi pasti seru! πŸ˜†

I hope you enjoy this episode, folks! Sampai jumpa di episode berikutnya, ya! 

15 comments:

  1. Yeaaaaaayyy akhirnya episode JanexLia datang lagi, dengan topik yg menarique nih. Aku jadi sambil nostalgia bacanyaπŸ˜‚ Mbak Jane apa kabaaar? Gimana perkembangan si baby Kristal? Hihi gemush😍

    Btw, perjalanan mbak Jane pertama kenal buku itu mirip² sama pengalamanku, makanya berasa diajak flashback ke masa-masa itu😁. Sama-sama nggak pernah "disuruh" atau diajak membaca sama orangtua, tapi koleksi buku-buku ayahku lah yang secara nggak langsung mengarahkan aku kesana. Apalagi anak masih usia di bawah 7 tahun itu rasa penasarannya kan tinggi banget yaa mbak. Sayangnya, dibandingin sekarang tuh dulu buku bacaan aku malah lebih berat🀣 Lebih sering baca buku teori konspirasi (misalnya peristiwa nine-eleven), kemunculan dajjal di segitiga bermuda, rahasia-rahasia dunia, majalah misteri (ini kalau diingat-ingat skrg lucu sih, banyak cerita horror yg bikin aku percaya. Tapi memang rame, salah satunya ada yg nyeritain komplek pondok indahπŸ˜†), dan buku-buku tentang agama. Sebenernya waktu itu suka baca komik punyanya paman, doraemon dan conan itu dua komik pertama yg aku baca. Tapi kalau ketauan sama ayah gak boleh, katanya mending baca buku yg lain—dan benerlah secara nggak langsung disodorin ke koleksinya ayah akuπŸ˜†. Akhirnya kalau baca komik mesti ngumpet2.

    Ditambah waktu sudah masuk SD, perpustakaan sekolahku so pasti hanya menyediakan buku yg berhubungan dengan pelajaran. Jadi, aku lebih sering baca buku fiksi sejarah, dengan latar yg beda-beda. Ada yang latarnya tanah sunda, ada juga yang pas jaman Belanda, wkwkwkw. Sekarang malah nggak ada satupun genre kyk buku di atas yg aku baca, banyak godaannya, mbaakπŸ˜†. Ketahuan memasuki quarter life crisis bacaannya self-development moloooπŸ˜‚ Hihihi maafkan ya mbak Jane jadi curhat kepanjangan🀣 ceritanya zeruuu!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Awllll, apa kabar dirimuuuu. Thank God kami baik-baik aja. Baby Krystal udah mau beranjak 3 bulan sebentar lagi (whaaat??) dan tentunya semakin menggemaskan πŸ˜†

      Yaaampun baca komentar kamu ini nggak kalah seru lho. Kayaknya boleh deh diceritakan lengkap di blog hahahaha. Demi apaaaa baca komik harus ngumpet-ngumpet. Kalo aku dulu baca komik Shinchan yang harus diem-diem bahahaa. Kebetulan yang punya juga pamanku lho πŸ™ˆ

      Teori konspirasi mulai menarik buatku pas SMP-SMA. Dulu kayaknya banyak blog yang membahas enigma gitu nggak, sih? Terus abis baca nggak bisa bobo, otak sibuk mikirin konspirasi dunia, termasuk lagu-lagu duniawi yang aku dengerin katanya iluminati wkwkwk

      Aselikkk SD udah suka baca fiksi sejarah hahahaha. Tapi ya karena adanya itu jadi mau nggak mau bacanya itu juga, ya, Awl XD

      Thank youuuu for sharing your reading journey too, Awl! Take care always ya! πŸ˜‰

      Delete
  2. CICI, MAAFKAN AKU KARENA JUDULNYA BEDA πŸ˜‚ nggak apa ya, yang penting kita tetap sehati 🀣

    Ci, aku termasuk anak yang kagum terhadapa anak-anak lain yang baca HP pada era HP sedang hype banget. Aku sendiri lihat ketebalan bukunya pada saat itu udah modyar duluan 🀣 (gimana nggak modyar kalau keseharianku lebih sering baca komik yang tipis wkwk), selain itu ortuku juga melarang karena sihir-sihir gitu 🀣 makanya aku nggak ngikutin HP saat itu, nonton filmnya juga nggak πŸ˜‚. Sekarang malah ada ketertarikan untuk baca HP tapi masih menunggu mood #plakk

    Dari dulu sampai sekarang, papaku dan mamaku masih langganan koran dong! Hahaha. Papaku langganan Kompas, kalau mama langganan Nova, koran khas ibu-ibu banget yak 🀭 aku suka baca-baca Nova juga, terus suka lihat-lihat bagian resep masakannya, tapi lihat doang sih, nggak dibikin juga 🀣

    Meg Cabot juga salah satu penulis yang berkesan untukku karena novelnya yang Princess Diaries itu! HAHAHA cici baca seriesnya nggak? Kalau nggak salah ada 2 atau 3 buku gitu deh πŸ€”

    Gunung Agung! Yaampun, udah lama banget nggak pernah lihat toko buku ini πŸ˜… terakhir lihat yang di daerah Kwitang, yang terbesar itu, tapi terakhir masuk ke sana waktu SD kayaknya πŸ˜… udah lama banget πŸ˜‚. Kayaknya di sana satu-satunya Gunung Agung yang terlengkap dibanding Gunung Agung lainnya. Kharisma juga aku udah nggak pernah lihat lagi sekarang πŸ˜‚ dulu suka ke Kharisma hampir tiap Minggu kalau habis pulang gereja, cuma sayang koleksi toko buku ini kurang lengkap πŸ˜…

    ReplyDelete
    Replies
    1. Soal judul case closed yak wkwkwkw maafkan diriku juga yang error 🀣

      Eh tapi tau nggak, sih. Chamber of Secrets itu satu-satunya buku HP yang pernah kubaca, sampai akhirnya beberapa tahun lalu aku coba baca yang seri lain. Sampe diomelin Potterhead lainnya karena aku cuma nonton HP saga dari awal sampe akhir, tapi nggak pernah baca bukunya HAHAHAHA *sungkem sama Endah, Eya dan Mba Thessa* πŸ™ˆ

      Seriussss papa mama kamu masih langganan koran? Wawww kece sekaliii hauhahaha. Papaku sih udah lama nggak baca koran. Sekarang dia baca berita bolak-balik antara kompas dot com atau detik dot com bahahaha. And YES of course aku tau Nova dong XD gemeshhh amat Tante masih suka baca Nova hihi

      Aku baca Princess Diariesssss. Ceritanya so girlieeee dan fairy tale sekali ya wkwkwk pas difilmin aku juga suka banget (walau cuma yang sekuel pertama sih). Awal mula jatuh cinta sama Anne Hathaway hahaha

      Iya kannnn, Kharisma itu koleksinya paling nggak lengkap huhu opsi terakhir kalo lagi cara buku di mana-mana nggak ada baru deh ke sini. Eh aku salfok gara-gara kamu mention pulang gereja. Kamu suka ke toko buku rohani kayak Immanuel atau Metanoia gitu nggak, Lii? πŸ˜†

      Delete
  3. HAAAA SERU BANGET! PIngin nulis begini juga T___T *mulai latah*

    Sama Ci, aku juga pas kecil bacanya dongeng-dongeng di majalah Bobo wkwk. Terus baca dongeng di buku pelajaran Bahasa Indonesia kakak kelas, karena kok kalau dipikir-pikir sekarang buku zaman dulu lebih menarik isinya daripada buku punya sendiri waktu sekolah. xD *bilang aja males belajar*

    Dulu, I mean sebelum kerja, aku suka lho baca-baca fiksi. Tapi sekarang lagi ke non fiksi banget xD WHY xD

    Gramedia juga favoritkuuuh wkwkwkwkwk, sama ini sih kalo di sini itu ada Togamas. Diskonan tiap hari. Yaudah itu aja sih Ci, AKU PINGIN NULIS KAYAK GINI JUGA! xDDD

    ReplyDelete
    Replies
    1. YAUDALAH CUSSS EKSEKUSI IDE DAN TULIS DI BLOG! XD

      Mungkin kamu lelah dicekokin oleh dunia fiksi kemudian termotivasi untuk menjadi sosok yang lebih baik dengan membaca non fiksi HAHAHA tapi rekomendasi bacaan non fiksi kamu variatif sih, Ndah. Mulai dari travelling, tentang alam, dll. Kayaknya aku juga harus mulai seperti itu deh hahahaha *ngumpulin niat dulu entah berapa lama*

      Delete
  4. Aku! Aku! Aku! Aku! Aku! *angkat tangan tinggi2 yg orang tuanya juga langganan Koran. Heheh 😁

    Jadi inget dulu pas zaman sekolah sering dpet tugas bikin klipping, nyari2 berita di koran. Di gunting, ditempel.. terus dijilid.. 🀣🀣🀣🀣 berhubung dirumah stok koran banyak jadi gampang bikinnya. Smpe temen2 yg lain ikutan nimbrung di rumah.. hahah

    Seruu Mba Jane tulisannya.. bikin nostalgia banget.

    Kalau aku, sewaktu kecil buku bacaan malah jarang dibeliin. Seringnya dibeliin buku bergambar sama pensil warna..
    Tapi Bapakku dulu sering banget ngedongegin cerita kaya Si Kancil, Legenda SalaTiga, ButoIjo, dll sebelum tidur..

    Dan sama juga. Buku bacaan pertamaku yah kayanya Majalah Bobo. Oh2 sama itu buku dongeng bacaan hadiah dari susu dancow.. wkwk πŸ˜…πŸ˜…

    Kalau toko buku andalan. Sayangnya dikota tempat tinggal Gramedia nggak ada. Adanya Intermedia πŸ˜… jadi pling sering nyari2 buku dari situ sebelum ada Online Shop.

    Aku tuh baca buku macam novel malah intens kayanya baru2 ini. Itupun karena kenal kalian, Lia, Mba Reka, Mba Thessa, Mba Fanny, Mba Jane, dll. hahaha πŸ˜†πŸ˜† soalnya dulu tuh paling beli buku pas lagi mampir ke toko buku aja. Dan itupun paling 2 bulan sekali. Makanya Rak bukuku nggak terlalu banyak kalau dibandingin yang sekrang πŸ˜…

    Jadi mau ucapin terimkaasih dulu buat racun2nnya.. terutama Buku "Tidak mungkin membuat semua orang senang..." ahhhh Suka Banget 😁😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tossss dulu kita, Mas Bay! Dan YAAMPUN IYAAA KLIPING! Yaaaampun nyebut kata kliping aja ngerasa tua banget wkwkwkw tiap kali ada tugas kliping aku juga seneng banget karena serasa keren ajaa, gunting-gunting berita di koran terus ditempel hahahaha. Beranjak remaja aku juga suka gunting-guntingin artikel di majalah gitu, bikin scrapbook buat koleksi pribadi hihi asliii aku jadi malah nostalgia juga soal ini hahahaha

      Ohhhh berarti buku dongeng hadiah produk susu yang di-mention Lia itu Dancow yak hahahha eh aku juga minum Dancow duluuu, tapi nggak inget ada bukunya πŸ™ˆ

      Yuhuu senang rasanya kalo bisa racunin buku ke manteman termasuk Mas Bayu XD sejak berbagi bacaan di blog aku pun juga memperluas bacaanku dari manteman semua, sih. Seneng rasanya kayak punya teman baca bareng :D

      Delete
  5. Samaan kak..orang tuaku juga gak mengenalkan buku secara langsung, tapi papa dan kakakku suka baca dari kecil. Ngeliat kakakku asik baca komik dan koleksinya yang lumayan banyak aku sering banget melipir ke kamar dan baca koleksinya. Bukan komik aja sih majalah pun juga. Tapi kalo majalah paling aku inget adalah baca cerita horor di halaman akhir majalah cosmo girl πŸ˜‚, jadi setiap kakakku beli majalah ini aku udah nungguin buat baca bagian itu lol.

    Semenjak itu bacaan jadi merambah kemana-mana, pengaruh paling kuat itu dari komik sih kak wkwkwk.

    Anyway gramedia emang gak tergantikan sih! Hahaha dulu tiap weekend pasti mampir kesana, numpang baca komik karena segel masih banyak yg dibuka. Samaan kayak kak Jane juga minta jajanin buku sama ortu walau ada tugas akhirnya disuruh ceritain ulang ttg buku yang dibacaπŸ˜…

    Aku juga mau ucapin terima kasih untuk Kak Jane dan Lia!! Juga temen-temen blogger lain. Berkat kalian ragam bacaanku jadi bertambah πŸ˜‡πŸŽ‰. Semoga tetap bisa terhubung dan saling meracuni bacaan yaaaawπŸ˜†

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahhh ternyata kita generasi yang sama karena punya role model di rumah dalam hal membaca yaa hihi. Yaampun iyaaa cerita horor di Cosmogirl! Aku juga suka bacaan itu padahal suka ngerasa takut juga wkwkwk sekarang sedih yaa udah nggak ada majalah sejenis ini. Yaiyalah eranya udah ke digital semua, anak-anak remaja zaman sekarang bacanya di Hipwee kayaknya πŸ™ˆ

      Ah iyaa aku baca komentar kamu tentang baca komik di postingannya Lia hihi. Aku kok ya nggak teracuni baca komik yaa (selain Doraemon, Miiko dan Conan tentunya). Tapi aku sempet suka banget baca komik cewek yang demi apa aku lupa bangetttt judulnyaaa. Udah coba browsing tetep gak nemu huhuhu. Dulu aku koleksi sampe seri akhirnya karena suka ceritanya hahaha

      Aminnnn. Semoga silahturami kita selalu dipersatukan oleh buku yaa 😘

      Delete
  6. EH iya bener lho, aku penasaran baca juga karena Bapak suka baca koran, kadang suka sok-sokan ikutan pinjem selembar koran wkwkwk akhirnya sama Ibu mutusin langganan majalah Bobo biar bacaannya sesuai umur πŸ˜‚

    Btw setuju banget soal baca cerita fiksi ga harus relatable. Kadang orang suka protes sama cerita yang ga sesuai kenyataan, tapi yaa namanya juga fiksi kan boleh-boleh aja jauh dari kenyataan juga. Lagian kalau kita ga ngerasain, belum tentu orang lain juga ga ngerasain kan?

    Bener, dengan baca fiksi kita berasa diajak kenalan sama dunia yang ga familiar sama kita, nambah pengetahuan. Tapi kadang tuh orang masih suka ngeremehin orang yang baca fiksi kenapa yaa hahaha

    ReplyDelete
  7. Aku juga ga pernah diajak baca buku sama ortu. Tapi ujug-ujug langsung dibawain novel2 sastra jadul macam Salah Asuhan dan Siti Nurbaya pas masih balita. Entahlah apa yang ada di pikiran ibuku saat it ^^"

    Setuju, mba Jane. Bacaan dan tontonan mah ga harus relatable, yang penting bisa bikin betah bacanya aja. Walaupun kalau relatable jadi makin bisa menikmati, sih... hehehe.

    Ngomong-ngomong soal toko buku favorit, sampai 10 tahun lalu, Gramedia tempat self-healing buatku. Lagi suntuk atau galau, main aja ke sana. Bacain buku2 yang udah kebuka plastiknya. *suer bukan aku yang buka, cuma memanfaatkan saja πŸ™ˆ*
    Eh, tau2 udah seharian aja di sana. Tapi kalau beli buku aku lebih suka ke TogaMas di Bandung sama ada satu lagi toko buku di seberangnya (kalau ga salah namanya Rumah Buku, tapi sekarang udah jadi Gramedia). Karena banyak diskon dan bukunya sekalian disampulin gratis. Lemah sama yang gratisan nih emang :))

    ReplyDelete
  8. Bobooooo sampe sekarang udah gede liat isi bobo masih suka, ceritanya nggak beda jauh dari zaman aku kecil dulu
    journey nya nggak beda jauh juga, majalah bobo, fantasi, ina, duhh apa kabar Fantasi ya, kangen aku
    dulu di Jember yang paling wow cuman Gramedia, kemana mana udah gramedia aja, adanya cuman itu, beli buku apa aja disana

    terus aku juga suka buku serial dunia, aku masih simpen buku tokoh dunia, kebetulan adik yang simpen, jadi masih ada kenang-kenangan, dan masih baguss bukunya, sesayang itu sama bukuku hahaha

    ReplyDelete
  9. Nah, saya juga termasuk anak yang lahir tanpa sokongan bacaan dari orangtua. Malah kenal buku dari lingkungan, karena tertarik sendiri.

    Soal relatable, saya cukup setuju dengan pandangan kak Jane. Dulu, saya tipe orang yang senang dengan bacaan komedi. Dulu ada genre namanya personal literature yang dipopulerkan Raditya Dika. Setiap ke Gramed, pasti belinya bacaan jenis itu. Sampai akhirnya, bacaan jenis itu habis dan mulai terasa membosankan. Saya geser cari bacaan lain dan akhirnya percaya bahwa membuka peluang untuk bacaan baru itu membawa kita pada kesenangan yang tidak terduga

    ReplyDelete
  10. Wow, keren. Hampir sama sih kak Jane, aku juga ga terlalu distimulus untuk rajin baca buku oleh ortu, meski kami bertiga bersaudara bener-bener gila baca. Adikku punya koleksi lebih dari 300 buku, belum termasuk e-book. Adikku yang lain hobinya baca. Termasuk baca kamus. Kalau aku, karena bahan bacaan terbatas, aku cuma bisa baca Alkitab, koran bekas hingga koleksi majalah lama. Nah, sekarang udah gede balas dendam, bukan cuma baca tapi belajar nulis juga. Salah satunya via blog. Kalau sekarang ga punya toko buku favorit karena lebih sering beli buku online sih.

    ReplyDelete