BPN DAY 12: 5 Ways to Declutter Our Minds, Hearts and Souls

Saturday, December 1, 2018


de·clut·ter
remove unnecessary items from (an untidy or overcrowded place)

Sebagai penderita dermatitis atopik atau eczema, aku semakin sadar menjaga kesehatan tubuh itu memang nggak main-main. Apalagi ternyata pemicu utama eksim yang aku alami adalah stress, sesuatu yang munculnya dari 'dalam', bukan dari luar. 

Tahun 2018 ini, cukup banyak hal yang menjadi beban pikiran. Gejala eksim pertama kali muncul di saat aku lagi pusing banget tentang pola makan dan tumbuh kembang si kecil. Ditambah waktu itu aku harus persiapan menyapih. Belum lagi ada masalah internal yang harus dipikirkan juga. 

Thank God, semuanya udah berlalu. PR sekarang yang harus dilakukan adalah gimana caranya supaya nggak gampang stress lagi. 

Here are some five simple ways that I practice every day to declutter my mind, heart and soul:

1. Spend more times with God.  

Mungkin buat sebagian orang salah satu cara untuk maintenance kebutuhan spiritualnya adalah dengan meditasi. As for me, aku selalu meluangkan waktu untuk 'ketemu' Tuhan setiap pagi, sebelum mulai aktifitas, dengan cara melakukan renungan pagi (I use Our Daily Bread for my daily devotional) dan berdoa.

Kesannya religius banget, ya, poin pertama ini. Tapi sebenarnya ini kebutuhan setiap kita umat beragama, sih. Kalau kita menganut suatu kepercayaan, berarti kita juga harus mau menyempatkan waktu untuk melakukan ritual atau kewajiban yang membuat semakin dekat dengan Tuhan kita. 


Kerasa banget deh bedanya kalo kita selalu dekat atau malah lagi jauhhh dengan Tuhan. Menjalani hari-hari kayaknya juga berat kalo lagi punya hubungan kurang bagus dengan Yang di Atas. 

So, I always make sure to start my day with talking and praying with my God. 

2. Feed your thought with good and positive things. 

Iya, iya, tau kok, kalau selalu berpikiran positif itu bukan perkara mudah. 

Sebuah penelitian mengatakan, manusia setiap harinya memiliki 50,000-70,000 pikiran. That's a lot of thoughts! And surprisingly, 80% dari pikiran sebanyak itu merupakan negative thoughts. Dan biasanya lagi, hal-hal negatif yang sering kita pikirkan itu nggak pernah terjadi. 

Kebayang nggak, sih, betapa crowded-nya isi kepala kita? Sejak bangun tidur sampai tidur lagi, kepala kita nggak pernah berhenti bekerja. Bangun tidur, yang langsung dipikirin mau makan apa siang ini. Malam mau tidur, yang dipikirin besok mau sarapan apa. Ini maksudnya isi kepala gue sih makanan mulu aja, HAHAHA. 

Beberapa waktu lalu, di dalam buku A Beautiful Mind, A Beautiful Life, Bubz menulis sebuah ilustrasi cerita yang menarik. 
Ada seorang kakek menceritakan kepada cucunya tentang keberadaan dua serigala yang berperang di dalam diri manusia.  
Ada serigala jahat, yang mewakilkan hal-hal tidak baik seperti amarah, kebencian, iri hati, ketakutan and all other evil things. 
Ada serigala baik, yang mewakilkan hal-hal baik seperti kasih, pengharapan, kebaikan, murah hati and all other good things.  
Kemudian si cucu pun bertanya, "Serigala mana yang menang?" 
Kakek menjawab, "Serigala yang paling sering kamu beri makan." 
Meski hasil riset mengatakan 80% dari pikiran kita adalah hal-hal yang negatif, kabar baiknya kita bisa memilih 'serigala' mana yang mau kita beri makan. We have power to control our thoughts. 

Bukan berarti kita nggak boleh sedih atau merasa kecewa, ya. Perasaan seperti itu memang harus dihadapi. Namanya juga manusia. Tapi apa yang bisa kita pikirkan dan lakukan setelahnya adalah yang most matters

3. Write your daily journal. 

Journaling adalah aktifitas yang paling mudah dan terbukti efektif membantu 'membereskan' kembali hal-hal yang ada di kepala kita.

Banyak profesional di luar sana yang menganjurkan orang-orang yang sedang battling with their mental depression dengan menulis jurnal. 

Nggak perlu kata-kata yang bagus untuk diisi dalam jurnal pribadi kita. Nggak perlu untuk jadi penulis hebat untuk menulis jurnal. Nggak ada yang baca kok, kan bukan untuk di-publish juga. Inti dari journaling adalah kita bisa jujur dengan isi hati. Hal terbaik dari menulis jurnal adalah nggak ada yang nge-judge pendapat dan pikiran kita, kecuali yaa diri kita sendiri. Pada akhirnya, kita sendiri lagi yang akan melakukan refleksi diri. 


Buat yang belum pernah coba nulis jurnal, I highly recommend you to start writing your own. Sekalian ada alasan untuk beli buku jurnal dengan sampul cakep, kan? 

4. Do social media detox. 

Khususnya buat yang nggak bisa lepas dari henpon sedetik pun untuk cek aplikasi media sosial *angkat tangan tinggi-tinggi* 

Tau nggak sih, kita rata-rata menghabiskan waktu selama dua jam di sosial mediaentah untuk ngaplot foto baru, memberikan likes pada foto-foto orang lain, scrolling di search feed, baca gosip, stalking dan lainnya. Dan selama dua jam di sosial media itulah mampu meningkatkan stress sebanyak 70%. 

Secara manusiawi aja udah punya 80% pikiran negatif, ditambah main sosmed selama dua jam bisa nambah stress sebanyak 80%. Metong daaah! 

Aku pernah mencoba untuk lepas dari HP selama satu jam. Aku sadar bermain medsos bukan lain menjadi hal yang menyenangkan, tapi malah membuat diri menjadi lebih insecure. Apalagi di masa harus menghadapi anak yang susah makan (banget). Lihat postingan momstagram yang anaknya lagi duduk manis menikmati makanan sponsor, kok rasanya bukan menjadi informasi penting lagi, melainkan timbul kecemburuan. 

Aku nggak tau selama satu jam itu termasuk detox atau nggak, tapi aku benar-benar belajar untuk mencari kesibukan lain di luar sosial media. Dalam satu jam tersebut, aku bisa menemukan aktifitas lain yang lebih refreshing. I have time for pampering myself, read a good book, watch a great movie, beberes kamar dan hal produktif lainnya. Satu jam yang biasa dilakukan untuk scrolling feed, ternyata bisa dihabiskan dengan hal-hal berguna. 

After all, apa yang kita lihat di sosial media adalah a filtered-life. Bahkan #nofilter pun sebenarnya aku yakin ada edit dikit-dikit lah. Real life matters

Aku pun kayaknya pengen untuk kembali melakukan detox setelah blog challenge ini selesai. Buat yang belum pernah coba detox medsos, cobain deh sesekali. It's good for your mind and soul!

5. Practice gratitude daily. 

There are lot of things to be grateful for. 

Bersyukur masih bisa bangun di pagi hari. Bersyukur punya laptop untuk ngeblog. Bersyukur masih bisa makan enak di rumah. Bersyukur masih bisa punya kesehatan yang baik untuk beraktifitas. 

Being grateful makes you appreciate this life better. 

***
Kalau isi kepala dan hati kita mulai "berdebu" dan "sempit", itu berarti saatnya melakukan declutter! 

Do you have special way to declutter your mind and soul? 

10 comments:

  1. Replies
    1. Betulll. Yang paling susah yang paling harus dilakukan buat saya hahaha

      Delete
  2. Yang nomer tiga itu simpel sebenernya tapi surprisingly works yaa :D Kadang lagi stres kalo udah ditumpahin ke jurnal tuh lumayan keangkat sedikit stresnya, seenggaknya udah dikeluarin uneg-unegnya walaupun yang baca ya kita sendiri aja :D Thanks for sharing Jane, poin-poinnya bermanfaat banget :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Journaling itu self-therapy banget sih ya. Kalo lagi nggak bisa cerita ke siapa-siapa, ditumpahin ke jurnal aja udah cukup lega. Kapan-kapan pas dibaca ulang paling ketawa sendiri, kok lebay banget pernah emosi kayak gitu hoahahaha.

      Sama-sama, Eyaaa. Senang membantu :D

      Delete
  3. Positif, positif dan positif. Penting banget menanamkan pikiran positif. Kalo gak, hidup akan terasa gagal terus. 😭😭😭😭

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betulll. Biar hidupnya nggak baperan juga T_T

      Delete
  4. Setuju 1000% dengan social media detox! Pertama kali nyoba detox medsos rasanya berat banget, tapi lama-lama ketagihan karena pikiran jadi plong banget rasanya. Menurutku di zaman sekarang medsos emang racun banget sih, sumber kecemburuan, ghibah, dan riya hahaha, makanya aku getol banget melatih diri supaya nggak ketergantungan medsos. Sekarang aku malah udah merambah ke detox ponsel. Lebih refreshed lagi. Cobain, deh, hihi.

    Aku suka deh sama cerita tentang kakek dan serigala itu, simpel tapi ngena banget. Semua tergantung dari "serigala yang paling sering kamu beri makan". Yang namanya hal-hal negatif itu nggak hanya datang dari luar diri, tapi juga bahkan dari dalam diri.

    Btw, aku salfok sama ODB-nya yang in Mandarin. Kalo aku baca yang versi English-nya, hehe.

    ReplyDelete
  5. aku nggak bisa lepas dari sosmed. emang buat branding, gimana dong. wkwkwk..

    tapi setuju semuanya sih, thank you for sharing :)

    ReplyDelete

Thank you for reading and dropping your comments! All comments are moderated and I will reply each comment daily, so please check back. Nice to chat with you!