Enaknya Tinggal di Bali dan Bogor

Saturday, August 8, 2020

Waktu beberes navigasi menu di blog, aku baru ngeh ada kategori khusus tentang living in Bali, di mana isi tulisannya berupa cerita sehari-hari dan kegiatan jalan-jalan selama tinggal di Pulau Dewata (2013-2015). 

Di saat yang bersamaan, aku nemu tulisan lama tentang gimana rasanya jadi orang Bogor. Tulisan itu dibuat saat aku baru setahunan tinggal di Bogor. 

Kemudian aku pun berpikir, kayaknya seru, yaa, membahas pengalaman tinggal di dua tempat yang berbeda ini. Aku pun baru sadar juga bahwa belum pernah bercerita apa rasanya tinggal di Bali. Dan setelah empat tahun menjadi (istri) orang Bogor, pasti ada banyak hal yang dirasakan. 

Terinspirasi dari tulisannya Mba Eno juga yang pernah menceritakan perbedaan tinggal di dua negara yang berbeda, Bali or Jeju. Kalau versi aku, keduanya masih di Indonesia, namun sama-sama berawalan B: Bali dan Bogor πŸ˜†

Sebelumnya disclaimer dulu, yaa. Aku nggak berusaha untuk membandingkan kedua tempat ini. Sebaliknya, aku akan menceritakan hal dan bagian apa yang paling aku suka saat tinggal di Bali maupun Bogor. Apa aja, sih, yang bikin feels like home saat berada di kedua tempat ini? (: 

Tentunya semua pendapat dan opini berdasarkan pengalaman pribadi, ya! 

BALI

Toleransi yang tinggi. 

Sebagai salah satu pulau wisata ternama di Indonesia, ternyata mayoritas masyarakat Bali punya toleransi yang cukup tinggi lho. Setidaknya ini yang aku rasakan saat kami sekeluarga pindah ke sana. 

Kebetulan gang tempat tinggal orangtua ditempati oleh para pendatang yang sudah lama tinggal di Bali dalam jangka waktu di atas 15 sampai 20 tahun. Saat kami pindah ke sana, mereka menyambut dengan ramah. Nggak ada rasa seperti "senioritas" karena udah menjadi pendatang lama. 

Tetangga yang tinggal seberang rumah kami ternyata adalah seorang Pak Haji yang cukup dihormati di gang tersebut. Beliau suka mengadakan pengajian rutin tiap minggu di rumahnya. Pak Haji dan keluarganya ini ramah sekali. Waktu mereka merayakan hari raya Idul Adha dan setelah upacara qurban di tanah kosong dekat rumah, kami kebagian jatah juga lho. Agak kaget juga saat ada yang ngetok pintu rumah dan kebagian daging sapi hihi 

Masih tentang keramahan keluarga Pak Haji, saat beberapa hari putri beliau akan menikah, kami diundang ke rumah mereka untuk acara selametan. Tentu kami merasa senang dan feeling honored bisa turut merasakan kebahagiaan mereka sekeluarga. And not to mention, makanannya enak-enak bok! πŸ™ˆ

Sikap toleransi juga aku rasakan sewaktu bekerja di Starbucks, di mana mayoritas teman-teman kerja dan atasan pun adalah orang Bali. Meski hari-hari pertama kerja aku merasa risih dan nggak nyaman, karena merasa "berbeda" sendiri, namun itu hanya terbatas dalam pikiranku. Karena realitanya, mereka samsek nggak membeda-bedakan atau pun mengucilkan. Aku diterima dengan sangat baik. Lucunya, ada beberapa kawan yang selalu excited bertanya-tanya mengenai kehidupanku, kenapa pindah ke Bali, kan enak di Jakarta dan sebagainya. Atasanku pun sangat menghargai kewajiban ibadahku setiap hari Minggu. Biasanya di hari Minggu, aku suka kebagian shift pagi atau sore. Jadi kalau masuk pagi, aku masih bisa ikut ibadah di sore hari, sementara kalau masuk sore, aku bisa ikut ibadah pagi bersama orangtua. 

Sebaliknya, ketika aku bertanya tentang hal-hal yang berhubungan dengan Bali--entah itu dalam hal makanan, bahasa, tradisi dan lain-lain, mereka nggak sungkan untuk menjawab. Bahkan aku nggak menolak saat mereka memanggilku dengan panggilan, "Gek", yang artinya panggilan bagi perempuan sebaya atau lebih muda. Later did I knew, Gek itu kependekan dari jegeg yang artinya cantik 😝

Aku pernah iseng tanya dengan salah satu dari teman Bali, kenapa, sih, masyarakat Bali itu punya sikap toleransi yang tinggi? Jawaban mereka kira-kira seperti ini: karena takut karma, dan bukan kah berbuat baik ke semua orang itu suatu kewajiban? Intinya, selama orang-orang baik ke mereka, mereka juga akan berbuat hal yang sama, dan vice versa. Jawaban yang cukup simpel, ya? (: 

Sikap cuek cenderung individualis 

Entah kenapa, yaaa, selama tinggal dan tiap pulang ke Bali, aku nggak merasa harus tampil paripurna saat berpergian. Di Bali, aku merasa nyaman memakai celana pendek dan sendal jepit ke mana pun. Mau ke pantai, ngafe, brunch cantik, restoran atau ke mal seperti Beachwalk/MBG pun, aku pede-pede aja berpakaian cuek seperti ini. Plus, kadang-kadang nggak dandan juga. Aku sama sekali nggak merasa dipandang "aneh" oleh orang-orang sekitar. Lah, bule kutungan atau bikinian naik motor aja bodo amat. Lain cerita kalau di Jakarta, pergi ke rumah teman aja kudu rapih, apalagi nge-mall! Wah, rasa insekyur menyerang kalau pakai sendal jepit ke Plaza Indonesia atau Mall Central Park sekali pun. Bisa ditatap judes bahkan oleh petugas security depan pintu masuk *lebayyyy kan lo* 🀣

Tadinya aku pikir ini perasaan pribadi doang, tapi ternyata mamaku sendiri sampai beberapa teman yang suka bolak-balik liburan ke Bali mengatakan hal yang sama.

Berarti terbukti yaa, mayoritas orang di Bali itu nggak kepo dengan orang lain, termasuk penampilannya. Alasan ini lah yang membuatku betah setiap kali berada di sana. Bisa bebas berekspresi melalui pakaian senyaman mungkin, tanpa takut dinilai negatif dari orang sekitar 😊

Lalu lintas yang nggak begitu hectic

Khususnya di jalan-jalan utama dan beberapa wilayah yang ramai turis, macet tentu tidak bisa dihindarkan. Namun bagiku sendiri, macet di Bali masih bearable. Apa aku aja yang bias, ya? πŸ˜‚

Tapii beneran deh. Contohnya, macet di wilayah Pantai Kuta. Musim liburan macet di Kuta udah biasa. Mobil-mobil pasti mandek nggak bisa gerak. Kecuali pakai motor, bisa deh selap-selip. Meski bete terjebak macet, tapi mata tuh dimanjain dengan pemandangan toko-toko maupun bar-bar (bukan barbar!) yang ramai oleh pengunjung. Nggak tau kenapa aku senang-senang aja, sih, melihat keramaian seperti ini. Walau macet, masih ada yang bisa dilihay, lah. 

Nyetir motor di Bali pun bisa dibilang aku cukup pede. Awal-awal ada rasa takut, karena belum familiar dengan daerahnya. Lama-lama terbiasa, sih. Bahkan aku pernah nekad nyobain Tol Bali Mandara bareng mama naik motor. Nggak usah ditanya pengalamannya kek mana. Hanya berdoa biar nggak masuk angin! 🀣 Tol Mandara itu, kan, di atas laut, yaaak. Anginnya pun kencaaaang sekali. Dengan kecepatan 30 km/jam aja muka rasanya ikut terbawa angin LOL tapi yaa senang rasanya, kapan lagi bisa bawa motor di jalan tol sambil menikmati pemandangan biru-biru laut dan langit? ❤

Better quality of life 

Buat aku yang lahir dan tumbuh besar di ibu kota, lalu bertemu dengan gaya hidup di Bali yang cenderung lebih santai, secara nggak langsung membuat bawaan diri jauh lebih rileks. 

Stress level nggak setinggi waktu tinggal di kota besar. Kalau lagi penat, tinggal naik motor cusss ke pantai terdekat. Terkadang hanya mendengar suara ombak aja tuh udah bikin hati legaan, pikiran lebih tenang. 

Kebetulan jarak rumah ortu ke pantai terdekat nggak seberapa jauh. Kadang-kadang papa dan mama suka jogging ke pantai pagi-pagi, setelah itu ngopi sambil sarapan di McD hahahaha. Kebiasaan seperti ini nggak kutemukan sebelumnya waktu kami masih di Jakarta. Yaaa, mau ke pantai mana juga, kan. Masa ngesot ke Ancol? Jauh dongg πŸ˜‚

Aku senang melihat mereka berdua lebih hepi (dan semoga selalu hepi!) selama tinggal di Bali. Mungkin memang keputusan mereka untuk menghabiskan masa tua di sana adalah yang terbaik 😊 *hiks mendadak kangen T_T*

BOGOR 

Street food everywhere! 

Bahasa kerennya, jajanan kaki lima di mana-mana! 

Pengen soto mie? Yang terdekat tinggal nyeberang dari gang rumah. Pengen bakso gerobakan? Ada di depan sekolah Josh yang dulu. Pengen robak atau surabi? Tinggal ngesot ke warung Saras dekat rumah. Martabak?? Ada juga dong, dari yang harga seloyang tigapuluhribuan sampai seratusribuan 😍

Selain pilihan makanannya yang banyak, harganya juga nggak mahal. Sepertinya kuliner di Bogor itu menjangkau segala usia dan kantong, deh. Apalagi kalau ngincernya jajanan dekat area kampus atau sekolah, pasti harganya lebih murah lagi.

Selama tinggal di Bogor, hampir segala craving mudah terpenuhi. Kayak beberapa hari lalu, mendadak aku dan suami kompakan pengen sarapan nasi uduk (kalo aku kepengen gara-gara baca laporan kuliner Mba Nita yang menikmati nasi uduk angkringan dan Mba Heni yang di-surprise-in sang suami dengan sebungkus nasi uduk di rumah). Untung dehhh, depan gang rumah, pas sebelahan dengan warung soto mie langganan kami, ada ibu yang jualan nasi uduk enak pisan. Ibunya malah udah kenal suami dari jaman SMP lho, btw hihi 
Mungkin karena aku udah bosan dengan makanan ala mall waktu di Jakarta, begitu tinggal di Bogor kalap banget, jajan ini jajan itu. Oh pantes yaaa.. perut makin buncit πŸ˜”

Cuaca dan kualitas air yang lebih segar

Awal-awal tinggal di Bogor, aku norak banget deh saat menghirup udara di pagi hari. Waaaah... cuacanya dingin! Persis kayak di Puncak gitu (yah emang deket sama Puncak yak). Biasanya cuaca adem seperti ini bertahan kira-kira sampai jam 7 pagi. Setelah itu, matahari biasanya udah agak naik dan mulai terik. Tapi terkadang sore hari anginnya juga sepoi-sepoi. Suami kalau pulang kerja, setelah mandi suka banget nongkrong di teras rumah sambil menikmati angin hahaha 

Selain cuaca, air di Bogor itu juga segar sekali. Mungkin karena langsung dari air mata pegunungan, ya *loh kayak iklan apa gitu*. Kalau cuaca kebetulan sedang dingin-dinginnya, air pun serasa es! Dan yang paling aku suka, air di Bogor itu nggak lengket di kulit. Pernah nggak kalau habis mandid kulit rasanya keset banget? Itu jarang terjadi selama (mandi) di Bogor. Ini diakui oleh mama mertua yang katanya air Bogor itu is the best huahaha πŸ˜†

Saking segarnya, di rumah mertua tuh selalu masak air ledeng untuk diminum sehari-hari. Aku yang jarang banget minum air masak, tentu nggak terbiasa awalnya. Tapi makin ke sini, aku malah lebih sering minum air masak. Menurut suami, air masak juga lebih segar di mulut dan tenggorokan. 

Lumayan, kann, jadi hemat beli air galon 😝

Lebih settle dalam hal pekerjaan 

Aku dan suami pernah membayangkan suatu hari nanti bisa nyusul papa dan mamaku untuk tinggal di Bali. Kenyataannya, nggak semudah itu untuk pindah dari satu kota ke kota lain. Ada banyak hal penting yang harus dipertimbangkan, salah satunya adalah mata pencaharian. Untuk saat ini, kami bersyukur sekali bisa settle dengan usaha yang dijalani suami. Saking nyamannya dengan usaha sekarang, kami hampir nggak bisa berpikir usaha lain yang lebih baik untuk menghidupi keluarga kecil kami πŸ˜… 

Tapi kami nggak berhenti bermimpi untuk bisa melanjutkan hidup di Pulau Dewata kok. Sambil bermimpi, sambil dipikirkan juga langkah-langkah apa yang harus dikerjakan dan dipersiapkan, dan tentunya tetap bekerja keras menjalankan pekerjaan yang ada. 

Doakan saja, yaa, semoga suatu hari nanti mimpi kami bisa terwujud πŸ₯°

***
Meski tentunya ada beberapa perbedaan yang signifikan dari Bali maupun Bogor, namun aku bersyukur bisa punya kesempatan untuk mencicipi dua tempat yang berbeda. Beberapa alasan yang kujabarkan di atas tentunya yang selalu membuat kangen dengan kedua tempat ini. Kalau lagi di Bali, bisa mendadak kangen Bogor, begitu juga sebaliknya. 

Adakah teman-teman yang di sini pernah atau sedang tinggal di beberapa kota berbeda di Indonesia? Bagaimana pengalaman dengan kota di mana kalian tinggal tersebut? (: 

40 comments:

  1. Mbak Jane, saya tinggal di Cileungsi yang kebetulan masuk Kabupaten Bogor, jadi kita sedaerah kan? #maksa hahahaha.

    Saya setuju dengan semua poin tentang Bali, terutama toleransi. Saya selalu senang berbagi cerita tentang toleransi, karena banyak hal hal terkait toleransi yang kita praktikkan sehari-hari namun sering tak terarsipkan dalam tulisan, sehingga yang marak muncul malah cerita-cerita intoleran negeri ini. Padahal, contoh contoh positif jauh lebih banyak, cuman kurang terekspos.

    Nice sharing Mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah ternyata Mas Cipu warga Cileungsi? Iyaa dong, masih tergolong lha ya hahahaha

      Sebetulnya saya juga sering mendengar pengalaman intoleran seperti yang Mas Cipu bilang. Maka dari itu, saya mencoba untuk menuliskan dari pengalaman saya sendiri. Meski jangka waktu tinggal di Bali tergolong sebentar, namun saya senang sekali bisa belajar banyak tentang sikap toleransi ini dari orang-orang sekitar (:

      Makasih Mas Cipu sudah membaca juga ya!

      Delete
  2. Saya sudah baca tulisan kak Eno, dan tulisan kak Jane rupanya menghindari hal-hal yang bersifat dualisme. Dari dua kota, yang dijabarkan sisi positifnya saja.

    Saya ngga pernah ada pengalaman tinggal di dua kota. Paling cuma sekadar liburan, dan hal itu tidak akan bisa dijadikan tolok ukur saya untuk menilai. Lagipula, dimanapun kita berada, saya percaya tetap baik-baik saja selama kita tetap begitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mas Rahul. Ibarat punya dua anak, agak sungkan kalau harus membandingkan keduanya bukan? :P

      Saya agak kesentil nih dengan kalimat yang terakhir. Apakah maksud Mas Rahul "kita tetap begitu" adalah menjadi orang yang baik dan berpegang pada prinsip serta nilai kehidupan di mana pun kita berada? Kalau iya, berarti kita sependapat (:

      Delete
    2. Iya kak Jane, apa yang kita tanam, itu yang akan kita tuai

      Delete
  3. Poin-poin mba Jane di atas setipe sama alasan saya untuk settle down di Bali in the past πŸ˜† hehehe. Memang toleransi umat beragama di Bali sangat tinggi, dan saya nggak pernah merasa dikotakkan meski saya merupakan bagian dari minoritas karena nggak menganut agama Hindu seperti kebanyakan orang di Bali πŸ’• dan umat beragama lainnya juga saling dukung satu sama lain. Jadi hidup rasanya peaceful sekali 😍

    Di lain sisi, saya merasa di Bali tuh vibe-nya liburan terus hahahahaha. Kalau sedang senggang dan bosan di rumah, tinggal pakai kacamata hitam dan topi pantai lalu cus ke luar yalan-yalan cari angin or duduk-duduk di restoran πŸ˜‚ and I couldn't agree more soal pakaian, saya pun nggak pernah merasa insecure meski pakai fashion santai πŸ˜† itu yang membuat saya betah hidup di Bali. Seriously no more stress. Hehehehe. Mana banyak resto dan cafe enak. Terus setiap sudutnya entah kenapa menyenangkan untuk dilihat πŸ˜†

    Nah kalau soal kemacetan, sebenarnya genggeus juga semisal stuck di jalan. Paling antisipasinya dengan nggak pergi saat jam sibuk hahaha. Di Bali ada jam-jam santainya, jadi kita bisa menghindari macet sesuai harapan kita 🀣 oh dan satu lagi alasan terpaling mendasar saya suka Bali especially ditengah tahun adalah karena udaranya yang dingiiiiinnnn. Feels like 20-22 degree, mbaaa. Anginnya sejuk bingits 😍

    Well, semoga di mana pun kelak mba Jane dan keluarga settle down, mba Jane dan keluarga bisa merasa peaceful dan menikmati hidup yang mba punya 😍 wish one day saya bisa yalan-yalan ke Bogor jugak. Sudah terlalu lama nggak sana πŸ˜‚ terakhir jaman sekolah hahahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setujuuu sekali, Mba Eno! Mungkin itu kenapa Bali terkesan peaceful, karena masyarakatnya bisa saling merangkul dan nggak mengkotakkan seperti yang Mba Eno bilang. Makanya aku agak kesentil waktu mendengar jawaban dari teman orang Bali yang mengatakan seharusnya kita semua bisa berbuat baik ke semua sesama. Kalimat sederhana tapi meaningful 😊

      Wah iya! Aku lupa menyertakan kalimat andalan tentang Bali: everyday is a holiday in Bali! 🀣 ini betullll sekali! Meski tetap harus bekerja setiap hari, entah kenapa vibe-nya juga santai. Mungkin karena sehari-harinya aku bertemu dengan para customer yang berlibur, yaa. Rasanya ikut berlibur juga saat mendengar pengalaman liburan mereka di Bali hihi

      Tentang cuaca, so saddd tahun ini aku tidak merasakan "musim dinginnya" Bali ): bulan Juni-Juli itu memang anginnya ademmm sekali yaa, Mba. Naik motor pun nggak perlu takut gosong 😝

      Aminnnn! Yang penting di mana pun kami berada tetap bersama keluarga tercinta yaa. Doa yang sama untuk Mba Eno dan kesayangan juga :D

      Wah udah lama sekali kalau begitu. Yukss sini, Mba Eno. Bogor siap menyambut 😁

      Delete
  4. Mungkin karena itu banyak seleb dan bule yang akhirnya memilih menetap di Bali, ya...

    Habis baca post ini, jadi kepikiran buat nulis juga... tapi pernah tinggal di beberapa kota yang setengahnya pas masih kecil, kemungkinan besar sekarang udah berubah banget, ntar kurang relate sama kenyataan deh πŸ˜…

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iyaa. Kebetulan aku follow IGnya Nana Mirdad, ternyata alasan dia menetap di Bali karena ingin anak-anaknya tumbuh di lingkungan yang lebih bersih dan dekat dengan alam. Soalnya memang dibandingkan dengan kota-kota besar, Bali masih banyak wilayah yang tingkat polusinya agak rendah.

      Hihi gapapa, Mba Hichaa. Ditulis aja pengalamannya pasti menarik juga sambil nostalgia :P

      Delete
  5. Aku selalu membayangkan gimana rasanya bisa tinggal di kota lain selain di ibukota. Gimana rasanya tinggal di kota yang banyak destinasi alam-nya, nggak cuma emol aja tujuan wisatanya πŸ˜‚

    Maka, setiap kali aku ke luar kota, aku jadi kebayang gimana rasanya bisa tinggal di kota tersebut. Dan, sejauh ini, aku paling ingin menghabiskan hidupku di Bali seperti ci Jane dan kak Eno 🀭

    Bali benar-benar daerah yang sangat berbeda jauh dari ibu kota, dan banyaknya wisata alam serta jarak yang dekat dengan tempat wisata, juga jadi salah satu kesukaanku. Juga vibes-nya yang seolah setiap hari adalah hari libur, no more stress dan lebih banyak bahagianya, sepertinya hidup di Bali sangat menyenangkan 😍
    Bangun pagi - lari dikit ke pantai - santuy - pulang - malam ke pantai lagi, asik banget bayanginnya 😍 tapi aslinya mah bisa masok angin kalau kayak gini ceritanya huahahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha anak jekardah memang nggak bisa jauh-jauh dari emol. Bahkan adikku yang udah lama di Bali aja tiap kali pulang ke Jakarta wish-nya cuma satu: ingin ke mall dan lihat gedung tinggi! 🀣

      Selain karena vibe Bali itu sendiri, sebenarnya cara kita menyikapi hidup itu juga berpengaruh (: Ada masa-masanya aku juga ngerasa sulit beradaptasi. Namun lagi-lagi berterima kasih dengan wisata alamnya seperti pantai yang mana selalu berhasil menjadi tempat bertapa dan menyegarkan pikiran huahaha mungkin moto yang cocok saat tinggal di Bali itu, work hard, play hard! πŸ˜†

      Semoga suatu hari nanti Lia bisa menikmati kehidupan dan bersenang-senang di Bali juga, ya! :D

      Delete
  6. kalau bicara bogor yang terlintas di benakku langsung kulinerannya yang banyak dan enak-enak, kayak cerita mba jane soal rekom cafe jadi favorit dan makanan yang endeusss, belum ada kesempatan main ke bogor lagi
    terakhir ke bogor waktu SD :D, lama banget

    Bali semenyenangkan itu ya, toleransinya luar biasa, sukak sama yang beginian, hidup "berbeda" tapi masih bisa berdampingan dengan baik dan menghormati satu sama lain

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaahaha iyaa, kalau ngomongin Bogor, aku nggak bisa lepas dari kuliner dan kafe-kafenya πŸ™ˆ kalau begitu Bogor dimasukkin ke daftar traveling-nya Mba Ainun, siapa tau bisa berkesempatan kulineran bareng :D

      Salut memang dengan toleransi yang dimiliki masyarakat Bali, patut dicontoh 😊

      Delete
  7. Saya pernah tinggal di Singapur dan Jakarta. Sebetulnya pernah menetap di Jambi dari lahir sampai umur 5 tahun, sayangnya saya nggak begitu banyak ingatan waktu disana kecuali dulu suka diajak Mama makan ayam goreng macam K*C tapi namanya Saimen Fried Chicken hahaha.

    Anyway, boleh nggak mbak idenya kupinjam untuk nulis perbandingan di tempat yang pernah aku tinggalin?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku iseng googling Saimen Fried Chicken, munculnya malah ayam goreng Saiman di Jakarta Timur huahahaha

      Boleh banget dong, Mba Ayu! Ditunggu yaa nanti :D

      Delete
  8. Aku baru pertama kali ke Bali dan baca tulisan ini aku kangen Bali😭 aku tuh saking ga pernahnya ke sana, sekalinya ke sana aku nanya dong ke orang sana "masuk pantainya beli tiket nggak?"🀣🀣🀣 soalnya pantai-pantai di Malang selalu ada tiket masuknya. Eh ternyata ya bebas aja masuk pantai Sanur dan Kuta, huhuhuhu I miss traveling in general😭

    ReplyDelete
    Replies
    1. AHAHAHA XD tapi sejak beberapa tahun lalu, beberapa pantai khususnya wilayah Jimbaran dan Uluwatu ada biaya masuknya, biasa untuk kendaraan sih. Antara sedih dan gimana yak banyak pantai bagus yang tadinya eksklusif malah dibikin komersil dan nggak serapih dulu hiks

      Eniweiii, aku juga kangen Malang nih! T_T

      Delete
  9. Mba Jane, seru banget semoat merasakan di kota seindah Bali 😍😍 Memang karena vibe nya kota wisata, jd asik klo suntuk dikit bisa lngsng cus ke pantai, atau tempat menarik lainnya..
    Masalah berpakaian itu juga aku setuju Mba, kalau di Jakarta kita oake baju santai dikit keluar, apalagi ke mall, pasti udah dilirik2 orang ya πŸ˜…
    Kalau aku prinsipnya, dimana pun itu asal bersama keluarga tercinta. Hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa, Mba Thessa. Bersyukur sekali bisa sempat menyicip tinggal di Pulau Dewata ini πŸ˜†

      Nah iyaa kan. Aku juga insyekur kalau ke mall berpakaian santai. Di Bogor pun juga begitu, menghindari pakaian belel. Sampai suami suka komentar, "ngapain sih ke mall deket rumah doang rapih begitu?" ahahahaha

      YESSS. Home is definitely where our family gathers πŸ₯°

      Delete
  10. Di Bogor emang yaa makanan segala ada.. daerah rumah orangtuaku yang di kabupaten pun, kalo ke jalan raya dikit banyak banget pilihan jajanan kaki limanya. Aku ke Bali baru pernah sekali, tapi emang kerasa banget orang-orang di sana ga yang liatin penampilan orang lain dan toleransinya tinggi. Keren sih emang Bali πŸ‘πŸ‘ Aku jadi kepikiran mau nulis soal tinggal di Jakarta dan Bandung hahaha tapi udah lama banget, di Bogor malah belum pernah ngerasain tinggal lebih lama dari 2 minggu sih ahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh iyaa ayooo nulis juga dong, Eyaa tentang Jakarta dan Bandung! Pasti menarik juga deh kalau dibahas, karena pengalaman tiap orang kan beda-beda hihi

      Jadi kapan kamu ke Bogor lagi? Hayukk kita bersua nanti :D

      Delete
  11. Aku selalu penasaran sama Bali karena gak pernah kesanaaa hiks, setiap kali ada acara tour dari sekolah pun paling banter pasti Yogya lagi, pengen kayak yg lain yalan-yalan ke BaliπŸ˜– Apalagi setelah baca cerita mba Jane tentang pengalaman tinggal di Bali, jadi makin penasaran hadeuuh. Soalnya aku pengen liburan ke pantai yg letaknya di tengah-tengah perkotaan, dan yg aku lihat sih Bali begitu ya mba😍 Sebetulnya aku emang gak suka pantai sih, salah satu alasannya karena pantai disini terlalu hijau dan hawanya mencekam. Jadi pingin sesekali menikmati suasana pantai yg letaknya gak jauh dari kota, apalagi nongkrong disana pas sunset wuih kayaknya mantabs😍

    Kalau untuk Bogor aku sendiri ngalamin emang kotanya jajanan mba setelah BandungπŸ˜‚ dulu kalo mau jalan2 ke rumah saudara di Jakarta tuh pasti mampir ke Bogor dulu beli oleh2 di deket kebun raya, atau nggak makan siomay di taman topi yg enaaak banget, sekarang gak tau masih ada disana atau nggak tukang siomaynya:( Jadi inget masa2 bareng eyang dulu suka diajak jalan2 naik kereta ke Bogor😒 Sekarang eyangnya udah gak bisa jalan jauh sendiri, padahal dulu sering banget kalau pergi cuma berdua aku aja diajakπŸ˜–

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga tadinya nggak begitu suka pantai, Awl. Emang anak kota jadi yaa sukanya keramaian kota XD tapi setelah (pernah) tinggal di Bali, dikit-dikit inginnya ke pantai hahahaha vibe-nya enak banget khususnya sore menjelang sunset. Itu paling mantul deh kalo untuk santai-santai sambil baca buku 😝

      Semoga nanti bisa kembali menyambangi Bali dan pantai-pantainya ya! :D

      Tentang Bogor, tau nggak sih Taman Topi itu udah dibongkar ): udah sejak awal tahun kemarin sih, sempat dengar ditunda tapi belum tanya-tanya suami juga kelanjutannya bagaimana.

      Sebelum tinggal di Bogor, kenanganku nggak jauh beda sama kamu. Bedanya tiap ke Bogor nggak lupa borong Venus hahaha

      Tisam buat eyang, yaa. Semoga eyang sehat-sehat selalu πŸ€—

      Delete
  12. Semoga bisa terwujud keinginannya untuk tinggal di Bali, Jane..

    Kalau saya sih sudah betah di Bogor, justru tidak bisa pindah ke lain hati. Maklum deh sudah 40 tahun lebih tinggal di sini, jadi kalau disuruh pindah ke tempat lain... Beeraaatttttzzz sekaliiii...

    Biar macetnya makin ga ketulungan, tetap saja bisa dikata akarnya sudah tertanam terlalu dalam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aminnnn, Mas Anton (:

      Wah iyaaa, sudah mendarah daging ya, Mas hahahaha kalo gitu judulnya mah there's no place like Bogor ya πŸ˜†

      Delete
  13. bukannya di bali makanan lebih enak2 ya? hehe
    btw yang di foto nasi uduk itu sate apa ya? keliatannya enak banget :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tergantung ko. Kalo untuk street food, aku masih lebih senang di Bogor ko hahaha

      Itu sate kikil! Emang enak banget itu, pake bumbu kacang pedes pulak, makin nendang hahahaha

      Delete
  14. Baca yang di bali jadi pengen ke bali apalagi pas bagian bisa jalan-jalan ke pantai dengan mudah, dengerin suara ombak yang bikin tenang. Denger bogor juga pengen ke bogor, pas bagian makanannya, apa aja ada, tinggal pilih.
    Di sini, di desa saya juga air masak sendiri mbak. Saya belum pernah merantau jauh sih, tapi dulu sempat kerja trus tinggal di kota gitu dan perbedaan besar yang paling saya rasakan adalah kalau malam gerahnya minta ampun. Nggak butuh bantal ataupun selimut yang dibutuhkan adalah kipas angin. Kalau nggak ada kipas angin nggak bisa tidur beneranπŸ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kedua tempat ini memang punya daya tariknya sendiri ya :D

      Wah itu yang dirasakan banget ketika udah menetap di Bogor. Meski aku emang sukanya ruangan ber-AC, tapi di Bogor di bulan-bulan tertentu cuacanya ademmm banget! Kadang tidur malam pun kami nggak nyalain AC tetap selimutan karena dingin. Apalagi kayak sekarang hujan terus, buka jendela anginnya langsung terasa :D

      Delete
  15. Ci Janeee... menyenangkan sekali punya pengalaman berbeda seperti itu. Kalau aku di posisi cici, mungkin akan merasa "ribet" karena harus pindah-pindah. Padahal tiap tempat menawarkan hal baru yang sangat menyenangkan.

    Aku suka bangeet bangeet sama Bali, khususnya Ubud. Entah kenapa selalu tidak pernah bosan ke Bali, bahkan senang banget nginep di daerah Ubud. Mungkin karena aku bukan anak pantai, senang yang lebih adem dan tenang. Maka, ubud jadi salah satu destinasi yang ku suka. Bahkan sempat membahas sama koko, kalau kami pindah ke Bali gimana yaa? hhhaa..

    Bogor pun aku suka, setuju sama cici disana kulinernya banyaaak beneeer. Rasa-rasanya pengen cobain semua. Soto mie, roti unyil, martabak, makaroni panggang, dll dll dll.. Banyaakk dan tidak pernah bosan untuk mencobanya.

    Dimanapun cici menetap sekarang, semoga selalu damai dan merasa senang yaaa :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Soal pindahannya memang seribet itu hahahaha pusing banget kayak udah lewat tiga bulan aja kok kayaknya belum kelar unpacking πŸ˜‚

      Wah iya, Ubud kayaknya banyak yang suka, karena menawarkan suasana yang berbeda dari wilayah mainstream lainnya seperti Kuta atau Jimbaran, ya. Tapi aku sendiri jarang banget ke Ubud, paling sesekali aja itu pun cuma makan Nuris sama ngafe πŸ™ˆ dan membayangkan menghabiskan masa tua di Bali juga menyenangkan, sih hihi

      Kapan-kapan kalo main ke Bogor, aku ajakin makan soto mie dan soto kuning enak, ya! Ngomongin jajanan di Bogor emang nggak pernah habis sepertinya hahaha

      Aminnn! Kamu juga yaaa dengan suami, semoga bahagia selalu ya ❤

      Delete
  16. Mungkin karena di Bali tuh banyak bule ya, dan udah menjadi tontonan sehari-hari, jadinya ya apapun yang kita kenakan, kita lakukan, selama enggak mengganggu orang lain, it's OK.

    Dan memang hanya di Bali ya, kalau di Indonesia.
    Karena banyak juga beberapa wilayah wisata di Indonesia, tapi nilai toleransinya masih dikit, rata-rata merasa jadi penguasa daerah, pendatang kudu tunduk sama mereka.

    Bali memang the best ya, makanya banyak artis maupun orang terkenal memilih Bali sebagai tempat tinggal :D

    Btw, saya belum pernah sama sekali ke Bogor, tapi memang dari dulu terkenal banget tuh dengan kesejukan kota tersebut, saking selalu disiram hujan kali ya, hahaha.

    Trus jajanan kaki lima di mana-mana? menarique tuh :D
    Duuh pengen lagi menyasarkan diri sampai Bogor gitu, biar tahu Bogor kek gimana :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pesona Bali sejak dulu memang kuat yaa, banyak sekali orang yang tegoda untuk menetap di sana. Asal alamnya tetap bisa dijaga dengan baik, karena makin ke sini makin banyak juga lahan-lahan hijau yang dipakai untuk bangunan komersil πŸ˜₯

      Ayok sini, Mba Rey, kapan-kapan main ke Bogor :D pas banget baca komentar Mbak Rey ini Bogor lagi hujan terus sepanjang hari, cuacanya adem pisannn dan perfect buat leyeh-leyeh πŸ™ˆ

      Delete
  17. Setuju banget mbak jane, kalau toleransi di bali itu tinggi. Aku ada beberapa teman yang tinggal di bali. Mereka berpesan kalau main ke bali, jangan lupa untuk singgah di rumahnya. Bahkan dibolehkan untuk menginap di rumahnya. Dia bakal senang sekali. Dia juga tidak keberatan untuk menemani jalan-jalan keliling bali.
    Jadi pengen ke bali :D

    Kalau bogor isinya cuma kulineran terus..hehhehe..beberapa kali datang ke jalan suryakencana untuk kulineran. Dibela-belain datang dari bekasi..hahahhaa
    air memang jadi yang paling penting, air didaerahku di bekasi lengket di kulit dan rasanya sungguh tidak seger. Jadi ketika ketemu dengan air seger sangat bersyukur...hahhahaha

    berhubung sedang pandemi, jalan-jalan menggunakan krl menuju bogor ditunda dulu...hufft

    pengalaman yang menarik mbak jane :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahhhh, seru sekali yaa punya teman yang siappp menyediakan akomodasi dan mengantar jalan-jalan kalau ke Bali :D sejak tinggal di sana pun, orangtuaku suka mengizinkan beberapa kerabat dekat untuk menginap di rumah, dan nggak keberatan juga untuk mengantar mereka ke beberapa tempat wisata yang diinginkan πŸ˜„

      Duh, Suryakencana memang surga duniaaaa. Kata suami yang asli Bogor, sejak nikah sama aku aja dia baru sering kulineran di kota kelahirannya sendiri, sebelumnya jarang banget. Paling di beberapa warung makan langganan hahahaha

      Wah iya, sayang sekali ya. Mudah-mudahan nanti bisa wisata kembali ke Bogor, ya.

      Terima kasih juga sudah membaca, Mas Rivai!

      Delete
  18. Mbak Jane, pas baca bagian hidup di Bali kenapa rasanya haru gini..
    Aku jadi ingat waktu dulu tinggal di Pulau Biak, Papua, rasanya hampir sama. Apalagi toleransinya itu loh. Rasanya lebih adem.

    Untuk masalah kenyamanan tempat tinggal, aku juga lebih suka tinggal di kota kecil. Beberapa kali ke Surabaya, aku ngerasa it's not my cup of tea. Rasanya udah stress duluan. Belum lagi biaya hidup kota besar yang lebih mahal. Dan pas Mbak Jane mention masalah air, ini salah satu hal utama yang ada di list ku. Air harus bersih! Dan di Surabaya selama beberapa hari, airnya udah kaporitan bahkan berwarna nggak jernih gitu.

    Jadi kepikiran, kayaknya pensiun di Bali bisa nih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, Mba Pipit pernah tinggal di Biak?? Seru sekali! Pasti pengalamannya juga menarik ya!

      Aku ke Surabaya hanya pernah dua kali, dan merasa nggak ada bedanya dengan Jakarta; macet, hectic, padattt sekali kotanya πŸ˜…πŸ˜‚ dan betul yaa, biaya kehidupan di kota besar itu juga PR sekali. Stress levelnya tentu beda kan yaa.

      Mari kita bekerja keras dulu sekarang supaya bisa pensiunan bareng ke Bali πŸ˜†

      Delete
  19. Ngomongin B & B ..Bali dan Bogor, Ada banyak pengalaman dengan Kota keduanya bagi saya.

    Dan apa yang dijelaskan diatas tentang Bali benar sekali, Di pula Dewata itu toleransinya begitu kuat. Jadi tidak ada perbedaan disana. Bahkan selain Bali saya juga pernah ke Kota Bima NTB. Dan toleransinyapun hampir sama di Bima dengan Bali. Karena pekerja dari Bali juga ada yang betah menetap di Bima.😊😊

    Kalau untuk kota Bogor memang terkenal dengan kesejukannya dan kulinernya meski boleh dikatakan saya malah jenuh di bogor terus haahaaa...πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    Yaa memang ada kelebihan dan kekurangannya setiap Kota yang kita singgahi.πŸ˜‚πŸ˜‚ Kalau disuruh memilih Bali atau Bogor.....Saya lebih memilih Kota DEPOK. Haaahaaaaa..πŸ˜‚πŸ˜‚

    Karena diBali sudah tidak ada tempat gratis lagi bagi saya..Semuanya Sudah pada betah tinggal di Jakarta.πŸ˜‚πŸ˜‚

    ReplyDelete
  20. bali itu aku akuin toleransinya sangaaaaaat tinggi sekali :). Itu juga kali yaa tempat ini bisa jd tujuan fav seluruh turis dunia, krn mereka merasa nyaman di sana :). Akupun tiap ke bali, santai bae mbaaa, pake baju yukensi ato sendal jepit cuek aja... toh dipikir2 masih rapian bajuku drpd turis yg lain hahahahah.

    giliran sampe jkt, ya ampuuuuun, mau ke mall bentar aja dandan dulu ;p.. Eh ga usah bicara GI, PI, ato Sency, aku pernah ama suami mau nonton film di MKG , dan suami pake sendal gunung plus celana pendek. trus antri dibagian antrian untuk kartu kredit. di samperin ama security sambil ngomong, "maaf pak, ini untuk antrian CC, kalo cash di sebelah sini"

    maksudnyaaaaaaa wkwkwkwkwkkw. mentang2 pake baju gitu suamiku dikira ga ada CC ?? lagian kalo dipikir2, lebih terhormat orang bayar cash kali drpd pake CC yang berarti ngutang hihihihi. segitu kerasnya memang perjuangan hidup di ibukota hahahah. penampilan adalah segalanya ;p

    Kalo bogor, udahlah yaaaaa, aku berharaaaap suatu saat bisa tinggal di sana :D. sukaaaaa banget ama makanan2nya. aku prnh loh mba, dari pagi jam 6 udah berangkat ke bogor, sampe sana lgs wiskulan ama mama dan adek yg baru dtg dari medan. Jadi seharian ampe malam, kami cuma ngemil, istirahat, ngemil lagi, istirahat, trus muter cari jajanan lain, gitu ajaa trus ampe malam ;p. trus baru balik jakarta. itupun ttp aja cuma seuprit dari sebanyak itu kuliner yg ada :D. aku kangen ih pgn wiskul di bogor lagi :D

    menarik juga nulis pengalaman hidup begini yaa. aku sendiri pernah tinggal di Aceh, medan (tp ini cuma 6 bulan), penang dan skr jkt. paling lama di aceh. Tapi walopun au seneng tinggal di sana, cuma banyak hal yg bikin aku agak sedikit trauma kalo mau kesana lagi.. Karena di aceh aku sempet ngalamin masa2 pemberontakan GAM, di mana perang antara TNI dan GAM dulu sering aku rasain. belakang rumahku hutan, dan 2 pihak itu srg perang di sana. pernah juga peluru dari salah satu pihak nyasar ke jendela rumah dan jujur itu berbekas banget untuk aku. Temen2ku sendiri ada beberapa yg hilang diculik dan ga ketahuan juga skr di mana. Yang paling keinget di aku, pas zaman sekolah GAM datang ke tempat kami, dan maksa untuk naikin bendera mereka. semua murid dipanggil ke lapangan upacara, dan dipaksa untuk hormat bendera. inget itu aja aku marah sebenernya :(.

    Belum hilang ttg GAM, trus aceh ditimpa tsunami. Jadi jujur, cerita soal aceh, kdg bikin aku sedih walopun kangen juga pgn balik kesana ...

    aku lebih menikmati jakarta walo lebih keras :D. tapi kalo ditanya setelah pensiun mau stay di mana? pengennya sih solo, kampung suami.. rasanya tiap kali kesana, adeeem banget suasananya, orang2 lokal yg super ramah, makanan enak dan murah :). Tapi ntahlaaah, liat ntr aja kalo itu sih :D.

    ReplyDelete
  21. I feel you ci Jane untuk pergi ke mall harus dandan cantik. Kalau dandanan kucel tuh kaya diliatin seantero mall. #lebay. Padahal mereka ga peduli juga sebenernya... Hehe

    Terus bener banget. Kalau di Bali tuh ga peduli soal penampilan. Yang penting enjoy aja! Aku pun bisa leluasa pergi-pergi dengan celana pendek di Bali. Sedangkan kalau di Jakarta tuh agak was-was karena suka banyak catcalling! Huh!

    Ngomong-ngomong, kenapa bisa pindah sekeluarga ke Bali ci? Apa ada link khusus cerita tentang ini?? #belum ngubek2 blog ci Jane

    kalau tinggal di dua kota, pernahnya yang deket-deket aja sih ci. Masih di pulau Jawa hehe
    Hampir 18 tahun tinggal di Karawang, lalu hampir 5 tahun di Bandung, dan kini di Jakarta hehe
    Oh pernah juga cuma 2 minggu merasakan tinggal di Surabaya hehe

    ReplyDelete

Terima kasih sudah mampir dan membaca tulisanku di sini (:

Jangan ragu untuk berkomentar supaya kita bisa saling kenal dan ngobrol bareng, ya. Mohon maaf untuk komentar dengan link hidup dan iklan otomatis akan aku hapus demi kenyamanan bersama.

Jangan lupa checklist 'Notify Me' sebelum publish komentar supaya mendapat notifikasi balasan dari aku yang akan dikirim ke email kalian.

Have a great day!