2019 Monthly Reads: February

Friday, February 22, 2019


1. The Subtle Art of Not Giving a F*ck by Mark Manson
Setahuku, buku ini nge-hits banget sejak tahun lalu, bahkan sudah ada terjemahan dalam bahasa Indonesia. Entah karena warna sampulnya yang ngejreng serta judul yang provokatif atau memang isi bukunya sendiri bagus. 

Secara singkat, I don't really enjoy the book, sih. Mungkin karena gaya bahasanya nggak masuk ke selera pribadi (selain penulisnya kebanyakan memakai kata f*ck LOL). But still there are some points from the book that I like, salah satunya yang akan kubahas ini.
Di tengah buku, Mark Manson mengangkat topik tentang choose your struggle. Banyak orang mengejar kebahagiaan, cita-cita setinggi langit dan banyak hal lainnya yang kita yakini membuat hidup menjadi lebih baik. Kalo kata Manson, everybody enjoys what feels good, and it's easy to want that. Ya, pastilah orang mengejar hal baik, masa yang jelek, rugi banget. Tapi, kebanyakan orangtermasuk kita sendirilupa kalo untuk mencapai sesuatu yang baik, selalu ada proses yang nggak enak untuk dilewati. 

Seorang youtuber favoritku, Ria SW, sempat cerita panjang lebar di kolom deskripsi di sebuah videonya minggu lalu. Singkatnya, Ria ketemu dengan salah seorang subscriber-nya yang berusia remaja di mall, kemudian seperti biasa dia selalu menyempatkan waktu untuk ngobrol sebentar. Tiba-tiba si subscriber ngomong, "Kak, cita-citaku pengen jadi orang terkenal. Please, Kak... bantuin aku dong." Kemudian si Ria pun bengong, eh si adek ini ngomong lagi, "Kakak bisa bantu promote IG aku nggak? Biar aku dikenal banyak orang. Please, Kak... aku bakal ngelakuin apapun yang Kakak mau kalau Kakak mau bantuin aku." 

Hari-hari ini kita gampang banget untuk menginginkan sesuatu berdasarkan apa yang kita lihat di media sosial. Ambil contoh IG aja deh, karena mayoritas pasti punya akun IG, kan. Cari duit aja bisa lho cuma dari Instagram. Makanya, makin ke sini status pekerjaan selebgram, influence tuh makin banyak peminatnya, khususnya dari generasi Z dan ke bawahnya, si adek remaja yang cita-citanya pengen terkenal itu lah salah satunya.

Definisi "menjadi terkenal" itu apa, sih? Dulu, almarhum kakek ku dikenal hampir oleh seluruh penghuni komplek rumah, itu juga bisa dibilang terkenal, kan? Namun, anggap aja lah "menjadi terkenal" versi si adek tadi adalah banyak followers di Instagram, karena dia sendiri minta di-promote kan tuh akunnya. 

Pertanyaannya, kalo memang Ria bantu dia promote akun IGnyawhich nggak bakal dilakukan juga sihsetelah itu apa dia langsung terkenal? Apa impiannya langsung tercapai? 

Mau jadi terkenal zaman sekarang sebenarnya mah gampang banget, just do something stupid or be a drama queen, nggak lama juga viral kok. Tapi masa, sih, kita mau pake cara yang kayak gitu? Kurang elegan dong. 

Often times, kita tuh terlalu results-oriented, tanpa melihat proses di balik semua hasil tersebut. Seorang Ria SW yang jumlah subscriber-nya nembus 2jt dalam waktu satu tahun, setiap videonya bisa mencapai 2-3jt views, apakah itu semua didapatkannya secara instan? Buat yang ngikutin Ria dari zaman MalesBanget, terus baca bukunya juga, pasti tau deh yang udah dilewatin itu nggak mudah. Kita yang menikmati videonya bisa dengan mudah bilang, "Gue mau banget kayak dia, jalan-jalan, makan terus, dibayar lagi", tapi apakah kita mau juga ngerasain yang namanya bergadang tiap malam karena ngedit video, dikejar deadlines, mikirin konsep setiap mau syuting video dll? Nggak semua orang bersedia untuk ngerasain hal yang "nggak enak" untuk mencapai sesuatu yang "enak."

Maka dari itu, Manson menganjurkan untuk bertanya pada diri sendiri: "what are you willing to struggle for?" 

If you wanna be a successful writer/blogger, berarti harus mau juga meluangkan waktu untuk nulis setiap hari, harus mau kalo suatu hari mendapat kritik, bahkan harus siap 'ditolak' saat mencoba untuk mengirimkan hasil tulisan ke penerbit atau media lainnya.

So next time, if you know what you want, don't forget to choose your struggle too. 

2. Gone Girl by Gillian Flynn 
Sebenarnya aku udah pernah baca novel fenomenal ini setelah nonton filmnya, tapi yang aku baca dalam versi terjemahan bahasa Indonesia. Karena kurang greget, akhirnya minjam versi aslinya di Bookabuku.

Satu kata tentang novel ini: mind-blowing.

Gaya penulisannya Flynn ini kok jenius amat, ya?! Kok bisa, sih, dia nulis kayak gitu? Selama baca ini aku merasa kisahnya Amy dan Nick itu nyata, karena mungkin ceritanya tentang kehidupan seorang pasangan suami dan istri yang struggle dengan pernikahan mereka, so somehow I can relate. Marriage life itu terlihat sederhana, padahal sebenarnya nggak juga. Terkadang yang bikin pasangan berantem itu bukan karena masalah besar, justru hal-hal yang sifatnya sepele.

Namun, tentu saja fiksinya juga nyata di saat Amy udah mulai 'gila'. Parah, sih, I hope I can never encounter with someone like her. Mit amit, that woule be my worst nightmare T_T

Genre (physiological) thriller is always my guilty pleasure, baik itu buku atau film. Takut, tapi selalu bikin ketagihan. Makanya setelah ini pengen coba baca Sharp Objects dan Dark Places, keduanya direkomendasiin oleh youtuber panutanku, Jenn Im.

***
Semoga bulan depan bisa lebih banyak baca buku lagi, apalagi event Big Bad Wolf segera hadirrrrr! Wohoooo! Gilak, sih, nggak tau tahun ini bisa kalap berapa banyak buku, setelah dua tahun absen nggak ikutan. Kebetulan sejak awal tahun ini aku belum beli buku baru sama sekali, setelah dapat info BBW bakal datang lagi, sengaja tahan-tahan diri untuk nggak beli dulu. Tahun lalu, sih, ikutan jastip, tapi itu untuk Josh aja. 


Beberapa buku yang ada di daftar must-read aku: The Little Book of Ikigai (makin mantap pengen baca setelah baca review dari Mba Athiah), Little Fires Everywhere, buku barunya Mitch Albom dan masih banyak lainnya. Semoga jodoh dan nemu di BBW nanti.

Any good books that you've read recently? Share dong (:

5 comments:

  1. Hihi selama 2018 juga saya jarang banget baca, taun ini semangat banget. Buku Mark cuma bintang 🌟 🌟 🌟 aja sih mba cocok buat yg krisis pede aja, emang bener bikin konten juga capek bgt jadi taun ini pengen lebih santai, banyakin hobi dan stimulasi anak. Seneng nih saya lagi baca Marie kondo biar semangat beberes gitu

    ReplyDelete
  2. Aku bulan ini lagi baca Girl Boss karya Sophia Amoruso doain semoga kelar sebelum bulan februari berakhir hehe. Makasih banyak mba review buku The Subtle Art of Not Giving a F*ck by Mark Manson penasaranku belum berkurang sbeelum baca bukunya nih

    ReplyDelete
  3. Saya juga mulai mau baca buku lagi, tapi via gramedia digital premium aja. Lebih praktis. Buku pertama kayaknya lagi hits banget ya, masuk list juga ah. ^^

    ReplyDelete
  4. Punya buku ini The Subtle Art of Not Giving a F*ck dari tahun lalu tapi belum selesai-selesai bacanya :( Masih di chapter awal2 banget belum sampai ke tengah hahaha.

    ReplyDelete
  5. Aku lagi nemu nonfiction bagus akhir-akhir ini hihi. Udah baca #Girlboss (Sophia Amaruso) dan suka banget, apalagi aku udah nonton TV series-nya juga di Netflix. Aku juga suka sama The Life-Changing Magic of Tidying Up (Marie Kondo) dan Goodbye Things (Fumio Sasaki) karena jadi keracun suka beres2 dan lebih meminimalisir barang di rumah! Kalo novel, Entrok (Okky Madasari) bagus banget.

    Anyways, thank you for the reviews!

    ReplyDelete

Thank you for reading and dropping your comments! All comments are moderated and I will reply each comment daily, so please check back. Nice to chat with you!