Seni Berbicara Pada Anak(ku)

Wednesday, June 16, 2021


Sejak Josh bisa bicara lancar di usia 3 tahun, orang-orang di rumah suka gemes denger celotehannya yang polos dan bikin ketawa. 

Sampai suatu ketika, Josh mulai 'pinter' menjawab omongan orangtuanya. Aku dan suami yang awalnya ngerasa "Ah namanya juga anak-anak" pun merasa, "Wah, nggak bisa gini. Anaknya harus diajarin." Ditambah lagi belakangan ini Josh mulai menunjukkan perilaku tantrum yang berbeda saat dia masih berusia dua tahunan. Buibu yang udah melewati fase tantrumnya balita berusia 4,5 tahun pasti paham deh kayak apa. 

Aku beri contoh kasus yang paling sering terjadi sejak pandemi ini: sekolah online

Di sekolah yang lama, Josh hampir nggak punya masalah untuk mengikuti pelajaran secara daring. Dia bisa mengikuti pelajaran dan mendengarkan gurunya dengan baik. Mengerjakan PR pun nggak masalah. Yahh paling kalo ada materi yang kurang disukaimenggunting misalnyadia pasti mengeluh dan nolak mengerjakan sampai selesai. Melihat ini, aku pikir saat pindah sekolah nanti nggak bakal berat-berat amat lah anaknya. Mudah-mudahan bisa tetap mengikuti dengan baik. 

Apakah benar demikian? 

Awalnya Josh memang kesulitan banget. Pertama, kata pengantar di sekolah yang baru adalah bahasa Indonesia, di sekolah sebelumnya dia menggunakan bahasa Inggris. Kedua, metode belajar yang cukup berbeda jauh. Josh sebelumnya sekolah Montessori di mana guru-gurunya lebih engaging, nggak satu arah banget pokoknya. Di sekolah yang baru Josh harus lebih banyak menyimak gurunya, jadi yaa doi bosan banget. Mulai nggak fokus. Lagi belajar bisa sambil main mobil-mobilan. Ditinggal sendiri malah bengong.

Kami berdua pun ngerasa ini fase sementara. Mungkin anaknya emang lagi berusaha beradaptasi di sekolah yang baru. Mungkin beberapa bulan kemudian akan membaik. 

Lagi-lagi, apakah benar demikian? 

Yaaa, benar, sih. Beberapa bulan setelah itu, Josh mulai bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Meski beberapa kali ditanya guru, harus melamun dulu. Begitu aku senggol dan mengulang pertanyaan guru, baru anaknya menjawab. 

We thought he was just fine and happy. 

Sampai suatu ketika, Josh bangun tidur dan bertanya, "Ma, hari ini online nggak?". Begitu aku jawab "iya", anaknya ngamuk dong. Mood-nya langsung drop, disuruh mandi dan sarapan pun nggak mau. Meski formatnya online, absensi murid tetep jalan, kan. Mana bisa Josh bolos gitu aja. Tapi harus kuakui beberapa kali aku pasang mode mute dan video off saat kelas berlangsung karena Josh pasang aksi mogok. Dia nangis nggak mau online sampai akhirnya.. tantrum.

Buat yang nggak familiar tantrum itu apa, coba intip penjelasan dari Ibupedia deh. Di situ dijabarkan cukup lengkap seputar tantrum dan cara mengatasinya. Jadi pada dasarnya, tantrum itu akan dialami anak-anak dalam proses tumbuh kembang mereka. Secara nggak langsung tantrum juga memberikan signal pada kita (orangtua) kalo si anak tuh "mau gede", udah lebih paham situasi. 

Lanjut ke cerita di atas, yaa. 

Kalo udah begini, aku punya dua pilihan: tetap tenang sampai anaknya kalem sendiri atau ikutan tantrum dengan cara paksa si anak untuk online

Tebak aku sering melakukan pilihan yang mana? Buat yang jawab pertama, ihh kamu belom kenal aku banget deh kayaknya HAHAHA. Tentu saja lah aku lebih sering kecele melakukan yang kedua, and I'm not proud at all huhuhu. 

Ada kalanya mood aku baik, bisa tuh aku sabar nunggu anaknya kalem. Tapi sayangnya mood dan kesabaranku nggak melulu terkontrol baik setiap harinya. Semakin aku paksa diri untuk banyak bersabar, malah semakin mudah aku ikutan' pecah'. 

Emang Jane kalo marah kayak apa? Paling sering, ya, naik oktaf. Tapi karena Josh semakin besar dan semakin paham kondisi, dia tuh bisa sengaja lho bikin mama (dan papa)-nya marah. Semakin aku berteriak, semakin dia menjadi-jadi. Dua-dua nggak ada yang mau ngalah, berantem lah ibu dan anak ini. 

Ini baru perkara mogok sekolah online. Masih ada contoh lain perilaku Josh yang kadang-kadang bikin mamanya spaneng. 

Ada masanya Josh disuruh apa-apa (yang mayoritas adalah tanggung jawabnya) dia menolak untuk mengerjakannya. Mulai dari beresin mainan, mandi atau makan. Padahal sebelumnya dia udah tau kewajibannya. Kalo ditanya kenapa nggak mau, alasannya banyak. Paling sering dibalas, "Sebentarrr." Iya, sebentar. Sebentarnya seharian banget sampai mama harus marah-marah (lagi). Dan pernah dengan santainya dia menjawab, "Udah mama aja deh." LAH GIMANA?? 

Lelah hayati menghadapi 'perang' seperti ini hampir SETIAP hari, nggak jarang aku nangis. Mana waktu itu aku masih hamil Krystal. Bawaan hamil agak nggak nyaman di trimester awal, ehhh harus 'berantem' mulu sama si koko 😭 

Di tengah keputusasaan bunda Jane, ketika sedang scrolling Igs, seorang mom influencer yang aku ikuti, Ci Marlisa, sharing tentang sebuah buku parenting yang berjudul "Seni Berbicara Pada Anak" yang membantu dia dalam menghadapi situasi yang kurleb sama dengan apa yang kualami. Tanpa ragu aku langsung check out bukunya di e-commerce dan membacanya begitu tiba di rumah. 

Salah satu poin penting yang diungkapkan dalam buku tersebut, adalah betapa pentingnya emosi dan perasaan bagi seorang anak. Anak itu butuh banget diakui perasaannya. Terkadang mereka pun bingung untuk menyampaian perasaan, itulah mengapa tantrum sering terjadi. Makanya, validasi perasaan itu penting ya, bund! 

Masalahnya, kalo udah marah-marah, aku cenderung mengabaikan perasaan si anak. Padahal sebelumnya aku dan suami tuh nggak pernah luput memvalidasi perasaan Josh dalam segala situasi, sehingga Josh pun terbiasa mengutarakan emosinya, baik dia lagi senang maupun nggak suka terhadap sesuatu. 

Setelah validasi emosi udah dilakukan, kita mau ngomong apa pun pasti lebih 'masuk' ke anak. Ini terbukti banget setelah kami lakukan ke Josh saat dia mulai terbuka apa yang dia rasakan ketika sekolah online. Intinya, dese bosan dan kurang enjoy format sekolah online ini. Dia ngerasa durasi belajar online ini tuh lama banget dan menyita waktu bermainnya. Mungkin karena selama kelas nggak ngapa-ngapain juga, sih. Mendengarkan guru meski hanya satu jam itu emang melelahkan. Kita aja kalau ikutan zoom meeting sering ngerasa capek, apalagi anak-anak yang daya fokusnya masih kurang.

Akhirnya kami bertiga duduk bareng untuk mencari solusi gimana supaya Josh lebih semangat belajar. Tips biar anak lebih mau 'denger' saat diajak diskusi, pastikan mood anak dalam keadaan baik dan kebutuhan utamanya (dalam keadaan kenyang dan cukup tidur) tercukupi. Tentu aja kami juga menjelaskan kenapa sekarang Josh 'terpaksa' harus sekolah online dulu. Saat dia bilang waktu bermainnya jadi kurang, ya kami jelaskan aja waktu bermain dia itu masih banyaaak dalam sehari. Kebetulan Josh mulai paham konsep waktu dan angka, jadi sekalian aja deh kita ajarkan kalau dia sekolah sehari paling lama itu satu jam sehari (ini udah termasuk mengerjakan worksheets). Sehari itu ada 24 jam, dikurangi 1 jam, sisanya masih banyak untuk bermain. Anaknya manggut-manggut, sih. Mungkin dia merasa angka 23 dan 1 itu kan beda jauh, yaa. Padahal kita belum mengurangi waktu tidurnya juga HUAHAHA. Yaudalah intinya dia paham, kan. 

Selain solusi dari kami sebagai orangtua, ibu guru juga berperan penting dalam encourage Josh supaya tetap semangat belajar. Aku japri ke ibu guru untuk mencoba bujukin Josh supaya lebih termotivasi. Dan cukup efektif  lho! Sayang banget deh sama bu guru huhu 

Apakah setelah itu sekolah online berjalan dengan lancar sampai akhir semester kemarin ini? Tentu saja tidak, hahahaha. Masih ada hari-hari di mana anaknya mogok kok. Tapi kami udah jauh lebih tenang dan bisa mengendalikan situasi. Inget. Kalo anak lagi tantrum, orangtua nggak boleh menyerah dan mengikuti maunya si anak. Dengan demikian, anak tahu dan tetap melakukan tanggung jawabnya.

Terus, gimana soal ngeyel kalau disuruh ini itu?

Kembali aku menemukan resep pamungkasnya melalui buku yang sama. Sebelum kita menyuruh-nyuruh si anak melakukan sesuatu, perlu diingat adanya realita orangtua dan realita anak

Realita orangtua itu mengingatkan anak terus-menerus. Realita anak itu diingatkan orangtua terus-menerus. 

Sebel nggak kalo dibawelin terus-menerus? Ya, sebel. Itu juga mungkin yang dirasakan si anak saat kita bawelin mereka πŸ˜‚ aku bisa ngerasain, sih, Josh itu nggak bisa dibawelin hal yang sama terus-terusan. Yang ada dia malah makin cuek dan nggak melakukan tanggung jawabnya. 

Nggak mau beresin mainan? Oke, kita kasih konsekuensi. Bedanya konsekuensi dan hukuman apa? Pas nulis ini baru inget pernah bookmark artikel tentang ini dari Ibupedia juga. Menurut artikel tersebut, hukuman itu cenderung melukai harga diri si anak dan membuat mereka menderita. Sementara konsekuensi lebih mendorong anak untuk memperbaiki perilaku dan perbuatannya. Biasanya konsekuensi adalah sebab-akibat. 
 
Konsekuensi nggak beresin mainan apa? Mainannya akan disimpan dalam jangka waktu tertentu. Tapi biasanya aku nggak langsung membereskan mainannya begitu aja, sih. Aku mencoba ikut bantu membereskan dulu dengan memakai salah satu cara yang dijabarkan dalam buku, yaitu menggunakan imajinasi. Hah, gimana tuh?

Anak-anak itu paling senang berimajinasi, jadi kalau mau menyuruh mereka melakukan sesuatu, paling gampang menggunakan imajinasi. Contoh nyatanya saat kami meminta Josh membereskan mainannya. Biasa aku akan mulai berpura-pura mengambil kotak mainannya dan berujar, "Duh, boksnya laper banget nih belum makan. Wah, ada mobil-mobilan, aku mau ah." Kemudian aku mulai mengambil mainannya satu per satu dan dimasukkan ke dalam kotak. Nggak lupa berakting agak lebay dengan menggerak-gerakkan si kotak sambil pura-pura lagi makan mainannya. Sillly, I know. But it works most of the time lho. Sampai akhirnya Josh hampir nggak pernah lagi kami suruh membereskan mainannya. Kami cukup berkata, "The boxes are hungry, Josh!". Cuss, anaknya mulai 'kasih makan' mainan-mainannya πŸ˜‚ Dalam hal ini kami bersyukur banget karena Josh memang anak yang senang banget bermain imajinasi. Jadi cara ini ampuh banget. 

***
Ternyata bener, yaa. Jadi orangtua tuh belajar setiap hari. Demi belajar untuk berkomunikasi dengan anak, bukan kesabaran aja yang dilatih, tapi juga menumbuhkan kreativitas kami berdua. Karena setelah menerapkan konsep bermain imajinasi itu, Josh memang lebih nurut kalau kami memberikan instruksi atau penjelasan melalui cerita. Tentu aja metode yang kami terapkan ini nggak bisa diaplikasikan plek-plek ke anak-anak kalian, ya. Inget juga, tiap anak spesial. You do you (:


Tulisan ini diikutsertakan dalam blog competition Ibupedia - Share Your Parenting Story.

16 comments:

  1. Cici Jane, aku bacanya jadi merasa nervous, kepikir nanti kalau punya anak, apakah aku bisa mendidiknya dengan benar 😭
    Salut sama Ci Jane dan Ko Andreas yang selalu mau menjadi orangtua yang belajar dan bertumbuh πŸ‘ Semangat terus Cici Koko! Aku jadi belajar hal baru lewat tulisan ini. Asli, kalau Ci Jane yang menulis ilmu parenting, kenapa seenak ini sih bacanya? HAHAHA *bucin blog Ci Jane*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Liii, nggak usah takuttt. Kalo kita dikasih kesempatan menjadi ibu, Tuhan pasti membekali kita deh. Waktu aku ngeluh ke papaku capek ya jadi ibu, papaku yang nasehatin kalimat di atas. Jadi kita pasti bisa! πŸ˜†

      Huhuhu thank you so much lil sis! Kami masih belum apa-apa deh, PR parentingnya masih banyak dan perjalanan masih panjang hahaha.

      Uwuuuu cocuit banget Peri Kecilku! Hayooo sini aku traktir boba 🀣

      Delete
  2. Duh, saya bacanya kok jadi dak dik cer gini ya Tante ? Berhubung kan saya nantinya juga bakal jadi ibu , semoga saya dan pasangan saya nantinya bisa menghadapi perubahan - perubahan kecil yang terjadi pada buah hati saya dan calon pasangan saya seperti yang Tante Jane ceritakan tersebut. Dan, doakan semoga si calon saya segera melamar saya agar ayah saya bisa bahagia di atas surga melihat saya bahagia .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin amin, Mba Tari! Semoga janur kuning segera melengkung yaa 😊

      Tenang saja. Mbaa. Jika kita diberi kesempatan menjadi orangtua, pasti kita diberi ekstra kekuatan dan ilmu untuk mendidik dan membesarkan anak-anak hihi

      Delete
  3. Juara 1 ini mah... Aminnn πŸ˜ƒ

    Mbak Jane barusan kemarin ikut nimbrung curhatan tetangga tentang Tantrum anak. Ehh nemu juga disini....

    Mereka cerita kalau terkadang pusing dan sedih kalau udah cekcok sama anak balitanya.. aku pas itu lagi nyambi nyapu halaman depan cuma bisa diem sambil manggut2. Secara nggak terlalu paham πŸ˜…πŸ˜…. Tahu arti tantrum aja setelah obrolan mereka, itupun hasil google.

    Para ke 4 ibu ini seru banget ngobrolnya πŸ˜…. Saling cerita tentang sifat dan kebiasaan anak-anak mereka.. malah Ibu yang senior langsung ngasih ajian pamungkas ke Ibu-ibu yg lebih muda. Dari situ aku yang tadinya lagi fokus sama kegiatan menyapu, ehh langsung tertarik gaya gravitasinya mereka.. haha

    Cerita dari BuIbu seseru tulisan Mba Jane ini... lumayan buat bekal semisal nanti sudah merilis keluarga.. hehe

    Terimakasih Mba buat cerita pengalamannya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha bisa aja Mas Bayu. Tapi iya aku AMININ juga deh XD

      Hahahaha ngebayangin Mas Bayu sambil nyapu nimbrung ibu-ibu komplek curhat soal balita jadi kocak. Dulu aku suka takut lihat anak tantrum, rasanya pengen ikutan teriakin anaknya hahaha. Tapi setelah mengalaminya sendiri, tantrum itu bukan sebuah hal yang menakutkan yang harus dihindari. Justru tantrum harus diatasi supaya nggak terulang terus-menerus. Kuncinya ya di validasi emosi anak, menjelaskan kondisi dan mencari solusi. Memang harus belajar terus sih, karena behavior anak-anak juga tergantung orangtuanya kan (:

      Makasih juga Mas Bayu udah baca tulisan ini! πŸ˜‰ Semoga bermanfaat untuk kemudian hari hahaha

      Delete
  4. Thanks banget sharing-nya, mba Jane...

    Emang, ya, karakter anak yang satu dan yang lain itu beda-beda. Ada yang cukup dengan diingatkan dan divalidasi emosinya, ada juga yang lebih ngena dengan berimajinasi kayak Josh.

    Belum lagi karakter para ortu pun beda-beda, bikin mau ga mau harus terus belajar, bahkan jangan2 mulainya malah dari belajar mengenali diri sendiri dulu, kali ya?
    *ga gitu ngerti, karena belum jadi ortu ^^"*

    Semangat, mama Jane! :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eits, bener banget lho tentang mengenali diri sendiri lebih dulu itu. Kalo kata papaku yang kebetulan seorang konselor, orangtua harus bisa membereskan masa lalu mereka saat masih kecil. Apakah ada luka, trauma dan sebagainya. Kalo nggak dibereskan, biasanya sih akan mempengaruhi saat dia mempunyai anak.

      Aku juga makasih lhoo Mba Hicha udah baca hihi semangat semangat! 😎

      Delete
  5. Aku selalu merasa para ibu (dan juga ayah) yang ngurus anaknya masih balita dan mau terus belajar gimana cara terbaik buat ngasuh anaknya tuh, hebat-hebat banget.

    Karena aku (sebagai yang belum punya anak) merasa ngadepin anak kecil tuh susah bangeeet astagaaa... Terutama kalau udah teriak-teriak pas maunya ga diturutin, mau bales teriak kan ga mungkin yaa bukan anak sendiri hahaha

    Semangat terus pokoknya Janeee πŸ’–

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha apa yang kamu rasakan pernah aku rasakan juga, Eyaa. Apalagi kalo liat anak tantrum di tempat umum terus lihat orangtuanya yang kebingungan menghadapi anaknya. Ternyata setelah jadi orangtua yaa memang nggak mudah mengatasi hal tersebut πŸ˜‚

      Maacihhhh Eya! 😘

      Delete
  6. Wah bisa nih metode imajinasi aku coba terapin ke ponakanku yang suka ogah-ogahan kalau disuruh beresin mainanπŸ˜‚ nggak kepikiran sebelumnya lho, thanks CiπŸ€—

    Terus untuk validasi emosi itu, bener lho emang anak-anak kalau diajak bicara apa yang dia rasakan mereka bakal mendeskripsikannya. Kayak orang dewasa juga kan, ingin dimengerti. Nangis-nangis mulu ya karena nggak bisa mengekspresikan pakai kata-kata, kalau dipancing dan diarahin ngomong apa yang mereka rasakan pasti mau ngomong ya mereka huhuhu polos banget manusia-manusia kecil ini gemes!!! >.<

    Semangat Ci Jane dan Ko Andreas ngadepin krucil-krucilnyaπŸ’ͺπŸ’ͺ dan semoga menang lomba blognya! ❤

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwk dicoba dulu aja, Ndahh. Siapa tahu sukses juga ke ponakanmu hihi

      Nah, sebelumnya aku ya cuma bisa marah-marahin dia aja. Alhasil anaknya jadi makin jerit karena ya memang dia belum terlalu bisa mengungkapkan perasaannya huhu jadilah memang orangtua yang harus lebih mengerti si anak, sih. Susah-susah gampang tapi kadang takjub juga sama kepintaran mereka hihi

      Maaacih banyak sheyenggggku ❤

      Delete
  7. Aku makin penasaran kan baca buku seni berbicara pada anak ini πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜† wuaaa...

    Masalah klo suruh trus jawabnya 'entar entar' atau jawab 'iya' tp ga dilakukan, itu aku sering gd ngalamin mbaaa.. Menguji kesabaran bgd sungguh itu. πŸ˜†πŸ˜† masih harus banyak belajar nih aku buat mengelola emosi n ngomong sama anak nih 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Boleh dibaca, Mbaaa, kalo ada waktu luang. Bukunya practicable, sih, karena banyak contoh kasus dari banyak orangtua dengan berbagai kondisi si anak. Jadi misalkan ketemu masalah yang sama di anak kita, tinggal balik halaman bukunya deh :D

      Wkwkwk itu fase anak-anak banget yaa disuruh apa jawabnya iya tapi nggak nengok apalagi dilakukan. Semoga kita selalu diberikan ilmu dan kesabaran dalam mendidik mereka ya, Mba πŸ˜†

      Delete
  8. Halo Jane, kangen banget ih, barusan dari blognya Lia, dan langsung ke sini mengobati kangen.

    Dan mau baca tulisan kolab dengan Lia, kok malah gagal fokus ke postingan ini, mungkin karena mamak-mamak ya, hahaha.

    Btw, tengkiu banget tulisannya.
    Anak saya udah lebih gede, tapi luar biasa dah, saya masih terus belajar menjadi ibu yang mengerti bahwa anak juga manusia, hiks.

    Kadang saya, terlalu malas dengar rengekan anak, jadi saat kesal banget, saya biarin aja dia nangis, atau saya marahin suruh jangan nangis, huhuhu.

    Padahal, mengenal emosional itu penting ya buat anak, bahkan banyak psikopat yang terbentuk karena sejak kecil mereka dilarang menikmati kondisi emosi yang berbeda-beda.

    Anak-anak hanya diizinkan untuk punya emosi yang positif, selalu tersenyum.
    Tapi maknya kek singa, sesuka hatinya pula, huhuhu.

    Baca ini serasa diingatkan lagi, bahwa perjuangan saya harus selalu diteruskan.

    Tengkiu ya say.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Reyyy, apa kabar? Semoga sehat yaa (:

      Hahaha nyangkut ke postingan emak-emak, yaa. Soalnya aku agak jarang juga sih ngomongin soal parenting hihi

      Duh, aku pun masih belajar banget. Tapi ya jadi orangtua itu belajar seumur hidup nggak, sih? Tiap hari ada ajaaaa hal baru yang bisa dipelajari. Aku juga nggak tiap hari sesabar seperti yang aku ceritakan di atas. Kalo lagi capek banget, aku juga cepet emosian dan malah bentakin anak T_T tapi ya itu, anak-anak ya titipan spesial dari Tuhan, dan malah kita seringnya belajar dari mereka, ya, Mba (:

      Makasih juga udah baca, Mba Reyy. Tetap semangat yaa *virtual hugs*

      Delete