#BTSReadsChallenge: I Read Books Based on BTS Recommendation

Saturday, January 11, 2020


Menjelang akhir tahun 2019, aku pengen banget menyempatkan diri untuk baca beberapa buku bagus. Tiba-tiba aja gitu kepengen reading challenge supaya semangat bacanya sampai selesai. Not just a regular reading challenge, I called it #BTSReadsChallenge!

BTS lagi BTS lagi, bosennnnn ah!

Yaudah, sik, gimana dong. Pengaruh mereka memang segitunya di aku 🤣

Aku sempat menyinggung dikit, ya, tentang challenge ini di blogpost sebelumnya. Idenya sederhana aja kok, baca beberapa buku yang menginspirasi beberapa karya musiknya BTS.

Jadi memang si ketua gengnya BTS ini, Kim Namjoon, hobinya baca buku. Bacaannya nggak main-main lho. Doi tuh penggemar karyanya Murakami, terus suka baca buku filsafat dan psikologi yang judulnya aja udah bikin kepalaku muter.

Matekkk, kan, bacaannya. 
Screenshot from Namjoon's Books

Bukan rahasia lagi di kalangan fans kalau BTS sering mengambil referensi dari buku dalam proses pembuatan lagu atau MV. Contohnya, keseluruhan konsep album "Wings" (video comeback trailer sampai MV "Blood Sweat & Tears") terinspirasi dari karya literasi Hermann Hesse berjudul "Demian". Kemudian, yang baru-baru ini banget album comeback terakhir mereka, Map of The Soul, adalah referensi dari teori psikologinya Carl Jung (atau lebih dikenal sebagai Jungian Psychology) dengan mengambil nama teori yang sama untuk album mereka.

Baca genre buku seperti yang kusebutkan di atas, tentu aja nggak cukup dalam kurun waktu sebulan.  Baca artikelnya aja udah cukup bikin otak ini mikir banget, so aku skip judul-judul tersebut dan menyortir total LIMA judul buku yang bisa kudapatkan di Indonesia (maksudnya nggak perlu khusus mesen buku lagi dari Bookdepository, misalnya). Dan lima buku tersebut adalah:


Sok banget, kan, memasukkan DUA judul bukunya Murakami di daftar ini (awalnya TIGA malah, songong abis HAHAHA), ujung-ujungnya nggak kebaca karena ku tak sanggup!

Btw, daftar buku-buku yang menginspirasi BTS dalam proses kreatif mereka bisa di-google langsung, ya. Ketik aja "books that inspire BTS songs", pasti keluar banyak dari berbagai sumber. Kebetulan yang kuambil dari Goodreads, dari 51 judul buku yang ada aku pilih lima, tapi yang kebaca dua (doang) akhirnya wkwkwkw 😂😂😂

Tapi sebagai pembelaan diri, "Me Before You" pernah kubaca sebelumnya dari hasil pinjaman online. Baru-baru ini pengen baca ulang lagi tapi belum sempat beli bukunya. Jadi, anggap aja lah, ya, di challenge ini udah dibaca LOL

Tanpa basa-basi lagikarena intronya juga udah kepanjanganlet's talk about the two books I've read: 

Into The Magic Shop (Dr James R Doty)



Fun fact: buku ini aku rikues sebagai kado ultah dari suami, karena sesimpel baca di description box-nya Bookdepository yang bilang, "the award-winning New York Times bestseller that inspired BTS's K-Pop song 'Magic Shop'."

OKAY I'M SOLD! 

*bucin detected* 

Btw, sebelum lanjut review, monggo didengarkan dulu, ya, lagu "Magic Shop" di bawah ini:


"Into The Magic Shop" ini adalah sebuah buku memoar yang ditulis oleh Dr James R Doty sendiri, tentang perjalanannya menemukan jati diri dan meraih mimpinya sebagai dokter spesialis bedah saraf. Dr Doty tumbuh di tengah keluarga yang kurang baik; ayahnya pemabuk dan abusive, ibunya mengalami depresi kronis dan kakaknya mengalami bullying di sekolahnya.

Suatu hari, Dr Doty yang di saat itu berusia 13 tahun, mampir ke sebuah magic shop, di mana toko tersebut khusus menjual peralatan sulap, karena dia sendiri baru saja kehilangan salah satu alat triknya yang sering dia pakai untuk dimainkan di depan teman-temannya. Dr Doty memang senang bermain sulap di masa kanak-kanaknya. Dia bertemu dengan seorang wanita paruh baya di dalam toko tersebut dan mereka mengobrol ringan. Sebelum akhirnya Dr Doty ingin pulang, wanita tersebutyang bernama Ruthmeminta Dr Doty untuk mengunjunginya setiap hari dalam enam minggu, dengan berjanji akan mengajarinya "magic tricks" yang akan mengubah hidupnya.

Dari pertemuan dem pertemuan, ternyata Ruth ingin membantu Dr Doty untuk menemukan kembali self-esteem yang hilang karena pengaruh kondisi keluarganya. Ruth meyakinkan Dr Doty bahwa segala sesuatu akan mungkin ketika kita mau membuka hati dan pikiran. Dia juga memberikan langkah-langkah practical untuk practice mindfulness; start from relaxing your body, try to calm your mind, then open your heart. 

In short, buku ini mengajarkan tentang mindfulness, karena segala sesuatu mulai dari hati dan pikiran kita. Dr Doty awalnya nggak berani bermimpi menjadi dokter. Bok, duit aja nggak ada dan kondisi orangtua juga nggak memungkinkan untuk membiayai studinya. Di mana-mana kuliah dokter itu mahal banget. Namun, Ruth bilang nggak peduli dengan circumtances yang kita alami, asalkan kita usaha, kerja keras dan percaya, kita bisa mewujudkan mimpi. Inget, ya, percaya doang nggak cukup. Kerja keras itu juga penting.

Nggak cuma percaya di dalam hati aja kalo kita bisa, tapi juga harus ada langkah realistis dalam mewujudkan mimpi 

Dr Doty pun mempraktikkan "magic tricks" ala Ruth ini sepanjang hidupnya, sampai akhirnya dia sukses menjadi seorang ahli bedah saraf. Setiap kali dia nervous untuk menjalani prosedur operasi (kebayang nggak, sih, dokter aja tegang lho mau operasi, apalagi pasien, kan?), dia ingat dengan ajarannya Ruth.

Aku nggak berekspektasi banyak tentang buku ini, but I ended up loving it. Iya, sih, ajarannya Ruth ini sebenarnya klise banget, kan. Ala-ala motivator banget yang terus-terusan ngomong, "Believe in yourself, you can do anything!". Again, as a believer myself, tentu aja aku nggak bisa mengandalkan diriku sendiri untuk mencapai kesuksesan atau meraih kebahagiaan. Tapi, aku setuju banget tentang konsep mindfulness, di mana kita harus fokus in the present supaya tujuan di masa depan tercapai.

"... gratitude has a HUGE effect on your mental attitude..."

Terus, lagu BTS "Magic Shop" ini berhubungan nggak, sih, dengan buku ini?

Meskipun judul lagunya sendiri mengambil dari buku ini, tapi BTS punya konsep sendiri tentang "Magic Shop" ini. Lagunya sendiri didedikasikan untuk para fans. Kalo kamu ARMY, mungkin udah paham deh. Tapi buat yang non-fans, coba baca penjelasan lengkapnya di sini, ya.


I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki (Baek Se Hee) 



Buku ini nggak mengambil bagian dalam pembuatan lagu BTS, sih. Buku ini nggak sengaja 'ditemukan' oleh mata jeli para fans, saat nonton episode awal Bon Voyage Season 3. Ada penampakan buku ini di atas ranjangnya Namjoon saat dia packing untuk ke Malta. Tapi ada yang bilang juga kalau Namjoon merekomendasikannya secara langsung, but I'm not so sure about this. 

But anyway, sejak terbit versi terjemahan bahasa Indonesia, buku ini mendapat sambutan hangat karena topik mental health memang nggak henti-hentinya dibahas, kan. 

Cover bukunya cerah, ya. Lucu lagi warnanya pink pastel gitu. Namun percayalah, isinya cukup gloomy

Tadinya kupikir buku ini semacam jurnal harian si penulis yang mengalami depresi ringan berkepanjangan dan gangguan kecemasan. Tebakanku nggak sepenuhnya salah, tapi format buku ini ternyata percakapan sesi konseling antara si penulis dengan psikiaternya. FULL isinya percakapan. 

Saat membaca buku ini, satu kata yang aku rasakan tentang Baek Se Hee: sedih ): 

Baek Se Hee ini mengalami sebuah kondisi di mana dia selalu merasa bersalah terus-terusan atas kejadian apapun yang ada di hidupnya. Dia selalu berpikiran negatif atas semua hal. Pokoknya semua hal buruk yang terjadi, dia cuma punya satu kesimpulan: semua salah gue. 

Baek Se Hee menceritakan secara gamblang dan sedetil-detilnya tentang emosi yang dia rasakan saat sesi konselingnya. Banyak hal yang dia ceritakan sebenarnya sangat relatable dengan yang kita alami sehari-hari. Misalnya, saat selera dia dianggap aneh oleh temannya waktu dia baca sebuah buku. Dia ngerasa, "Iya ya, gue aneh banget baca buku begini. Selera gue kok gini amat?". Mungkin kita pernah di kondisi kayak gini, aku pun sering kok. Sepele, kan? Tapi bagi Baek Se Hee itu sebuah masalah serius dan dia jadi benci banget dengan dirinya sendiri. Padahal dijelaskan juga bahwa dia sebenarnya suka-suka aja dengan selera bacaannya. 

Pasti tau dong peribahasa "hidup segan mati tak mau"? Nah, kondisi yang dialami Baek Se Hee seperti itu. Kebanyang nggak, sih, kalo kita menjalani hidup kayak gitu? Jujur, aku, sih, sedih banget dan ikutan 'capek' waktu baca buku ini. 

Perjalanan mencintai dan menerima diri sendiri itu memang nggak pernah ada ujungnya. Kita pun yang sehat secara mental kadang-kadang aja masih suka mikir, sebenarnya tuh kita hidup buat apa, sih. Gue udah cukup berguna nggak, ya, untuk sekitar? Gue tuh maunya apa, sih? Dan masih banyak pertanyaan lainnya. 

Yang diharapkan setelah baca buku ini, jangan langsung memberikan diagnosa pada diri sendiri mengalami depresi yang sama, hanya karena pengalaman yang diceritakan si penulis ini sangat 'dekat' dengan kita, ya! Kalau memang rasanya kita lagi stres dan nggak sanggup mendam sendirian, find someone to talk. Dan kalau memang kondisinya serius, you can always go to professionals. Intinya, jangan malu. Kalau kita bisa mencari pertolongan untuk diri kita sendiri, itu udah bisa disebut self-love kok (: 

 ***
Aku sangat merekomendasikan dua buku ini. Topik yang dibahas pun kurang lebih sama, ya, tentang mental health dan self-esteem. Semoga kalian juga bisa baca buku ini, ya! 

4 comments:

  1. Buku yang ke dua itu bestseller banget, saya ada buku versi Koreanya. Dikasih sebagai hadiah, tapi belum selesai dibaca~ hihihi.

    Topik mental health memang belakangan ini sering sekali diangkat jadi materi buku sampai lagu. Tapi seru juga ya as a fan bisa baca buku yang sama dengan idolanya. Meski saya nggak begitu mengikuti cerita BTS ini, saya tetap bisa merasakan euforia yang mba rasakan :D

    Semoga tahun 2020 bisa selesai 3 buku lainnya yaaaaa :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga kaget sih buku ini bisa dipublikasikan dalam bahasa Indonesia, kayaknya memang gara-gara di-mention idol dan topiknya juga lagi ramai dibahas di sini, ya, jadi momennya pas banget.

      Amin! Semoga tahun ini makin rajin baca bukunya!

      Delete
  2. Wah.. Haruki Murakami sama Me Before You (plus Me After You) udah pernah baca.

    Buat saya, baca karya Haruki tuh rasanya perlu pemahaman yang lebih. Hahaha... Gak sesederhana memahami Me Before You. Apa mungkin karena gaya penulisan dan diksi Haruki ? Hmm...

    Tahun ini pingin baca buku yang ringan buat nambah belajar storytelling. Dan pingin baca buku karya penulis Indonesia. Tapi belum tahu siapa ? Hahaha...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gaya penulisan Murakami itu memang unik, sih. Saking uniknya aku sering bingung ini beliau nulis gini maksudnya ingin menyampaikan apa ya, hahahaha. Mudah-mudahan bisa menyelesaikan bukunya yang lain nih tahun ini.

      Belakangan ini karya dari penulis Indonesia kebanyakan puisi/prosa/esai pendek gitu ya dengan ilustrasi. Serius, aku nemu banyaaaak banget buku seperti itu di toko buku. Entah memang lagi trennya atau bagaimana. Jadi aku masih lebih sering baca novel Metropop aja kalau dari Indonesia hahaha

      Delete

Thank you for reading and dropping your comments, it means a lot to me. All comments are moderated and I will try to reply to each comment as soon as I could, so please check back.

All spams and comments that contain ads are gonna be deleted. I'm trying to make this blog a pleasant place where we can communicate with each other.

Once again thank you and see you around!