#JanexLiaRC: Please Look After Mom (Ibu Tercinta)

Saturday, March 26, 2022


Karena Maret ini tema bebas, aku nggak perlu repot memilih buku sesuai warna dalam TBR. Kebetulan buku ini udah kubeli sejak awal tahun ini dan belum sempat dibaca selesai. 

Meski 2022 bulan jalan setengah tahun, tapi kuyakin bakal jadi salah satu buku terbaik tahun ini saking besarnya damage buku ini buatku (Ciyeh, damage. Udah kayak anak gen Z belum akoh?)

Blurb


Sepasang suami-istri berangkat ke kota untuk mengunjungi anak-anak mereka yang telah dewasa. Sang suami bergegas naik ke gerbong kereta bawah tanah dan mengira istrinya mengikuti di belakangnya. Setelah melewati beberapa stasiun, barulah dia menyadari bahwa istrinya tak ada. Istrinya tertinggal di Stasiun Seoul.

Perempuan yang hilang itu tak kunjung ditemukan, dan keluarga yang kehilangan ibu/istri/ipar itu mesti mengatasi trauma akibat kejadian tersebut. Satu per satu mereka teringat hal-hal di masa lampau yang kini membuat mereka tersadar betapa pentingnya peran sang ibu bagi mereka; dan betapa sedikitnya mereka mengenal sosok sang ibu selama ini—perasaan-perasaannya, harapan-harapannya, dan mimpi-mimpinya.

How I Discovered This Book


Judul buku ini masuk ke dalam daftar #BTSreads alias koleksi buku yang pernah dibaca oleh grup BTS. Pas aku ulik, nggak disebutkan kalau member mereka, Taehyung (V) benar-benar membacanya. Jadi judul ini hanya sekadar disebutkan aja gitu sama doi. Tapi, ya, yang namanya ARMY sekaligus fans buku emang agak bias. What BTS read, I read too! *halah* 

Sekilas tentang bagaimana saya mengetahui buku ini. 

My Personal Thoughts 


BUKUNYA BIKIN MEWEK.

Udah aku kasih warning tuh, ya, dari awal. Yes, buku ini penuh bawang. Banyak banget bagian dari buku ini yang aku garisbawahi dan diberi anotasi. Berbagai pernyataan dari emosi keseluruhan karakter di buku ini berhasil mengubrak-abrikkan perasaanku. 

Ini tentang ibu yang hilang. Ibu yang disayang oleh anak-anaknya hilang begitu aja di saatnya seharusnya mereka berkumpul bersama. Mirisnya, mereka tetap berkumpul... namun dengan saling menceritakan momen masing-masing dengan sang ibu tercinta, sambil menaruh harapan bahwa ibu bisa segera ditemukan dan pulang bersama mereka. 

Yang unik dari buku ini, semuanya dituliskan dari sudut pandang orang kedua dengan menceritakan tokohnya masing-masing. Melalui sudut pandang ini, aku bisa mengenal secara dekat tentang anak-anak ibu dan sang suami. Di bagian terakhir, aku dikejutkan dengan peralihan sudut pandang kedua ke sudut pandang pertama dari sang ibu sendiri yang membuat emosiku semakin jungkir balik 😒

Kita kenalan sebentar, ya, dengan para anak-anak. 

Ada anak perempuan sulung yang berprofesi sebagai penulis buku terkenal dan profesinya tersebut sukses membawanya keliling dunia. Dari kecil suka buku, suka ikut kakaknya belajar bareng. Tiap kali pulang kampung, kadang-kadang suka debat sama ibu tentang hal-hal kecil. Kenapa ibu nggak begini, kenapa ibu begitu. Ujung-ujungnya mereka akan pelukan lagi. Ciri khas hubungan ibu dan anak perempuansetidaknya untukku pribadibisa ditemukan dalam hubungan mereka berdua. 

Kemudian, ada anak laki-laki tertua yang sangat disegani ibu. Sebagaimana orang tua zaman dulu sangat mengagungkan anak laki-laki pertama. Sayangnya, sang anak menyesal karena waktu kecil kurang menghormati dan take care ibunya. Setelah berhasil kerja di Seoul, dia lebih mementingkan pekerjaannya ketimbang menelpon ibunya sekadar bertanya kabar. 

Dilanjutkan dengan kisah sang suami yang juga sangat menyesal karena kurang menyayangi dan peka terhadap kebutuhan pasangan hidupnya sendiri. Apa pun yang dilakukan istrinya dia anggap biasa dan memang seharusnya demikian, seperti memasak, membersihkan rumah, bekerja di ladang, dll. Dia menyesal nggak memperhatikan istrinya sejak dulu, membuatkannya semangkuk sup rumput laut saat dia berulang tahun. Saat pulang ke rumah pasca hilangnya sang istri, ia hanya bisa meratapi kesedihan dan penyesalannya. 

Setelah baca buku ini, rasanya pengen ngobrol intens sama mama sendiri. Pengen tau lebih dalam tentang beliau di luar perannya selama 31 tahun menjadi seorang ibu dari tiga anak. Sebagai anak, kadang kita memang nggak sadar, ya, ibu kita juga pernah melewati masa yang kita lewati sekarang ini. Kita pikirnya ibu itu ya ibu, dari sananya udah ibu. Padahal nggak. Aku pun sebelum menjadi ibu ya punya jati diri yang lain. Punya mimpi, punya cita-cita, punya harapan dan keinginan. 

Kalau boleh bilang, sebuah proses kehidupan yang paling berat namun juga memberikan pengalaman hidup yang luar biasa, adalah dengan menjadi seorang ibu. 

Favorite Quotes 


“Rumah hanya terasa hidup kalau ada orang-orang yang tinggal di dalamnya, menyentuhnya, menjadi penghuninya.” (hal.. 245)

“Kalau kau hanya melakukan apa-apa yang kau sukai, lalu siapa yang akan mengerjakan apa-apa yang tidak kau sukai?” (hal. 74)

“Aku tidak memikirkan betapa capeknya aku. Aku hanya merasa senang karena semua makanan itu untuk mengenyangkan anak-anakku.” (hal. 76)

“Dia anak perempuan yang, jadi dia mesti bersekolah yang tinggi. Kau mesti mengusahakan supaya dia bisa bersekolah di sini. Ibu tidak mau dia menjalani hidup seperti ibu.” (hal. 112)

“Ada saat-saat yang bakal kita ingat-ingat lagi setelah suatu peristiwa terjadi, terutama kalau peristiwanya buruk. Pada saat-saat seperti itu, kita berpikir: Seharusnya aku tidak bertindak begitu.” (hal. 18)

Sosok "ibu tercintaku" dengan dua cucu <3

7 comments:

  1. Ini sih tipe-tipe buku yang pasti bikin aku nangis bombayπŸ˜† kalau dipikir-pikir, bener ya Ci kalau ibu kita itu sebelum jadi ibu pasti punya kehidupan masa muda sendiri, dan aku bisa dibilang nggak tau banyak tentang itu😭 sebenarnya mengulik kisah masa muda para orang tua ini asik, tapi kadang aku nggak tau cara memulainya wkwkwk. Dengan kemajuan teknologi kayak sekarang, bersyukur banget ada banyak platform yang bisa dipilih buat mengabadikan kenangan kita sendiri, jadi yaaa siapa tau ya kan keturunan selanjutnya bisa baca tulisan kita sebagai nenek moyang mereka. Hopefully nggak ilang sih si bloggerπŸ˜…

    ReplyDelete
  2. Jane ini endingnya berarti tetep sedih ya? Si ibu beneran ga ketahuan hilangnya? Aku bukannya ga suka baca buku ttg orangtua begini, tapi aku juga tipe yg kalo baca novel sedih, bisa nangis sesenggukan 😭🀧... Apalagi langsung keinget pasti Ama mama mertua yg aku sayang banget... :(

    Makanya kalo udh baca buku berbau bawang, aku prefer baca spoiler memang, daripada kepikiran nya lamaaaa πŸ˜…..

    ReplyDelete
  3. Bakalan nangis sih kayaknya kalo baca buku ini. Aku sempat antre bukunya di ipusnas tapi gak kedapetan terus, antreannya panjang banget kak. Alhasil baca ulasannya Kak Jane, aku bisa membayangkan sedikit gimana "nuansa" novel ini. Kadang ya, kalo baca buku yang tema nya ttg orang tua, aku suka mikir kesalahan-kesalahanku di masa lalu, dan gimana repotnya Ibu sewaktu ngurusin anak-anaknya. Kerja semua nya sendirian, yah walopun punya ART tetep aja yang namanya Ibu Rumah Tangga punya peran penting dalam mendidik buah hatinya dan gak bisa dianggap sebelah mata. Duh, belom baca aja udah jadi terbawa suasana wkwkw.

    Thank You Kak Jane untuk ulasannya, kira-kira buku apa lagi yg bakalan Kak Jane baca dari daftar bacaan membernya BTS? hihihi.. anyway Sehat selalu untuk Kak Jane dan seluruh keluarga Kak Jane yaaa ;3

    ReplyDelete
  4. Buku yang dikasih tau sejak awal bikin nangis, apalagi tentang ibu, biasanya akan saya hindari. Entah kenapa kurang suka dengan efek setelah membaca yang biasanya mengendap berhari-hari. Kalaupun ingin baca, butuh menguatkan mental supaya enggak gampang terpicu. Haha.

    Si tokoh laki-laki di buku itu mengingatkan saya dengan diri sendiri. Ada masanya lebih mengutamakan pekerjaan maupun dunia saya sendiri, dan cukup cuek dengan ibu. Baru deh setelah merasa dunia yang saya bangun perlahan-lahan runtuh, saya butuh pertolongan, beberapa orang yang tadinya dekat malah menjauh, dan di sanalah ada sosok ibu yang tetap mengasihi. Akhirnya bertekad, mumpung ibu saya masih hidup, beliau orang pertama yang paling ingin saya ajak berbagi kebahagiaan. Jangan sampai memasang wajah putus asa lagi di hadapan beliau. :(

    ReplyDelete
  5. Dari judulnya aja udah terasa hawa-hawa bakalan nangis bombay 😭😭😭. Waktu pertama rilis di Gramedia Digital, aku sempat coba baca beberapa kalimat awal, tapi saat itu belum tahu ceritanya seperti apa dan karena format tulisannya lumayan dempet-dempet kalau di digitalnya, aku nggak lanjut baca πŸ˜‚. Padahal cukup kepo saat itu karena BTS baca buku ini katanya 🀣 (seperti quote Ci Jane) 🀣.
    Sehabis baca review Cici, aku jadi kepengin baca bukunya deh, kayaknya lebih asik beli fisiknyaa nanti sambil siapin diri untuk menghadapi kesedihan tak terbatas dari cerita ini 😭. Kita terlalu take it for granted atas kasih sayang ibu tanpa tahu isi hati beliau sesungguhnya gimana 😭 membayangkan akan hal ini aja bikin ingin mewek 😭

    ReplyDelete
  6. Ini pernah muncul juga di Gramed Tokped.. Mata udah tertarik sebenarnya. Tapi nggk pernah di checkout. Haha. Okee ntar malam deh, kebetulan mau keluar. Tak mampir ke gramed sebentar buat ceki2 😁😁

    Ahhh buku tentang orang tua tuh emng selalu ngena sihhh Mba... Aku yang deket sama Ibu dari bocah baru merasakan skrang kalau menuju dewasa aku cenderung cuek sama beliau.. Bahkan dulu sewaktu tinggal di Semarang, aku nunda kepulangan pas libur semester 5 demi ngejar bisa wisuda di semester 6.. dan Ibuku 'pulang' menjelang aku wisuda 😭 .. Sumpah rasanya tuh Nyesel banget.. berasa gagal jadi anak.. *duh malah Curcol. Maaf mbaa..

    ReplyDelete
  7. buku dengan tema soal orang tua bakalan bikin aku mewek
    ini relate banget sama aku, dulu waktu masih kuliah bahkan sampe lulus kuliah, aku jarang telpon orang tua,mungkin telpon kalau lagi butuh. Bahkan kenang-kenangan memori juga ga banyak


    ReplyDelete