The Murtaugh List

Wednesday, November 11, 2020


Ada yang ngerasa nggak, semakin kita bertambah usia, semakin banyak hal-hal yang rasanya udah nggak pantas lagi kita lakukan?

Di salah satu episode serial How I Met Your Mother, Ted Mosby diajakin sahabat gokilnya, Barney, untuk 'memboikot' arena bermain laser tag dengan gulungan tisu. Entah apa tujuan dari tindakan absurd tersebut. Bahkan menurut Ted sendiri hal tersebut udah nggak pantas lagi dia lakukan, lantaran usianya udah nggak muda lagi. Karena itulah, doi punya sebuah daftar yang dinamakan The Murtaugh List. Judul daftar ini terinspirasi dari seorang karakter film favoritnya bernama Roger Murtaugh, di mana dia mengatakan sepotong dialog yang berbunyi, "I'm too old for this stuff." (aku terlalu tua untuk melakukan hal ini). 

Thus, terinspirasi dari daftar tersebut dan pas banget kemarin aku nemu thread di Quora yang membahas serupa, berikut adalah hal-hal yang sudah membuatku nggak tertarik lagi seiring bertambahnya usia

1. Belanja pakaian murmer. 


Waktu masa kuliah dan sebelum menikah, prinsipku dalam membeli baju maupun aksesoris lainnya seperti tas, sepatu dll, adalah semakin murah semakin bagus! 

Apalagi dulu aku sempat tinggal di Guangzhou, pusatnya tempat belanja grosiran bagi bos-bos Mangg*Du* maupun Tana*Aban*. Aku tuh suka tergiur dengan pakaian yang modelnya bagus, tapi harganya murah banget. Misalnya nih, nemu dress lucuk yang harganya cuma 50 ribu. Begitu masuk ke toko online Indonesia, harga jualnya biasa di atas 100 bahkan 200 ribu dengan embel-embel dress import (maaf gue buka kartu wkwkw). Meski aku buka tipe yang hobi belanja, tetap aja baju-baju yang murah itu hanya bertahan selama beberapa bulan. 

Begitu juga ketika udah lulus dan bekerja sendiri. Aku masih suka tergiur dengan pakaian murah yang jelas-jelas kualitasnya nggak banget. Ujung-ujungnya dipakai hanya sebentar, kemudian berakhir menjadi kain lap 😂

Sampai akhirnya suamiku menyadari kebiasaan ini, dia pun menegur. Lebih baik belanja sesuatu yang kualitasnya dijamin oke. Nggak perlu mahal atau branded, yang penting awet. Dengan demikian, kita nggak menumpuk banyak barang juga di rumah. 

Setelah mendapat wejangan suami, aku baru sadar kenapa doi suka beli kaos-kaos basic yang harganya menurutku agak mahal untuk ukuran kaos doang. Tapi kaos tersebut awet sekali, bahkan warnanya nggak cepat pudar dan nggak gampang melar. Sedangkan baju-baju yang dulu pernah aku beli, warnanya memudar hanya dalam 2-3x proses pencucian. 

Makanya sekarang ini aku udah hampir nggak pernah belanja pakaian murah dengan kualitas 👎. Eh tapi aku pernah, sih, beli kaos oblong rumahan murmer (cuma 30ribu) di Shopii dan awet banget lho. Jadi yaa, balik lagi sih. Ada harga, ada barang. Tapi harus ingat, yang mahal belum tentu bagus, begitu juga sebaliknya. Bijak-bijak aja saat berbelanja dan sesuaikan dengan budget, ya! 😊

Btw, percaya nggak sampai hari ini aku cuma punya 4 tas, 4 sepatu+sendal dan semua-muanya kepakai untuk occasion yang berbeda-beda? Sebagai yang terus mencoba menjadi seorang minimalis, bangga sekali lho aku 😆🙈

2. Bergadang. 


Sebetulnya dulu aku juga nggak begitu suka bergadang, sih. Tapi kalau lagi ada acara nginep bareng teman atau nunggu pergantian tahun baru, biasanya aku kuat tuh nggak bobo semalaman. Aku masih ingat waktu kuliah dulu, ada seorang teman datang untuk berlibur dan kami bertiga (dengan teman lainnya) memutuskan untuk menginap di hotel tempat di mana temanku itu tinggal. Entah apa yang kami lakukan sampai jam 5 pagi baru memutuskan untuk tidur. Ketahuan nyokap gue bisa habis lah 🙄 

Sampai akhirnya aku punya seorang bayi... dan hobiku cuma satu: bergadang. Padahal sebelum hamil itu, aku selalu meledek suami yang jam tidurnya pagi banget. Pokoknya sebelum pukul 9, doi udah rebahan di atas ranjang. Sementara aku dulu paling pagi di atas ranjang itu pukul 10, itu aja menurutku nggak malem-malem banget. Hari-hari Josh masih bayi itu lah aku sangat merindukan yang namanya bobo siang maupun bobo malam selama 8 jam 😊. Kualat kayaknya deh ngetawain suami. 

Setelah melalui masa-masa tersebut, aku nggak lagi menyepelekan yang namanya tidur cukup. Bersyukur sekali sampai hari ini tiap malam aku bisa tidur selama 7-8 jam. Sejak hamil kedua ini pun intensitas bobo siangnya juga sering. Kata orang itu berarti badannya sedang menyesuaikan sebelum si bayi lahir. Dipikir-pikir iya juga, sih. Begitu bayi lahir, kan aku harus bergadang lagi. Oh noooo... 

3. Minum soda. 


I gave up drinking soda since years years ago, alias udah lama bangetttt nggak minum soda. 

Pada dasarnya, aku memang bukan penggemar minuman soda. Kalau ke mekdi atau kiepci pun, minuman sodaku nggak pernah habis. Supaya nggak mubazir, aku memilih untuk mengganti minumanku dengan air putih atau teh kemasan. 

Nggak pernah juga sekalipun ngidam soda, meski kalau nonton iklan tuh kayaknya seger puol yaa lagi panas-panas neguk soda. 

Intinya, aku cukup beruntung nggak suka soda, yang mana sangat baik untuk kesehatan :D *gak suka soda, tapi suka milk tea, kopi susu sama teh kemasan. Yaa sami mawon toh, Jennn.*

4. Malas skincare-an dan dandan. 


Umur nggak bisa bohong kan, yaaa. Meski nggak terlihat jelas, aku sadar sekali bahwa di wajah ini mulai muncul garis-garis halus di area mata. Belum lagi karena hormon hamil, aku merasa tiap bangun tidur itu wajaku agak gelap dan kusam. Ini tandanya aku harus lebih rajin lagi apply semua produk skincare yang aku punya! 

Dulu aku sama sekali cuek dengan penampilanku sendiri. Boro-boro skincare-an, pakai pelembab aja suka bolong-bolong, tiap keluar rumah aja cuma bisa bedakan. Belajar pakai eyeliner aja baru di usia awal 20an. Begitu pulang ke Indonesia dan mulai bekerja, mamaku mulai gerah dengan anak gadisnya yang males dandan. 

"Kamu tuh belajar pake lipstick, kek! Biar muka nggak pucet." 

Dengan malas-malasan, aku pun coba memoles lipstick kepunyaan mama dan kaget pas ngaca. Wah! Ternyata pake pewarna bibir aja bisa bikin wajah secerah ini, ya! Baru deh sadar betapa kucelnya aku selama ini wkwkwk 

Sejak saat itu, aku ditemani mama beli lipstick di department store. Bayangin. Anak cewek usia 23 tahun ditemenin mama belanja lipstick. Kayaknya perempuan usia 20an zaman sekarang penampilannya lebih badai deh dari aku. But thanks to mama, sampai hari ini selain pensil alis, lipstick adalah makeup andalanku setiap kali keluar rumah. Ya, nggak tiap kali keluar rumah aku pasti pakai, sih. Tetap gue nggak serajin itu 😂 Kalau judulnya nge-mall, pergi ketemu teman dan sebagainya, baru deh oles-oles gincu. Sayangnya sejak pandemi ini, koleksi lips products pada nganggur hiks tapi mungkin sesekali bisa pakai tipis-tipis, yaa, biar dasteran tapi tetep kece 😆

Kalau soal skincare, puji Tuhan sekarang Jane udah mulai rajin. Maklum, kepala tiga udah melambai-lambai dari kejauhan. Produk yang kupakai nggak ribet kok, yang pasti ada sunscreen, toner, moisturizer dan eye cream (ini wajib jib!). 

5. Nongkrong ramai-ramai. 


Sejak menikah ini, aku memang udah mengurangi banget ngumpul ramai-ramai. Entah karena kepribadian introvert aku semakin menjadi setelah menjadi ibu atau emang circle pertemananku makin mengecil aja, sih. Plus, reunion always scares me a lot I dunno why 😂 Aku lebih suka pertemuan yang jumlahnya nggak lebih dari 5 orang. Bahkan berdua lebih baik. Obrolannya lebih berkualitas dan tentunya lebih mendalam gitu lho. Kalau nggak penting-penting banget kayak menghadiri pernikahan teman atau acara khusus, aku selalu berhubungan dengan beberapa teman melalui chat. Kadang-kadang kalau udah lamaaa banget udah ketemu, baru deh bikin janji temu 😊

6. Mengunjungi tempat-tempat kekinian (termasuk mengikuti tren). 


Sejak lima tahun yang lalu, aku udah stop melakukan hal ini. Alasannya cuma satu: CAPEK MAK! 

Apalagi kayak Bogor dan Bali di mana tempat-tempat baru itu cepet banget munculnya. Baru aja semalam ngobrol sama mama di Bali, katanya area rumah di sekarang banyak kafe-kafe kecil buka di malam hari, bahkan ada yang buka pub lho. Bingung akutu lagi pandemi aja tetap ramai. 

Tren kuliner pun udah nggak pernah aku ikuti, seperti tren boba drinks yang entah mengapa kok makin ramai. Xi Boba aja baru coba beberapa bulan lalu, itu pun karena iseng abis makan soto kuning di sebelah rukonya. Dari zaman segala jenis makanan dicampur salted egg maupun sambal matah (campuran salted egg paling enak itu hanya ada di menu udang goreng telur asin, dan sambal matah paling enak hanya ada pas makan di seafood Jimbaran ðŸ˜‹), aku udah lost track samsek. Nggak sanggup, bundaaa, ngikut tren kekinian. Belom ngantrinya, belom harus taruhan dengan rasa yang belum tentu seenak itu. Meskipun menurut suami aku cukup foodie, kayaknya aku tipe yang kalau udah suka satu jenis, yaudah yang dimakan itu-itu aja terus wkwkwk 

Daripada sibuk ngantri dan rasanya zonk, lebih baik eksperimen sendiri aja di rumah. Yaaa, itu kalau rajin aja, sih. Kalau aku yang mageran ini yaudah makan yang biasa-biasa lah hihi (matekkk, gue beneran udah tua nggak seh? ðŸĪĢ)

7. Berani speak up untuk hal-hal kecil yang menganggu prinsip pribadi. 


Sesimpel negur orang yang ingin menyela antrean atau mengajukan komplain pada pihak restoran jika pelayanan mereka kurang memuaskan. 

Aku dulu tuh sungkan banget untuk menegur orang, padahal itu jelas-jelas salah. Ujung-ujungnya aku cuma ngomel dalam hati. Sekarang kalau liat orang yang nggak mengantre, aku bakal tegur pelan tanpa menggunakan kata maaf. Ya iya dong, kan dia yang salah bukan gue. "Pak/Bu, ngantrenya dari sebelah sana, ya". Kira-kira begitu deh. 

Kalau makan di restoran dan kebetulan ada yang bermasalah dengan hidangan, aku pasti ngomong ke waiter-nya ketimbang aku menelan hidangan yang nggak layak disantap. Nggak masalah mau diganti dengan yang baru atau dapet potongan harga, setidaknya aku berani untuk menyampaikan keluhanku pada mereka. 

8. Mengeluh di sosial media. 


Udah nggak pantas aja rasanya. Malu sama umur dan status sebagai istri dan ibu orang 🙈 

***
Kayaknya segitu dulu deh daftar yang bisa dibagikan. Harusnya, sih, masih ada banyak, yang kepikiran baru delapan poin itu aja hahahaha

Kalau teman-teman sendiri, ada yang ingin dibagikan nggak? Apa murtaugh list versi kalian sendiri? 

36 comments:

  1. Eh HIMYM eps berapa ya mba 😀 saya kok lupa soal murtaugh list ini padahal dulu nonton berulang-ulang ðŸĪĢ (dan kzl dg endingnya)

    Apa ya murtaugh list saya 😋..

    Mungkin dulu suka pake plester hansaplast biasa.. sekarang... plester hansaplas koyo? ðŸĪĢ #umur

    Menarik juga sih kapan2 bikin list ahh

    Thanks for sharing mbak 😀

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada di season 4, Mbaaa. Tapi lupa episode berapa wkwkwk pokoknya judulnya Murtaugh List apa Murtaugh doang gitu deh. Itu episodenya kocak banget kan, si Barney taruhan sama si Ted kalau dia never too old for doing stuffs yang mana berakhir encok-encok wkwkwk

      Nahh iya deh, umur nggak bisa bohong ðŸĪĢ on those days, kalau ketemu aku mungkin kecium balsem gosok, Mbaa. Umur baru mau 30 tapi kok jompo banget astagaa 🙈

      Ayoo segera bikin list-nya. Nanti kubaca yaa :D

      Delete
  2. Wahhhh mba Jane tumben post setiap hari, syuka 😍💕 hehehehehe. By the way, post kali ini seru mau ikutan. Saya jadi berusaha ingat-ingat, hal apa yang saya tinggalkan karena umur nggak lagi muda. Sepertinya celana pendek hahahahahaha. Yang di atas dengkul sudah nggak pernah, kalau dress masih pakai sih kadang 😂 Entah kenapa, celana pendek itu membuat jiwa teenagers saya ke luar, jadi agak was-was pakainya takut pecicilan ðŸĪŠ

    Terus sama seperti mba Jane, soal skincare-an, sekarang semakin rajin mengingat kerutan sudah mulai bersiap-siap menunjukkan taringnya ðŸĪĢ Padahal dulu termasuk yang pede sama bare face (pede dan malas beda tipis, mba), hahaha tapi sekarang selalu berusaha rutin menggunakannya. Apalagi sejak tinggal di Korea, lihat mba mba usia 40-50 masih kencang macam 30an 😂

    Eniho, thanks for sharing your stories mba 😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lagi kesambet, Mba Enoo 🙈 nggak deng, ini kebetulan draft-nya udah ngendon lamaaa banget. Baru bisa diselesaikan kemarin dan langsung post aja deh biar kelihatan rajin dikittt ngeblognya hahahaha

      Kalau celana pendek aku masih suka pakai kadang-kadang kalau di Bali, Mbaa. Maklum, kalau di sini sebatas di rumah aja, kalau keluar pun aku udah nggak berani pakai. Alasannya kurang lebih sama dengan Mba Eno, tapi lebih ke masalah kenyamanan aja sih huahaha 😆

      Aduh sama banget! Aku dulu juga cuek banget bare face keluar rumah, sekarang nggak bisa deh kalau keluar tanpa skincare-an dan gambar alis! ðŸĪĢ Iya akutuh bingung, kulit imo-imo di sana kan kok masih kenceng-kenceng yaa. All hail to Korean skincare!

      Sama-sama, Mba Eno! Makasih juga udah ikut berbagi di sini, ditunggu daftar "murtaugh list" versi Mba Eno ya 😁

      Delete
  3. Hahaha, I still don't do make ups until now, Jane. Tapi skincare itu penting, dan clean your face before you go to bed is the key to healthy skin. Dulu juga aku gak pedulian at all, cuci muka hampir ga pernah. Plus gak pernah punya eye liner. Eye liner proper pertama, baru dikasih sama ipar akhir tahun lalu untuk natal, itupun pakainya bisa dihitung jari. Hahahaha. Soal beli sedikit tp berkualitas sih sudah kutanamkan dari dulu terutama buat bags. I used to have more than 50 pairs of shoes, dan bukan merek jelek semuanya. Tobat pas mau pindahan ke Indonesia. Pindahan ke sini, makin disaring lagi. Hahahaha. I also do the same thing soal liburan. Liburan gak usah sering-sering amat, tapi harus berkualitas dan ngga nyiksa diri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha I see, ci Leonyy. Aku pun sebetulnya makeup-an juga nggak yang gimana, yang penting alis paripurna, bibir cerah dan kulit cerah. Tapi emang rajin pakai skincare itu ngebantu banget bikin kulit lebih glowing. Sekarang aja kalau bolong 1-2 hari, besoknya bangun muka kusem banget astagaa.

      Omggg 50 pairs of shoessss! Waktu for good ke Indonesia aja sepatuku yang nggak banyak-banyak banget udah bikin pusing, apalagi misahin 50 pasang yang mana mereknya oke-oke semua yaa 😂

      Nah iya soal liburan ini penting juga nih. Aku sama suami juga tipe yang nggak sering liburan, but we try as best as we can untuk menciptakan liburan yang berkualitas :D

      Delete
  4. Ini keren banget postingannya!
    Duh jadi pingin nimbrung ikutan ngobrol sama Mbak Jane..

    Oke aku mulai dari no. 1, I do the same thing. Sama seperti kamu, aku juga sempet ada di fase beli pakaian murah aja yang penting oke. Yah tapi itu tadi, price is balance with quality. Akhirnya selama 2 tahun terakhir ini, plus dapat insights juga tentang hidup minimalis. Akhirnya belanja baju kalau emang perlu banget dan waktunya ganti karena yang lama udah g layak pakai.
    Untuk meminimalisirnya, seperti Mbak Jane, akhirnya lebih suka melipir ke merk-merk yang harganya masih masuk akal tapi kualitasnya oke, jadi si pakaian bisa awet sampai beberapa tahun ke depan.

    No. 8, mengeluh di sosial media, IMO cara mengeluh di sosmed itu ada kategorinya, kita yang suka nulis di blog dan berbagi cerita sebenernya ngeluarin uneg-uneg juga g sih? Kita sama-sama sambat, cuman yang membedakan ada value yang mau kita sampaikan, ada kondisi di mana kita berharap teman-teman yang membacanya bisa belajar dari kesalahan kita, jadi g perlu ikutan jatuh ke lubang yang sama.

    Ya udah gitu dulu, mau ku ketik dari no. 1 sampai no. 8 ntar malah numpang ngepost di mari, wkakakaka.. XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sini sini, Mba Pipit. Mau kuambilin minum dulu nggak? Teh? Kopi? 😆

      Pengetahuan soal minimalis itu sangat sangat membantuku dalam merapikan maupun belanja barang baru. Untungnya juga aku nggak begitu sering belanja baju sih, cuma ya ituu. Sukanya belanja baju murah, entah yang 100k dapet 2 lah, udah gitu bahannya gampang melar atau benangnya cepat lepas. Terus modelnya nggak timeless 🙈 Sekarang milih beli baju yang modelnya aman dan bisa dipakai terus senggaknya dua tahun ke depan, dengan catatan badan nggak ikutan melar wkwkwk

      Soal mengeluh yang kumaksud itu kayak ngomel-ngomel nggak jelas di sosmed, Mbaa. Kayak misal hari lagi apes, isi story pun ngedumel sepanjang hari. Atau ngeluh yang sifatnya ngomongin orang lain, cem kayak gitu. Kalau di blog sepertinya lebih memberikan uneg-uneg atau opini gitu kan yaa. Seperti yang Mba Pipit bilang, tujuannya untuk membagikan value yang kita pelajari :D

      Ayooo dong dilanjutkan 1-8 di blog sendiri, nanti aku baca! XD maacih sudah berbagi yaa!

      Delete
  5. Aku setuju banget sama no 1 Kak Jane. Ijin curhat ya Kak, dulu pakaianku sangat berwarna.. sampai-sampai udah ada pasangannya sendiri atasan sama bawahan dan ngga boleh dituker-tuker sama pakaian lain. Jadilah lemariku penuh banget.

    Semenjak kerja, aku memutuskan untuk lebih minimalis (even nggak seutuhnya minimalis) dengan membeli baju yang polos aja dan warnanya basic +kualitasnya udh terjamin sehingga bisa dipadu padankan sama bawahan dan jilbab kayak apapun. Tas pergi dan tas kerja kubedain, tapi masing-masing jumlahnya juga 1. Makin dewasa makin nggak mau ribet... lebih tepatnya masih banyak pengeluaran lain dibandingkan pakaian doang hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Monggo, curhat diizinkan 😆

      Wah, seruuu amat dong jadi matching semuanya yaa. Akutu dulu punya teman juga kayak gini nih, pokoknya tiap baju harus matching warnanya atas sampai bawah, cuma ya gitu deh ujung-ujungnya dia juga curhat lemarinya membludak |:

      Oh ya, biasanya karena tuntutan kerjaan juga ya jadi pilihan gaya berpakaian pun ikut berubah. Betulll! Makin ke sini pengennya makin ringkes. Pusing banget mikirin tiap keluar mau pake baju apa. Belum lagi sekarang ada bocah yang harus diurusin juga. Kadang dia aja bajunya itu-itu terus, mamanya males beliin baju baru soalnya anak cepet gede, pergi keluar jalan-jalan aja seminggu sekali wkwkwk *pelit apa hemat beda tipis XD* Aku pun sekarang pilih bajunya yang simpel-simpel aja tapi tetep modis 😊

      Delete
  6. untuk mengeluh di sosial media sepertinya harus digaris bawahi, masalahnya sekarang ini banyak ibu-ibu yang baru main facebook bikin status dan sebagainya melebihi anak anak muda pada umumnya hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kebetulan aku udah jarang banget main Facebook, sejak menyadari semakin banyak orangtua generasi baby boomers dan X yang memenuhi timeline sosmed tersebut 🙈 cuma memang sepertinya ibu-ibu tersebut butuh wadah untuk curhat sih, itu kenapa mereka terlihat aktif update status supaya stresnya bisa tersalurkan 😅

      Delete
  7. Nah ini dia ni haha aku berasa tertabok dengan No. 1,2, dan 4 mbak Jane pas banget ini aku juga lagi di usia-usia transisi 😂
    No.1 Belanja pakaian murah meriah.. duh ini memang susah-susah gampang sih, jadi aku masih di mix, tapi bener banget apa yang suami mbak bilang soal living minimalis dengan baju yang secukupnya dan awet.
    No.2 Bergadang.. ini baru kerasa banget sih haha, dulu waktu kuliah bisa itu baru tidur pagi hari, apalagi kalau banyak tugas kuliah.. nah diwaktu awal kerja juga gitu.. tapi sekarang aku value banget waktu istirahat, soalnya bisa lebih fokus dan berkurang mood swingnya lol
    No.4 malas dandan dan skin care haha jleeep ngena banget.. aku kalau skin care rajin, tapi pake make up itu yang kadang mager haha, jadinya terbantu banget kalau pas kerja sekarang pake masker haha

    Topiknya seru sekali mbak Jane, terima kasih sudah sharing hehe <3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepertinya yang poin pertama cukup banyak dialami oleh teman-teman sekalian yaa 🙈 mungkin karena perkara kebutuhan sandang itu memang suka bikin riweuh, khususnya bagi kaum hawa hihi

      Soal belanja baju, sekarang aku lebih pilih warna-warna yang aman aja, jadi nggak ribet di-mix dengan apapun :D tapi sesekali suka beli berwarna juga sih kayak pink atau merah, biar nggak bosen XD

      Kalau bergadang, kebetulan juga jarang banget bergadang untuk ngerjain tugas. Aku pasti milih untuk tidur aja dan besok pagi-paginya lanjut menyelesaikan. Dan betulll banget! Tidur cukup itu sangat sangat mengurangi mood swing. Pantes aku dulu hobi marah-marah pas anak masih bayi, jam tidurnya kurang banget wkwkwk

      Skincare mau nggak mau deh yaa kudu rajin, biar kulit wajah ini nampak lebih cerah dan awet muda 😆

      Sama-sama, Marina! Makasih juga udah baca dan berbagi di sini yaa :D

      Delete
  8. Baca postingan ini bikin mikir, kalo buatku listnya bakalan apa aja ya...

    Kayaknya yang sama banget itu di poin 1,2,6 dan 8. Kalo baju murmer dulu suka beli supaya banyak variasi jadi kalo pergi gak keliatan kalo bajunya itu lagi itu lagi hahaha sejak kerja aku jadi gak suka punya banyak baju, tas atau sepatu. Tiap hari ya itu2 aja sampe jebol baru beli lagi hahaha karena kayak sayang aja punya banyak tapi kok jarang dipake

    Kalo begadang aku juga udah ga kuat huhuhu padahal pas kuliah, gak tidur seharian aja udah biasa ntah karena nugas ataupun cuma ngobrol sama temen kuliah. Sekarang? Wah jam 8 aja udah nguap mulu dan jam 10 udah wajib memasuki dunia mimpi hihihi

    Curhat di sosmed itu masih sih kadang2, sadar sih harusnya udah harus gak dilakuin lagi... tapi kadang biar lega aja kayaknya harus deh update status gitu hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha akupun alasannya sama, Mba Tika kenapa hobi belanja baju murmer. Supaya nggak kelihatan bajunya itu-itu aja XD cuma makin ke sini bodo amat jadinya mau dibilang bajunya itu-itu lagi, yang penting nyaman aja pas dipakai hihi berlaku juga untuk tas, aku pake tas itu sampai bener-bener jebol. Nggak rela ganti sebelum bener-bener rusak 😅

      Rata-rata pas kuliah kuat bergadang yaa. Emang usia tuh makin nambah nggak bohong wkwk aku lebih baik bobo aja daripada bergadang untuk sekedar namatin series doang, misalnya 🙈

      Nah iyaa, kayak yang tadi aku bilang di atas, terkadang orang butuh wadah untuk curhat jadi yaa gapapa juga sih, balik lagi kepada pribadi masing-masing enaknya gimana, asal nggak merugikan orang lain hihi

      Delete
  9. Saya sebenarnya menutup diri atas daftar semacan itu. Saya tidak ingin juga membatasi umur dengan hal yang memang ingin saya lakukan tapi bagi orang lain terlihat tidak cocok lagi. Itu benar-benar merepotkan.

    Kalau saya lebih berpikir itu adalah sebuah prinsip saya saat itu. Semisal saya punya argumen tentang sesuatu, yang kemudian itu membeku menjadi sebuah prinsip yang saya yakini, itu mungkin tidak akan stagnan. Dalam proses mencari, saya menemukan bahwa prinsip itu tidak lagi relevan untuk saya, atau mungkin sudah bertranformasi menjadi hal yang lain.

    Ohya, saya baru ngeh yang kak Jane bilang. Sepertinya akhir-akhir ini saya banyak melakukan kolaborasi batin 😅

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin yang dimaksud Mas Rahul lebih kepada soal selera/preferensi gitu yaa. Kayak misalnya saya yang masih hobi fangirling sama idola Kpop, di mana sebagian orang yang melihatnya merasa nggak pantas lagi, apalagi saya udah menikah dan punya anak, yang mana menurut saya nggak ada hubungannya 😆

      Kalau prinsip hidup saya setuju, seiring bertambahnya usia mungkin bisa aja berubah, karena mungkin dipengaruhi oleh pengalaman hidup juga kan yaa (:

      Ahahahaha iya kan? Meski nggak semirip dengan artikel Lia waktu itu, kayaknya bisa dibilang ini juga sedikit mirip 😆

      Delete
    2. Bukan hanya soal preferensi kak Jane. Hal sesimpel mandi hujan misalnya. Meski terdengar sangat childish, tapi saya masih senang mandi hujan. Apalagi sambil main bola sama teman 😅

      Setelah itu, saya bisa menikmati sensasi makan mie dan telur. Rasanya beda kalo tidak mandi hujan. Percaya deh.

      Iya, masalah prinsip ini juga yang selalu saya tekankan untuk tidak menjadikan tulisan saya sebagai rujukan utama dalam bersikap. Karena sebenae-benarnya, saya melempar opini untuk jadi komparasi dan bahan kontemplasi. Sekaligus membuat teman-teman tidak terjebak pada gelembung biasnya. Saya sudah ada draf tulisan soal ini, nanti semoga kak Jane bisa baca lebih lengkapnya 😁

      Delete
  10. wah kalau aku apa yaaa hmmmmm ðŸĪ” *berpikir keras*

    Ah mungkin terkait make up kali ya... Kalo dulu jaman sekolah pergi ke mana-mana bisa PD aja tanpa make up, sekarang kaga pedeee HAHAHA kecuali keadaan mendesak baru deh ga make up an. At least bikin alis sih HAHAHAH
    yang laennya apa yakkk
    oh begadang juga deeh... Taon ini aja aku ga sanggup buat begadang sampe pagiii. Jam 2 juga udah tidur aku wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. TOSSS! Alis itu penting banget yaaa, sis! Nggak pake eyeshadow atau foundation gapapa asal alis paripurna wkwkwk ðŸĪĢ entah mengapa sejak nikah aku mementingkan sekali dengan penampilan si alis. Dulu aku pede-pede aja punya alis tebal tapi berantakan, sekarang numbuh dikit langsung di-trim biar nggak kayak semak belukar ðŸĪĢ

      Delete
    2. BETUL! Alis itu penting banget hahahaha
      kebalikan dengan cici yang beralis tebal, aku kalo ga alisan itu kaya ga punya alis ciii. Alis aku tipis bangeeett. Sampe suka dikatain suamik kalo abis hapus pensil alis sebelah, dan sebelahnya lagi masih ada..pasti dia blg "ke mana alis lu yang sebelah lagi?" SEBAAAL Tapi kenyataan karena sejomplang itu ci kalo aku ga pake pensil alis hahahah 😅😅

      Delete
  11. Aaaakkkh, kenapa topik-topik yang Cici angkat selalu membuat tangan gatal untuk berkomentar ðŸĪĢ
    Beberapa poin yang Cici sebutin di atas membuatku manggut-manggut dalam hati alias merasakan kesamaan!
    Poin pertama, INI AKU BANGET HAHAHAHA. Dulu sukanya baju-baju murah, semakin murah semakin bangga ðŸĪĢ tapi sekarang lebih melihat kualitas walaupun tetap inginnya yang murah #lho #samaaja. Nggak deng, maksudnya, harga dan kualitas tuh sesuai dan sesuai juga dengan budget. Kalau sekarang, aku paling suka belanja di Uniqlo soalnya kaos-kaosnya nyaman banget dipakai, motifnya simple dan udah dicuci berkali-kali aja, nggak melar-melar 😂 bisa kali ya aku diendorse gitu sama Uniqlo ðŸĪĢ

    Malas skincare dan dandan. Aku juga merasakan sekali kekuatan sebuah polesan gincu, mampu mengubah dunia ðŸĪĢ sesakti itu ya gincu alias lipstick ini. Ingin ku sembah yang menemukannya ðŸĪĢ

    Minuman soda. Astagaa kita samaa! Aku juga nggak kuat untuk minum soda sampai habis kalau makan di resto fast food. Makanya biasanya akan lebih memilih lemontea, atau nebeng punya orang aja ðŸĪĢ sesekali saat ingin minum sodapun, beli segelas tetap nggak kuat untuk menghabiskannya. Beli boba juga nggak kuat, tapi aku lebih mampu menghabiskan boba daripada soda sih ðŸĪĢ

    Curhat di medsos. Semenjak fase alayku udah berlalu, aku nggak pernah lagi curhat di medsos dan makin ke sini semakin malas untuk upload-upload di medsos. Kecuali upload bookmail #eh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tujuan aku nulis artikel blog memang untuk mengundang teman-teman untuk berkomentar, Lii. Semakin banyak semakin baguss (mayan kan untuk engagement wkwkwk 🙈)

      Duh iya lho, kenapa sih pakaian basic Uniqlo itu bagus-bagus amat?! Harga baju-baju mereka kan juga nggak murah banget yaa, sebisa mungkin aku nyarinya yang harga 100-150k aja, tapi harga segitupun kualitasnya oke banget! Aku punya satu atasan sama bawahan Uniqlo, kayaknya udah usia dua tahunan tapi masih awettt. Bener yang kamu bilang, dicuci berkali-kali nggak gampang melar huhu oh sama satu lagi brand baju favoritku, Cottonink! *support local* 😆

      Aminnn! Mudah-mudahan habis komentar ini di-publish, orang Uniqlo bisa nengok-nengok ke kamu yaa Li wkwkwk

      Soda itu bikin cepet kembung kalau di aku, that's why aku lebih milih minum yang lain. Dan setuju, aku juga seringnya nebeng orang lain, soalnya cuma untuk cuci mulut aja sih wkwkwk

      Hayooo kamu upload bookmail di manaaa? *kepo*

      Delete
    2. Seperti gosip yang semakin digosok semakin sip ya 😝

      Betul banget! Aku juga carinya di sekitar harga tsb atau pas lagi diskon. Tapi aku selalu incar yang UT section. Bagian kaos dan ada gambar-gambarnya tapi selalu memilih gambarnya yang minim *jadi curhat* ðŸĪĢ
      Cottonink aku pernah lihat tapi harganya lumayan waktu itu ðŸĪĢ. Di Cottonink, lebih recommended kaos/dress atau semuanya, Ci? Wkwk

      Amin. Orang Indomie dan Uniqlo, ayo endorse aku! #HausEndorse ðŸĪĢðŸĪĢ

      Aku upload bookmail di WAstory 😝 Cici mau aku racuni juga? Wkwkwk

      Delete
    3. Ikut nimbrungg... Ternyata Cottonink itu brand lokal ya??? Aku baru tauuu hahaha

      Wah ternyata kaos harga ratusan rebu itu kualitasnya mantap yak...Dicuci berulang-ulang kaga melarrr. Habis aku tuh suka geleng2, kaos apaan nih harga 100rb lebih! Di pasar bisa dapet 1 nya 30rb wkwkwk Soalnya selama ini, aku beli kaos yang murah2... Under 50rb 😅😅 Macam kaos "I Love Jogya" yang dibeli di Malioboro.. Itu harga ga nyampe 50rb dan dibeli saat aku live in kelas 3 SMA, tapi kaos itu tetap awet hingga kini (berarti sudah 9 tahun?). Sablonannya bahkan kaga pudar loh! Mantap produk lokal hehe
      Nah makanya aku tuh jadi kaya "anti" beli kaos di atas harga 50rb hahaha

      Delete
  12. Kurang lebih sama Jane listnya :D Apalagi mengunjungi tempat2 yg lagi trend, Kalau dulu masih pacaran semangat datengin tapi skrg udah males. Paling gitu-gitu aja :p Tunggu sepian aja baru dateng *eh tempatnya malah keburu tutup*

    Dulu ku juga sering mengeluh di sosmed, tapi untung diingetin suami supaya jgn sering2 curcol di status :p Lama2 terbiasa juga :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. "tunggu sepian.. eh keburut tutup" HAHAHA maap aku kok ngakak baca ini, Cii. Kayak mengandung sedikit sarkasme soal tempat-tempat hits yang menjamur tapi cepet juga tutupnya 😜 tapi ini bener sih, soalnya di Bogor juga gitu. Nggak banyak yang bertahan akhirnya tutup deh ):

      Nah iya, suamiku juga yang sering ngingetin untuk nggak curcol atau ngeluh keseringan di medsos. Soalnya kadang kita nggak berasa yaa, pengen aja cerita gitu. Tapi yaa gitu deh, makin ke sini ngerasa bukan kebiasaan yang memberikan faedah juga hihi

      Delete
  13. Emang ya makin berpengalaman kita hidup, makin nggak ribet kan. Intinya, kita makin paham apa yang kita butuh. Kayak butuh pake baju berkualitas, butuh pake skincare dan lebih menghargai diri sendiri dengan sedikit polesan lipstik, dan nggak perlu lah ikut-ikutan trend kekinian yang malah bikin capek sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, that's it! Semakin dewasa harusnya kita juga makin paham apa yang dibutuhkan. Jadi nggak sembarangan beli ini itu yang mana ujung-ujungnya cuma jadi tumpukan barang di pojokan rumah 😅 yang penting we're happy for what we have yaa (:

      Delete
  14. jadi keinget waktu kuliah dulu, intensitas keluar masuk factory outlet hunting baju, masuk distro juga buat baju baju kuliah, kayaknya lebih sering dibanding sekarang pas udah kerja.
    kadang kalau ngelamun jadi inget, gilak ya dulu waktu kuliah hobi banget beli ini itu, sekarang kok ya males dan udah tau rasanya sayang ama duit kalau ga penting banget buat dibelanjain

    dulu waktu kuliah aku ga pernah punya lipstik, palingan beli lipgloss. pas udah masuk dunia kerja aja, awalnya beli yang warna bibir dan yang ga awet di bibir hahaha. lama lama keracunan temen nyobain nyobain type lainnya

    kalau bergadang sekarang pun masih, tapi waktu kuliah dulu enggak pernah kecuali ngebut drakor yang emang lagi bagus hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huahaha belanja ke FO itu mengingatkan aku pas SMA suka ke Bandung bareng keluarga, hobinya keliling FO yang satu dan lainnya untuk cuci mata hihi

      Mungkin pas kuliah pengennya tampil kece terus yaa, Mbaa. Apalagi lihat banyak teman-teman yang pakaiannya modis-modis, aku pun jadi kepingin belanja baju supaya bisa gegayaan juga. Akutu bahkan pernah beli skinny jeans warna merah maroon, Mbaa gara-gara colored jeans lagi tren waktu itu 🙄 sekarang entah ke mana celananya hahaha

      Delete
  15. Itu yang nggak ngikutin tren yang lagi hits, aku juga udah males hahahah. Kayak misal ada tempat wisata baru buka, aku udah nggak excited samsek, nggak kayak dulu sebelum 25 tahun yang apa-apa harus didatengin wajib kudu pokoknya!! Sekarang udah selow aja bahkan bucket list traveling tuh malah kayak berkurang gitu sisa ke tempat2 yang emang beda banget sama Indonesia xD udah nggak ambis.
    Apa lagi ya, hmmmm oh beli album K-Pop, udah lengkap sih emang wkwk, lengkap versiku ya, sama kalau ngintip total budget selama fangirling rasanya tuh kayak WOW BANYAK BANGET hahahaha akhirnya itu rem paling ampuh sih semoga nggak bocor aamiin.
    Terus nongkrong juga udah males, kayak mending di rumah aja lah baca buku atau nonton film wkwk.
    Apa lagi ya yang dulu aku suka terus sekarang jadi enggak tuh hmmm...udah sih ingetnya itu aja xD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dipikir-pikir makin ke sini kita bukan hanya makin tua, tapi kayak orang yang "membosankan" gitu nggak sih? Sukanya di rumah aja, baca buku, nonton drakor, fangirling, sesekali delivery makanan, udah gitu-gitu aja wkwkwk ðŸĪĢ

      Eniwei, wowww lengkapnya kayak apa tuh? Pamerkan dong di blog! LOL tapi soal belanjaan fangirling sih emang kudu direm banget sih. Pas awal-awal kenal Kpop, aku langsung ngerasa album mereka tuh MIHIL sekali. Belom lagi ada versi A,B,C, terus jacket book apalah itu. Pusing banget nggak sih. Malah pas SMA yaa aku pernah patungan beli album TVXQ versi repackage sama temen kelas, terus albumnya ganti-gantian nanti di rumahku, besok di rumah dia. Sampai hari ini albumnya duduk manis di lemari koleksi album Kpopku, Ndah wkwkwk kayaknya temenku udah lupa deh 😜

      Btw, albumnya EXO worth to buy nggak sih, Ndah? Aku merasa menjadi EXO-L gagal nggak punya album mereka satu pun bahahaha

      Delete
  16. Yg ttg belanja BRG murah, akupun udh ga pengen mba. Murah sih ga masalah, asal diikuti Ama kualitas. Jd aku prefer barang bagus walo mungkin hrg LBH mahal, tp yg pasti awet. Itu malah bikin kita jd hemat ;)

    Untuk skr ini, yg paling bgt aku rasain, aku ga terlalu tertarik LG ngoyo untuk traveling mba. Jd kalo dulu, aku rela2 aja 5 hari jalan, tapi stay di hotelnya di 5 tempat yg beda, demi dapet review banyak :p. Itu duluuuu

    Kalo skr, aku stay di 1 hotel aja kalo emmang ga pindah2 kota hahahahah. Udh capeeeek boook, geret2 koper :p. Skr aku LBH santai utk jalan2. Ga ngejar waktu lagi, tp LBH ke menikmati perjalanan :). Ga keukeuh nyari murah tp tersiksa. Mnding transportasi yg bagusan, nyaman walo agak mahal, drpd yg murah tapi nyampenya lamaaaaa wkwkwkwkk. Umur ga bisa boong Jane :D.

    Utk tempat2 kekinian akupun ga terlalu tertarik :). Malah ttp LBH suka tempat2 yg anti mainstream drdulu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betulll. Asal berkualitas, harga pasti nggak bohong yaa. Dulu aku nggak ngerasa belanja barang-barang murah tuh malah bikin dompet makin boncos. Tobat deh tobat!

      Ahh, ini kah yang namanya liburan berkualitas versi Mba Fanny? :D soal akomodasi selama liburan itu bener banget! Sekarang udah punya anak gini, aku lebih milih untuk nginap di hotel yang bagusan, supaya papa mama dan anak sama-sama senang dan nyaman. Anak bisa main di kids club house, meanwhile papa atau mamanya bisa boboan sebentar di kamar wkwkwk

      Salah satu nggak enaknya tempat mainstream itu, RAMAI BANGET! Suami keburu ngomel-ngomel kalau aku ajak ke tempat kuliner yang lagi nge-hype, terus rame, sedangkan perut keroncongan. Mendingan makan di pinggir jalan juga gapapa tapi tetep enak ðŸĪĢ

      Delete

Terima kasih sudah mampir dan membaca tulisanku di sini (:

Jangan ragu untuk berkomentar supaya kita bisa saling kenal dan ngobrol bareng, ya. Mohon maaf untuk komentar dengan link hidup dan iklan otomatis akan aku hapus demi kenyamanan bersama.

Jangan lupa checklist 'Notify Me' sebelum publish komentar supaya mendapat notifikasi balasan dari aku yang akan dikirim ke email kalian.

Have a great day!